Wisata Sejarah di Jakarta Utara

1

Rumah Si Pitung (https://www.mitramuseumjakarta.org)

Wilayah Jakarta Utara yg merupakan bagian dari pemerintah daerah Khusus Ibukota Jakarta, ternyata pada abad ke 5 justru merupakan pusat pertumbuhan pemerintah kota Jakarta yg tepatnya terletak di muara sungai Ciliwung di daerah Angke. Saat itu muara Ciliwung merupakan Bandar Pelabuhan Kerajaan Tarumanegara dibawah pimpinan Raja Purnawarman. Betapa penting wilayah Jakarta Utara pada Saat itu dapat dilihat dari perebutan silih berganti antara berbagai pihak, yang peninggalannya sampai kini dapat ditemukan dibeberapa tempat di Jakarta Utara, seperti Kelurahan Tugu, Pasar Ikan dan lain sebagainya.

Restoran Raja Kuring

Restoran Raja Kuring (https://yunaarifa.wordpress.com)

Restoran Raja Kuring terletak di Jl. Kakap No. 5, RT.2/RW.5, Penjaringan, Jakarta Utara. Gedung Restoran ini dahulunya adalah bekas Kantor Dagang VOC yang dibangun tahun 1602 dan masih dipertahankan sampai sekarang, hanya bagian Interior restoran saja yang ada sedikit perubahan karena direnovasi untuk kebutuhan dalam menjalankan bisnis restoran tersebut.

Restoran Raja Kuring direnovasi (https://yunaarifa.wordpress.com)

Resto Galangan Kapal VOC

Resto Galangan Kapal VOC (https://dolanmaning.com)

Resto Galangan Kapal VOC terletak di Jl. Kakap 1 No. 1 – 3, Pluit, Penjaringan, RT.2/RW.5, Penjaringan, Jakarta Utara. Bangunan besar tersebut, aslinya didirikan di muara Kali Ciliwung, tidak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa, pelabuhan utama Batavia, tiga abad lalu.

Baca juga: Masjid Al-Alam Marunda

Galangan Kapal Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) didirikan pada tahun 1628 di Batavia. Pada waktu itu, Galangan kapal VOC adalah bangunan penting yang menyokong jaringan niaga di Hindia Belanda. Kapal-kapal, baik besar maupun kecil, bongkar muat di galangan, mengantarkan barang dagangan. Mulai dari rempah hingga kain yang merupakan komoditi berharga mahal.

Resto Galangan Kapal VOC dilihat dari menara syah bandar

Bangunan asli VOC Galangan seharusnya lebih besar lagi dari luasan totalnya sekarang yang mencapai lima ribu meter persegi. Kini, galangan kapal VOC yang tersisa hanyalah dua bangunan utama, yakni gedung selatan dan gedung utara yang terdiri dari dua lantai, serta taman belakang. Itupun banyak area yang terbengkalai.

Baca juga : Masjid Al Alam Cilincing

Dari “bengkel” perbaikan kapal dan kompleks perkantoran penting, sekarang VOC Galangan berfungsi sebagai kafe dan restoran China. Tak jarang, ada yang menggunakan tamannya yang luas dan hijau, sebagai lokasi resepsi, baik untuk pesta pernikahan, ulang tahun, ataupun acara reuni.

GPIB Tugu Jakarta

Gereja Tugu (https://www.djangkarubumi.com)

Gereja Tugu merupakan salah satu gereja tertua di Indonesia terletak di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Secara pasti tidak diketahui kapan mulai dibangun, tetapi para ahli sejarah menyimpulkan sekitar tahun 1676-1678, bersamaan dengan dibukanya sebuah sekolah rakyat pertama di Indonesia oleh Melchior Leydecker.

Pada tahun 1737 Gereja Tugu dilakukan renovasi yang pertama di bawah pimpinan pendeta Van De Tydt, dibantu oleh seorang pendeta keturunan Portugis kelahiran Lisabon yaitu Ferreira d’Almeida dan orang-orang Mardijkers.

Pada tahun 1740 gereja Tugu hancur, bersamaan dengan terjadinya peristiwa Pemberontakan Cina (Cina Onlusten) dan pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia, pada masa Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier yang berkuasa di Batavia pada tahun 1737 – 1741.

Kemudian pada tahun 1744 atas bantuan seorang tuan tanah Yustinus Vinck gereja ini dibangun kembali, dan baru selesai pada 29 Juli 1747 yang kemudian diresmikan pada tanggal 27 Juli 1748 oleh pendeta J.M. Mohr.

Sampai saat ini gereja tersebut masih berdiri dan berfungsi sebagai “GPIB Tugu”, walaupun di berbagai sudut sudah banyak yang harus diperbaiki karena faktor usia. Gereja ini tampak sederhana tetapi tampak kokoh dan rapi, dengan berisi bangku diakon antik, piring-piring logam, dan mimbar tua. Lonceng yang ada di gereja tersebut diperkirakan dibuat pada tahun 1880, karena lonceng paling tua yang dibuat 1747 sudah rusak dan disimpan di rumah pendeta di sana.

Rumah Si Pitung

Rumah Si Pitung (https://www.mitramuseumjakarta.org)

Merupakan satu dari sedikit rumah panggung Betawi yang tersisa. Rumah panggung ini merupakan representasi hunian panggung masyarakat Betawi yang tinggal di wilayah-wilayah Pesisir.

Rumah si Pitung dahulu merupakan rumah milik seorang saudagar kaya asal Bugis bernama H. Safiuddin dan telah berdiri sejak tahun 1800-an. Rumah ini merupakan salah satu rumah yang pernah dirampok si Pitung. Peristiwa perampokan rumah H. Safiuddin dimuat dalam surat kabar Hindia Olanda, 10 Agustus 1892.

Terkait hubungan Pitung dengan H. Safiuddin, terdapat dua versi yang berbeda dalam menjelaskan hubungan mereka.

  • Versi pertama menyebut H. Safiuddin hanya salah satu dari korban perampokan yang dilakukan oleh Pitung.
  • Versi kedua menyebutkan bahwa H. Safiuddin sesungguhnya adalah sahabat dari Pitung dan rumahnya kerap dijadikan lokasi bersembunyi si Pitung, agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak Belanda bahwa rumah itu menjadi lokasi persembunyian si Pitung kemudian dilakukan skenario perampokan tersebut.

Pemugaran

Pada tahun 2010 rumah Si Pitung direnovasi kembali oleh pemerintah dengan anggaran Rp. 3 miliar. Renovasi yang dilakukan adalah meninggikan bangunan setinggi 4 meter (agar terhindar dari air laut yang pasang), mengganti lantai aslinya yang tadinya terbuat dari bilah-bilah bambu untuk kemudian diganti dengan kayu.

Dua tahun kemudian dilakukan renovasi kembali oleh Dinas Kebudayaan Jakarta Utara. Renovasi dengan anggaran Rp 2,1 miliar itu hanya dilakukan pada bangunan lain, halaman serta gerbang, pagar yang mengelilingi rumah Si Pitung.

Meskipun renovasi dilakukan beberapa kali, model asli bangunan tetap dipertahankan. Untuk masuk ke Rumah si Pitung, pengunjung harus menaiki tangga yang posisinya berada di sisi utara.

Di dalam rumah terdapat ruang tamu berukuran kira-kira 2 x 2,5 meter, kamar tidur berserta kasurnya, ruang makan, dan dapur yang mengarah ke beranda belakang.

Menara Syahbandar

Menara Syahbandar (https://www.republika.co.id)

Menara Syahbandar (Uitkijk) dibangun sekitar tahun 1839 yang berfungsi sebagai menara pemantau bagi kapal-kapal yang keluar-masuk Kota Batavia lewat jalur laut serta berfungsi kantor “pabean” yakni mengumpulkan pajak atas barang-barang yang dibongkar di pelabuhan Sunda Kelapa.

Menara dengan bangunan setinggi 12 meter dengan ukuran 4 x 8 meter ini, secara perlahan menjadi miring sehingga kerap disebut “Menara Miring”. Posisinya yang persis disisi jalan raya Pakin, dimana setiap hari padat oleh kendaraan dan tak jarang jenis kendaraan berat seperti truk kontainer, menambah beban getar disisi selatan menara. Menara ini juga disebut “Menara Goyang” karena menara ini terasa bergoyang ketika mobil melewati sekitarnya.

Pelabuhan Tanjung Priok

Pelabuhan Tanjung Priok pada pemerintahan Hindia Belanda (https://id.wikipedia.org)

Pelabuhan Tanjung Priok terletak di Jl. Raya Pelabuhan, No. 9 Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Pembangunan pelabuhan Tanjung Priok dimulai pada tahun 1877 dan selesai pada tahun 1886. Dengan demikian, Jawa memiliki pelabuhan laut pertama dimana kapal – kapal dapat ditambatkan ke dermaga, yang memuat batubara dan menjalani perbaikan di dok kering. Pelabuhan Tanjung Priok dihubungkan dengan Batavia melalui jalan, kanal dan jalur kereta api. Pada perkembangannya, pelabuhan Tanjung Priok menjadi salah satu pelabuhan terbesar dan ramai di kunjungi.

Sejarah

Foto udara kawasan Pelabuhan Tanjung Priok menggunakan Helikopter Super Puma NAS-332 milik Skuadron 45 TNI AU di Jakarta, Kamis (18/6). Kapasitas Pelabuhan Tanjung Priok diproyeksi akan meningkat dari lima juta TEus ke enam juta TEus per tahun, dengan beroperasinya Pelabuhan Kalibaru atau New Priok yang dijadwalkan selesai pada bulan Juli 2015. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/Rei/foc/15.

Kesulitan mendarat di dermaga Sunda Kelapa merupakan penyebab utama pemindahan pelabuhan utama dari pelabuhan ini ke Tanjung Priok pada 1880-an. Peningkatan endapan lumpur di muara kali menyebabkan kapal – kapal harus berlabuh semakin jauh dari daratan. Upaya itu dilakukan untuk menjaga agar jalur masuk ke kali tetap terbuka, melibatkan perjuangan berkepanjangan melawan endapan pasir melalui kombinasi pengerukan dengan pembangunan dinding kanal yang menjorok ke laut. Proses bongkar muat kapal membutuhkan rombongan tongkang. Proses ini memakan banyak waktu dan menjadi berbahaya jika dilakukan sepanjang musim muson barat karena gelombang besar di laut.

Pelabuhan Tanjung Priok merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Hindia-Belanda yang menjadi gerbang utama dalam hal perdagangan pada abad ke-19. Pelabuhan Tanjung Priok mulai di bangun pada tahun 1877 di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Johan Wilhelm Van Lansberge.

Tahap Pembangunan

Pembangunan awal dikonsentrasikan pada pembuatan kolam pelabuhan I. Tujuannya adalah untuk tempat singgah kapal-kapal dagang, kapal api, atau pun kapal – kapal yang memuat batu bara. Pembangunan kolam pelabuhan I selesai pada tahun 1883.

Pada masa Gubernur Jenderal A.F.W Idenburg  tepatnya pada tahun 1914 pembangunan kolam pelabuhan II di Tanjung Priok dimulai. Pembangunan tersebut dilakukan karena terjadi kebutuhan akan ruang kapal. Akibatnya terjadi kemacetan arus dagang pada 1912. Pembangunan kolam pelabuhan II akhirnya selesai pada tahun 1917.

Waktu Bongkar Muat (Dwelling Time)

Pelabuhan Tanjung Priok diketahui memiliki waktu dwelling time atau lama proses bongkar muat selama kurang lebih 5,5 hari. Dalam mimpi pemerintah, bisa melakukan dwelling time selama dua hari. Dengan terkait langsung dengan berinvestasi yang masuk di Indonesia, dan saat ini sudah ada lebih dari 40 industri yang akan masuk di Tanah Air.

Stasiun Tanjung Priok

Stasiun Tanjung Priok pada jaman Hindia Belanda (https://commons.wikimedia.org)

Pada tahun 1914 juga dibangun stasiun kereta Tanjung Priok yang merupakan karya Ir. J.C.W Koch, Insinyur utama dari Staats Spoorwegen. Dalam pembangunannya, dikerahkan oleh 1700 tenaga kerja dengan 130 pekerja dari Eropa di dalamnya. Saat itu stasiun kereta api Tanjung Priok juga difungsikan sebagai tempat menginap bagi tempat menginap penumpang yang akan menunggu kedatangan kapal. Kamar-kamar penginapannya terletak di sebelah kiri bangunan yang disediakan khusus bagi penumpang Belanda atau Eropa lainnya yang bahkan dilengkapi dengan ruang bawah tanah sebagai gudang logistic. Stasiun ini diresmikan pada 6 April 1925.

Stasiun Tanjung Priok saat kini (https://id.wikipedia.org)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Wisata Sejarah di Kabupaten Kepulauan Seribu

Tue Mar 19 , 2019
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu adalah sebuah kabupaten administrasi di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Wilayahnya meliputi gugusan Kepulauan Seribu di Teluk Jakarta, dulu pernah menjadi bagian dari Jakarta Utara. Pusat pemerintahan kabupaten ini terletak di Pulau Pramuka yang mulai difungsikan sebagai pusat pemerintahan kabupaten sejak tahun 2003. Terdapat dua Kecamatan di […]