Wisata Sejarah di DI Yogyakarta (1 dari 2)

Oleh Tri Agus Yogawasista

Wisata Sejarah di Yogyakarta, sama saja napak tilas (menelusuri) sejarah sebelum terbentuknya Kasultanan Yogyakarta, yaitu Kerajaan Mataram Islam, yang dipimpin oleh Panembahan Senopati, di Kota Gede sampai Kerajaan Mataram dipindahkan ke Pleret beserta peninggalannya.

Setelah Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755, wilayah Mataram dibagi menjadi dua wilayah, Mataram Timur, Kasunanan dan Kadipaten Mangkunegaran dan Mataram Barat (Mataram Asli), Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan. (sumber: jogjakota.go.id)

Akan dibagi menjadi 2 :

Peninggalan
A. Kerajaan Mataram Islam
B. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
C. Kadipaten Pakualaman
D. Belanda dan Jepang

A. Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

1. Kota Gede

Situs Kedaton Mataram, rumah kecil diapit tiga pohon beringin besar terdapat Watu Gilang

Situs Kedaton Mataram
Jl. Watu Gilang, Kotagede, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 49′ 39.04″ S, 110° 23′ 39.7″ E

Watu Gilang, dipercaya sebagai tempat singgasana Panembahan Senopati.

Masjid Kotagede 
Jl. Watu Gilang, Kotagede, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 49′ 45.7″ S, 110° 23′ 52.5″ E

Masjid Kotagede (https://bujangmasjid.blogspot.co.id)

Merupakan masjid tertua di Yogyakarta. Desain masjid ini tampak sederhana namun siapa yang mengira jika tempat ibadah umat Islam tersebut sudah berdiri sejak tahun 1640-an.

Makam Raja-Raja Mataram
Jl. Watu Gilang, Kotagede, Yogyakarta

Gapura, pintu masuk makam Raja-Raja Mataram Kotagede (@gpswisata)

Selain Panembahan Senopati, tokoh lainnya yang dimakamkan di sini adalah Sultan Hadiwijaya dan Ki Gede Pemanahan.

Foto Makam Raja-Raja Mataram Kotagede

Situs Selo Gilang 
Dusun Janggan, Gilangharjo, Pandak Bantul, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 55′ 17.83″ S, 110° 18′ 34.24″ E

Situs Selo Gilang

2. Kerto

Situs Kerto, Bekas Keraton Kerto (http://ayongulandoro.blogspot.com)

Bekas Keraton Kerto
Keraton Kerto dulunya berdiri di Dukuh Kerto, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Sesuai dengan pesan Raden Mas Jolang atau Susuhunan Prabu Hanyokrowati yang meninggal di hutan Krapyak (sehingga diberi gelar  Susuhunan Seda Krapyak) th 1612 maka Mahkota  Kerajaan digantikan bukan oleh putera sulung, melainkan  oleh putera ke empat bernama  : Raden Mas Durya alias Pangeran Martopuro.  Tetapi kemudian ternyata bahwa Pangeran Martopuro  menderita penyakit syaraf, sehingga tidak bisa lama memerintah.  Pada tahun 1613 digantikan oleh kakak sulungnya yang bernama Raden Mas Rangsang.

Pada zaman kekuasaan RM. Rangsang yang  bergelar Sultan Agung Senopati Ing Ngalogo Abdulrachman, yang juga bergelar Prabu Pandhita Hanyokrokusumo,  yang memerintah Kerajaan Mataram dari tahun 1613 – 1645  itulah VOC mulai mengirimkan duta besar ke Ibukota Mataram untuk melaksanakan perundingan-perundi9ngan tingkat tinggi dengan pihak Sultan.

Sultan Agung telah menetapkan Ibukota Mataram yang baru itu  di  KERTA yang terletak 4 km. di selatan Kotagede (Kraton Mas Jolang), ditepi Kali Gajah Wong, salah satu cabang dari Kali Opak yang bermuara di Laut Kidul.

3. Plered

Bekas Keraton Plered (eksavasi)
Dusun Kerto, Desa Pleret, Kecamatan Pleret Bantul, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 52′ 15″ S, 110° 24′ 25″ E

Bekas Kraton Plered

Dari sini (Plered), Kerajaan Mataram Islam dipindahkan ke Kartasura, dan akhirnya di Kota Surakarta sampai sekarang ini.

B. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

1. Pesanggrahan Ambarketawang

Desa Ambarketawng, Gamping, Sleman, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 47′ 41.45″ S, 110° 19′ 33.79″ E

Pesanggrahan atau Kraton Ambarketawang (https://sseratan.blogspot.com)

Pesanggarah Ambarketawang terletak di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Nama  Ambarketawang berasal dari kata ”ambar” artinya harum dan “ka-tawang” berarti atas atau tinggi. Makna nama tersebut yaitu  “suatu tempat tinggi yang harum”.

Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.

Sultan Hamengku Buwana I bersemayam di Desa Ambarketawang hanya 1 tahun lamanya dari 9 Oktober 1755 hingga 7 Oktober 1756. pembangunan istana dihentikan. Beliau pindah ke Desa Pecethokan tempat istana Yogyakarta ini yang sudah siap ditempati.

Sumber: jogjakota.go.id

Baca juga: Mengenal Cikal Bakal Keraton Kasultanan Yogyakarta

2. Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Alun-alun Utara, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 47′ 4.09″ S, 110° 21′ 42.01″ E

Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Baca juga: Mengenal Tata Kota tentang Hakikat Manusia

3. Panggung Krapyak 

Jalan DI Panjaitan atau tepatnya Plengkung Gading ke arah selatan, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 49′ 39.5″ S, 110° 21′ 37.9″ E

Panggung Krapyak (https://m.cuplik.com)

Raden Mas Jolang yang bergelar Prabu Hanyokrowati, raja kedua Kerajaan Mataram Islam dan putra Panembahan Senopati, adalah salah satu raja yang memanfaatkan Hutan Krapyak sebagai tempat berburu. Pada tahun 1613, beliau mengalami kecelakaan dalam perburuannya hingga akhirnya Prabu Hanyokrowati meninggal dunia. Prabu Hanyokrowati akhirnya dimakamkan di Kotagede yang kemudian akhirnya diberi gelar Panembahan Seda Krapyak (berarti raja yang meninggal di Hutan Krapyak).

Selain Prabu Hanyokrowati, raja lain yang gemar berburu di Hutan Krapyak adalah Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I). Beliau-lah yang mendirikan Panggung Krapyak lebih dari 140 tahun setelah wafatnya Prabu Hanyokrowati di hutan ini. Panggung Krapyak ini merupakan petunjuk sejarah bahwa wilayah Krapyak pernah dijadikan sebagai area berburu oleh para raja Mataram.

4. Tugu Yogyakarta

Jalan Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 46′ 56.45″ S, 110° 22′ 1.34″ E

Tugu Simbol Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta

Tugu Yogyakarta merupakan sebuah tugu atau menara yang sering dipakai sebagai simbol atau lambang dari kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Hamengku Buwono I, pendiri kraton Yogyakarta yang mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, kraton Jogja dan gunung Merapi.

Peta Sumbu Filosofi Keraton Yogyakarta (https://panji-cybersufi.blogspot.com)

4. Pesanggrahan Taman Sari

Jalan Taman, Kraton, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 48′ 36.4″ S, 110° 21′ 34.2″ E

Pintu masuk Taman Sari (https://adytiavibisono.blogspot.com)

Masa setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi membangun keraton sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I membangun keraton di tengah sumbu imajiner yang membentang di antara Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis. Titik yang menjadi acuan pembangunan keraton adalah sebuah umbul (mata air).

Taman Sari (https://jogjawae.com)

Untuk menghormati jasa istri-istri Sultan karena telah membantu selama masa peperangan, beliau memerintahkan Demak Tegis seorang arsitek berkebangsaan Portugis dan Bupati Madiun sebagai mandor untuk membangun sebuah istana di umbul yang terletak 500 meter selatan keraton. Istana yang dikelilingi segaran (danau buatan) dengan wewangian dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di pulau buatan di sekitarnya itu sekarang dikenal dengan nama Taman Sari.

Pembangunan Pesanggrahan Tamansari ditandai dengan candra sengkala Catur Naga Rasa Tunggal tahun Ehe, 1684 Jawa atau 1758 M. Pelaksana pembangunan Tamansari yaitu  Tumenggung Mangundipura, dengan dukungan logistik dari Bupati Madiun, yaitu Raden Rangga Prawirasentika dan para bupati mancapraja lainnya.

Pesanggrahan Tamansari dapat diselesaikan pembangunannya pada 7 Syawal 1691 Jawa atau 1765 M ditandai dengan candra sengkala Lajering Sekar Sinesep Peksi. Bangunan-bangunan yang berada di kompleks Tamansari pada awalnya berjumlah 59 bangunan, tetapi saat ini yang masih dapat dikenali secara utuh berjumlah  21 bangunan.

5. Pesanggrahan Peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwana II

Pesanggrahan Rejawinangun atau Situs Warungboto (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Dalam beberapa sumber tertulis antara lain Babad Momana, Serat Rerenggan Kraton, dan Babad Suryaning Alaga menyebutkan bahwa Sultan Hamengku Buwana II merupakan raja Kasultanan Yogyakarta yang paling banyak membangun pesanggrahan. Pesanggrahan adalah bangunan peninggalan berupa tempat peristirahatan khusus untuk raja beserta keluarganya. Istilah pesanggrahan berasal dari kata “sanggrah” yang artinya singgah sebentar atau beristirahat sejenak.

Lokasi bangunan pesanggrahan, kata Dharma Gupta, dkk, dalam Toponim Kota Yogyakarta (2007), mempunyai ciri khas tersendiri. Misalnya, selalu dibangun berdekatan dengan sumber air. Tak  jarang pula ada kolam di sekitar area bangunan. Selain itu, terdapat gapura serta pagar keliling yang dibangun di sekitar pesanggarahan. Di sekeliling bangunan pun sering ditemukan taman atau kebun buah-buahan.

Pesanggrahan yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwana II ada 13 buah yaitu :

  1. Pesanggrahan Rejawinangun (Situs Warungboto)
  2. Pesanggrahan Ngarjakusuma
  3. Pesanggrahan Purworejo
  4. Pesanggrahan Wanacatur (Gua Seluman)
  5. Pesanggrahan Cendanasari
  6. Pesanggrahan Rejokesumo
  7. Pesanggrahan Sanapakis
  8. Pesanggrahan Madyaketawang
  9. Pesanggrahan Pengawatreja
  10. Pesanggrahan Tanjungtirto
  11. Pesanggrahan Sanasewu
  12. Pesanggrahan Tlogo Ji
  13. Pesanggrahan Toyo Tumpang Kanigoro

Saat ini sebagian besar kondisi pesanggrahan yang dibangun Sultan Hamengku Buwono II tinggal menyisakan reruntuhan bangunan dan struktur pagar kelilingnya saja. Kerusakan pada pesanggrahan disebabkan oleh multi faktor, antara lain usia, alam (cuaca, suhu, bencana alam), dan manusia. Lokasi berdirinya pesanggrahan juga banyak yang telah menjadi permukiman penduduk.

Sumber: kebudayaan.kemdikbud

6. Pesanggrahan Ambarbinangun

Pesanggrahan Ambarbinangun

Pesanggrahan ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VI oleh arsitek Belanda yang bernama Wenschang. Berdasarkan tugu prasasti yang ada, pembangunan pesanggrahan Ambarbinangun selesai pada tahun Jawa 1784 atau tahun 1855 Masehi.

7. Pesanggrahan Ambarukmo

Pesanggrahan Ambarukmo terletak di Jl. Laksda Adi Sucipto, Dukuh Tempel, Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Persisnya ditengah-tengah atau diapit Hotal Royal Ambarukmo dengan Ambarukmo Plasa (Amplas).

8. Pesanggrahan Ngeksiganda

Pada abad XX zaman kolonial Belanda, bangunan Pesanggrahan Ngeksiganda ini awalnya milik seorang Belanda yang dibangun untuk tempat beristirahat. Kemudian pada sekitar tahun 1927 bangunan ini kemudian dibeli oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VIII untuk dimodifikasi menjadi tempat pesanggrahan Keraton Yogyakarta. Modifikasi berupa penambahan ruangan untuk ruang gamelan, pagar seketheng, pendapa, dan pemandian atau pasiraman. Pesanggrahan biasanya digunakan oleh sultan untuk tempat beristirahat bagi Raja beserta keluarganya.

9. Ndalem

Merupakan tempat tinggal para putra atau putri raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadingrat. Adapun Ndalem yang ada yaitu:

10. Sasana Wiratama

Jl. HOS Cokroaminoto TR III/430, Yogyakarta
Telp. (0274) 622 668
Koordinat GPS:  7° 47′ 12.7″ S, 110° 21′ 5″ E

Museum Sasana Wiratama, Tegalrejo, Yogyakarta

Terletak sekitar 4 kilometer dari pusat kota Jogja, tanah seluas 2,5 hektar yang awalnya dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, diserahkan oleh ahli waris Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Kanjangteng Diponegoro, untuk dijadikan Monumen setelah menandatangani surat penyerahan bersama Nyi Hadjar Dewantara dan Kanjeng Raden Tumenggung Purejodiningrat. Di atas tanah yang kini menjadi milik Kraton Yogyakarta itu mulai pertengahan tahun 1968 hingga 19 agustus 1969 dibangun sebuah monumen pada bangunan pringgitan yang menyatu dengan pendopo tepat di tengah komplek yang diprakarsai oleh Mayjen Surono yang saat itu menjabat Panglima Kodam (PANGDAM) serta diresmikan oleh Presiden Suharto. Tempat ini kemudian dinamakan Sasana Wiratama yang artinya tempat prajurit.

Lahir di Kraton Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785, bernama kecil Bandoro Raden Mas Ontowiryo dan setelah dewasa bergelar Kanjeng Pangeran Diponegoro merupakan putra sulung Raden Ayu Mangkorowati (putri Bupati Pacitan) selir dari Sri Sultan Hamengku Buwono III (HB III).

Dengan beberapa kali pukul, tembok jebol guna menyelamatkan istri dan pasukan, melarikan diri ke Goa Selarong.

Dari luar tembok terdengar letusan senjata tiga kali, perang telah dimulai. Sisi utara, timur dan selatan telah dikepung pasukan Belanda. Laskar yang tinggal di sisi barat melakukan perlawanan keras. Di bawah pimpinan Joyomustopo dan Joyoprawiro, laskar terdesak mundur. Kekuatan berbeda jauh. Seorang pria berjubah putih dengan sorban putih yang terlilit di kepalanya, dengan tenang dan bijaksana memilih menjebol tembok barat puri. Dengan beberapa kali gebrakan tembok itu jebol. Satu komando untuk menyelamatkan keluarga dan laskar yang tersisa. Dengan seluruh pasukannya, pria berjubah putih itu lebih memilih menjauh ke barat. Sebuah keputusan berat demi keselamatan keluarga dan laskarnya. “Perang sesungguhnya baru saja akan dimulai” batinnya dalam hati.

Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul.

Sumber: yogyes.com

11. Goa Selarong

Dusun Kembang Putihan, Guwosari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta
Koordinat GPS:  7° 50′ 56.75″ S, 110° 18′ 39.1″ E

Goa Selarong, Pajangan, Bantul, Yogyakarta

Goa Selarong ini berbentuk sempit dengan lebar kira-kira hanya 3 m dan tinggi yang tak lebih dari 2 m, sedangkan panjang ke dalamnya cuma sekitar 3 m saja. Tidak ada yang istimewa dari bentuk Goa Selarong ini. Orang Jawa menyebut goa jenis seperti ini dengan sebutan goa buntet alias buntu tidak tembus berlubang. Jadi, goa ini merupakan cekungan cadas biasa saja tanpa ada tembusannya ke dalam.

Tempat ini merupakan basis kekuatan Pangeran Diponegoro beserta laskarnya untuk menyusun strategi dalam berperang secara gerilya. Kenapa demikian, karena untuk berperang secara terbuka jelas dari pihak Pangeran Diponegoro kekurangan senjata atau perlengkapannya maupun secara personil. Perlawanan Diponegoro dimulai tahun 1825 dan berakhir tahun 1830, selama kurang klebih 5 tahun kerugian pihak Belanda sangat banyak hampir 15 ribu tentara mati dan menghabiskan dana 20 juta gulden.

12. Makam Raja-Raja Mataram Imogiri

Ginirejo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 55′ 39.09″ S, 110° 23′ 33.95″ E

Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Bantul, Yogyakarta

Makam Imogiri merupakan komplek makam bagi raja-raja Mataram dan keluarganya yang berada di Ginirejo Imogiri kabupaten Bantul. Makam ini didirikan antara tahun 1632 – 1640 M oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, Sultan Mataram ke-3, keturunan dari Panembahan Senopati (Raja Mataram ke-1), dengan menunjuk seorang arsitek bernama Kyai Tumenggung Tjitrokoesoemo dan merupakan bangunan milik keraton kasultanan.

Secara umum denah atau susunan makam raja-raja ini menyerupai segitiga. Pada bagian atas terdapat makam Sultan Agung, di sisi timur terdapat makam Raja-raja Kesultanan Yogyakarta, dan di sisi barat terdapat makam Raja-Raja Kasunanan Surakarta.

Di salah satu tangga ke makam ada sebuah nisan yang sengaja dijadikan tangga agar selalu diinjak oleh para peziarah yaitu nisan makam Tumenggung Endranata karena dianggap mengkhianati Mataram. Cerita lain menyebutkan bahwa yang dikubur di tangga itu adalah Gubernur Jenderal Belanda, JP Coen.

C. Kadipaten Pakualaman

1. Kraton Pura Pakualaman

Pakualaman, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 47′ 43.28″ S, 110° 22′ 31.23″ E

Kraton Pura Pakualaman (https://kotajogja.com)

Baca juga: Menyusuri Jejak Sejarah Pakualaman

2. Makam Astana Girigondo

Dusun Girigondo, Kaligintung, Temon, Kulonprogo, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 52′ 17.56″ S, 110° 5′ 21.69″ E

Makam Astana Girigondo (panduanwisata.com)

Astana Girigondo pertama kali digunakan sebagai makam KGPAA Paku Alam V, yaitu pada bulan September 1900. Ini ditunjukkan dengan adanya prasasti yang terdapat pada gapura makam, di teras I. Sedangkan KGPAA Paku Alam I sampai dengan IV dimakamkan di pemakaman Hastorenggo, Kotagede, Yogyakarta.

D. Peninggalan Hindia Belanda

Kota Yogyakarta

Benteng Vredeburg
Jl. Margo Mulyo No.6, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta 55122
Telp: +62 274 586 934, 510996, Fax: +62 274 586 934

Benteng Vredeburg terletak di Jl. Margo Mulyo No.6, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta 55122, dengan luas 45.574 m².

Istana Negara Gedung Agung 
Jl. Margo Mulyo, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta 55122
Koordinat GPS: 7° 47′ 55.45″ S, 110° 21′ 52.47″ E 

Istana Negara Gedung Agung

Gedung Bank Indonesia
Jl Panembahan Senopati No. 4–6, Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta 55122.

Gedung Bank Indonesia Yogyakarta

Gedung BNI 1946
Jl. Trikora No. 1, Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Yogyakarta 55122

Gedung BNI 1946

Kantor Pos Besar Yogyakarta
Gedung Kantor Pos Besar terletak di Jl. Panembahan Senopati No.2, Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta 55122, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gedung Societeit Militer
Jl. Sriwedani No. 1, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan Yogyakarta 55121, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pasar Beringharjo
Jl. Margo Mulyo No.16, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta 55122, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kawasan Pecinan Ketandan
Jl. Margo Mulyo, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY
Jl. Margo Mulyo, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ke halaman berikutmya

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Wisata Sejarah di DI Yogyakarta (2 dari 2)

Thu Jul 25 , 2013
Oleh Tri Agus Yogawasista Monumen Ngejaman Keben Kraton Monumen Ngejaman Keben Monumen Ngejaman Keben terletak di Jl. Rotowijayan, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Kraton, Yogyakarta dan berada dalam satu kompleks dengan Masjid Rotowijayan. Dahulu monumen Ngejaman Keben berada di halaman Sri Manganti sisi timur. Ngejaman Keben merupakan salah satu bukti keharmonisan hidup […]