Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Maros Pangkajene Sulawesi Selatan

a5d46-13593403321635846330Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (https://wisata.kompasiana.com)

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terletak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Provinsi Sulawesi Selatan.

Secara kewilayahan, batas-batas TN. Babul adalah sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkep, Barru dan Bone; Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Bone; Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros; Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep.

Curah Hujan

Peta curah hujan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memperlihatkan adanya empat zona curah hujan, yakni curah hujan 2.250 mm, 2.750 mm, 3.250 mm dan 3.750 mm. Curah hujan 2.250 mm sampai 2.750 mm berada dibagian timur kawasan taman nasional, dimana di wilayah inilah masyarakat banyak memanfaatkan kawasan hutan. Sebaliknya, curah hujan yang lebih tinggi yakni 3.250 mm sampai 3.750 mm, berada di bagian barat taman nasional dimana sekitar 75 % wilayah cakupannya merupakan arael karst. Di wilayah ini, pemanfaatan lahan oleh masyarakat dalam kawasan hutan relatif kecil karena kondisi tanah yang tidak memungkinkan. Sisanya 25 % yang berupa ekosistem non karst dan menyebar di bagian selatan, juga banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan pertanian. Tingginya pemanfaatan lahan areal taman nasional oleh masyarakat pada wilayah yang mempunyai curah hujan tinggi, adalah merupakan ancaman terhadap sumberdaya lahan di wilayah taman nasional, terutama kaitannya dengan erosi tanah.

Ekosistem

Berdasarkan tipe ekosistem hutan yang ada (mengikuti Sastrapradja dkk dan Whitten et al), kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dibagi ke dalam tiga tipe ekosistem utama, yaitu ekosistem hutan di atas batuan karst (forest over limestone/ hutan di atas batu gamping) atau lebih dikenal dengan nama ekosistem karst, ekosistem hutan hujan non dipterocarpaceae pamah, serta ekosistem hutan pegunungan bawah. Batas ketiga tipe ekosistem ini sangat jelas karena hamparan batuan karst yang berdinding terjal dengan puncak menaranya yang relatif datar, sangat berbeda dengan topografi hutan hujan non dipterocarpaceae pamah yang mempunyai topografi datar sampai berbukit, serta kondisi ekosistem hutan pegunungan yang ditandai oleh bentuk relief yang terjal atau terkadang bergelombang.

Flora

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung teridentifikasi sedikitnya 683 jenis tumbuhan yang terdiri dari 14 family kelas monocotyledonae dan 86 family kelas dicotyledonae. Di antaranya 43 jenis Ficus merupakan key species di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung, 90 jenis Anggrek alam, dan 5 jenis yang dilindungi, yaitu Ebony (Diospyros celebica), Palem (Livistona chinensis, Livistona sp.), Anggrek (Ascocentrum miniatum dan Phalaenopsis amboinensis).

ea72c-phalaenopsis_amabilis_kamajaya Anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) | Foto: Kamajaya Shagir

ba6be-vandopsis_lissochiloides_kamajaya Vandopsis lissochiloides memiliki kemampuan adaptasi yang baik untuk dapat menyesuaikan terhadap ketiga tempat tumbuh yang berbeda, yaitu baik secara epifit, terestrial, maupun litofit | Foto: Kamajaya Shagir

Anggrek merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki keanekaragaman sangat tinggi. Walaupun banyak informasi yang mengungkapkan tumbuhan ini, namun hingga saat ini informasi detail mengenai distribusi dan karakter ekologinya khususnya di kawasan konservasi masih sangat terbatas (Sulistiarini & U.W. Mahyar, 2003). Inventarisasi jenis-jenis anggrek di Sulawesi dilaporkan oleh Smith (1929) diperkirakan terdapat sekitar 161 jenis anggrek. Publikasi terakhir yang merupakan penelitian pendahuluan yang dilakukan oleh Thomas & Schuiteman (2002) untuk anggrek yang ada di Sulawesi dan Maluku menyebutkan ada sekitar 820 jenis, 60 % (548 jenis) diantaranya dijumpai di Sulawesi. Jenis-jenis tersebut merupakan koleksi yang disimpan di BO (Herbarium Bogoriense), CP (Herbarium Departmen of Plant Pathologi, Copenhagen), G (Herbarium Conservatoire et Jardin Botaniques de la Ville de Geneve), K (Kew), L (Leiden), NSW (National Herbarium of New South Wales) dan PNH (Philippine National Herbarium). Koleksi tersebut sebagian besar dikoleksi dari Sulawesi Selatan.

4f0a3-calanthe_vestita_kamajaya Calanthe vestita tumbuh secara terrestrial dan terkadang litofit dan epifit | Foto: Kamajaya Shagir

Fauna

b490b-tarsius_fuscus_kamajaya Tarsius (Tarsius fuscus) | Foto: Kamajaya Shagir

Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung dengan luas ± 43.750 ha sebagai kawasan konservasi memiliki kekayaan hayati yang tinggi dan menjadi salah satu biodiversity hotspot di Sulawesi Selatan. Sampai dengan Tahun 2013, basis data keanekaragaman hayati di TN. Bantimurung Bulusaraung mencatat sedikitnya 643 spesies satwa liar terdiri dari 33 jenis mamalia, 128 jeni burung, 14 jenis amphibia, 29 jenis reptil, 274 jenis serangga (di antaranya 200 jenis kupu-kupu), serta 165 jenis collembola, pisces, moluska dan lain sebagainya. Di antaranya terdapat 49 jenis satwa liar penting yang dilindungi undang-undang dan 132 jenis satwa liar endemik Sulawesi.

c2c28-macaca_maura_saiful_bachri Monyet Hitam Sulawesi (Macaca maura) | Foto: Saiful Bachri

Selain itu, Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung memiliki berbagai keunikan, yaitu: karst, goa-goa dengan stalaknit dan stalakmit yang indah, dan yang paling dikenal adalah kupu-kupu. Bantimurung oleh Alfred Russel Wallace dijuluki sebagai The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu). Taman Nasional ini merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang menyuguhkan wisata alam berupa lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis, air terjun, dan gua yang merupakan habitat beragam spesies termasuk kupu-kupu.

83b57-menikmati-pemandangan-alam-di-taman-nasional-bantimurung-bulusaraung-2 TN Bantimurung Bulusaraung (https://www.yukpegi.com)

Tahun 2011-2012, kegiatan yang sama juga dilaksanakan namun mencakup wilayah pengamatan yang lebih luas, yaitu beberapa wilayah di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, jenis kupu-kupu yang ditemukan berjumlah 222 jenis, yaitu 200 jenis teridentifikasi pada tingkat spesies, 5 jenis teridentifikasi pada tingkat sub famili, 13 jenis pada tingkat famili, dan 4 jenis pada tingkat super family.

70950-kupu-gj Kupu-kupu raksasa (https://tourmakassar.wordpress.com)

Gua-gua yang ada di Karst Maros merupakan rumah bagi berbagai jenis hewan. Beberapa hewan yang ditemukan kebanyakan hewan yang belum dikenal sebelumnya bagi ilmu pengetahuan. Pada 1980-an, tim penelusur gua dari Prancis juga banyak menemukan spesies baru. Sebut saja spesies kumbang (Eustra saripaensis) khas gua yang hanya ditemukan di Gua Saripa. Selain itu, ada kepiting laba-laba palsu yang hidup di gua-gua dan mata air di sekitar Samanggi, Cancrocaeca xenomorpha, marga dan spesies baru yang hanya hidup di Maros.

Kepiting (Karstarma micropththalmus), berwarna putih kecokelatan, yang merupakan spesies baru yang pertama kali dikenal dari gua di sekitar Karst Maros, Gua Marapettang, Barru. Kepiting yang pertama kali dikenalkan dalam marga Sesarmoides ini adalah salah satu spesies baru yang ditemukan di gua-gua di karst Maros.

a10f9-1407384leang-3780x390 Obyek wisata Leang Leang di Maros, Sulawesi Selatan | Foto: Barry Kusuma (https://travel.kompas.com)

Leang Leang terletak di dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di daerah Maros Pangket. Pegunungan Karst yang sudah berumur ribuan tahun ini diakui sebagai kawasan karst terbesar kedua di dunia setelah Guangzhou di China.

Goa prasejarah yang terdapat di Leang Leang ini sangat menarik, karena goa ini dulunya sebagai tinggal tempat dan penghuninya meninggalkan jejak dalam berbagai bentuk gambar di dinding goa.

178b3-1405148leang-2780x390 Goa prasejarah di Leang Leang, Maros, Sulawesi Selatan  | Foto: Barry Kusuma (https://travel.kompas.com)

Gambar-gambar di goa dan cetakan tangan yang ditemukan di hampir semua goa prasejarah di sekitar Desa Belae. Gambarnya pun cukup unik karena ada gambar-gambar yang mengambil bentuk babi hutan, ikan, manusia, dan bentuk tidak jelas lainnya yang ditemukan di daerah sekitar Leang Leang.

Selain untuk dokumentasi banyak orang yang berpendapat bahwa gambar yang unik yang terdapat di dinding goa ini juga bertujuan sebagai ritual keagamaan mereka dan juga sebagai monumen keberadaan mereka.

Informasi lebih lanjut hubungi

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Jln. Poros Maros-Bone Km.12, Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan
Telp.: 62-411-3880252
Fax.: 62-411-3880139
Email: tn.babul@gmail.com

Berbagai sumber

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Taman Nasional Danau Sentarum Kapuas Hulu Kalimantan Barat

Mon May 19 , 2014
Taman Nasional Danau Sentarum (https://www.indonesia.travel) Taman Nasional Danau Sentarum berada di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu Propinsi Kalimantan Barat. Letaknya kira-kira 700 kilometer dari Pontianak. Secara administrasi kawasan ini meliputi 7 (tujuh) Kecamatan yaitu Kecamatan Batang Lupar, Badau, Embau, Bunut Hilir, Suhaid, Selimbau dan Kecamatan Semitau. Taman Nasional Danau Sentarum merupakan […]