Wisata Sejarah di Jakarta Pusat

1

Pada abad 18, Batavia mempunyai problem akut dalam hal ekologi. Sanitasi dan sistem drainase yang buruk menyebabkan munculnya pelbagai penyakit, seperti malaria, disentri, dan kolera di kawasan Kota Lama (Blusse, 2004). Malaria bahkan dianggap seperti “kutukan” yang mengancam populasi penduduk Batavia. Penyakit ini menelan korban hingga 2.000-3.000 pekerja per tahun setelah tahun 1773 (van Der Brug, 2000). Karena keadaan kawasan Kota Lama yang bertambah buruk, julukan yang pernah disandang oleh Batavia sebagai sang “Ratu dari Timur” dipelesetkan menjadi “Kuburan dari Timur”.

Baca juga: Tempat Pentas Seni Budaya di Jakarta

Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels, yang melihat kawasan Kota Lama sudah tidak sehat dan nyaman, memerintahkan pemindahan pusat pemerintahan dan militer dari kawasan Old Town (Kota Tua, Jakarta Kota dan Pasar Ikan) ke New Town, daerah Weltevreden (Lapangan Banteng, Gambir, dan sekitarnya) yang lebih ke selatan, hijau, dan sejuk.

Istana Merdeka

Salah satu dari enam istana kepresidenan Republik Indonesia. Istana Merdeka terletak di Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat menghadap Jl. Medan Merdeka Utara atau lebih populer dengan sebutan Lapangan Monas. Istana Merdeka berada dalam satu pekarangan dengan Istana Negara terletak di Jl. Veteran, Jakarta Pusat, dalam posisi bertolak belakang sehingga sering disebut Istana Kembar. Dengan total luas keseluruhannya mencapai 68,000 m², kompleks ini meliputi 3 bangunan penting lainnya seperti Bina Graha, Wisma Negara, dan kantor Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Sejarah

Istana Negara (Istana Rijswikjk)

Istana Negara (https://id.wikipedia.org)

Pada awalnya di Istana Negara di Jakarta ini hanya terdapat satu bangunan, yaitu Istana Negara. Gedung yang mulai dibangun tahun 1796 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten dan selesai 1804 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes Siberg ini semula merupakan rumah peristirahatan luar kota milik pengusaha Belanda, Jacob Andries Van Braam. Kala itu kawasan yang belakangan dikenal dengan nama Harmoni memang merupakan lokasi paling bergengsi di Batavia Baru.

Istana Negara (http://presidenri.go.id)

Pada tahun 1820 rumah peristirahatan van Braam ini disewa dan kemudian dibeli tahun 1821 oleh pemerintah kolonial untuk digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta tempat tinggal para gubernur jenderal bila berurusan di Batavia (Jakarta).

Pada mulanya bangunan seluas 3.375 m2 berarsitektur gaya Yunani Kuno ini bertingkat dua. Tapi pada 1848 bagian atasnya dibongkar; dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang tanpa ada perubahan yang berarti.

Istana Merdeka

Istana Merdeka (https://titiknol.co.id)

Pada tahun 1869 Gubernur Jenderal Pieter Mijer mengajukan permohonan untuk membangun sebuah gedung baru yang bertolak belakang dengan rumah Braam sebagai kediaman resminya. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal James Lindon permohonan ini dipenuhi pada 25 Maret 1873, saat keluar keputusan untuk membangun sebuah istana dekat Istana Rijswikjk, pada jalan yang menghadap Koningsplein (Lapangan Monas atau Medan Merdeka Utara). Maka dimulailah pembangunan gedung istana ini di bawah pengawasan arsitek Mr. Drossares. Pembangunan dilaksanakan oleh Departemen Pekerjaan Umum dengan pemborong “Firma Prossacra” yang menelan biaya sebesar f 360.000,-. Selesai tahun 1879 masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Willem van Landsberge, dinamakan Paleis te Koningsplein (Istana Koningsplein).

Istana Merdeka (http://presidenri.go.id)

Istana ini memiliki sederetan nama antara lain Istana Koningsplein, Istana Gambir, Istana Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Istana Wakil Tinggi Mahkota Belanda, Istana Van Mook, Istana Saiko Syikikan, dan terakhir Istana Merdeka. Sebelum dinamakan Istana Merdeka, gedung ini bernama Istana Gambir atau Koningsplein Paleis dipakai sebagai “Istana Wakil Tinggi Mahkamah Belanda”. Terletak di Jl. Medan Merdeka Utara.

Pada awal masa pemerintahan Republik Indonesia, sempat menjadi saksi sejarah penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Waktu itu RI diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan kerajaan Belanda diwakili A.H.J. Lovink, wakil tinggi mahkota Belanda di Indonesia.

Dalam upacara yang mengharukan itu bendera Belanda diturunkan dan bendera Indonesia dinaikkan ke langit biru. Ratusan ribu orang memenuhi tanah lapangan dan tangga-tangga gedung ini diam mematung dan meneteskan air mata ketika bendera Merah Putih dinaikkan. Tetapi, ketika Sang Merah Putih menjulang ke atas dan berkibar, meledaklah kegembiraan mereka dan terdengar teriakan: Merdeka! Merdeka! Sejak saat itu Istana Gambir dinamakan Istana Merdeka.

Bina Graha

Letak Bina Graha di Jl. Veteran 17, Jakarta Pusat, di sebelah timur Istana Negara menghadap Sungai Ciliwung. Gedung ini salah satu dari beberapa gedung di halaman Istana Kepresidenan Jakarta.

Gedung berlantai II Bina Graha dibangun pada masa pemerintahan Soeharto. Direktur Utama PT Pertamina Ibnu Sutowo adalah orang yang menggagas pembangunannya. Pembangunan gedung seluas 2.955,30 meter persegi itu dimulai pada tahun 1969 dan selesai tahun 1970. Kaca jendela gedung itu tebal, anti peluru.

Gedung Kesenian Jakarta (GKJ)

Gedung Kesenian Jakarta (https://rebanas.com)

Gedung Kesenian Jakarta atau lebih dikenal dengan nama gedung GKJ terletak di Jl. Gedung Kesenian No. 1, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat 10710. Gedung yang awalnya bernama Stadtschouwburg ini dirancang oleh para perwira zeni VOC Belanda. Pembangunan gedung ini dimulai pada tanggal 6 Juli 1820 dan selesai pada tanggal 7 Desember 1821.

Gedung Kesenian Jakarta (http://www.kuratorial.dkj.or.id)

Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini sempat dijadikan sebagai markas tentara Jepang sebelum dikembalikan fungsinya sebagai gedung pertunjukan pada tahun 1943. Pasca kemerdekaan, gedung ini sempat digunakan oleh KNIP dan Universitas Indonesia untuk kegiatan fakultas ekonomi dan hukum. Selanjutnya pada periode 1957-1962 digunakan sebagai Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Bangunan ini juga beberapa kali sempat dijadikan sebagai bioskop, yakni Bioskop Diana (1968) dan Bioskop City Theater (1969). Pada tahun 1984 barulah bangunan ini dikembalikan fungsinya seperti semula yakni sebagai gedung kesenian.

Bangunan ini mengalami pemugaran dan kemudian diaktifkan sebagai gedung seni pertunjukan pada 5 September 1987, dan dinamakan sebagai Gedung Kesenian Jakarta. GKJ sangat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan tempat pergelaran seni pertunjukkan yang sarna sekali berbeda dengan tempat pergelaran yang sudah ada. Perbedaan itu terutama dalam hal pemilihan materi pertunjukkan dan gaya penampilannya. Dalam hal ini, bila Taman Ismail Marzuki (TIM) dikhususkan untuk kesenian hasil pencarian baru dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menampilkan seni tradisional.

Gedung Departemen Luar Negeri

Gedung Departemen Luar Negeri (https://jakarta.go.id)

Gedung ini terletak di JI. Pejambon No. 6, Kelurahan Senen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat 10410. Kawasan ini dulunya merupakan bagian dari lahan pertanian milik keluarga Anthony ChasteIijn yang ditanami tebu dan padi untuk keperluan VOC Belanda. Seiring perkembangannya, kemudian didirikan penggilingan gula tebu. Pada akhir abad ke-18 lingkungan di sekitar Pejambon dinamakan Hertogpark atau Taman Bangsawan.

Gedung Raad van Indie atau Gedung Garuda (https://id.pinterest.com)

Bangunan gedung Raad van Indie dibangun tahun 1830 dengan gaya arsitektur perpanduan antara Klasisisme, Empire dan Doric. Perancangnya adalah Ir. J. Tromp mendesain bangunan tersebut dan sering digunakan untuk acara pertemuan karena kawasan di sekitarnya saat itu memiliki udara yang cukup nyaman dan sejuk. Gedung ini sekilas mirip dengan bangunan Istana merdeka namun ukurannya lebih kecil, dinamakan Gedung Garuda.

Gedung Raad van Indie (https://id.pinterest.com)

Pada awal abad ke-20, gedung ini menjadi kediaman Panglima tertinggi pemerintahan Hindia Belanda sebelum pindah ke Bandung (1914-1917).Gedung ini kemudian digunakan sebagai tempat pertemuan Volksraad (dewan rakyat pada masa pemerintahan Hindia Belanda). Pada tahun 1945 gedung ini menjadi tempat pertemuan dan sidang BPUPKI (Badan Persiapan Umum Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan menjadi lokasi dimana Bung Karno pertama kali menyampaikan gagasannya tentang konsep Pancasila. Hal inilah yang kemudian membuat gedung ini dinamakan sebagai Gedung Pancasila.

Gedung Pancasila (https://id.pinterest.com)

Pada tahun 1945-1949 gedung ini difungsikan sebagai gedung Komite Indonesia Serikat untuk bersidang. Gedung ini akhirnya digunakan oleh Departemen Luar Negeri RI pada tahun 1956 hingga saat ini.

Gedung Pancasila (https://id.wikipedia.org)

Gedung Mahkamah Agung

Gedung Mahkamah Agung (https://www.flickr.com)

Terletak di Jl. Medan Merdeka Utara No.9 – 13, RT.02, Gambir, Kota Jakarta Pusat. Disebut juga Hoogerechshaf sejak dibangun dipakai sebagai tempat peradilan tinggi di Indonesia. Pada awalnya didirikan tahun 1848, merupakan bagian gedung yang dipergunakan Departemen van Finaneient. Pemerintah kolonial Belanda kemudian menggunakan gedung ini sebagai gedung peradilan pada 1 Mei 1942. Pada zaman Jepang, gedung ini dipergunakan sebagai tempat peradilan dan sesudah merdeka tetap berfungsi sebagai Gedung Mahkamah Agung karena corak gedung indah dan megah ini sangat cocok dengan situasi lingkungannya.

Gedung Mahkamah Agung

Bangunan tua ini bergaya Eropa (Belanda) dengan corak dekoratif. Pada waktu itu banyak gedung-gedung besar dan megah dibangun memakai hiasan bergaya barok berukuran besar-besar dengan tembok yang tebal-tebal serta ruangan-ruangan yang besar dan mempunyai tingkat-tingkat dengan jendela-jendela yang besar pula. Pada masa itu merupakan masa perkembangan kebudayaan Barat (Belanda) khususnya dalam kesenian bangunan. Misalnya orang-orang Belanda membuat penel pintu dan jendela-jendela rumahnya dengan ukiran-ukiran yang menjulang tinggi dengan warna khas. Dasar berwarna coklat tua kemerah-merahan, sedangkan di pinggirnya memakai pelestir air emas.

Orang Belanda berusaha untuk memindahkan seni bangunan gaya Eropa (Belanda) di Indonesia khususnya Batavia. Pada kenyataannya tidaklah bertahan lama karena iklim serta situasi kondisi lingkungan di Indonesia tidak mendukung. Karena itu pula sebenarnya pengaruh gaya bangunan-bangunan Belanda dan Eropa lainnya yang datang di Jakarta akan menimbulkan akan menimbulkan gaya bangunan-bangunan Mestizo, suatu unsur percampuran antara gaya Barat dan Indonesia. Bentuk serta tiang-tiang corak Romawi-Yunani, dan lainnya masuk ke Jakarta melalui kesenian bangunan yang dikenal oleh orang-orang Eropa (Belanda) yang sejak abad ke-17 diantaranya Gedung Mahkamah Agung di Kota Jakarta.

Gedung Direktorat Jenderal Perhubungan Laut

Gedung Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (https://en.wikipedia.org

Gedung Koninklijke Paketvaar Maatschappij terletak di Jl. Medan Merdeka Timur No. 5, Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat 10110. Gedung yang dirancang oleh F.J.L. Ghijsels, Heins von Essen dan Stolz ini dibangun antara tahun 1916-1918. Gaya arsitektur bangunannya adalah perpaduan antara klasik dan Art Deco. Gedung ini awalnya dibangun untuk kantor pusat Koninklijke Paketvaar Maatschappij (KPM), yakni sebuah perusahaan perlayaran dan perkapalan Belanda yang didirikan pada tanggal 12 Agustus 1888.

Gedung ini berbentuk empat persegi panjang yang terdiri dari tiga lantai dengan ubin teraso dan beratap genteng. Untuk menuju ke lantai dua gedung ini, terdapat tangga berbentuk sangat unik dan di atasnya terdapat lukisan dan tulisan Koninklijke Paketvaart Matsehappij.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan sebagai kantor urusan laut pemerintah Jepang. Saat ini gedung KPM dikelola dan digunakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut RI dan masih dalam kondisi asli serta terawat dengan baik.

Gedung Jaya Gas

Gedung Jaya Gas

Bangunan ini terletak di Jl. Senen Raya No. 13, Jakarta Pusat 10410. Bangunan ini memiliki gaya arsitektur Vernaculer – Ekletism (penerapan arsitektur Belanda – Lokal) didirikan sekitar abad ke-19. Awalnya bangunan ini adalah rumah tinggal seorang Kapiten Cina yang bernama Wang Seng. Pada masa revolusi fisik kemerdekaan bangunan ini menjadi pusat hiburan bagi parjurit militer Belanda (KNIL/KL). Bangunan ini kemudian sempat menjadi kantor Perusahaan Jaya Gas sebelum akhirnya berubah fungsi menjadi restoran Pizza Hut namun tetap mempertahankan kondisi asli bangunan.

Aspek sejarah keberadaan gedung ini merupakan gambaran tentang struktur masyarakat di Batavia tempo dulu, dimana terjadi pengelompokan berdasarkan ras. Di sekitar tempat ini dahulu merupakan pemukiman Cina yang dikepalai oleh Kapiten Wang Seng.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1

SMK Negeri 1 (http://smkn1jakarta.sch.id)

Terletak di Jalan Budi Utomo No.7, Jakarta Pusat. Bangunan gedung ini berarsitektur gaya Indische didirikan tahun 1906 oleh Belanda dengan nama “Koning Klike Wilhelmina School” yang disingkat KWS. KWS tersebut didirikan belanda dengan tujuan mendidik siswa-siswa Belanda dan siswi pribumi pilihan yang dipersiapkan sebagai tenaga teknik dalam rangka membangun negara Hindia Belanda. Konon, banyak lulusan KWS yang berhasil pada masa itu. Kemudian setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dan kekuasaan pemerintah diambil alih oleh putra bangsa Indonesia, maka pada tahun 1946 Koning Klike Wilhelmina School (KWS) dirubah namanya menjadi Sekolah Teknik Menengah (STM).

Selama masa perjuangan gedung ini juga memanfaatkan oleh para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, antara lain :

  • Pada tanggal 10 September 1945 di gedung sekolah ini berdiri Badan Keamanan Rakyat Bagian Laut yang merupakan cikal bakal TNI Angkatan Laut.
  • Gedung ini pernah dipergunakan untuk Palang Merah Indonesia, guna untuk membantu para pejuang Republik Indonesia.
  • Pada masa penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962, gedung ini juga dipergunakan untuk Markas besar Asian Games IV. Pada saat itu gedung sekolah sisi timur untuk belajar para siswa STM 1, sedangkan gedung sekolah sisi barat Markas Besar Asian Games IV dan Ganefo I. Setelah selesai penyelenggaraan kegiatan Asian Games IV dan Ganefo I pada tahun 1966 seluruh gedung dikembalikan kepada STM 1 sampai sekarang.
  • Mengingat gedung ini mempunyai nilai sejarah dan termasuk salah satu gedung yang harus di lindungi serta setelah masuk dalam aset cagar budaya daerah gedung ini tidak akan mengalami perubahan bentuk.
    Pada tanggal 10 September 1978 oleh Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta, bapak Letjend. Tjokopranolo gedung ini diresmikan sebagai gedung perjuangan yang ditandai dengan penandatanganan Prasasti. Hingga kini gedung ini masih tetap seperti pertama dibangun pada tahun 1906.

Gedung Markas Kostrad

Gedung Markas Kostrad (https://id.wikipedia.org)

Terletak di Jl. Medan Merdeka Timur No.3, Jakarta Pusat. Dibangun abad ke-20 dengan arsitektur gaya Indische. Gedung ini antara lain pernah dimanfaatkan sebagai Pusat Pengendalian Operasi Penumpasan G30S/PKI. 0leh karena itu gedung ini juga merupakan tonggak sejarah lahirnya Orde Baru. Bangunan menempati lokasi seluas 550 m2, terdiri tujuh mangan dan sebuah lorong tengah. Bertepatan dengan HUT Kostrad ke-22 tahun 1983, Presiden Soeharto meresmikan gedung ini sebagai Museum.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Wisata Sejarah di Jakarta Timur

Wed Mar 20 , 2019
Wilayah Jatinegara dulunya memang bernama Mester Cornelis. Sampai sekarang Pasar Jatingara pun disebut Pasar Mester. Pada pintu masuk pasar dari Jalan Jatinegara Timur terpampang tulisan “Pasar Mester’. Para kondektur bus pun masih berteriak ‘mester… mester…’ ketika melintas di daerah Jatinegara. Mereka hendak memberi tahu penumpang bahwa bus sudah sampai di […]