Wisata Sejarah di Aceh

Terukir dalam sejarah kemegahan masa lampau Aceh. Terutama karena kemampuan Kesultanan Aceh mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmen dalam menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuan menjalin hubungan diplomatik dengan Negara lain.

Aceh Darussalam mengalami kejayaan pada zaman kekuasaan Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam (Sultan Aceh ke-19). Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba di Aceh pada masa itu, kekuasaan Aceh pada zaman itu mencapai pesisir barat Minangkabau hingga Perak.

Terdapat berbagai situs sejarah dan budaya sebagai aset wisata yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Provinsi Aceh.

Sahabat GPS Wisata Indonesia mencoba menyusun kembali, tempat bersejarah di Provinsi Aceh antara lain :

1. Benteng Indrapatra

(https://arieyamani.blogspot.com)

Letak Benteng Indrapatra dekat pantai Ujong Batee, Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

(https://arieyamani.blogspot.com)

Pada mulanya, para bangsawan dari India tidak sengaja menemukan Aceh dalam perjalanannya untuk menyelamatkan diri dari konflik berdarah di negeri sendiri. Sesampai di Aceh, mereka kemudian mendirikan kerajaan dan menyebarkan agama Hindu kepada penduduk pribumi.

(https://arieyamani.blogspot.com)

Benteng ini dibangun  tahun 604 Masehi oleh Raja Putra Raja Harsha dari kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu pertama di Aceh, digunakan sebagai tempat peribadatan dan benteng pertahanan dari gempuran musuh. Kemudian benteng ini direbut oleh Kerajaan Islam Aceh dan dijadikan sebagai benteng pertahanan melawan Portugis. Benteng ini di pimpin oleh seorang laksamana perang perempuan Aceh yang sangat terkenal yaitu Laksamana Malahayati, seorang laksamana perempuan pertama di dunia untuk memimpin pasukan di wilayah basis pertahanan ini.

2. Bekas Kerajaan Linge

Rumah Pintu Ruang (https://www.lintasgayo.com)

Kerajaan Linge adalah sebuah kerajaan kuno di Aceh. Kerajaan ini terbentuk pada tahun 1025 M (416 H) dengan raja pertamanya adalah Adi Genali. Adi Genali (Kik Betul) mempunyai empat orang anak yaitu Empuberu, Sibayak Linge, Merah Johan, Merah Linge. Reje Linge I mewariskan kepada keturunannya sebilah pedang dan sebentuk cincin permata yang berasal dari Sultan Peureulak Makhdum Berdaulat Mahmud Syah (1012-1038 M). Pusaka ini diberikan saat Adi Genali membangun Negeri Linge pertama di Buntul Linge bersama dengan seorang perdana menteri yang bernama Syekh Sirajuddin yang bergelar Cik Serule.

Di lingkungan makam Raja Linge ini terdapat rumah adat, dengan nama Rumah Pintu Ruang (rumah yang memiliki tujuh pintu) dan sebuah sumur tua yang airnya tidak pernah kering. Disini juga terdapat fasilitas toilet dan musholla. Kecamatan Linge, berjarak tempuh sekitar 70 km dari kota Takengon.

3. Lonceng Cakra Donya

Lonceng Cakra Donya (https://id.wikipedia.org)

Jika mengunjungi Meseum Aceh di Banda Aceh, pasti akan terlihat sebuah lonceng yang berukuran raksasa yang berada tidak jauh dengan lokasi Rumoh Aceh (rumah adat Aceh). Lonceng ini adalah hadiah kaisar Yonglee yang berkuasa di daratan China atau Tiongkok kepada Kerajaan Samudera Pasai sebagai wujud persahabatan kedua Kerajaan.

Lonceng ini diantarkan langsung oleh Laksamana Cheng Ho ketika melakukan lawatan ke Aceh guna membangun kerjasama dalam bidang keamanan dan perdagangan. Karena kala itu, Armada laut yang dimiliki oleh Kerajaan Samudera Pasai sangat kuat bahkan didukung oleh sebuah kapal induk paling besar di dunia pada saat itu yang kemudian berhasil direbut oleh Spanyol. Tidak hanya itu, pelabuhan Samudera Pasai juga menjadi pelabuhan yang paling maju, karena berada pada posisi yang sangat strategis di Selat Malaka dan juga Aceh menjadi pengekspor rempah-rempah nomor satu.

Lonceng yang berbentuk stupa inimemiliki tinggi 125 cm dan lebar 25 cm. Dibagian dinding luarnya ada tulisan bahasa Arab yang sudah agak susah dibaca karena telah termakan usia, akan tetapi tulisan Chinanya masih bisa dibaca dengan jelas kira-kira tertulis seperti ini, Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo yang berarti (Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5). Lonceng ini diantar oleh Laksamana Cheng Ho pada abad ke 15 sekitar tahun 1414 M, mungkin ini ada kaitannya dengan tulisan China nya.

4. Taman Putroe Phang (Taman Putri Pahang)
Jl Teuku Umar, Kota Banda Aceh

Pinto Khop (https://nelva-amelia.blogspot.com)

Taman Putroe Phang (Taman Putri Pahang) dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Sultan Iskandar Muda membangun Taman Putroe Phang untuk Permaisurinya, Putri Pahang. Menurut sejarah, Putri Pahang selalu merasa rindu akan kampung halamannya, Pahang, Malaysia. Sultan yang mengetahui kerinduan permaisurinya kemudian membangun taman sari ini, berbentuk menyerupai bukit-bukit yang terdapat di Pahang. Aslinya Putri Pahang atau dalam bahasa Aceh Putroe Phang bernama Putri Kamaliah. Namun rakyat Aceh memanggilnya dengan sebutan Putroe Phang (Putri Pahang).

Tidak hanya cantik, tapi beliau juga seorang wanita yang cerdas. Beliau adalah penasehat suaminya dalam pemerintahan. Seperti terlihat dalam semboyan yang banyak dikenal dalam kehidupan bermasyarakat. Beliau juga membuat hukum tentang perlindungan anak dan perempuan. Hukum ini kemudian diterjemahkan dan diwujudkan oleh putri beliau, Ratu Safiatuddin sehingga di Aceh Besar dan Aceh Pidie, hukum waris tidak saja berdasarkan pada hukum Islam, tapi juga dipengaruhi oleh hukum adat. Misalnya oleh orang tua, rumah selalu diwariskan pada anak perempuan. Mungkin hal inilah yang menyebabkan munculnya sebutan “Porumoh” (pemilik rumah) untuk istri dalam masyarakat Aceh.

Keindahan dan kemegahan Kesultanan Aceh dapat tergambar dalam uraian naskah Bustan as-Salatin “Syahdan, di darat Balai Keemasan yang memiliki Balee Ceureumeen (Balai Cermin) di istananya yang megah, di dalam istana ada Maligai Mercu Alam, dan Maligai Daulat Khana dan Maligai Cita Keinderaan dan Medan Khayali, dan aliran sungai Dar al-Isyki itu suatu dan terlalu amat luas, kersiknya daripada batu pelinggam, bergelar Medan Khairani yang amat luas. Dan pada sama tengah medan itu Gegunungan Menara Permata, tiangnya dari tembaga, dan atapnya daripada perak seperti sisik rumbia, adalah dalamnya beberapa permata puspa ragam dari Sulaimani dan Yamani”.

Kondisi asli dari komplek istana ini hanya dapat dilacak dari catatan utusan bangsa asing berdasarkan kesaksian utusan Kerajaan Perancis, Komplek Istana Dalam Darud Dunya (Istana Kesultanan Aceh) luasnya lebih dari 2 kilometer persegi.

Pintoe Khop (https://id.wikipedia.org)

Pintoe Khop yang berukuran 2 x 3 x 3 meter ini dulunya merupakan pintu gerbang yang menghubungkan istana dengan Taman Sari Gunongan (dulu bernama Taman Ghairah). Pintoe Khop ini disebut juga Pintu Biram Indrabangsa yang artinya “pintu mutiara keindraan atau raja-raja”.

Gunongan (https://polemsagoe.wordpress.com)

Gunongan berarti “gunung kecil” dan merupakan miniatur perbukitan yang mengelilingi kerajaan Putroe Phang di Pahang. Sengaja dibangun sedemikian rupa agar Putroe Phang tidak selalu bersedih karena teringat Kerajaan Pahang.

Hari-hari sang Permaisuri banyak dihabiskan di sekitar Gunongan. Bersama dayang-dayangnya, dia senang memanjati bangunan Gunongan ini. Selain sebagai tempat bercengkerama, juga dijadikan sebagai tempat Putroe Phang berganti pakaian dan mengeringkan rambut usai berenang di kolam pemandian.

Kandang Taman Ghairah (https://id.wikipedia.org)

Di samping Gunongan, ada sebuah bangunan yang dinamakan Kandang. Bentuknya persegi empat. Ada sebuah pintu masuk seperti pintu pagar besi yang lebih besar daripada pintu masuk ke Gunongan. Dulu, Kandang merupakan tempat jamuan makan Sultan Iskandar Muda dan Putroe Phang bersama orang-orang istana, juga rakyat.

5. Benteng Iskandar Muda

Benteng Iskandar Muda (https://arieyamani.blogspot.com)

Benteng Iskandar Muda terletak di Desa Brandeh Krueng Raya, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Benteng Iskandar Muda (https://arieyamani.blogspot.com)

Benteng Iskandar Muda dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada abad 16 M untuk melindungi wilayah kekuasaannya dari serangan Belanda dan Portugis.

6. Benteng Kuta Batte

Benteng Kuta Batee (https://leser-aceh.blogspot.com)

Benteng Kuta Batee terletak di Blang Mideun, Gampong Manyang Lancok, Meureudu Kabupaten Pidie Jaya.

Benteng tersebut dibangun pada tanggal 11 Agustus 1770 sampai dengan tanggal 8 Agustus 1802 pada masa pemerintahan Teuku Raja Jakfar dan diteruskan oleh anaknya Teuku Raja Bujang pada masa itu di dalam benteng itu ada tempat percetakan uang kerajaan Trumon sendiri. Pertama uang dicetak di Portugal, Lisabon, kemudian ditiru dicetak di Trumon menjadi uang Trumon atas seizin Kerajaan Portugal dan uang tersebut menjadi uang Trumon. Asal usul Kota Trumon berasal dari Trung Binah Mon. Selanjutnya benteng tersebut dijaga oleh saudara Teuku Raja Ubit sampai turun temurun.

Luas benteng tersebut, sekitar 60×60 meter dengan tinggi sekitar empat meter. Tebal dindingnya mencapai satu meter dengan tiga lapisan. Bagian luar terbuat dari batu bata, kemudian pasir setebal 30 senti meter dan bagian dalam dari batu bata tanah liat.

7. Perpustakaan Kuno Tanoh Abee

Perpustakaan Kuno Tanoh Abee (https://jasri-irawan.blogspot.com)

Perpustakaan Tanoh Abee terletak di dalam kompleks Pesantren Tanoh Abee, di Desa Tanoh Abee, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar.

Keberadaan perpustakaan Tanoh Abee ini tak terlepas dari sejarah pendirian sebuah pesantren (dayah) yang dibangun oleh ulama asal negeri Baghdad, bernama Fairus Al-Baghdady yang datang ke Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Fairus hijrah ke Aceh waktu itu bersama 7 saudaranya. Empat orang, termasuk Fairus menetap di wilayah Aceh Besar. Tiga saudara lainnya menyebar ke Pidie dan Aceh Utara.

Diperkirakan Fairus Al-Baghdady inilah sebagai ulama yang mula-mula membangun pesantren (dayah) tersebut, yang kemudian dikenal dengan pesantren Tanoh Aceh sebagai cikal-bakal dari perpustakaan kuno Tanoh Abee sekarang ini. Karena di dalam pesantren tersebut tersimpan ribuan kitab tulisan tangan karya para ulama Aceh terdahulu.

8. Rumah Adat Kluet (Rungko)

Rumah Adat Kluet (Rungko) – https://acehdesain.wordpress.com

Rumah Adat Kluet (Rungko) yang terletak di Desa Koto Kluet Tengah didirikan pada tanggal 1 Januari 1861 oleh Raja Menggamat Imam Hasbiyallah Muhummad Teuku Nyak Kuto – keturunan pejuang Kluet Tgk. Imam Sabil yang pernah berperang melawan Belanda dalam Perang Lawe Melang Menggamat. Rumah Adat Kluet – Rungko ini selain tempat tinggal Raja juga berfungsi sebagai tempat perkara jika terjadi perselisihan dan sengketa dalam kehidupan rakyat Menggamat.

9. Mercusuar William Toren

Mercusuar William Toren (https://wisataind.com)

Menara mercusuar William Toren ini adalah sebuah peninggalan pemerintahan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1875. Diberi nama William Toren sebagai penghormatan bagi raja Belanda, William III. Menara setinggi 40 meter ini dipancangkan di atas bukit di desa Ujung Puneu, pulau Breueh.

Lampu mercusuar yang masih berfungsi hingga sekarang (https://www.ranselkosong.com)

Belanda membangun 3 menara identik di lokasi yang berbeda, yakni Pulau Aceh, Belanda dan Karibia. Saat ini tiga staff Departemen Perhubungan Laut Divisi Navigasi menjaga operasionalnya. Dari atas mercusuar ini kita dapat menyaksikan pulau-pulau yang dimiliki negara lain seperti misalnya pulau Benggala yang merupakan pulau karang yang berukuran 600 meter persegi. Pemerintah Indonesia dan India menjadikan pulau ini sebagai counting point untuk batas territorial.

10. SMA Negeri 1
Jl. Prof. A. Majid Ibrahim I No. 7, Banda Aceh

SMA Negeri 1 Banda Aceh (https://sman1bandaaceh.net)

Menempati gedung peninggalan Belanda dengan gaya Romawi yang artistik dan telah ada sejak tahun 1878 M dan pernah menjadi tempat berkumpulnya kaum teosofi Belanda. Sejak Tanggal 1 September 1946 gedung ini difungsikan sebagai Sekolah Menengah Atas/SMA Negeri 1 Banda Aceh (merupakan SMA negeri tertua dan pertama di Aceh) yang telah melahirkan sejumlah pemimpin dan tokoh penting Aceh.

11. Pendopo Gubernur

Pendopo Gubernur Lama (https://nelva-amelia.blogspot.com)

Pendopo dibangun tahun 1880 M, merupakan salah satu situs sejarah pada masa penjajahan Belanda yang didirikan persis diatas peninggalan istana kesultanan Aceh. Pendopo merupakan salah satu pembangunan awal kolonial Belanda di Aceh. Pendopo juga merupakan bekas kediaman Gubernur Belanda dan pada saat ini menjadi rumah dinas Gubernur Aceh.

Pendopo Gubernur Sekarang (https://sukresnaputra.blogspot.com)

12. Museum Aceh
Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah, Banda Aceh 23241
Telp.: +62 651 21 033, 23 144, 23 352
Fax.: +62 651 21 033
Email : museum@acehprov.go.id

Museum Aceh (https://id.wikipedia.org)

Museum Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Pada waktu itu bangunannya berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Bangunan tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus – 15 November 1914.

13. Kantor Bank Indonesia (KBI)
Jl. Cut Meutia No.15 Banda Aceh KBI Banda Aceh

Kantor Bank Indonesia (https://kaskus.co.id)

Didirikan sejak periode De Javasche Bank. Segera setelah pembangunan gedung kantor yang diselesaikan oleh Vermont Cuypers dan Hulswit, tanggal 2 Desember 1918 De Javasche Bank mulai dibuka dengan pimpinan H.A. Burlage. Pada periode pendudukan Jepang, tanggal 20 Oktober 1942 ditutup kembali. Pada tanggal 2 Maret 1964, KBI Banda Aceh dibuka kembali dengan alamat yang sama.

14. Museum Cut Nyak Dhien
Jl. Banda Aceh Calang, Lam Pisang Kecamatan Peukan Bada, Banda Aceh

Replika Rumah Cut Nyak Dhien (https://kotabandaaceh.blogspot.com)

Museum Cut Nyak Dhien berbentuk rumah tradisional Aceh (rumoh Aceh), merupakan replika rumah srikandi Aceh, Cut Nyak Dhien. Pada mulanya rumah ini adalah tempat tinggal pahlawan wanita Cut Nyak Dhien. Di era Perang Aceh, rumah ini dibakar oleh tentara Belanda tahun 1893 yang kemudian dibangun kembali pada permulaan tahun 1980an dan dijadikan museum. Pondasi bangunan ini masih asli.

15. Museum Tsunami Aceh

Jl. Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh

(https://foregone0.blogspot.com)

Museum Tsunami Aceh semula akan dibuat berbentuk kapal besar dan dimaksudkan hanya sebagai penyimpanan semua dokumentasi yang terkait dengan bencana alam 26 Desember 2004. Agar generasi penerus Aceh dan Indonesia mengetahui bahwa pernah terjadi peristiwa maha dasyat di bumi rencong ini.

Namun kemudian rencana berubah, Pemerintah Aceh bersama BRR NAD-Nias mengadakan sayembara untuk desain museum tsunami. Setelah menyisihkan 68 peserta lainnya, desain yang berjudul “Rumoh Aceh’as Escape Hill” akhirnya dimenangkan oleh seorang dosen arsitektur ITB, Bandung, M.Ridwan Kamil yang diumumkan pada 17 Agustus 2007.

(https://faridtahu.wordpress.com)

Museum Tsunami Aceh yang terletak di depan Lapangan Blang Padang, Banda Aceh ini memiliki tiga lantai, dengan luas setiap lantai sebesar 2.500 meter dan menghabiskan dana hingga Rp60 miliar lebih.

Goresan arsitektur Ridwan Kamil ini, sarat dengan nilai kearifan lokal dan didesain dengan konsep memimesis kapal, seperti hendak mewartakan Banda Aceh adalah kota air alih-alih daratan.

(https://foregone0.blogspot.com)

Konsep yang ditawarkan arsitek ini, dengan menggabungkan rumoh Aceh (rumoh bertipe panggung) dikawinkan dengan konsep escape building hill atau bukit untuk menyelamatkan diri, sea waves atau analogi amuk gelombang tsunami, tari tradisional saman, cahaya Allah, serta taman terbuka berkonsep masyarakat urban.

Di dalam gedung terdapat kolam luas yang indah dengan jembatan diatasnya. Selain itu, terdapat ruangan yang dirupakan sebagai gua yang gelap serta ada aliran air mengalir.

16. Situs Kapal Apung Lampulo 
Jln. Tanjung, Lampulo, Kuta Alam, Banda Aceh

Situs Kapal Apung Lampulo ini tetap dipertahankan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh untuk mengenang Musibah Tsunami tahun 2004 yang melanda Kota Banda Aceh. Sebuah kapal yang terbawa Gelombang Tsunami dan terdampar di perumahan penduduk di kawasan Gampong Lampulo Kecamatan Kuta Alam.

17. Kapal PLTD Apung

Kapal PLTD Apung (https://wisatasahabatku.blogspot.com)

PLTD Apung terletak di Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh. Objek wisata itu berupa kapal besar di tengah kota yang memperlihatkan betapa dasyatnya terjangan air laut pada 24 Desember 2004. Kapal dengan panjang 63 meter dan berat 2.600 ton itu terhempas air laut hingga 4 kilometer dari lokasi awal di Pelabuhan Ulee Lheu. Kapal yang awalnya menghasilkan listrik 10,5 megawatt itu menghancurkan bangunan yang dilewati lalu berhenti diatas satu unit rumah dan pemakaman.

Informasi lebih lanjut hubungi
Dinas Pariwisata Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 
Jl. Tgk. Chik Kuta Karang No. 3, Banda Aceh
Telp.: +62 651 26206
Fax.: +62 651 33723
Berbagai sumber

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Wisata Sejarah di Kota Medan Sumatera Utara

Tue May 6 , 2014
Keberadaan Kota Medan saat ini tidak terlepas dari dimensi historis yang panjang, dimulai dari dibangunnya Kampung Medan Puteri tahun 1590 oleh Guru Patimpus, berkembang menjadi Kesultanan Deli pada tahun 1669 yang diproklamirkan oleh Tuanku Perungit yang memisahkan diri dari Kesultanan Aceh. Perkembangan Kota Medan selanjutnya ditandai dengan perpindahan ibukota Residen […]