Prosesi Pernikahan Adat Sangihe Talaud Sulawesi Utara

Pakaian adat Sangihe Talaud (http://wadaya.rey1024.com)

Tujuan pernikahan pada masyarakat Sangihe Talaud ada dua yaitu bersifat biologis dan bersifat sosial. Maksud bersifat biologis adalah dengan adanya pernikahan maka akan mendapatkan anak (keturunan). Anak merupakan pewaris yang akan menerima harta kekayaan orang tua, melanjutkan keturunan dan menggantikan kedudukan orang tuanya.

Selain itu, dengan mendapatkan anak berarti memperbanyak rumpun keluarga, dan memperkuat kerja sama dalam lingkungan keluarga. Bersifat sosial artinya dengan perkawinan akan mengubah status sosial seseorang dari masa remaja menjadi orang dewasa atau orang tua. Seseorang yang belurn mikah, dianggap belum menjadi orang dewasa, tidak pantas bergaul dengan orang tua, tidak memiliki kemampuan dan keterampilan serta kurang mempunyai keberanian untuk bertanggung jawab.

Mayoritas penduduk Sangihe Talaud beragama Kristen. Menurut mereka melakukan pernikahan berarti melaksanakan ajaranNya sesuai dengan firman Allah untuk beranak cucu, bertambah banyak serta memenuhi bumi.

Pernikahan yang ideal menurut masyarakat Sangihe Talaud ialah apabila kedua pengantin berasal dari golongan atau derajat yang sama. Apabila terjadi pernikahan yang tidak segolongan atau tidak sederajat maka orang yang berasal dari golongan tinggi akan turun golongannya.

Bentuk Pernikahan

Bentuk pernikahan yang terdapat pada masyarakat Sangihe Talaud ada tiga yaitu dengan peminangan, kawin lari dan ganti tikar. Pernikahan dengan peminangan adalah bentuk yang umum yang dilakukan yang disebut me mapangetude atau irangeng. Bentuk yang seperti ini dianggap sangat terhormat dan diakui oleh adat dan agama. Dalam pernikahan secara peminangan ini dilakukan beberapa tahap yaitu tahap pertama peminangan (daleng u wera), tahap kedua penuturan istilah (maki awui), tahap ketiga pertunangan (makakaghiang) dan tahap keempat pernikahan.

Bentuk pernikahan lari (matatalanga), sering dilakukan oleh sepasang pemuda dan pemudi apabila tidak ada persetujuan dari orang tua, baik dari satu atau kedua belah pihak. Kedua calon pengantin ini, lari dari rumah menuju rumah satu di antara keluarga mereka yang dapat dijadikan tempat persembunyian. Mereka sembunyi sampai ada satu anggota keluarga yang datang mencari, sebagai pertanda hubungan mereka telah direstui orang tua. Maka kedua calon pengantin kembali ke rumah si gadis untuk melangsungkan perkawinan.

Bentuk pernikahan ganti tikar lazim dilakukan oleh keluarga yang istrinya sudah meninggal. Maka untuk menggantikan posisi istri dan ibu bagi anak-anak diambil seorang keluarga dekat dari almarhum istrinya terdahulu.

Selain ketiga bentuk pernikahan yang umum dilakukan masyarakat Sangihe Talaud, ada dua bentuk pernikahan yang lain yaitu muting kaelo atau metengkaelombera dan maki tatalentu. Bentuk muting kaelo, banyak dilakukan oleh pemuda untuk menghindari tuntutan yang diminta sebagai syarat perkawinan yaitu: mas kawin, biaya peminangan, dan biaya pernikahan.

Setelah seorang pemuda mempunyai pilihan seorang gadis, dengan sepengetahuan orang tuanya pada suatu malam mendatangi rumah si gadis. Pemuda ini tidak langsung masuk ke dalam rumah melainkan hanya duduk di serambi/pekarangan rumah sampai keesokan hartnya. Apabila orang tua si gadis mengetahuinya, maka ditanyailah pemuda itu, apa maksudnya berbuat seperti itu. Maka si pemuda menjawab, ia ingin mempersunting anak gadisnya untuk dijadikan istrinya. Jika hal itu disetujui, maka si pemuda disuruh masuk ke rumah dan orang tuanya juga disuruh datang. Pada waktu itu juga, dibicarakan tentang pernikahan kedua anak mereka untuk menjaga nama baik kedua keluarga. Apabila keadaan ini dibiarkan berlarut maka pihak keluarga si gadis akan menjadi buah bibir masyarakat sekitamya. Pelaksanaan pernikahan dilakukan secara sederhana tanpa syarat-syarat pernikahan,

Bentuk maki tatalentu disebut juga perkawinan “minta disayang”. Apabila seorang pemuda telah mempunyai pilihan seorang gadis, maka ia datang ke rumah si gadis dan mondarmandir di depan rumah si gadis. Pemuda ini akan terus mondarmandir sampai orang tua si gadis melihat kelakuannya itu. Jika orang tua si gadis melihatnya, si pemuda dipanggil dan ditanyai maksudnya. Selanjutnya prosesnya sama seperti bentuk pernikahan muting kaelo.

Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan upacara pernikahan adat pada masyarakat Sangihe Talaud diperhitungkan d engan menentukan waktu bulan di langit sedang bersinar terang (hari ke 15, 16, 17…) dan pasang surutnya air di laut. Biasanya upacara perkawinan adat dilaksanakan dalam tiga tahapan selama 3 hari berturut-turut.

Sebelum upacara pernikahan diadakan upacara melamar sampai ke peminangan yang dilakukan pacta sore dan malam hari. Demikian juga pada saat proses pelaksanaan upacara perkawinan, dimulai dari petang hari dan malam hari.

Sumber: Pandangan Generasi Muda Trehadap Upacara Perkawinan Adat di Kota Manado, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta 1999

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Prosesi Pernikahan Adat Bulungan Kalimantan Utara

Thu Jul 8 , 2021
Pengantin adat Bulungan (https://gramho.com) Prosesi pernikahan adat Bulungan pada saat ini, terdapat sedikit perbedaan dengan upacara pernikahan adat Bulungan yang dilaksanakan pada zaman dahulu. Adapun perbedaannya adalah, pernikahan adat Bulungan pada zaman sekarang, waktu dalam rangkaiannya dipersingkat, yang seharusnya prosesi dilakukan selama lebih dari seminggu. Sementara persamaannya adalah, sama-sama memiliki […]