Sejarah Permainan Tradisional Benthik

c3ff0-benthik1 Permainan Benthik

Banyak orang bilang, masa anak-anak adalah masa paling indah. Masa penuh ceria bersama teman-teman sebaya. Bermain, bercanda, tertawa, berekspresi bebas, menikmati indahnya dunia ala anak-anak. Tanpa intrik dan tipu muslihat. Polos, jujur, lugu, apa adanya, tanpa rekayasa. Dunia anak-anak bak surga dalam siklus kehidupan manusia. Indah untuk dikenang, namun sayang tak bisa diulang.

Mengutip dari catatan Tembi Rumah Budaya atau yang dikenal Lembaga Studi Jawa, sebuah lembaga yang fokus pada dokumentasi dan pengkajian budaya Jawa, istilah permainan benthik telah tercantum dalam Kamus Jawa (Boekoesastra Djawa) karya W.J.S. Poerwadarminta terbitan 1939 di Weltevreden Batavia (Jakarta). Pada halaman 41 kolom 1 di dalam kamus itu, disebutkan bahwa makna benthik, salah satunya adalah nama permainan. Ini menunjukkan bahwa permainan benthik adalah permainan yang populer dan telah eksis dikenal sejak lama, khususnya di kehidupan sehari-hari masyarakat dan budaya Jawa.

Lalu kenapa disebut benthik? Tidak diketahui siapa yang menciptakan nama itu. Konon kata ‘benthik’ mengandung arti benturan. Bunyi ‘thik’ dihasilkan dari benturan peralatan permainan berupa batang induk dan anakan yang terbuat dari kayu atau bambu. Hingga kemudian permainan bersarana batang kayu atau bambu itu populer dengan sebutan benthik.

Cara membuat Benthik

ba897-batangbenthik Batang permainan Benthik (https://sosbud.kompasiana.com)

Agar tongkat tidak mudah patah saat digunakan, hanya kayu berstruktur ulet dan kuat yang boleh dipakai, seperti kayu pohon Jambu Biji, kayu pohon Mangga, kayu pohon Klengkeng, kayu pohon Kemuning, atau sejenisnya.

Ranting pohon kemudian dipotong menjadi dua bagian dengan panjang masing-masing 30 cm dan 10 cm. Kulit kayu dikelupas dengan hati-hati menggunakan pisau untuk membuat kedua permukaan tongkat lebih halus.

Persiapan Permainan

Pertama, bikin ‘luwokan’ yakni semacam lubang sepanjang batang anakan 10 cm, lebar 3 cm, dalamnya 5 cm.

b3513-800px-hompimpa Hongpimpa untuk menentukan pemenang (https://fitrisblog.wordpress.com)

Permainan Benthik diawali dengan hongpimpa. Tentunya siapa yang menang, maka ia akan memperoleh giliran main yang pertama. Sementara itu, pihak yang kalah mau tidak mau harus jaga.

Cara Bermain

56d4c-patoklele https://www.kaskus.co.id

Pertama, sang pemain memasang tongkat yang pendek di atas lubang luncur (luwokan) secara melintang. Lalu, tongkat ini harus didorong sekuat tenaga dengan bantuan tongkat panjang supaya dapat melambung sejauh mungkin. Dalam bahasa Jawa, ini disebut dengan istilah nyuthat.

Bila lawan berhasil menangkap tongkat pendek yang melambung tersebut, maka ia akan mendapatkan poin. Pihak lawan biasanya akan berusaha mati-matian untuk dapat menangkap tongkat pendek supaya bisa mencuri poin sebelum mendapat giliran untuk bermain. Besarnya poin ditentukan dari cara pihak lawan menangkap tongkat pendek; 10 poin untuk menangkap dengan dua tangan, 25 poin untuk menangkap dengan tangan kanan, dan 50 poin apabila berhasil menangkap dengan tangan kiri.

Kemudian, sang pemain diminta meletakkan tongkat panjang di atas lubang luncur dengan posisi melintang. Sedangkan, pihak lawan bertugas melempar tongkat pendek yang telah dilontarkan tadi ke arah tongkat panjang tersebut. Bila tongkat pendek mengenai atau menyentuh tongkat panjang, maka giliran bermain akan berganti ke pihak lawan.

Tahap kedua dari permainan Benthik adalah namplek. Pada tahap ini, konsentrasi penuh diperlukan. Sang pemain harus melempar tongkat pendek ke udara terlebih dahulu, lalu dipukul sekuat tenaga dengan tongkat panjang sejauh mungkin. Pihak lawan yang jaga harus melempar tongkat pendek ke arah sang pemain. Di sini, ketangkasan sang pemain benar-benar diuji apakah mampu memukul balik tongkat pendek atau tidak. Penghitungan poin bagi sang pemain dilakukan dari tempat jatuhnya tongkat pendek ke lubang menggunakan tongkat panjang. Semakin jauh tongkat pendek jatuh, maka semakin banyak poin yang didapatkan. Namun, poin yang dikumpulkannya akan hangus begitu saja jika lemparan tongkat pendek dari pihak lawan malah masuk ke dalam lubang. Inilah momen yang paling ditunggu-tunggu banyak pemainuntuk membuat bangkrut lawan.

cd316-benthik2 (https://sosbud.kompasiana.com)

Lanjut ke tahap ketiga, Nuthuk, bila sang pemain berhasil mengumpulkan poin dalam tahap sebelumnya. Pada tahap ini, sang pemain harus meletakkan tongkat pendek pada lereng lubang luncur dengan posisi miring 45 derajat. Ia harus memukul ujung tongkat pendek yang menyembul ke permukaan tanah dengan tongkat panjang agar dapat mengudara, lalu dipukul lagi sejauh mungkin. Biasanya, sang pemain akan mendapatkan kesempatan kedua, bila pukulan pertama tidak berhasil. Jika ternyata masih gagal lagi, maka giliran bermain jatuh ke tangan pihak lawan.

Akan tetapi, dalam tahap ketiga ini, sang pemain berkesempatan untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya yang ditentukan oleh berapa kali ia memukul tongkat pendek. Nah, tahap ini merupakan kesempatan untuk mengejar ketertinggalan angka atau untuk bisa memenangkan permainan. Kecekatan berhitung para pemain pun dituntut di sini. Bila sang pemain berhasil memukul tongkat pendek saat tongkat tersebut melayang di udara, maka ia memperoleh multiple poin yang dihitung dari perkalian antara angka pengkali berdasarkan jumlah pukulan (10 poin untuk satu kali pukulan, 20 poin untuk dua kali pukulan, dan seterusnya) dengan poin yang dihitung dari tempat jatuhnya tongkat pendek ke arah lubang.

Sebagai ilustrasi, seorang pemain berhasil memukul tongkat pendek dua kali, maka ia memperoleh angka pengkali sebesar 20 poin, sedangkan jarak jatuhnya tongkat pendek ke lubang adalah 15 kali tongkat panjang. Maka total poin yang ia kumpulkan dalam tahap ini adalah 20×15=300. Cukup besar bukan?

Ketiga tahap permainan Benthik tersebut akan diulangi dari awal dalam beberapa kali putaran sesuai kesepakatan diantara para pemainnya. Pemain yang menang adalah yang berhasil mengumpulkan poin terbanyak dalam ketiga tahap di atas. Yang tak kalah menarik di sini adalah adanya hukuman bagi yang kalah, misalnya kewajiban menggendong pemain yang menang oleh pemain yang kalah dari satu tempat ke tempat lainnya. Meski terdengar rumit, tapi permainan ini sungguh asyik untuk dimainkan.

Pelajaran moral di balik permainan Benthik

Permainan Benthik tak sekedar menyenangkan, namun di dalamnya juga terkandung falsafah kehidupan yang dapat kita petik dan semai pada kehidupan nyata. “Hongpimpa Alaium Gambreng”, kalimat yang biasa diucapkan oleh para pemain sebelum permainan dimulai untuk menentukan siapa yang berhak bermain dahulu memiliki makna agung “Dari Tuhan, Kembali ke Tuhan, Mari Kita Bermain. Kalimat ini merupakan sebuah pengingat saat bermain sekalipun bahwa manusia adalah milik Tuhan. Karena kita ada yang memiliki, maka dari itu setiap perbuatan akan dipertanggung-jawabkan kepada Dzat Pemilik kita, yaitu Tuhan YME.

Semua permainan tradisional memiliki peraturan yang disepakati, meskipun peraturan itu tak tertulis. Apakah itu terkait dengan giliran bermain, aturan nilai, atau mekanisme reward and punishment. Merupakan suatu kewajiban bagi yang memainkannya untuk menaati semua peraturan agar permainan dapat berjalan dengan tertib dan lancar. Bayangkan saja bila masing-masing pemain menuruti keinginannya saja, pasti permainan akan bubar. Hal ini mengajarkan kepada anak-anak untuk selalu mematuhi peraturan, serta menjaga harmoni hubungan sosial dengan orang lain. Sikap semacam ini sangat sesuai dengan pandangan hidup masyarakat Jawa, crah agawe bubrah-rukun agawe santosa.

Semua pemain tentunya ingin menang dalam setiap permainan Benthik, namun cara-cara yang ditempuh untuk mewujudkannya harus dilandasi rasa kejujuran. Maka di sini, kerja keras dan sportifitas sangat ditekankan. Untuk mencetak poin, ketangkasan dan kecekatan berhitung juga tak boleh dilupakan. Dalam sebuah permainan, akhirnya akan ada pihak yang menang, begitu juga ada pihak yang kalah. Sikap mengakui kemampuan pihak yang menang dengan menerima kekalahan atau legowo perlu ditunjukkan oleh pihak yang kalah. Bagi yang menang, sikap rendah hati, tidak sombong atau andap-asor kepada yang kalah juga harus dimunculkan.

Melestarikan Benthik dari rumah kita sendiri

Seperti permainan tradisional lainnya, Benthik seolah tenggelam oleh berbagai permainan modern yang kini lebih digandrungi anak-anak pada umumnya. Bahkan, kebanyakan dari mereka tidak mengenal sama sekali apa itu permainan Benthik. Padahal, Benthik sangat bermanfaat untuk membangun karakter positif mereka dalam hal interaksi sosial. Sedangkan permainan modern, terutama online games, playstation (PS) dangames elektronik yang mengandalkan kecanggihan komputer berpotensi membentuk sikap asosial anak terhadap lingkungannya karena biasanya permainan berlangsung secara individual. Apabila berlangsung berkelompok pun, interaksi sosial antar anak sangat terbatas, sehingga keterlibatan emosi sang anak minim.

Dalam tahap usianya, anak-anak tetap saja membutuhkan media untuk mengenali lingkungan sosialnya dengan baik dengan cara-cara yang menyenangkan. Permainan tradisional bisa direvitalisasi kembali untuk memenuhi tugas tersebut, serta membentuk karakter positif anak-anak kita. Bila belum secara luas terealisasi di tengah-tengah masyarakat, kita dapat memulainya dari rumah kita sendiri. Ketimbang bepergian ke mall, anak-anak dapat kita ajak bermain aneka permainan tradisional di halaman rumah untuk mengisi liburan, misalnya dengan bermain Benthik. Jangan lupa juga untuk membawa anak-anak menggali nilai-nilai moral yang terkandung dalam setiap permainan tradisional, dan bagaimana kemungkinan penerapannya dalam kehidupan nyata.

Bila setiap keluarga mau mempraktikkan hal di atas, bukan tidak mungkin permainan tradisional tetap akan lestari. Dan yang tak kalah penting, kita bisa mentransfer falsafah hidup yang berharga kepada anak-anak kita melalui media yang jauh dari kata membosankan.

Selamat berjuang melestarikan permainan tradisional kita!

Sumber: Lifestyle.kompasiana

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Sejarah Permainan Tradisional Lompat Tali (Yeye)

Wed Jan 15 , 2014
Permainan Lompat Tali (https://ndetigan.com) Lompat tali atau “main karet” pernah populer di kalangan anak angkatan 70-an hingga 80-an. Permainan lompat tali ini menjadi favorit saat “keluar main” di sekolah dan setelah mandi sore di rumah. Permainan lompat tali dimainkan secara bersama-sama oleh 3 hingga 10 anak. Kapan dan dari mana […]

You May Like