Prosesi Pernikahan Adat Bungu Morowali Sulawesi Tengah

Wakil Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, dengan pakaian adat di Hari Jadi Kabupaten Morowali ke-18 Provinsi Sulawesi Tengah (https://makassar.tribunnews.com)

Pernikahan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dalam pernikahan dikenal beberapa proses atau tahapantahapan yang harus dilalui. Pada suku bangsa bungku pada zaman dahulu ada beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum melangsungkan pernikahan diantaranya sebagai berikut.

A. Montine Tabako (Melamar/Meminang)

Montine tabako (meminang) adalah pertemuan antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan untuk membicarakan hubungan kedua anak mereka ke jenjang pernikahan dan biaya pesta pernikahan. Sebelum keluarga laki-laki datang ke rumah pihak keluarga perempuan terlebih dahulu ada utusan dari keluarga lakilaki datang menyampaikan pesan ke pihak keluarga perempuan bahwa akan ada tamu yang akan datang berkunjung dalam waktu dekat ini.

Pada proses pelamaran, pihak laki-laki meminta waktu untuk menyiapkan segala sesutu proses pelamaran. Prosesi ini diadakan di rumah keluarga perempuan. Acara dimulai oleh juru bicara perempuan, menanyakan maksud kedatangan keluarga laki-laki, oleh juru bicara pihak laki-laki bahwa maksud kedatangan mereka adalah menanyakan apakah kedua anak mereka bisa di persatukan dengan tali ikatan pernikahan. Perlu diketahui pada zaman sekarang keluarga laki-laki melakukan pelamaran itu atas dasar permintaan anak laki-laki yang telah siap menikah dan telah mermiliki pasangan yang dipilihnya sendiri dan telah sepakat degan pasangannya untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Sedikit berbeda dengan proses montine tabako (melamar/meminang) pada jaman dulu yang proses pertemuan untuk membahas montine tabako (melamar/meminang) yang disepakati pada saat prosesi adat mobale sala (membuka jalan) dan wanita yang dilamar atau di pinang adalah wanita pilihan orang tua laki-laki yang telah bersepakat dengan orang tua perempuan untuk mepersatukan (menjodohkan) kedua anak mereka ke jenjang pernikahan.

Setelah sepakat untuk mempersatukan kedua anak mereka, maka dilanjutkan dengan membahas biaya pernikahan yang diperlukan. Adapûn biaya yang harus ditanggung laki-laki adalah sejumlah uang, hewan (sapi\kerbau), salandoa (ikatan), dan kebutuhan lain yang disepakati bersama. Tujuan pembahasan biaya ini masih sama dengan pembahasan biaya pernikahan pada jaman dahulu yaitu untuk mengetahui jumlah uang dan perlengkapan yang akan di bawa pada saat mengantar harta. Apabila telah terjadi kesapakatan maka akan dilanjutkan dengan mosendefako (menaikan harta).

B. Monsendefako (Menaikan harta)

Dalam penghantaran harta (monsendefako) dilaksanakan pada saat yang telah ditentukan bersama yaitu menurut kesepakatan bersama. Adapun keperluan yang digunakan dalam penghantaran harta ini adalah berupa uang, salandoa (ikatan) dan lain-lain yang telah disepakati bersama.

C. Mongkoro ( Undangan)

Mongkoro (mengundang) ada dua tahap yaitu undangan keluarga (mongkoro petutuai) dan undangan pesta (mongkoro pobasa).

1. Undangan Keluarga (Mongkoro Petutuai)

Seperti pada jaman dulu mengundang keluarga itu dilakukan seorang atau dua orang wanita yang berpakaian rapi dan menyampaikan maksud dari keluarga yang berpesta baik dari keluarga laki-laki maupun perempûan. Pada hari pesta berkumpul keluarga yang diundang datang menyampaikan bantuan (Pobintingi). Pada waktu dulu bantuan (pobintingi) berupa: ayam, minyak kelapa, telur dan lain sebagainya.

2. Mongkoro Pobasa (Undangan Pesta)

Mongkoro pobasa (undangan pesta) sekarang ini berbeda dengan jaman dahulu. jaman dahulu undangan pesta itu disampaikan secara lisan oelah seorang laki-laki yang tahu adat istiadat. Adapun cara mengudang untuk pesta pernikahan (Mongkoro pobasa) sekarang ini.

 

D. Mobaho Nika (Memandikan Pengantin)

Mobaho nika artinya memandikan pengantin Perempuan dimana proses ini merupakan salah satu rangkaian dari proses adat pernikahan, Proses ini pada jaman dahulu dilakukan pada sore hari menjelang pesta pernikahan karena setelah pengantin perempuan selesai di mandikan, calon pengantin perempuan tidak boleh keluar rumah, karena menghindari akan terjadinya fitnah begitu juga sekarang ini.

E. Mebonso (Pingitan)

Pingitan untuk mempelai perempuan dilakukan selama satu minggu. Dalam kegiatan pingitan, perempuan melepaskan aktivitasnya diluar rumah. Kegiatan pingitan masih terus dilakukan. Dalam proses pingitan, kuku tangan dan kaki perempuan diwajibakan menggunakan paci (petaha). Setelah melakukan beberapa rangkaian upacara adat sebelum pernikahan, maka masuklah kita pada acara puncak, yakni upacara adat pernikahan.

F. Monteo mia nika (Mengantar pengantin)

Monteo mia nika (mengantar pengantin) adalah pengantaran memepelai pria ke rumah calon mempelai wanita sebelum pengucapan ijab kabul yang diiringi dengan rebana dan nyanyian Islam. dalam proses pengantaran pengantin menuju acara jamuan, tetap dilakukan dengan tradisi yang selalu dilakukan pada saat pesta pernikahan masyrakat Bungku. Prosesi pengantaran tersebut tidak mengalami perubahan dalam pelaksanaanya.

G. Akad Nikah (Mobasa Khatubah)

Seperti jaman dahulu akad nikah (Mobasa khatubah) adalah puncak acara pernikahan Proses upacara pernikahan yang berlangsung pada masyarakat bungku pada dasarnya mengacu pada ajaran atau tuntutan syariah agama Islam, namun tidak dapat dipungkiri tradisi atau adat istiadat yang ada dalam suku Bungku masih mewarnai di dalam proses upacaranya.

H. Morusa Jene (Membatalkan Wudhu)

Proses adat morusa jene (membatalkan wudhu) masih sama seperti pada jaman dahulu yaitu penyentuhan pertama pengantin laki-laki kepada istrinya dengan menyentuh salah satu bagian muka yang tidak bertulang dan pengantin wanita sudah menunggu dengan duduk bersila di atas bantal bersama seorang anak kecil yang merupakan keluaganya, anak kecil tersebut menduduki bantal yang disediakan untuk pengantin laki-laki.

I. Tumanda Nika (Duduk pengantin)

Duduk pengantin merupakan akhir dari rangkaian acara pelaksanaan upacara perkawianan, yang menandai akhir dari perjalanan masa mudanya seseorang manusia atau pasangan pengantin dan pelaksanaan acara pesta pernikahan digelar pada malam hari. perubahan yang terjadi pada proses duduk pengantin belum mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi terdapat pada dekorasi panggung pengantin. Selain dari itu baju pengantin telah bervariasi tidak lagi menggunakan pakaian penganti yang tradisional.

J. Adat Sesudah Pernikahan.

Pada jaman sekarang pengantaran pengantin kerumah suaminya atau kerumah mertuanya di lakukan empat hari sesudah pesta perkawinan. Pengantin laki-laki dan perempuan di antar oleh keluarga perempuan. Seperti pada zaman dahulu disini juga diadakan pesta syukuran tanda selesainya seluruh rangkaian acara dengan selamat, pada acara syukuran ini pengantin perempuan diberikan hadiah berupa perhiasan emas dan tanah sebagai tanda kegembiraan menerima anak menantu mereka.

Sumber: iainkendari

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Tari Klasik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Tue Jan 19 , 2021
Seni tari dibagi dalam beberapa jenis, berdasarkan gerakan dan musik yang dibawakan yaitu tari tradisional, tari tradisional klasik dan tari tradisional kerakyatan.Seni tari menempati posisi sangat terhormat di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sejarah seni tari gaya Yogyakarta membentang sepanjang sejarah kesultanan ini sendiri. Keberadaannya menyatu dengan dinamika kehidupan di keraton dan […]