Prosesi Pernikahan Adat Pamona Poso Sulawesi Tengah

Pernikahan Adat Pamona (https://theclassicwanderer.com)

Masyarakat Pamona mendiami hampir seluruh wilayah Kabupaten Poso, sebagian Kabupaten Tojo Una-una dan sebagian Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Nama Pamona juga merujuk kepada persatuan dari beberapa etnis, yang merupakan singkatan dari Pakaroso Mosintuwu Naka Molanto (Pamona), kemudian menjadi sebuah suku bangsa yang disatukan di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Hampir seluruh masyarakat Pamona memeluk agama Kristen. Kristen masuk ke wilayah Pamona pada tahun 1892 dan hingga saat ini diterima secara umum sebagai agama rakyat.

Perkawinan bagi orang Pamona dilaksanakan dalam tiga tahap menurut adat. Tahap pertama yaitu pertunangan (mantoge mamongo). Tahap kedua yaitu pesta kawin (matancusa). Tahap ketiga yaitu mengantar mempelai perempuan pergi ke rumah mempelai lakilaki (potela’a).

Pakain mempelai perempuan (http://beritamorut.com)

A. Tahap Pertama (Pertunangan)

Proses pertunangan Pamona terbagi menjadi dua tahap, yaitu :

1. Mampuju Peoa

Tahap pertama dalam pertunangan Pamona yaitu mampuju peoa. Mampuju artinya membungkus, dan peoa artinya lamaran. Mampuju peoa merupakan proses membungkus lamaran yang dilakukan oleh pihak laki-laki. Prosesi ini dihadiri oleh sejumlah orang yang memiliki peran tersendiri, yaituPemerintah, Majelis Adat, Pelayan Tuhan atau Pendeta, orang-orang tua, Tokoh Masyarakat dan laki-laki yang melamar. Isi bungkusan lamaran terdiri dari bahan-bahan mamongo, yakni tujuh buah wua mamongo (buah pinang) yang masih muda lengkap dengan kelopaknya, tujuh lembar laumbe (buah sirih) atau ira laumbe (daun sirih) lengkap dengan tangkainya, teula sakodi (kapur sirih secukupnya), sangkomo tabakao (segenggam tembakau), juga ditambah dengan tujuh keping uang logam dan kalung.

2. Mambulere Peoa

Tahap kedua yaitu mabulere peoa, yang merupakan tahap dibukanya bungkusan

lamaran dari pihak laki-laki. Calon mempelai perempuan dipersilahkan untuk duduk berhadapan dengan Ketua Adat untuk membuka bungkusan lamaran. Hal ini melambangkan penghormatan seorang anak saat berbicara dengan kedua orang tua. Ketua Adat akan memberikan pertanyaan kepadanya yaitu apakah bungkusan yang datang tersebut akan dibuka atau tidak. Pertanyaan ini memiliki makna bahwa perempuan tersebut harus memutuskan apakah akan menerima lamaran yang diantar atau menolaknya. Ketua Adat juga menyebutkan bahwa para orang tua telah memutuskan untuk menanyakan hal tersebut secara langsung kepada calon mempelai wanita, yang artinya, keputusan untuk menerima lamaran tersebut berada di tangannya, bukan berdasarkan paksaan dari siapapun, termasuk orang tua.

Pada saat mempelai perempuan menjawab dan mempercayakannya kepada para orang tua, itu artinya dia telah bersedia menerima lamaran yang diantar untuknya, dan mempercayakan kepada orang tua untuk membuka lamaran tersebut, ini melambangkan penghargaan kepada orang tua, karena dia merupakan seorang anak muda yang masih membutuhkan tuntunan orang tua.

B. Tahap Kedua (Pesta)

Acara pertunangan yang telah dilaksanakan, dilanjutkan dengan membicarakan tanggal perkawinan. Ada dua jenis waktu pelaksanaan perkawinan berdasarkan jangka waktu panen buah jagung, yakni jole mondiga yang artinya jagung cepat dan jole malengi atau masae yang artinya jagung lama atau lambat. Perhitungan ini dimulai dari waktu pelaksanaan pertunangan. Jole mondiga atau jagung cepat merupakan pertumbuhan jagung yang sudah dapat dipanen dalam jangka waktu tiga bulan. Perkawinan berdasarkan perhitungan jole mondiga dapat dilaksanakan tiga bulan setelah pertunangan.

Jole masae atau jagung lama atau lambat merupakan panen jagung yang dilakukan setelah enam bulan sampai satu tahun. Perkawinan berdasarkan perhitungan jole masae dilaksanakan enam bulan sampai satu tahun setelah pertunangan. Hal ini melambangkan kehidupan masyarakat suku Pamona yang tidak lepas dari aktivitas pertanian. Pertanian merupakan salah satu mata pencaharian sebagian masyarakat suku Pamona.

C. Tahap Ketiga (Potela’a)

Maksud dan tujuan potela’a yaitu :

  1. Memperkenalkan istri kepada kaum keluarga suami disebut ndapatoloka yang artinya pertukaran. Keluarga laki-laki menjadi keluarga perempuan, bilamana ada keluhan dari istri, dia harus memberitahukannya kepada ibu dan bapak atau mertuanya demikian pula sebaliknya.
  2. Pada waktu potela’a, pihak laki-laki memberikan busana lengkap kepada istrinya berupa topi atau sarung, karaba atau baju dan tali atau daster. Maksud pemberian ini yaitu untuk mempererat hubungan dan memperlancar kunjungan antara masing-masing keluarga. Topi, karaba dan tali atau daster diletakan dalam bakul khusus yang menandakan penghormatan kepada adat.

Sumber: Simbol-simbol Dalam Tradisi Perkawinan Skotlandia dan Pamona Sulawesi Tengah (Suatu Analisis Semiotik) oleh Ruth Noviana Sumo, Universitas Sam Ratulangi, Fakultas Ilmu Budaya, Menado. 2019.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Prosesi Pernikahan Adat Kulawi Sigi Sulawesi Tengah

Sun Jan 17 , 2021
Pernikahan adat Kulawi (https://akurat.co) Upacara adat perkawinan pada masayarakat Kulawi, diatur dalam ketentuan- kentuan hukum adat yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka. Ketentuan itu berlaku mengingat seluruh masayarakat dan bila ada yang melanggar pasti mendapatkan sanksi atau denda. Proses perkawinaan Suku Kulawi tesebut tidak beda jauh dari tradisi perkawinaan […]