Tarian Tradisional Banjarnegara Jawa Tengah

1

Bekas Karesidenan Banyumas pada masa pemerintahan Hindia Belanda, umumnya adalah wilayah yang dianggap meliputi sebaran budaya masyarakat Banyumasan. Bahasa Banyumasan adalah salah satu ciri yang menjadi identitas masyarakat Banyumasan.

Wilayah Banyumasan secara umum terdiri dari 2 bagian, yaitu wilayah Banyumasan Utara yang terdiri dari Brebes, Tegal dan Pemalang, serta wilayah Banyumasan Selatan yang mencakup Cilacap, Kebumen, Banjarnegara, Purbalingga dan Banyumas. Hal ini merupakan implikasi dari regionalisasi yang dilakukan pada zaman dahulu. Walaupun terdapat sedikit perbedaan (nuansa) adat-istiadat dan logat bahasa, tetapi secara umum daerah-daerah tersebut dapat dikatakan “sewarna”, yaitu sama-sama menggunakan Bahasa Jawa Banyumasan dan sama-sama berbudaya Penginyongan.

Tari Aplang

Tari Aplang (https://www.koranmalam.com)

Merupakan suatu kesenian yang awalnya digunakan sebagai media penyebaran agama Islam. Oleh karena itu, Tari Aplang mempunyai cirri khas yang tidak terlepas dari unsur islami, diantarnya iringan rebana, bedug dan beberapa cerita serta syair puji-pujian yang dilakukan menggunakan bahasa Arab dan Jawa.

Sejarah terbentuknya Tari Aplang berasal dari tardisi penyebaran agama islam di Jawa Tengah, dimana pada saat itu sedang mencapai masa puncak. Dulu, Tari Aplang sangat terkenal di kalangan masyarakat Banjarnegara. namun berbeda pada masa sekarang.

Gerakan Tari Aplang yang tidak baku (tidak ada nama-nama spesifiknya) sehingga dapat terus dilakukan pengembangan dan modifikikasi agar tarian semakin indah.

Tari Aplang biasanya dipentaskan oleh sedikitnya lima orang penari putra atau putri sampai jumlah yang tidak ditentukan. Usia penari maksimal adalah 25 tahun. Hal ini dimaksudkan agar penari lebih enerjik dan semangat dalam membawakan tarian. Tidak lupa penari juga harus tetap menggunakan gapyak sebagai alat yang harus ada dalam menari Aplang.

Tari kuntulan (Jepin atau Rodad)

Tari Rodad (https://adigunaku.blogspot.co.id)

Tarian ini yang menggabungkan antara gerakan tarian dan seni bela diri yang diiringi musik rebana atau terbang ini bahkan konon sudah ada sejak sebelum masa kolonial. Sekarang, kesenian semacam itu sudah sangat jarang dimainkan.

Tari Geol Banjarnegara

Tari Geol Banjarnegara (https://www.youtube.com)

Tari ini diciptakan dari penggabungan 6 (enam) makna gerakan yang berdasarkan seni budaya di masyarakat Banjarnegara, dengan banyak gerakan pinggul di dalamya, di kenal dengan istilah ‘’geol’’.

Sejarah

Tahun 2002, enam orang seniman kabupaten Banjarnegara sepakat untuk menciptakan suatu karya sebagai identitas Kabupaten Banjarnegara dalam wujud tari. Ke enam orang seniman adalah Bapak Untung, Bapak Mudiyono, Ibu Dyah Murtiningsih, Ibu Puji Kristiyaning, Ibu Sumiyati dan Ibu Sri Maryati.

Mereka menciptakan gerak- gerak tari yang sangat beragam. Mulai dari gerak yang lemah gemulai, gerak dengan menggunakan penekanan, sampai gerak yang menggertak. Semua gerak tari yang diciptakan  mengandung makna.

Gerakan-gerakan

Tari Geol mengandung 6 (enam) makna tema gerak yang menggambarkan beberapa kebudayaan kabupaten Banjarnegara. Tema gerak tersebut adalah :

1. Tema pertanian

Tema pertanian menggambarkan sebagian besar masyarakat Kabupaten Banjarnegara yang bermatapencaharian sebagai petani.

Tema pertanian mengandung dua sekaran yaitu:

  1. Gerakan Menanam Padi
  2. Gerakan Mengusir Burung

2. Tema Ujungan

Tema ujungan mengambil gerakan dari tari ujungan, salah satu tari khas Banjarnegara yang bisa ditarikan dalam upacara meminta hujan.

Tema ujungan mengandung 2 sekaran, yaitu :

  1. Gerak mecut kanan dan kiri
  2. Gerak keculan

3. Tema Kuda Kepang

Tema ini mengambil dari gerakan tari kuda lumping, yang mengandung 3 sekaran, yaitu:

  1. Gerak naik kuda
  2. Gerak nyengkek
  3. Gerak engkolan

4. Tema lenggeran

Tema ini mengambil dari gerakan tari lenggeran, salah satu tari khas Banjranegara.

Tema ini mengandung 4 sekaran, yaitu :

  1. Gerak kebyak kebyok sampur
  2. Gerak geol
  3. Gerak enjer seblak sampur
  4. Gerak lontang

5. Tema Topeng

Tema ini mengandung 3 sekaran, yaitu:

  1. Gerak persiapan memakai topeng
  2. Gerak memakai topeng
  3. Gerak tumpang tali tranjalan

6. Tema keagamaan

Tema ini menunjukkan bahwa masyarakat kabupaten Banjarnegara berjiwa religious yang ditunjukkan dengan gerakan berdoa (menyembah kepada Sang Pencipta).

Tari Geol dibuka dan ditutup dengan gerakan sresik, yakni gerakan dengan posisi tangan kanan memegang sampur dan diletakkan diatas telinga, sedangkan tangan kiri  berada di depan dada, kemudian berputar.

Tari Geol memiliki 9 macam bahan untuk kostumnya. Bahan tersebut adalah :

  1. Celana ketat (tayet)
  2. Kain udan riwis (kain lerek)
  3. Stagen
  4. Kaos ketat tanpa lengan (angkin)
  5. Sampur
  6. Tutup sampur
  7. Baju gantung lengan pendek
  8. Sanggul tekuk
  9. Perhiasan (bebas sesuai dengan kondisi atau selera masing-masing).

Tari Lengger Topeng

Tari yang mengisahkan pertemuan Raden Panji Asmarabangun dengan Dewi Candra Kiran. Atraksi tarian sangat menarik, ada penari naik kendi dan ada yang dipondong di bahu sambil menari dengan senang dan gembira, tarian ini dilengkapi dengan sesajian dan dibacakan mantra-mantra oleh sesepuh

Tari Ujungan

Tarian untuk meminta turun hujan, keunikan pertandingan 1 lawan 1 dengan senjata rotan sebagai alat saling pukul dengan mantra-mantra dari sesepuh untuk minta turun hujan.

Tari Kuda Kepang (Lumping)

Tarian yang menceritakan peperangan pada masa Pangeran Diponegoro melawan Belanda, kesenian ini menggunakan kuda-kudaan dari bamboo yang dianyam dan diiringi seperangkat gamelan.

Tari Selendang Kali Serayu.

Tari Selendang Kali Serayu (https://adigunaku.blogspot.co.id)

Tari tersebut mengambarkan keagungan sungai Serayu yang mengalir sepanjang Banjarnegara dan banyak menghidupi lahan warga masyarakat Banjarnegara.

Tari Brenong Kepang (*)

Tari Brenong Kepang (https://budparbanjarnegara.com)

Brenong Kepang merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi ketika seorang calon pengantin laki-laki hendak melaksanakan pernikahan di zaman dahulu. Adapun syarat yang dibawa yaitu semua bentuk peralatan dapur atau memasak dan ditambah dengan berbagai sesaji.

Tari ini berisi petuah buat kedua pengantin dalam berumah tangga serta kadang kala di dalamnya diselingi dengan humor. Pagelaran yang diiringi dengan Gendhing Banyumasan ini di wakili oleh dua orang dukun begalan. Yang satu mewakili pihak pengantin putri dengan ciri khas membawa “Wlira” (ruyung dari pohon Jambe), sedangkan perwakilan dari pihak putra ditandai dengan membawa “Brenong Kepang” (perabot dapur).

Tari Rampak Yakso (*)

Tari Rampak Yakso (https://budparbanjarnegara.com)

Tari Rampak Yakso Pringgondani dari Desa Dieng Kulon Banjarnegara adalah kesenian tradisional kolosal yang diperagakan oleh pemuda dan masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.

Tarian ini menggambarkan peperangan antara Raden Gatot Kaca yang didampingi oleh Palwagaseta (Kera Putih) melawan musuh dari Kerajaan Giling Wesi yang dipimpin oleh Prabu Kolo Pracono dengan Patih Skepu. Adapun penyebab dari peperangan ini yaitu dikarenakan Prabu Kolo Pracono membuat keonaran di Kahyangan Njuggring Seloko. Peperangan ini dimenangkan oleh Raden Gatot Kaca.

Tarian ini menjadi kebanggaan masyarakat dieng dan ditarikan untuk menyambut pasca panen raya.

Tari Ujungan (*)

Tari Ujungan (https://www.antarafoto.com/)

Tari Ujungan merupakan ritual meminta hujan yang dilakukan oleh masyarakat Gumelem dan sekitarnya ketika musim kemarau panjang. Melalui ritual ini, para lelaki terpilih saling memamerkan kekuatan “atosing balung, wuleding kulit” (kerasnya tulang, kuatnya kulit) yang dipadu dengan tindakan estetis.

Sekilas tari Ujungan semacam olah raga tradisional yang cukup keras, menggunakan sebatang rotan untuk memukul lawannya pada bagian paha ke bawah. Semakin banyak darah yang ke luar maka semakin cepat hujan akan turun. Namun dibalik kerasnya pelaksanaaan ritual tersebut, sebenarnya ritual Ujungan memiliki tujuan yang sangat luhur bagi kontinuitas kehidupan dunia. Bahwa air adalah sebagai sumber kehidupan. Dalam pementasan karya kali ini, ditampilkan tari Ujungan yang dipadukan dengan tarian Lengger serta batik gumelem.

Tari Angkring Dawet Ayu Banjarnegara (*)

Tari Angkring Dawet Ayu (https://www.youtube.com)

Dawet Ayu Banjarnegara memang ASLI dari Banjarnegara, bukan dari daerah lain. Dawet ayu adalah minuman khas terdiri dari santan, air gula aren (juruh), dan dawet yang terbuat dari tepung beras dan tepung gelang. Dengan tambahan nangka dan durian, kelezatan dan aroma dawet benar-benar menggugah selera yang menyegarkan.

Perlengkapan penjualan memakai simbul wayang Semar dan Gareng. Kedua tokoh wayang itu sangat merakyat sehingga dapat diartikan bahwa dawet adalah minuman menyegarkan yang dapat dinikmati oleh semua golongan masyarakat. Tema penampilan

“Dengan tari Angkring Dawet Ayu diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan wirausaha baru pengolahan dawet ayu sehingga membantu mengatasi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan rakyat”

Semar (mar) gareng (reng) jadi Mareng = kemarau. Dengan kemarau (tidak hujan) dawet ayu akan laris manis.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Tarian Tradisional Banyuwangi Jawa Timur

Sun Jan 22 , 2017
Kabupaten Banyuwangi adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini terletak di ujung paling timur pulau Jawa. Penduduk Banyuwangi cukup beragam, tetapi mayoritas adalah Suku Osing (suku asli banyuwangi). Kini Kab Banyuwangi juga telah memiliki akses transportasi yang semakin lengkap. Banyuwangi telah memiliki Lapangan Terbang Blimbingsari – Rogojampi, […]