Kain Tenun Aceh

9be0d-motifpintoaceh Tenun motif Pinto Aceh (https://humairaarifah.blogspot.com)

Di Aceh, selain kerajinan kain tenun juga terkenal dengan kegiatan sulamannya yang menggunakan teknik aplikasi. Warna-warna dan disain banyak dipengaruhi oleh motif-motif yang dibawa oleh para pedagang Arab yang berdatangan pada waktu agama Islam mulai menyebar di daerah Aceh.

Disain yang dipergunakan para penenun di Aceh mencakup serangkaian bentuk garis dan petak dengan pola geometris. Penggunaan benang lungsin dan benang pakan yang berlainan warna akan menghasilkan suatu pengaruh yang menarik pada kain tersebut. Pada waktu itu, teknik yang digunakan adalah teknik ikat, yaitu dibuat sejumlah ikatan kencang pada seberkas benang dengan mengikuti suatu pola hingga pada bagian benang yang tertutup ikatannya tidak terkena warna pada saat dicelupkan. Dengan demikian, Aceh satu-satunya daerah di Nusantara yang benang lungsinya dibuat secara ikatan. Disain ikat tersebut membentuk mata panah halus yang bersarang dalam lajur berwarna, serupa dengan disain yang terdapat pada disain Batak. Ada kemungkinan orang Batak mengikuti pola disain tenun Aceh.

Disain tekstil yang rumit dan pelik tersebut dikerjakan oleh orang Aceh dengan benang pakan emas dalam tatanan geometris dan bentuk bunga yang menghiasi kain. Disain motif yang paling disukai adalah ular naga yang ditampilkan dalam berbagai ragam. Dalam disain tersebut dimungkinkan terdapat pengaruh Hindu. Akan tetapi, menurut Mens Fier Smedling, sutera Aceh bermotif benang emas merupakan pengaruh dari Persia.

e3d7c-atbm Alat Tenun Bukan Mesin (ATMB) – https://www.ukmtenunindonesia.info

Koleksi disain songket Aceh banyak dihimpun oleh ahli etnologi Belanda, J. Kreemer, pada awal abad ke-20. Selain itu, tekstil sutera Aceh juga tersimpan di Museum Leiden dengan berbagai motif, sebagai berikut: di bagian tengah terdapat pola yang terbentuk dari sejumlah bunga mawar kecil, sedangkan di tepinya berhias motif tumpal dan bunga. Ada juga di antara motif tersebut, yaitu di tengahnya seperti kembang manggis berbentuk bintang, di tepinya bermotif bunga dan tumpal.

Kehebatan tenun Aceh tidak hanya karena rumit dan kepelikannya, tetapi juga pilihan warna yang digunakan begitu kaya dan mencakup berbagai nuansa. Di antara warna yang digunakan adalah hitam, merah, kuning, hijau, biru, dan ungu, merupakan warna yang paling umum digunakan, yang dibuat dari bahan nabati.

Pekerjaan mencelup kain pada abad ke-18 dilukiskan dalam hikayat Pocut Muhammad, sebagai berikut: “lagi dua puluh helai kain telah dipotong, semuanya bahan halus bertepian kuat. Bahan sorban semuanya dicelup berwarna ungu, separuhnya dipotong dan dicelup beraneka warna untuk orang Jawa. Separuhnya lagi untuk bahan bagi tuanku, yang dicelup berwarna merah, merahnya bungong raja (hibiskus). Keusumba (safran) dilindi di sungai dalam jumlah besar sehingga sungai menjadi merah sampai ke muaranya. Air sungai itu tercemar akibat mencelup kain, tuanku.”

934f4-tenunaceh Tenun Aceh (https://www.ukmtenunindonesia.info)

Mencelup kain merupakan bagian yang sangat penting dari industri menenun sutera, seperti yang terungkap dalam sebuah daftar panjang bahan celup Aceh yang disusun pada akhir abad ke-19. Di antara bahan celup tersebut adalah

  1. Bangko. Rebusan kulit pohon ini mengandung bahan pewarna kecoklat-coklatan yang digunakan untuk mencelup kain.
  2. Gaca. Pacar, tanaman belukar yang daunnya dilumat untuk memerahi (menginai) kuku jari tangan dan kaki.
  3. Gaci. Kulit pohonnya dilumat dan kemudian direndam dan diperas. Cairannya digunakan untuk mencelup jala ikan.
  4. Keusumba. Safran, rebusan bunga ini digunakan untuk mencelup sutera, katun, dan benang sehingga menjadi merah tua. Bunga ini banyak dibudidayakan di daerah pedesaan pada waktu itu.
  5. Kudrang. Rebusan kulit pohon ini digunakan untuk mencelup sutera dan katun agar berwarna kuning.
  6. Keumudee. Mengkudu, rebusan akar pohon ini digunakan untuk mencelup katun menjadi berwarna merah.
  7. Mireh. Rebusan kulit pohon ini menghasilkan warna merah untuk bahan celupan kain.
  8. Ubar. Rebusan kulit pohon ini menghasilkan bahan celupan berwarna merah dan hanya digunakan untuk mencelup jala para nelayan.
  9. Ulem. Rebusan kulit pohon ini digunakan untuk mencelup sutera dan katun agar berwarna merah. Pohon ini banyak dibudidayakan di desa-desa di Aceh pada zaman dahulu.
  10. Reugon. Rebusan kulit pohon ini digunakan untuk mencelup kain menjadi berwarna hitam.
  11. Seunam. Nila atau indigo, bahan pewarna dari daun tanaman belukar yang digunakan untuk mencelup katun menjadi berwarna biru.
  12. Seupeueng. Sepang atau secang, rebusan kulit pohon ini digunakan sebagai pencelup bahan dari sutera, katun, dan benang agar berwarna merah. Agar tidak memudar, bahan ini dicampurkan dengan gandarukam.
  13. Teungge. Rebusan kulit pohon ini menghasilkan bahan celupan gelap yang digunakan untuk mencelup kain agar berwarna hitam.
  14. Cibree. Rebusan kulit pohon ini berguna untuk membangun warna gelap pada kain katun.

Mencelup bahan tenun merupakan pekerjaan yang demikian menentukan dalam proses menenun sehingga orang Aceh beranggapan: “baik sekali jika menginang sirih pada waktu merebus malo, karena merahnya sirih berpengaruh baik atas merahnya bahan celupan. Apabila sempat terjadi bahwa bahan indigo yang disiapkan seorang perempuan tidak menghasilkan warna yang bagus pada bahan sutera, artinya salah seorang kerabatnya akan mendapat musibah kelak”.

Kepandaian menenun tidak saja dipergunakan untuk sekedar menghasilkan hanya kain sebagai penutup tubuh, tapi lebih dari itu kain tersebut dapat merupakan sebuah karya seni yang muncul sesuai dengan alur kehidupan masyarakat. Sehelai kain tenun yang indah, tidak saja berfungsi sebagai busana penutup tubuh, tetapi juga dapat menunjukkan derajat dan martabat si pemakainya.

Sebagaimana halnya sulaman benang emas, sutera digunakan untuk tujuan peragaan dan kemulyaan. Baik laki-laki maupun perempuan mengenakan sehelai sarung sutera di atas celana hitam khas Aceh. Untuk perempuan biasanya mengenakan selendang sutera berukuran panjang dan lebar yang diletakkan di bahu atau sebagai penutup kepala. Para lelaki biasanya menghias topi kebesaran mereka dengan sehelai kain sutera bersegi, hal itu untuk menambah pamor dan wibawanya. Kain tersebut dilipat dalam bentuk sudut bertemu sudut, kemudian dililitkan di sekeliling topi Aceh hingga membentuk kopiah meukeutop.

Motif Tenun Aceh

Motif tenun Aceh yang lebih populer saat ini di antaranya pucuk rebung, pintu Aceh, bunga cempaka, juga motif Gayo. Adapun motif-motif Tenun khas Aceh yang lain yaitu

1. Awan Sion

92fcc-awan_sion

2. Bakulah dan Halua Reuteuk

29e79-bakulah_dan_halua_reuteuk

3. Bungong Ayu Ayu

5989f-bungong_ayu_ayu

4. Bungong Campi

f0706-bungong_campi

5. Bungong Ceureupa

6. Bungong Eteubai

bb4ba-bungong_eteubai

7. Bungong Gasing dan Bungong Rante Lhe

fb440-bungong_gasing_dan_bungong_rante_lhe

8. Bungong Gasing dan Bungong Reudeup

9e47c-bungong_gasing_dan_bungong_reudeup

9. Bungong Kala

9d090-bungong_kala

10. Bungong Kujreut

b3dde-bungong_kujreut

11. Bungong Kuthaeng

4a29f-bungong_kuthaeng

12. Bungong Pala

8ed7b-bungong_pala

13. Bungong Peut Sago

216fe-bungong_peut_sago

14. Bungong UU

d5c32-bungong_uu

15. Geulima Meupucok dan Bungong Kupula

530c0-geulima_meupucok_dan_bungong_kupula

16. Geulima Meupucok

40aa9-geulima_meupucok

17. Ireh Halua Meurantee dan Bungong Kupula

2a251-ireh_halua_meurantee_dan_bungong_kupula

18. Kalimah Lailah Hailallallah

15a24-kalimah_lailah_hailallallah

19. Kertah Canden

8adaa-kertah_canden

20. Lidah Tiyong

253fa-lidah_tiyong

21. Manyam Pineung

0623c-manyam_pineung

22. Mata Manok

4a6b2-mata_manok

23. Meurantee

0a270-meurantee

24. Phacangguk

86aeb-phacangguk

25. Plok uu dan Bukulah

ce2a8-plok_uu_dan_bukulah

26. Pucok – Meuriya

de30e-pucok_-_meuriya

27. Pucok Geulima Bakulah

5c973-pucok_geulima_bakulah

28. Pucok Labu

5c565-pucok_labu

29. Pucok Paku

2d66e-pucok_paku

30. Pucok Reubong Meurinda dan Ireh Halua Meurantee

31. Rantee Melapeh dan Pucok Reubang

5800a-rantee_melapeh_dan_pucok_reubang

32. Rantee Sion

2193c-rantee_sion

33. Reubong Aceh (Pucok)

4eab1-reubong_aceh_pucok

 

34. Reubong Aceh (Utom)

62248-reubong_aceh_utom

35. Sirep Buya

0b6a0-sirep_buya

36. Timpeung – Mata – Uro

0b2cf-timpeung_-_mata_-_uro

37. Tunjong Meurinda dan Ranteelhee

57122-tunjong_meurinda_dan_ranteelhee

Sumber bacaan:
1. Miftahulsyifa
2. Ukmtenunindonesia

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Kain Tenun Sumatera Utara

Wed Apr 16 , 2014
Selain terkenal dengan tarian, tempat-tempat menarik, dan makanannya, Provinsi Sumatera Utara juga kaya akan hasil kerajinan seni budaya. Salah satunya adalah kain tenun. Ulos adalah kain tenun khas suku Batak. Tak hanya sebatas hasil kerajinan seni budaya saja, kain Ulos pun sarat dengan arti dan makna. Pengrajin kain Ulos (https://ulosbataksumut.blogspot.com) […]