Prosesi Pernikahan Adat Wonosobo Jawa Tengah

1

17470-tata-rias-pengantin-gaya-yogyakarta Ilustrasi Pernikahan Adat memakai Busana Muslim (https://dewisri.net)

Indonesia kaya akan ragam budaya, tak hanya ragam budaya milik daerah daerah yang ada, bahkan ada juga dalam internal adat-istiadat satu daerah yang sama. Salah satu kekayaan ragam budaya yang ada adalah upacara pernikahan. Pernikahan merupakan hak dan sunnah agama yang harus dilalui oleh seseorang dalam kehidupan . Setiap manusia dewasa yang sempurna secara jasmani dan rohani(sehat) pasti membutuhkan pendamping hidup itu diharapkan dapat memenuhi hasrat biologisnya, dapat dikasihi dan mengasihi, serta dapat diajak bekerja sama mewujudkan sebuah rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah. Pernikahan dalam Agama Islam dianjurkan dengan berbagai bentuk, mulai penyebutan sebagai sunnah para Nabi dan Rasul yang harus diikuti oleh setiap Nas beriman atau sebagai bentuk ketaqwaan kepada Allah.

Rangkaian Upacara Pennikahan yang disitu ada beberapa pokok bahasan di antaranya adalah:

Seserahan

Setelah dicapai kata sepakat oleh kedua belah pihak orang tua tentang perjodohan putra-putrinya, maka dilakukanlah ‘serah-serahan’ atau disebut juga ‘pasok tukon’. Dalam kesempatan ini pihak keluarga calon mempelai putra menyerahkan barang-barang tertentu kepada calon mempelai putri sebagai ‘peningset’, artinya tanda pengikat. Umumnya berupa pakaian lengkap, sejumlah uang, dan adakalanya disertai cincin emas buat keperluan ‘tukar cincin’.yang di situ islam juga mengajarkan dengan adanya peningset/pasok tukon (mas kawin) dengan mengacu dengan ayat al quran (An Nisaa : 4) yang artina kurang lebih :

“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan”

Islam mengajarkan kepada kita sandainya kita menyukai seseorang dan menginginkan menjadi pendaping hidupnya, maka kita di haruskan memberi mas kawin sesuai kemampuanya. Tetapi bagi seorang wanita yang baik, adalah wanita yang tidak membebani calon suaminya seperti sabda nabi :

خير انساء امتى اصبحهن وجها واقلها مهرا

Sebaik baiknya Wanita dari ummatku, adalah wanita yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih) .

Midodareni

Ini adalah malam terakhir bagi kedua calon mempelai sebagai bujang dan dara sebelum melangsungkan pernikahan ke esokan harinya. Ada dua tahap upacara di kediaman calon mempelai putri. Tahap pertama, upacara ‘nyantrik’,ang disitu untuk meyakinkan bahwa calon mempelai putra akan hadir pada upacara pernikahan yang waktunya sudah ditetapkan. Kedatangan calon mempelai putra biasana diantar oleh wakil orangtua, para sesepuh, keluarga serta kerabat untuk menghadap calon mertua.

Pernikahan (Ijab Qabul)

Pernikahan, merupakan upacara puncak yang dilakukan menurut keyakinan agama si calon mempelai. Bagi pemeluk Islam, pernikahan bisa dilangsungkan di masjid atau di kediaman calon mempelai putri. Di situ di situ seorang wali dari calon pengantin putri meniahkan anakna dengan calon pengantin putra,dan disitu di di dampingi dengan petugas pencatat dari kantor urusan agama. Ketika pernikahan berlangsung, mempelai putra tidak diperkenankan memakai keris. Setelah upacara pernikahan selesai, barulah dilangsungkan upacara adat, yakni upacara ‘panggih’ atau ‘temu’.

Panggih (Temu)

Sudah menjadi tradisi, prosesi ini berurutan secara tetap, tapi dimungkinkan hanya dengan penambahan variasi sesuai kekhasan daerah di Jawa Tengah. Diawali dengan kedatangan rombongan mempelai putra yang membawa ‘sanggan’, berisi ‘gedang ayu suruh ayu’, melambangkan keinginan untuk selamat atau ‘sedya rahayu’. sanggan tersebut diserahkan kepada ibu mertua sebagai penebus.

Balangan Gantal (Sirih)

Mempelai putri dan mempelai putra dibimbing menuju ‘titik panggih’. Pada jarak lebih kurang lima langkah, masing-masing mempelai saling melontarkan sirih atau gantal yang telah disiapkan. Arah lemparan mempelai putra diarahkan ke dada mempelai putri, sedangkan mempelai putri mengarahkannya ke paha mempelai putra. Ini sebagai lambang cinta kasih suami terhadap istrinya, dan si istri pun menunjukan baktinya kepada sang suami. Dalam balangan, bungkusan yang dilemparkan berisi daun sirih, dan jadah (makanan dari ketan) yang ditali dengan benang putih. Mereka saling melempar dengan penuh semangat dan tertawa. Dengan melempar daun sirih satu sama lain, menandakan bahwa mereka adalah manusia, bukan makhluk jadi-jadian yang menyamar jadi pengantin , yang disitu sesuai degan firman allah yang berbunyi :والله

جعل لكم من انفسكم ازواجا وجعلكم من ازواجكم بنين وحفدة

Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri,dan menjadikan dari istri-istri kamu itu anak anak dan cucu cucu. (QS. An-Nahl ;72)

Selain itu, jadah –yang kenyal dan lengket– dalam ritual ini melambangkan keeratan cinta kasih dan kesetiaan. Salaman Sebagai ungkapan kedatangan, penganten pria mengucapkan salam dan disambut penganten wanita, lalu mereka bersalaman. Penganten putri juga mencium tangan suaminya sebagai bentuk penghormatan.

Ubengan-Ubengan

Dengan panduan perias, penganten wanita berjalan memutari pasangannya selama tiga kali di sekitar pasangan sapi (rangkaian bambu untuk 2 sapi yang diletakkan di depan kereta untuk memudahkan tarikan) yang telah disediakan tetapi dengan berjalanya waktu acara ubengan sudah tidak memakai rangkaian bambu dengan pertimbangan terlalu repot untuk mencari pasangan sapi maka tetapi prosesinya masih di adakan. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai bentuk “perkenalan” antara kedua pengantin. Lewat perkenalan ini, diharapkan masing-masing saling memahami kelebihan dan kekurangan pasangannya.

Injak Telur (Wiji Dadi)

04ea8-imgu_005

Pengantin pria melepaskan sandalnya dan menginjak telor ayam dengan telapak kakinya. Pengantin putri lalu membasuh kaki pengantin pria dengan air kembang dari bokor (bejana) yang sudah disiapkan. Kegiatan ini dapat diartikan sebagai kesiapan pengantin pria untuk menjadi kepala rumah tangga dan kesediaan pengantin wanita untuk melayani suaminya. Di dalam rumah tangga yang baru dibentuk ini diharapkan juga akan diperoleh hasil yang baik pula termasuk anak keturunanya. Sementara itu juga muncul usaha-usaha “islamisasi” ritual adat tersebut. Injak telur (wiji dadi) misalnya, ketika pengantin pria menginjak telur di geneman (bungkusan) kembang setaman, telur langsung pecah dan biasanya menyebabkan bau yang amis.Menyadari hal tersebut, ada kiat untuk membungkus telur di plastik, sehingga mengurangi bau amis dan menghindari praktek mubadzir, karena telur yang pecah masih bisa dimanfaatkan sesudah itu dengan digoreng atau dimasak.

Minum Parem

Kedua mempelai lalu diberi minum oleh kedua orang tua mempelai wanita. ibu terlebih dahulu meminumkan parem kepada keduanya lalu dilanjutkan oleh bapak. Minum parem memberikan makna bahwa kedua penganten hendaknya marem (puas) dengan pasangan yang dipilihnya. Perkawinan adalah proses memilih pasangan hidup yang telah berlangsung lama. Fokus dalam melihat pasangan hidup, dan kelebihannya diharapkan dapat menutup kekurangannya. Prosesi ini juga memberikan peringatan kembali tentang pentingnya peran kedua orang tua dalam membesarnya anak-anaknya. Mereka adalah orang yang pertama “menyuapi” anak-anak. Karenanya, lewat kegiatan meminumkan parem kepada kedua pengantin, kewajiban berbakti kepada mereka hendaknya mendapatkan perhatian bahkan setelah para anak berkeluarga dan mendapatkan keturunan.

Gendong Manten (Pakai Sindur)

Setelah acara wiji dadi (injak telur), ayahanda pengantin putri mendahului berjalan dimuka menuju kursi pengantin, ibu pengantin putri memasang selendang (sindur) menutupi pundak kedua pengantin. Selendang berisi kedua mempelai lalu ditarik oleh ayahanda dan didorong oleh ibu. Gendong manten mengandung makna bahwa ayahanda pengantin seharusnya menunjukan jalan kehidupan bagi kedua putranya sedang ibunda mendukung dari belakang. Selain itu, acara ini juga memberikan lambang bahwa kedua orangtua pengantin perempuan telah ngentaske atau menyelesaikan tugas/kewajiban mereka kepada anaknya lewat menikahkannya dengan pengantin pria.

Sungkeman

Kedua pengantin haruslah minta doa restu dari kedua orang tua, pertama kepada orang tua pengantin wanita, dan selanjutnya kepada orang tua pengantin pria. Kedua pengantin berjongkok dan (seakan) menyembah orang tua mereka. Para orang tua menerima sungkem kedua mempelai mengan mengulurkan tangan kanan untuk dijabat dan dicium, sedangkan tangan kiri mengelus kepala pengantin. Kegiatan memohon doa restu ini disebut sungkeman. Selama sungkeman, perias mengambil dan menyimpan keris yang dipakai pengantin pria dan dipakaikan kembali setelah sungkeman selesai.

Kacar Kucur

Acara ini juga sering disebut dengan Tampa Kaya. Dengan dipandu perias, pasangan pengantin berjalan bergandengan pada jari kelingking menuju ke sebuah kursi yang telah diletakkan didepan rono/dekorasi manten. Pengantin pria menuangkan campuran kedele, kacang tanah, beras, beras ketan, jagung disertai rempah-rempah, bunga dan mata uang logam dengan berbagai nilai. Pengantin wanita menerima itu dengan selendang kecil setelah itu kemudian dilipat. Kacar kucur melambangkan bahwa seorang suami harus memberikan penghasilannya kepada sang istri. Sebaliknya, seorang pengantin wanita haruslah siap menjadi istri yang baik dalam menerima pemberian suami, bersikap peduli, hemat dan juga teliti.

Dulangan Sega Punar (Dahar Kembul)

Pasangan pengantin makan bersama dan saling menyuapi. Perias memimpin upacara ini dengan memberikan piring berisikan nasi kuning dan lauk pauk, kemudian pasangan pengantin ini mengambil sesendok kecil nasi dengan lauk pauknya dan pertama kali pengantin wanita menyuapi pengantin pria dan selanjutnya pengantin pria menyuapi pengantin wanita. Acara dulangan ini diakhiri minum teh manis. Ini melambangkan bahwa kedua mempelai menikmati kebersamaan mereka. Kehidupan keluarga juga diharapkan selalu berakhir “manis” meskipun kegetiran dan perjuangan merupakan hal yag nyata dalam perkawinan.

Atur Pasrah Pinanten

Sambutan ini disampaikan oleh wakil keluarga penganten pria dan para pengiringnya. Juru bicara keluarga besan (orang tua pengantin pria) ini menyerahkan pengantin pria dan “pendidikan”nya untuk dapat menjadi suami yang baik. Ia juga menyampaikan terima kasih atas segala keramahan tuan rumah dan hidangannya, serta memohon maaf atas segala kekurangan dan tingkah laku para pengiring selama resepsi berlangsung. Selebihnya ia menyampaikan undangan untuk acara sepasaran (resepsi di rumah pengantin pria) dan memohon pamit untuk diri sendiri dan rombongannya.

Atur Panampi

Merupakan jawaban tuan rumah atas seluruh isi sambutan juru bicara pengantin pria. Karenanya, di dalamnya disampaikan kesediaan keluarga untuk menerima anak menantu dan mendidiknya ke arah kebaikan, ucapan terima kasih kepada seluruh pengiring pengantin, dan ungkapan “sama-sama” atas permohonan maaf mereka. Selain itu disampaikan pula kesediaan keluarga pengantin putri untuk memenuhi undangan sepasaran keluarga pengantin pria.

Mau’idzah Hasanah (Pesan atau Nasehat Perkawinan)

Merupakan pesan atau nasehat pernikahan yang disampaikan oleh seorang muballigh atau pemuka agama sebagai “bekal” bagi kedua mempelai untuk mengarungi kehidupan rumah tangga.Bacaan Do’a Untuk mendapatkan barokah dari pada tamu undangan, maka keluarga pengantin memohon doa restu dari mereka lewat bacaan do’a yang dipandu oleh seorang atau beberapa orang kyai. Dalam keadaan tertentu, do’a sering dipanjatkan oleh lebih dari satu orang kyai.

Penutup

Sebelum acara resepsi ditutup, pembawa acara meminta perias temanten untuk memandu kedua pengantin dan rombongannya menuju pintu keluar (masuk). Acara ditutup dan para tamu undangan menyalami pengantin dan keluarga sambil berjalan pulang. Dalam prakteknya, menurut modin Ibn Batuthah, acara sambutan atur mangayu bagya saat ini sering digabung dengan atur panampi. Sehingga wakil tuan rumah dan orang tua pengantin wanita cukup berdiri memberikan sambutan sekali saja.

Penggabungan ini dimaksudkan untuk menghemat waktu. Mau’idzah hasanah atau khutbah walimah juga disampaikan secara ringkas dan jelas. Bahkan untuk bacaaan do’a, tren yang berkembang adalah diletakkan di awal acara setelah bacaan ayat suci al-Qur’an. Hal ini merupakan “siasat” tuan rumah agar acara do’a yang dipanjatkan lebih berjalan khidmat dengan tamu undangan yang masih utuh. Dengan pemampatan dan pengaturan acara sedemikian rupa, diharapkan resepsi dapat berlangsung lebih cepat dengan durasi waktu maksimal tidak lebih dari dua jam (Hasil wawancara dengan mbah mudin ishar).

Prosesi ritual adat tersebut merupakan “versi lengkap” dari sebuah adat pernikahan Islam-Jawa. Dalam banyak kasus, ritual tersebut berlangsung tidak lengkap dan disederhanakan dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Dalam perkawinan Panggih Temanten ritual adat hanya berupa salaman, wijik suku, ubengan, gendongan, dan Tukar kembang mayang. Acara kemudian dilanjutkan , sungkeman, dan dahar kembul. Prosesi balangan dan kacar kucur ditiadakan. Sedangkan injak telur (wiji dadi) disederhanakan menjadi wijik suku atau membasuh kaki suami saja. prosesi ritual adat dalam banyak perkawinan lain sangat sederhana dan hanya berupa salaman, minum parem, gendongan, sungkeman, dan dulangan atau dahar kembul. Sedangkan balangan, injak telur atau wiji dadi, kacar kucur, dan mapag besan sering ditinggalkan. Alasan yang sering digunakan adalah menghemat waktu atau biaya.

Panggih Temanten dalam perkawinan dengan adat Jawa-Islam memiliki “pakem” tertentu baik dalam ritual adat, susunan acara resepsi, maupun hiasan dan simbol yang digunakan. Dalam perkembangan terakhir didapati adanya upaya penyesuaian terhadap kemajuan zaman dan efisiensi waktu dalam penyelenggaraan. Penyederhanaan ritual adat dilakukan dengan “pemangkasan” ritual. Sedangkan penyederhanaan dalam resepsi dilakukan dengan penggabungan antara beberapa acara seperti atur mangayu bagya (sambutan selamat datang) dengan atur panampi menjadi satu acara.

Simbol-simbol dan hiasan perkawinan yang kaya makna juga mengalami hal yang sama. Penyesuaian terhadap mode dan efisiensi acara turut mempengaruhi penampilannya. Disamping itu upaya islamisasi turut mempengaruhi pemaknaan dengan sudut pandang berbeda disamping juga menghadirkan paduan baru dalam bentuk dan corak.

Makna dalam simbol-simbol dan hiasan dalam perkawinan adalah kekayaan budaya yang memberikan banyak pelajaran hidup. Upaya untuk menggali dan mensosialisasikannya merupakan hal urgen untuk melestarikan budaya tersebut. Upaya-upaya kontemporer untuk menyederhakan ritual dan resepsi pernikahan juga akan tidak menjadi lepas sekaligus begitu saja meninggalkan budaya ini jika makna-makna tersebut dipahami dan tersosialisasi dengan baik.

Sumber: Muslimlokal

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Prosesi Pernikahan Adat Situbondo Jawa Timur

Mon May 2 , 2016
Pernikahan Adat Situbondo (https://snowfrogpunyacerita.blogspot.co.id) Hubungan cinta kasih wanita dengan pria, setelah melalui proses dan pertimbangan, biasanya dimantapkan dalam sebuah tali perkawinan, hubungan dan hidup bersama secara resmi selaku suami istri dari segi hukum agama dan adat. Begitu juga di Situbondo dan juga ditempat lain, pada prinsipnya perkawinan terjadi karena keputusan […]