Wisata Sejarah di Riau

1

Provinsi Riau merupakan salah satu Ikon suku Melayu di Pulau Sumatera, beribukota Pekanbaru yang terletak di tengah Pulau Sumatera. Banyak diketemukan berbagai peninggalan kerajaan berupa istana, bekas istana, ataupun benteng tanah, berdirinya kerajaan dimulai pada abad 12 M.

Istana Indragiri

Replika Istana Indragiri (https://forum.indowebster.com)

Cikal-bakal berdirinya Kesultanan Indragiri tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Kerajaan Keritang. Nama Keritang diperkirakan berasal dari istilah “akar itang” yang diucapkan dengan lafal “keritang”. Sementara Itang adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang banyak terdapat di sepanjang anak Sungai Gangsal bagian hulu yang menjalar di sepanjang tebing-tebing sungai. Sungai Gangsal mengaliri wilayah Kota Baru, ibu kota Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Selain pemaknaan di atas, ada pula yang menyebut bahwa nama Keritang identik dengan istilah “Kitang”, yaitu sejenis siput yang berhabitat di hulu Sungai Gangsal (Ahmad Yusuf & Umar Amin, et.al., 1994:19).

Replika Istana Indragiri (https://forum.indowebster.com)

Berikut silsilah raja atau sultan yang pernah berkuasa di Kerajaan Keritang atau Kesultanan Indragiri, berdasarkan buku Sejarah Kesultanan Indragiri (1994), karya Ahmad Yusuf, Umar Amin, Noer Muhammad, dan Isjoni Ishaq:

  • Raja Kecik Mambang atau Raja Merlang (1298-1337), Raja Keritang ke-1
  • Nara Singa I (1337-1400), Raja Keritang ke-2
  • Raja Merlang II (1400-1473)
  • Nara Singa II (1473-1508), Raja Keritang ke-4 yang kemudian mendirikan Kesultanan Indragiri atau Raja Indragiri ke-1 dengan gelar Sultan Iskandar Alauddin Syah (1508-1532)
  • Sultan Usuluddin Hasansyah (1532-1557), Sultan Indragiri ke-2
  • Raja Ahmad atau Sultan Mohammadsyah (1557-1599), Sultan Indragiri ke-3
  • Raja Jamaluddin bergelar Sultan Jamaluddin Kramatsyah (1599-1658), Sultan Indragiri ke-4
  • Sultan Jamaluddin Sulemansyah (1658-1669), Sultan Indragiri ke-5
  • Sultan jamaluddin Mudoyatsyah (1669-1676), Sultan Indragiri ke-6
  • Sultan Usuludin Ahmadsyah (1676-1687), Sultan Indragiri ke-7
  • Sultan Abdul Jalil Syah (1687-1700), Sultan Indragiri ke-8
  • Sultan Mansursyah (1700-1704), Sultan Indragiri ke-9
  • Sultan Mohammadsyah (1704-1707), Sultan Indragiri ke-10
  • Sultan Musyaffarsyah (1707-1715), Sultan Indragiri ke-11
  • Raja Ali Mangkubumi Indragiri bergelar Sultan Zainal Abidin Indragiri (1715-1735), Sultan Indragiri ke-12
  • Raja Hasan bergelar Sultan Hasan Salahuddinsyah (1735-1765), Sultan Indragiri ke-13
  • Raja Kecil Besar bergelar Sultan Sunan (1765-1784), Sultan Indragiri ke-14
  • Sultan Ibrahim (1784-1815), Sultan Indragiri ke-15
  • Raja Mun (1815-1827), Sultan Indragiri ke-16
  • Raja Umar atau Sultan Berjanggut Kramat (1827-1838), Sultan Indragiri ke-17
  • Raja Said atau Sultan Said Mudoyatsyah (1838-1876), Sultan Indragiri ke-18
  • Raja Ismail bergelar Sultan Ismailsyah (1876-1877), Sultan Indragiri ke-19
  • Tengku Husin bergelar Sultan Husinsyah (1877-1883), Sultan Indragiri ke-20
  • Tengku Isa atau Sultan Isa Mudoyatsyah (1887-1903), Sultan Indragiri ke-21
  • Tengku Mahmud atau Sultan Mahmudsyah (1912-1963), Sultan Indragiri ke-22

Istana Rokan

Istana Rokan (Rumah Tinggi) – https://www.rokanhulukab.go.id

Istana Rokan (Rumah Tinggi) terletak di desa Rokan IV Koto sekitar 46 km dari Pasir Pengarayan. Istana Rokan adalah peninggalan kesultanan “Nagari Tuo” berumur 200 tahun. Istana dan beberapa rumah penduduk sekitar ini memiliki koleksi ukiran dan bentuk bangunan lama khas melayu (Rumah tinggi).

Raja-raja Kerajaan Rokan IV Koto yang memerintah kerajaan yaitu :

  • Raja I. Sultan Seri Alam (1340-1381)
  • Raja II. Tengku. Raja Rokan (1381-1454)
  • Raja III. Tengku Sutan Panglima Dalam (1454-1519)
  • Raja IV. Tengku Sutan Sepedas Padi (1519-1572)
  • Raja V. Tengku Sutan Gemetar Alam (1572-1603)
  • Raja VI. Yang Dipertuan Sakti Mahyuddin (Raja Pertama dari Pagaruyung) (1603-1645)
  • Raja VII. Yang Dipertuan Sakti Lahid (1645-1704)
  • Raja VIII. Tengku Sutan Rokan (Pemangku) (1704-1739)
  • Raja IX. Yang Dipertuan Sakti Selo (1739-1805)
  • Raja X. Andiko Yang Berempat (Wakil) (1805-1817)
  • Raja XI. Dayung Datuk Mahudun Sati (Pemangku) (1817-1837)
  • Raja XII. Yang Dipertuan Sakti Ahmad (1837-1859)
  • Raja XIII. Yang Dipertuan SaktiHusin (1856-1880)
  • Raja XIV. Tengku Sutan Zainal (Pemangku) (1880-1903)
  • Raja XV. Yang Dipertuan Sakti Ibrahim (1903-1942)

Catatan dari Gazali pewaris Kerajaan Rokan IV Koto (juga salinan dari catatan sejarah Rokan IV Koto, sudah hilang aslinya).

Istana Siak Sri Inderapura
Jalan Sultan Syarif Kasim, Siak, Riau

Istana Siak Sri Indrapura (https://blog.catallya.com)

Istana ini terletak di Kabupaten Siak Sri Indrapura, berjarak lebih kurang 125 km. dari Pekanbaru, Riau. Luas bangunan Istana Siak berdiri di atas areal tanah seluas ± 28.030 m2.

Kerajaan Siak di pimpin pertama kali oleh Radja Ketjil, yang bergelar Sulthan Abdul Djalil Rachmadsjah pada tahun (1723 – 1746) dengan ibukotanya Buantan.

Suasana di dalam Istana Kerajaan Siak (https://sejarah.kompasiana.com)

Selanjutnya kepemimpinannya diteruskan oleh :

  • Tengku Buang Asmara (1746 – 1765)
  • Tengku Ismail (1765 – 1766)
  • Tengku Alam (1766 – 1780)
  • Tengku Muhammad Ali Panglima Besar (1780 – 1782)
  • Tengku Jahja (1782 – 1784)
  • Tengku Sayed Ali (1784 – 1810)
  • Tengku Sayed Ibrahim (1810 – 1815)
  • Tengku Sayed Ismail (1815 – 1864)
  • Tengku Panglima Besar Sayed Kasim (1864 – 1889)

Raja terakhir adalah : Tengku Putera Sayed Kasim, yang bergelar Sulthan Assjaidis Sjarif Kasim II Abdul Djalil Sjaifuddin memerintah di Kerajaan Siak pada tahun (1915 – 1946), selanjutnya pada tahun 1945 beliau mengumumkan kerajaan Siak masuk dalam Republik Indonesia.

(https://www.wisatamelayu.com)

Corak arsitektur Istana Siak menunjukkan adanya perpaduan gaya arsitektur Melayu, Arab dan Eropa. Istana ini masih berdiri megah hingga saat ini setelah dilakukan beberapa kali renovasi. Pada pintu gerbang masuk, terdapat hiasan berupa sepasang burung elang menyambar dengan sorot mata tajam, seolah-olah mengawasi semua orang yang akan masuk ke areal istana. Istana Siak terdiri atas dua lantai, lantai bawah dan lantai atas. Pada setiap sudut bangunan terdapat pilar berbentuk bulat. Sedangkan pada bagian ujung puncak terdapat hiasan burung garuda. Semua pintu dan jendela berbentuk kubah dengan hiasan mozaik kaca. Lantai bawah terdiri dari 6 ruangan yang berfungsi untuk menerima tamu dan ruang sidang. Di dalamnya terdapat ruang besar utama yang terbagi atas ruang depan istana, ruang sisi kanan, ruang sisi kiri, dan ruang belakang. Sedangkan lantai atas terdiri dari 9 ruangan yang berfungsi untuk istrahat sultan, keluarga atau kerabat sultan dan para tamu kerajaan.

Istana Sayap

Istana Sayap (https://travel.detik.com)

Pelalawan adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Riau, Pelalawan mempunyai sebuah sejarah yang panjang, Pelalawan adalah Kabupaten baru pemekaran dari Kabupaten Induk Kabupaten Kampar.

Sejarah Pelalawan diawali dari kerajaan Pekantua yang didirikan oleh Maharaja Indera (sekitar tahun 1380 M). Beliau adalah bekas Orang Besar Kerajaan Temasik (Singapura) yang mendirikan kerajaan ini setelah Temasik dikalahkan oleh Majapahit dipenghujung abad XIV. Sedangkan Raja Temasik terakhir yang bernama Permaisura (Prameswara) mengundurkan dirinya ke Tanah Semenanjung, dan mendirikan kerajaan Melaka.

Bangunan Penunjang (https://travel.detik.com)

Maharaja Indera (1380-1420 M) membangun kerajaan Pekantua di Sungai Pekantua (di anak sungai Kampar, sekarang termasuk Desa Tolam, Pelalawan, Riau) pada tempat bernama “Pematang Tuo” dan kerajaannya dinamakan “Pekantua”.

Pekantua semakin berkembang, dan mulai dikenal sebagai bandar yang banyak menghasilkan barang-barang perdagangan masa lalu, terutama hasil hutannya. Berita ini sampai pula ke Melaka yang sudah berkembang menjadi bandar penting di perairan Selat Melaka serta menguasai wilayah yang cukup luas, oleh karena itu Melaka bermaksud menguasai Pekantua, sekaligus mengokohkan kekuasaannya di Pesisir Timur Sumatera. Maka pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah (1459-1477 M), dipimpin oleh Sri Nara Diraja, Melaka menyerang Pekantua, dan Pekantua dapat dikalahkan. Selanjutnya Sultan Masyur Syah mengangkat Munawar Syah (1505-1511 M) sebagai Raja Pekantua. Pada upacara penobatan Munawar Syah menjadi raja Pekantua, diumumkan bahwa Kerajaan Pekantua berubah nama menjadi “Kerajaan Pekantua Kampar” dan sejak itu kerajaan Pekantua Kampar sepenuhnya berada dalam naungan Melaka. Pada masa inilah Islam mulai berkembang di Kerajaan Pekantua Kampar.

Bangunan Utama (https://forum.detik.com)

Pada masa pemerintahan Maharaja Dinda II (1720-1750 M) pusat kerajaan Pekantua Kampar dipindahkan ke di Sungai Rasau, salah satu anak Sungai Kampar jauh di hilir Sungai Nilo dan pada saat itu diumumkan maka nama kerajaan “Pekantua Kampar”, diganti menjadi kerajaan ‘Pelalawan” (Pelalauan), yang artinya tempat lalau-an atau tempat yang sudah dicadangkan. Sejak itu, maka nama kerajaan Pekantua tidak dipakai orang, digantikan dengan nama Pelalawan saja sampai kerajaan itu berakhir tahun 1946. Istana Sayap Pelalawan adalah Istana Kerajaan Pelalawan yang dibangun oleh Sultan Pelalawan ke 29, yakni Tengku Sontol Said Ali (1886-1892 M). Sebelum bangunan itu selesai beliau mangkat dan diberi gelar Marhum Mangkat di balai. Selanjutnya pembangunan Istana diteruskan sampai selesai oleh pengganti beliau yakni Sultan Syarif Hasyim II (1892- 1930M).

Pada awalnya Pusat Kerajaan Pelalawan berada di Sungai Rasau (anak Sungai Kampar), berlokasi di Kota Jauh dan Kota Dekat. Ketika Tengku Sontol Ali menjadi Sultan Pelalawan, belaiu berazam memindahkan Istananya dari muara Sungai Rasau ke pinggir Sungai Kampar, tepatnya di muara sungai Rasau yang disebut’ Ujung Pantai’,karena itu Istana sebelumnya dinamakan Istana Ujung Pantai. Namun ketika Sultan Syarif Hasyim II melanjutkan pembangunan Istana yang  melanjutkan pembangunan Istana yang sedang terbengkalai karena mangkatnya Tengku Sontol Ali, maka beliau membangun dua sayap disamping kanan dan kiri Istana yang dijadikan balai. Maka Istana inipun dinamakan “Istana Sayap”.

Sekitar tahun 1896 bangunan Istana Sayap selesai seluruhnya, dan Sultan Syarif Hasyim II berpindah dari Istana kota Dekat di Sungai Rasau ke Istana Sayap di Ujung Pantai. Sejak itu, pusat pemerintahan Kerajaan pelalawan menetap di pinggir sungai Kampar yang sekarang menjadi Desa pelalawan dan menjadi Ibu Kota Kecamatan Pelalawan.

Istana Sayap Terbakar (https://www.youtube.com/watch?v=WxusWZj2R0M)

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Istana Sayap Terbakar: Kobaran api membumbung tinggi melumat komplek Istana Sayap Kerajaan Pelalawan, di Kabupaten Pelalawan, Ahad (19/2/12) malam. Musibah tersebut diduga akibat konsleting listrik.

Istana Sayap Terbakar (https://news.detik.com)

Bekas Istana Kerajaan Gunung Sahilan

Bekas Istana Kerajaan Gunung Sahilan, tampak depan

Bekas Istana Kerajaan Gunung Sahilan (1700-1941) masih berdiri di kawasan Kampung Gunung Sahilan, Kecamatan Gunung Sahilan (Kampar Kiri) Kabupaten Kampar. Sebuah bangunan renta yang tampak uzur dimakan usia, bahkan nyaris rubuh karena tidak adanya perhatian sama sekali. Melihat kondisinya yang sangat dan sangat memprihatinkan itu, niscaya beberapa tahun ke depan situs sejarah paling bernilai tersebut akan punah-ranah.

Bekas Istana Kerajaan Gunung Sahilan, tampak belakang

Istana Kerajaan Gunung Sahilan dari Pekanbaru Ibukota Provinsi Riau berjarak lebih kurang 70km atau dapat ditempuh lebih kurang 1jam perjalanan darat. Dulunya jalan akses menuju Istana,kita harus melewati jalur sungai melewati Sungai Kampar melalui rakit,pompong atau sampan. Kini Telah berdiri dengan kokoh sebuah jembatan. Tidak jauh dari jembatan tersebut kita dapat menjumpai sebuah Istana Tua yang sudah tidak terawat yaitu Istana Kerajaan Gunung Sahilan, Istana ini tepat berada di Jalan Istana.

Jembatan Siak

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah Siak Sri Indrapura (https://www.panoramio.com)

Selain Istana Siak Indrapura, tempat wisata lain yang terdapat di kabupaten Siak adalah Jembatan Istana Siak. Jembatan ini terletak sekitar 100 meter di sebelah Tenggaran Kompleks Istana Siak. Dulunya jembatan ini dijadikan sebagai ikon dari Kabupaten Siak. Jembatan ini didirikan pada tahun 1899. Di bawah jembatan ini, terdapat sungai yang pada zaman dahulu digunakan sebagai parit pertahanan komplek istana.

Benteng Tujuh Lapis

(https://www.riauterkini.com)

Benteng ini terletak di desa Dalu-dalu, Kecamatan Tambusai, kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Benteng Tujuh Lapis dibangun pada tahun 1835 oleh Tuanku Tambusai, sebagai basis pertahanan dalam melawan penjajah Belanda. Pada awalnya, benteng ini dinamai Kubu Aur Duri. Pada saat itu, juga dibangun beberapa benteng lainnya, seperti Kubu Baling-baling, Kubu Gedung dan Kubu Talikemain. Semua kubu ini dipersiapkan sebagai benteng untuk melawan Belanda.

Benteng ini terdiri dari tujuh lapis dengan gundukan tanah mencapai tinggi 11 meter yang ditanam AUO Duri (Bambu Berduri), tahun 1838 – 1839. Letkol Michele datang ke Dalu-dalu untuk menaklukkan benteng, akhirnya benteng dapat dikuasai, dan Tuanku Tambusai bersamaan dengan sebagian prajurit meninggal di Negeri Sembilan Malaysia. Kegigihan perjuangan Tuanku Tambusai oleh Belanda diberi gelar kepadanya ”De Padrische Tijger Van Rokan” berarti Harimau Padri dari Rokan. Selain Tuanku Tambusai Sultan Zainal Abidin juga pernah menggunakan Benteng ini dalam melawan pemberontak negeri. Sekarang Benteng ini sudah tidak terlihat bentuk aslinya. Pemerintah Rokan Hulu akan mengupayakan merenovasi situs sejarah ini.

Benteng Tujuh Lapis bertembok tebal, kokoh tujuh lapis, diperkuat dengan tanaman bambu berduri (aur duri) dan parit sedalam sepuluh meter. Benteng ini luasnya menyamai sebuah kampung. Dengan nilai perjuangan yang melekat pada benteng ini, menjadikannya sebagai salah satu objek wisata budaya dan peninggalan sejarah perjuangan masyarakat Riau menentang penjajah.

Rumah Datuk Laksemane Daik

Rumah Datuk Laksemane Daik (https://passompeugi.blogspot.com)

Rumah Datuk Laksamana Dilaut IV, Datuk Ali Akbar terletak Di Desa Sukajadi, sekitar 35 kilometer dari Kota Sungai Pakning.

Bangunan tua ini terletak di kampung Bugis, berbentuk limas penuh. Rumah ini selain pernah ditempati oleh Datuk Laksemana Daik, pernah pula ditempati oleh Datuk Kaya pulau Mepar, karena beliau ini menantu Datuk Laksemana. Rumah ini masih agak baik dan ditempati oleh keluarga Datuk Laksemana dan Datuk Kaya Daik.

Rumah Datuk Laksemane Daik (https://www.jpnn.com)

Di rumah ini masih tersimpan sisa-sisa benda milik Datuk Laksemana dan Datuk Kaya, seperti beberapa jenis pakatan kebesaran Datuk Kaya dan Datuk Laksemana, benda-benda upacara adat, motifmotif tenunan, batik, ukiran-ukiran dan sebagainya.

Tangsi Belanda (*)

Tangsi Belanda (http://www.riaumagz.com)

Situs Tangsi Belanda terletak di Desa Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, dibangun tahun 1880. Tangsi Belanda yang berada di Kawasan Cagar Budaya Kesultanan Siak merupakan Benteng peninggalan Belanda yang dahulunya berfungsi sebagai kantor residen, rumah tahanan, gudang peluru dan barak pasukan. Bangunan ini memiliki lima bangunan utama dan sejumlah bangunan kecil.

Tangsi Belanda (http://www.riaumagz.com)

Jarak dari pusat pemerintahan Kabupaten Siak ke situs sekitar 4 km ke arah tenggara. Secara spasial, situs Tangsi Belanda termasuk dalam kawasan perkotaan, cuma posisinya berada di seberang kompleks Kota Siak dengan Sungai Siak sebagai pembatas (pemisah). Oleh karena letaknya masih dalam kawasan perkotaan, akses ke situs cukup mudah, baik melalui jalan darat maupun jalan air (Sungai Siak). Lokasi Tangsi Belanda dapat ditempuh dengan waktu sekitar 2-3 jam dari Kota Pekanbaru.

Pemugaran Tangsi Belanda telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kementerian PUPR dan SK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka penetapan Siak sebagai Kota Pusaka pada akhir tahun 2017. Terdapat tujuh bangunan yang berfungsi sebagai perpustakaan, kantor, museum, ruang pameran, toilet, dapur (sarana boga), area serba guna, dan gudang.

Informasi lebih lanjut hubungi

Dinas Pariwisata, Kesenian dan Kebudayaan Provinsi Riau 
Jl. Jend. Sudirman No. 200 Pekanbaru, Riau
Telp.: +62 761 31452
Fax.: +62 761 40356
Website: https://www.budsenipar-riau.com

Berbagai sumber

(*) Tambahan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Desa Wisata Berbasis Energi Terbarukan Poncosari Srandakan Bantul Yogyakarta

Fri May 9 , 2014
Desa Wisata Berbasis energi Terbarukan terletak di Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Poncosari terletak di bagian barat daya Kabupaten Bantul dan masuk dalam wilayah Kecamatan Srandakan. Sebelah barat berbatasan langsung dengan Kabupaten Kulon Progo, dan bagian selatan dengan Samudera Hindia. Kecamatan Sanden menjadi batas wilayah […]