Wisata Sejarah di Kudus Jawa Tengah

1

Kabupaten Kudus adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Ibu kota kabupaten ini adalah Kota Kudus, terletak di jalur pantai timur laut Jawa Tengah antara Kota Semarang dan Kota Surabaya. Kota ini berjarak 51 kilometer dari timur Kota Semarang.

Kabupaten Kudus berbatasan dengan Kabupaten Pati di timur, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Demak di selatan, serta Kabupaten Jepara di barat. Kudus dikenal sebagai kota penghasil rokok (kretek) terbesar di Jawa Tengah dan juga dikenal sebagai kota santri. Kota ini adalah pusat perkembangan agama Islam pada abad pertengahan. Hal ini dapat dilihat dari adanya tiga makam wali atau sunan, yaitu Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Kedu.

Bangunan tua zaman kolonial di Kudus yang terselamatkan hanya tinggal 32 bangunan, di antaranya bangunan SMP 1 Kudus, kantor Kawedanan (wedono = pembantu bupati) di Desa Kramat, dan Rumah Markas Gerilya Macan Putih (Gerilya Muria) di Jalan Jurang Gebog.

Kota Lama Kudus

Kota lama Kudus (https://www.seputarkudus.com)

Disebut Kota Lama, karena di sana lah Sunan Kudus membangun pusat peradaban pertama sekitar tahun 956 Hijriyah atau 1549 Masehi. Berdasarkan data yang termuat di Wikipedia, selain sebagai pusat penyebaran Islam yang berpusat di Masjid Menara Kudus, juga digunakan untuk menjalankan pemerintahan.

Sunan Kudus membangun kota tersebut yang sebelumnya bernama Tajug. Disebut Tajug karena sebelumnya di sana banyak terdapat bangunan-bangunan tajug yang digunakan masyarakat pra-Islam untuk beribadah. Sunan Kudus kemudian mengganti nama Tajug menjadi Kudus, yang artinya suci.

Kota lama Kudus (https://www.kudusexplore.com)

Kultur dan kebudayaan Islam yang dibawa Sunan Kudus kemudian membentuk karakter masyarakat setempat. Karakter tersebut saat ini sering diungkapkan dalam sebuah akronim Gusjigang. Akronim itu berasal dari tiga kata, yakni bagus, pinter ngaji, dan pinter dagang. Karakter tersebut hingga kini masih dimiliki masyarakat Kudus Kulon.

Disebut Kudus Kulon, karena letak Kota Lama yang berada di sebelah barat (kulon) Sungai (kali) Gelis. Beberapa desa yang berada di Kudus Kulon di antaranya, Desa Kauman, Kerjasan, Langgar Dalem, Demangan, Janggalan, Damaran dan Kajeksan. Desa-desa tersebut dulu berada di pusat kota atau pusat pemerintahan.

Lorong sempit dan tembok tinggi ciri khas permukiman Kota Lama Kudus (https://www.seputarkudus.com)

Selain desa atau kelurahan tersebut, ada sejumlah desa atau kelurahan yang juga masuk dalam Kudus Kulon, namun wilayahnya berada dipinggiran pusat Kota Lama. beberapa desa tersebut antara lain, Krandon, Singocandi, Purwosari, dan Sunggingan.

Omah Mode FO

Omah Mode terletak di Jl. Jend. A. Yani, Panjunan, Kota Kudus, Kabupaten Kudus, dulunya adalah bangunan yang merupakan tempat pemerahan susu OIB dari keluarga “Ong Eng Bouw” yang dibangun pada tahun 1836 kini setelah dimiliki oleh keturunannya Ibu Listya Sentoso Raharjo, telah di rubah fungsinya menjadi sebuah FO “Factory Outlet” sekaligus Resto Phuket yang menyajikan masakan-masakan khas Thailand.

  Omah Mode Kudus

Bangunan Omah Mode memiliki teras rumah yang lebar. Pilar-pilarnya besar, kusen-kusen kayu jati tua yang tebal dan bercat (bukan pelitur) demikian pula daun pintu dan jendelanya yang ganda. Banyak ornamen pada daun pintu dan jendela. Omah Mode tergolong bangunan tua atau antik di Kudus yang terselamatkan secara utuh.

Stasiun Kudus

Stasiun Kereta Api Kudus tahun 1990

Stasiun Kudus merupakan stasiun mati yang terletak di Wergu Kulon, Kota, Kudus. Stasiun yang dibangun pada tahun 1883 ini dahulu mempunyai cabang ke Mayong. Saat jaman Hindia Belanda, stasiun ini dimiliki oleh Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij. Sejak tahun 1980, penumpang turun drastis karena pelebaran jalan dan makin banyaknya kendaraan pribadi. Akhirnya stasiun ini di non-aktifkan pada tahun 1986.

Kondisi sekarang Stasiun Kereta Api Kudus (https://www.murianews.com)

Saat ini Stasiun Kudus berubah fungsi menjadi pasar tradisional Wergu. Emplasemen dan peron stasiun kini dipenuhi lapak-lapak pedagang. Kantor kepala stasiun kini dipakai untuk kantor pengelola pasar. Ornamen bangunan masih utuh dan di stasiun Kudus ini masih terdapat wesel yang kini berkarat. Plang nama stasiun, nomor jalur masih tergantung hingga kini. Rel kereta api beberapa masih terlihat di emplasen stasiun terkubur bangunan-bangunan baru.

Waduk Lawang Songo

Waduk Lawang Songo (https://priyatmaja.blogspot.co.id)

Waduk Lawang Songo ini terletak di Kabupaten Kudus, tepatnya di Desa Kalirejo Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus dan berbatasan dengan Desa Wilalung Kecamatan Gajah Kabupaten Demak.

Bangunan peninggalan Belanda ini di bangun sekitar tahun 1908-1916 dan mulai dioperasikan sekitar tahun 1918. Bangunan ini mempunyai fungsi utama sebagai pengatur irigasi pertanian dan pembagi pintu banjir di wilayah sekitar undaan Kudus. Bangunan ini merupakan pembagi pintu banjir yang bertujuan melindungi daerah Demak, Kudus dan Grobogan dari Banjir.

Waduk ini menghubungkan kedua desa tersebut sehingga akses perjalanan semakin dekat dan mudah. Jarak dari kota Kudus sampai Waduk Lawang Songo kurang lebih sekitar 16 km dan lama perjalanan sekitar 30-40 menit. Jalan yang dilalui untuk menuju lokasi ini sangat aman dan mulus, karena hampir semua jalan yang dilalui sudah beraspal dan tidak berliku.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Masjid Al-Mujahidin Kota Bengkulu Bengkulu

Mon Dec 26 , 2016
Masjid Al-Mujahidin Kota Bengkulu (https://duniamasjid.islamic-center.or.id) Masjid yang berdiri sekitar tahun 1850 ini, berlokasi di Pasar Bengkulu, Kecamatan Teluk Segar, Kota Bengkulu, Propinsi Bengkulu. Dahulunya berdiri di sekitar pemandian (batang air), atau tempat pemandian dangkal, yaitu suatu tempat pemandian para dewa, karena di sekitar tempat tersebut banyak terdapat sumur-sumur tua. Di […]