Prosesi Pernikahan Adat Buton Sulawesi Tenggara

1

Busana pengantin adat Buton Sulawesi Tenggara (https://pakaianstylish.blogspot.com)

Yang umum dan sangat ideal serta diharapkan hampir setiap masyarakat adalah pobaisa yaitu merupakan salah satu jalur perkawinan yang dilakukan dengan melalui suatu permufakatan atau persetujuan dua belah pihak (keluarga pria dan keluarga wanita), sebab dilakukan dengan prosesi-prosesi adat yang baik dan penuh makna, dengan berbagai prosesinya yang secara berturut-turut.

Lukuti

Istilah lukuti dalam masyarakat Buton yaitu upaya untuk menjajaki dan menyelidiki hal ihwal seorang wanita yang ingin dipinang. Biasanya penyelidikan dilakukan secara diam-diam oleh pihak sang pria untuk mengetahui latar belakang wanita baik dilakukan sendiri, maupun diwakili oleh orang tua atau orang lain yang dipercayainya.

Masyarakat Buton pada umumnya memiliki kebiasaan melakukan pendekatan tidak langsung melalui orang lain, misalnya melalui sahabat, saudara, orang lain atau keluarga dekat. Selanjutnya si pria kalau merasa belum puas mendengarkan keterangan dari sahabatnya, saudara si wanita, orang lain atau keluarga dekatnya, maka ia mengujinya lagi dengan cara lain yaitu melakukan pendekatan langsung. Jika sang pria telah mengetahui apa yang dilihatnya tentang si wanita, sama seperti keterangan yang disampaikan oleh perantara tentu lebih memantapkan niatnya.

Pesoloi

Bagi masyarakat Buton keturunan bangsawan atau mereka yang memiliki status sosial tinggi, merasa malu jika lamarannya ditolak dan hal ini dianggap sebagai aib yang dapat menurunkan martabat dan harga diri. Untuk menghindari ini, maka biasanya diadakan penjajakan ulang sebagai bagian dari pendahuluan yang masih merupakan rangkaian dari kegiatan lukuti yakni kegiatan pesoloi. Sedangkan bagi masyarakat biasa, pada umumnya tidak melakukan tahap pendahuluan seperti ini, karena bagi mereka, manfaatnya sedikit dan tidak terlalu merisaukan resiko penolakan.

Pembicaraan awal dengan keluarga dekat itu diperlukan untuk mengambil langkah strategis sehingga lamarannya kelak tidak tertolak. Pada prosesi pendahuluan itu, biasanya masih menggunakan utusan atau perantara, dia menyelidiki ulang tentang latarbelakang wanita yang akan dilamar dan memperjelas garis keturunannya, kekayaan, dan kehandalan, serta yang terpenting adalah aspek spiritual keagamaan yang dimilikinya, juga selain yang dianggap paling penting adalah kemungkinan keluarganya akan menerima lamaran dari pihak pria. Dalam hal ini, pihak keluarga pria sedini mungkin harus mengetahui dan mengantisipasi segala sesuatu yang mungkin memalukan dikemudian hari.

Losa

Merupakan penyampaian lamaran secara resmi pihak pria kepada pihak wanita. Bila pada prosesi lukuti dan pesoloi sebelumnya diawali secara rahasia dan sembunyi-sembunyi, maka untuk prosesi losa ini diadakan dengan acara terangterangan mengatakan suatu yang tersembunyi. Jadi losa disini bisa dikatakan sebagai prosesi resmi keluarga pria ke rumah wanita untuk menyampaikan amanat secara terang-terangan apa yang telah dirintis sebelumnya pada waktu pesoloi. Bagi masyarakat Buton pinangan seseorang dianggap sah apabila telah diutarakan secara jelas dan tegas, oleh karena itu losa pada prinsipnya wadah pelamaran secara langsung dari pihak pria.

Pada prosesi losa ini keluarga kedua belah pihak sibuk mengundang keluarga terdekat dan tokoh masyarakat dilingkungannya untuk mengikuti prosesi tersebut. Keluarga pihak pria menunjuk tolowea (perwakilan) disertai rombongan dari kerabatnya. Orang tua dari pria yang ingin melamar jarang terlibat untuk ikut serta dalam acara lamaran ini, demikian juga dengan pria yang ingin dilamarkan. Jumlah rombongan keluarga pria tidak terlalu banyak, paling sekitar 10 orang sudah dianggap cukup. Dari pihak wanita mengundang kerabat terdekat untuk menghadiri acara lamaran, juga ditunjuk tolowea (juru bicara) dari pihak keluarga wanita.

Diaturlah tanggal pertemuan resmi untuk membicarakan tentang pertunangan atau langsung ke acara pernikahan. Dalam istilah msyarakat Buton disebut tauraka dengan kesepahaman sementara bahwa anggota keluarga lainnya dari pihak wanita akan berunding dan memastikan hal-hal yang mungkin masih perlu dibicarakan.

Busana pengantin adat Buton Sulawesi Tenggara (https://www.imgrumsite.com)

Tauraka

Menurut tradisi perkawinan adat Buton tauraka terdiri dua macam yakni tauraka mayidi-yidi (tauraka kecil) dan tauraka maoge (tauraka besar).

Tauraka mayidi-yidi adalah prosesi untuk menguatkan kesepakatan antara pihak pria dan pihak wanita yang telah disepakati pada prosesi losa. Oleh karena itu, apabila pada prosesi losa lamaran pihak pria dinyatakan telah diterima oleh pihak wanita maka kesepakatannya terkadang dilakukan dalam bentuk tunangan atau pemasangan cincin pengikat yang disebut katangkana pogau.

Pada saat tauraka maoge dibicarakan secara terbuka segala sesuatu terutama mengenai hal-hal yang prinsipil. Ini sangat penting karena kemudian akan diambil kesepakatan atau mufakat bersama, kemudian dikuatkan kembali keputusan tersebut. Selain itu, hal prinsipil yang juga dibicarakan saat tauraka maoge, adalah jumlah uang naik (kandena waa), penentuan hari, tempat pelaksanaan serta hal penting lainnya.

Kawia

merupakan prosesi pelaksanaan pernikahan (akad nikah). Pada pelaksanaan pernikahan dirangkai dengan beberapa prosesi mulai dari mengantar pengantin, menjemput pengantin, mengucapkan akad nikah, dan berlanjut ke ijab kabul, dan prosesi lainnya. Ijab qabul adalah pernyataan sepakat dari pihak calon suami dan pihak calon istri untuk mengikatkan diri mereka dengan tali perkawinan dengan menggunakan kata-kata ijab qabul.50 Akad nikah menurut tradisi Buton adalah hal yang prinsipil (merupakan inti dari suatu perkawinan) utamanya untuk mengikat tali perkawinan antara calon suami dan calon istri (orang tua/wali), yang kemudian dipersaksikan kepada khalayak ramai dan diwakili oleh dua orang sebagai saksi dari pernyataan kesepakatan tersebut.

Karia

Merupakan pesta perkawinan yang mempersandingkan kedua mempelai di tempat yang telah disediakan baik itu di ruang terbuka atau di ruang tertutup (gedung) yang dapat dilihat oleh orang banyak, sebagai persaksian bahwa kedua mempelai telah sah sebagai suami-istri dan ucapan do’a restu mempelai, yang dihadiri oleh para handai tolan, karib-kerabat, dan sahabat-sahabat, secara undangan, acara ini juga bermaksud untuk menyampaikan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa dalam bentuk resepsi.

Pada acara tersebut kedua mempelai duduk bersanding dipelaminan yang di dampingi kedua orang tua, untuk menerima tamu yang datang memberikan ucapan selamat. Memeriahkan acara karia biasanya diiringi oleh alat musik tradisional Buton (kacapi, orkes) namun sekarang kebanyakan sudah diiringi musik modern seperti electon, band dan lain sebagainya.

Jagani

Selesai pelaksanaan karia, kedua mempelai menjalani lagi proses jagani. Pengertian jagani adalah suatu proses dimana pengantin pria dan wanita belum dapat tidur bersama selama empat hari empat malam, keduanya harus terpisah (mereka dibatasi oleh tirai). Biasanya pengantin pria berada di luar ranjang dan dijaga oleh tiga orang bisa wanita, sedangkan pengantin wanita juga di jaga oleh satu orang bisa wanita. Selama empat hari dan malam berjalan, pengantin pria memakai sarung kampuruy palangi.

LM. Budi Wahidin mengatakan bahwa tujuan jagani yaitu

(1). Sebagai masa menunggu untuk membuktikan bahwa sang pengantin yang baru saja melakukan ijab qabul, benar-benar dilakukan dengan suka rela dan penuh keikhlasan tanpa paksaan, sehingga selama empat hari/malam adalah untuk menunggu tuntutan dari berbagai pihak jika ada yang dirugikan dalam pernikahan tersebut atau juga jika kemungkinan kalau sang wanita adalah tunangan orang lain yang dikawini oleh si pria sehingga diberi waktu selama empat hari /malam untuk menuntut atau mengklarifikasinya dan setelah lewat masa waktu yang ditentukan maka tuntutan tidak diterima lagi.

(2). Sang pengantin akan diajarkan, diberi bimbingan tentang cara dan ilmu dalam berumah tangga oleh para bisa (empat orang atau dua orang bisa), dalam rangka mencapai rumah tangga yang bahagia dan sakinah.

Selanjutnya Waode Umbu (bisa yang menjaga/memberikan bimbingan kehidupan rumah tangga) mengatakan: bahwa pada pelaksanaan jagani ada beberapa pelajaran yang diajarkan yaitu hari pertama, perkenalan suami isteri pada pertemuan mereka yang pertama. Hal ini dipaparkan oleh bisa dengan sangat hati-hati agar tidak mengabaikan petunjuk agama, tidak mengabaikan alam sekitar, seperti angin topan, kegelapan, keributan dan lain sebagainya.

Hari kedua, Bisa memberikan bimbingan bahwa pertemuan suami isteri harus didasari keikhlasan keduanya. Hari ketiga, bisa harus memberikan bimbingan bahwa kehidupan rumah tangga suami/istri bukan hanya sesaat saja. Oleh karena itu masing-masing berniat untuk memperbaiki diri dengan sikap sabar dan keterbukaan antara keduanya. Hari keempat: (a) bisa memberikan bimbingan agar hubungan suami-isteri harus senantiasa intim dan harmonis. (b) bisa dengan bijaksana menyampaikan bimbingan dan pengetahuan bahwa mereka keduanya harus dapat membina hubungan kekeluargaan yang kokoh, kuat kepada keluarga isteri bagi suami dan keluarga suami bagi istri, hingga terbentuk suatu tatanan keintiman keluarga yang aman, sejahtera dan bahagia. (c) bisa menyampaikan pula bahwa suami-istri harus membina hubungan ke atas dengan Allah Swt, melalui ibadah dan membina hubungan kemasyarakatan baik tetangga, lingkunagn dekat atau jauh, agar keluarga baru itu berguna dan bermanfaat serta bahagia. (d) bisa memberikan bimbingan agar keluarga baru tersebut dapat menyesuaikan diri dengan alam sekitar tempat ia berada.

Pobongkasia

Merupakan bagian penghabisan dari pesta kawin pada hari yang keempat. Setelah mandi pengantin, kedua pengantin kembali lagi memakai pakaian perkawinan seperti hari akad nikah. Saat itu pengantin pria duduk di tengah keluarga pria, sedangkan pengantin wanita duduk di tengah keluarga wanita pula. Masing- masing pengantin diapit oleh dua orang ibu-ibu muda dengan pakaian pobiki, yang hadir pada upacara tersebut, baik pria maupun wanita, tua-muda, diberikan pasali. termasuk mempelai pun diberikan pasali masing-masing satu boka.

Sesudah pelaksanaan pemberian pasali maka kedua pengatin duduk menghadapi talang yang telah disiapkan sebelumnya. Mereka akan melaksanakan makan bersama pada satu talang yang di temani oleh keempat bisa, saat itu juga sang suami memberikan perhiasan emas atau perhiasan perak, kepada isterinya, pemberian tersebut dikenal dalam peradatan Buton dengan nama poabakia.

Dingkana Umane

Dingkana umane adalah pengantaran tas/peti pakaian atau perlengkapan rumah tangga, serta kebutuhan lain dalam rumah tangga baru yang merupakan milik suami.

Beberapa hari setelah selesai pelaksanaan pobongkasia, sang suami meminta izin kepada istrinya untuk pergi berkunjung ke rumah orang tuanya (dalam adat disebut “turun ke tanah”), tujuannya akan menanyakan kesiapan orang tua dan keluarganya, tentang waktu pengantaran pakaian dan peralatan rumah tangga lainnya ke rumah pengantin wanita, sehingga mereka (keluarga istrinya) bersiap-siap. Adat turun ke tanah ini, sang suami biasanya tidak bermalam/tidak lama di rumah orang tuanya. Setelah sang suami pulang, biasanya orang tua pria mengirimkan ole-ole untuk menantunya atau kadangkala juga dibawakan langsung saat pengantaran dingkana umane (ole-ole itu biasanya berupa cincin emas).

Waktu yang disepakati untuk mengantar tas/peti pakaian suami, serta kebutuhan lain dalam rumah tangga yang baru, maka dari pihak keluarga suami secara beramai-ramai mengantar dingkana umane ke rumah pengantin wanita.

Acara tersebut pihak pengantin wanitapun mengundang keluarganya untuk berkumpul/beramai-ramai menunggu kedatangan rombongan dari pihak pria, agar dapat menyaksikan semua barang yang dibawa, dan keluarga yang hadir menjadi saksi, karena menurut adat apabila nanti terjadi perceraian, (baik perceraian hidup maupun perceraian karena kematian sebelum mereka mempunyai anak), maka semua barang yang dibawa oleh pihak pria harus diserahkan kembali pada orang tua pria itu. Setelah disaksikan oleh keluarga pihak wanita dan keluarga yang hadir, barulah pakaian tersebut disimpan dan disatukan dengan pakaian isterinya.

Landakiana Banua

Yaitu kunjungan balasan dari pihak mempelai wanita ke rumah mempelai pria. Pada prosesi landikiana banua tersebut, pengantin wanita diantar oleh iring-iringan yang biasanya membawa hadiah untuk keluarga suaminya. Setelah mempelai wanita dan pengiringnya tiba di rumah mempelai pria, mereka langsung disambut oleh seksi (penyambut) untuk kemudian dibawa ke dalam rumah. Kedua orang tua mempelai pria segera menemui menantunya untuk memberikan hadiah berupa perhiasan, pakaian, dan sebagainya sebagai tanda kegembiraan. Biasanya, beberapa kerabat dekat turut memberikan hadiah berupa barang berharga (cincin atau kain sutera) kepada mempelai wanita, disusul oleh tamu undangan memberikan kado.

Para rangkaian acara tersebut kedua keluarga besar tersebut saling memperkenalkan sanak saudara kepada keluarga suami dan istri. Bagi masayarakat Buton prosesi adat ini sangat dianjurkan sehingga akan terjalin silaturrahim dua keluarga besar. Pada saat itu terjalin keakraban dua keluarga baru yang penuh dengan keharmonisan, para keluarga kedua belah pihak mengantarkan makanan jadi, seperti nasi kuning dan telur ayam goreng, juga membawa kue-kue tradisional Buton. (jika makanan itu berasal dari keluarga pihak pengantin wanita maka adat memberikan istilah dengan sebutan “pobalobuakea” dan bila makanan berasal dari keluarga pihak pengantin pria disebut dengan kalonga atau bungawaro)

Sumber: Ebook, Tradisi Perkawinan Adat Buton Provinsi Sulawesi Tenggara oleh Halking, Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Tahun 2014.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Prosesi Pernikahan Adat di Sulawesi

Sun Dec 8 , 2019
Busana pernikahan adat Bugis Makassar (https://eoweddingsolo.wordpress.com) Setiap masyarakat mempunyai karakter tersendiri yang dapat membedakan dengan karakter yang dimiliki oleh masyarakat lain, termasuk di dalamnya nilai-nilai budaya yang dijadikan sebagai pedoman atau pola tingkah laku individu-individu tersebut dalam berbagai aktifitas kehidupannya. Pernikahan yang dilakukan bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda […]