Sothil, Teman Setia Erok-Erok, Berfungsi untuk Menggoreng

b04db-20141220-1 Sothil atau susruk tradisional, koleksi Museum Tembi Rumah Budaya

Sothil sendiri dalam proses menggoreng berfungsi untuk membolak-balik lauk yang digoreng agak matangnya merata dan tentu saja agar tidak gosong. Selain itu, alat ini juga sekaligus berfungsi untuk mengangkat lauk yang sudah matang dari wajan.

Sothil adalah alat dapur yang dipakai untuk menggoreng. Alat ini biasanya digunakan satu set dengan alat lain yakni wajan dan erok-erok untuk menggoreng. Ketiganya mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Sothil sendiri dalam proses menggoreng berfungsi untuk membolak-balik lauk yang digoreng agak matangnya merata dan tentu saja agar tidak gosong. Selain itu, alat ini juga sekaligus berfungsi untuk mengangkat lauk yang sudah matang dari wajan, kemudian ditaruh ke dalam erok-erok agar minyaknya tiris. Sothil juga disebut dengan susruk atau susuk.

Bahan sothil beraneka ragam. Bisa terbuat dari aluminium, seng, maupun lempengan besi. Ada yang dipadukan dengan bahan lain, seperti kayu dan bambu. Umumnya sothil tradisional berbahan sederhana seperti itu.

Sothil pada bagian ujung berbentuk pipih segitiga atau persegi empat berukuran sekitar 5 cm x 7 cm (sesuai dengan besar kecilnya sothil), kemudian pada bagian pangkal (tempat pegangan) berbentuk silinder, dengan diameter sekitar 1-2 cm dan panjang sekitar 30 cm. Demikian pula pada sothil yang berbahan gabungan antara seng atau aluminium dengan kayu atau bambu, biasanya juga terdiri dari bagian pipih dan silinder. Bagian pipih terbuat dari seng atau aluminium, sementara bagian pegangan yang berbentuk silinder bisa terbuat dari kayu atau bambu. Anak sekarang lebih mengenalnya dengan sebutan spatula, seperti yang digunakan tokoh Spongebob.

668b0-20141220-2Sothil dan Erok-Erok

Saat ini banyak pula dijumpai sothil yang terbuat dari kayu, hampir mirip dengan solet. Pembuatannya sangat rapi dan halus karena biasanya diproses dengan mesin bubut. Sothil yang terbuat dari kayu ini biasanya berasal dari kayu-kayu yang kuat atau ringan, seperti glugu (batang kelapa), sengon dan mahoni. Hanya saja sothil kayu bagian ujung maupun pangkal (pegangan) semuanya terbuat dari kayu, mirip dengan enthong.

Sothil dengan bahan yang sederhana dan dibuat secara tradisional telah lama dikenal dan digunakan oleh masyarakat Jawa, terutama para ibu yang bekerja di dapur. Tentu masyarakat lain di Nusantara ini juga mengenal alat serupa walaupun dengan nama yang lain. Masyarakat Jawa sudah lama mengenal istilah sothil, setidaknya nama ini sudah terekam dalam Kamus “Baoesastra Djawa” karangan WJS Poerwadarminta tahun 1939 halaman 580 yang diterbitkan oleh NV Groningen di Batavia (Jakarta).

Dalam perkembangannya, alat semacam ini masih terus dipakai oleh masyarakat Jawa walaupun mengalami perubahan bahan yang sangat drastis. Di masa sekarang, sothil terbuat dari berbagai logam yang berkualitas bagus, di antaranya terbuat dari stenlis. Selain itu bentuknya semakin beragam dan berkualitas bagus. Yang berkualitas bagus, harganya lebih dari Rp 25.000.

Alat dapur sothil yang sederhana dan tradisional masih banyak dijumpai di pasar-pasar maupun warung-warung tradisional. Banyak pula swalayan menyediakan sothil yang murah mulai dari Rp 7.500. Sothil akan terus bertahan selama masyarakat masih menggoreng lauk sebagai bagian menu makan.

Sumber: Tembi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Batik Mangrove, Cara Baru Eksploitasi Hutan Bakau

Thu Feb 12 , 2015
Batik Mangrove motif burung dan tanaman di hutan mangrove. Foto : Petrus Riski Sekitar tahun 2007, pasca reformasi, masyarakat sekitar kota Surabaya membalak secara liar hutan mangrove di kawasan pantai timur Surabaya (Pamurbaya), Jawa Timur. Pembalakan itu bahkan sampai merusak sekitar 10 hektar hutan bakau di sepanjang bibir pantai dan […]