Prosesi Pernikahan Adat Kulawi Sigi Sulawesi Tengah

Pernikahan adat Kulawi (https://akurat.co)

Upacara adat perkawinan pada masayarakat Kulawi, diatur dalam ketentuan- kentuan hukum adat yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka. Ketentuan itu berlaku mengingat seluruh masayarakat dan bila ada yang melanggar pasti mendapatkan sanksi atau denda.

Proses perkawinaan Suku Kulawi tesebut tidak beda jauh dari tradisi perkawinaan yang ada di Sulawesi Tengah, seperti melalui beberapa tahap, yaitu tahap peminangan, kemudian dilanjutkan dengan pesta perkawinaan.

Secara khusus Suku Kulawi memiliki tradisi yang lain sebagai syarat sebuah pelamaran. Berdasarkan kenyataan tersebut perlu sesuatu di lakukan kajian yang lebih mendalam untuk itu penulis sengaja mengambil judul yaitu. Pelaksanaan upacara adat perkawinan Suku Kulawi di Desa Bolapapu Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah di tinjauh dari aspek pendidikan Kewarganegaran.

A. Kahowa (Peminangan)

‘Pangkeni kahowa’ adalah acara peminangan atau lamaran secara resmi yang disepakati kedua belah pihak keluarga. Di rumah pihak laki-laki berkumpul kaum keluarga, tokoh adat, dan duta/utusan (huro). Acara ini tidak boleh lewat pukul 12.00 siang, karena secara religius diyakini waktu ini membawa rejeki yang mengikuti peredaran matahari naik, tidak menurun. Setelah duta/utusan menerima petunjuk (peboha) dari keluarga dan tua-tua adat ia berangkat menuju kerumah pengantin perempuan di dampingi seorang pemuda dari keluarga yang masih sutuh yaitu kedua orang tuanya ayah dan ibunya masih hidup. Ini dimaksudkan agar kelak keluarga yang baru dibentuk lestari, aman tenteram dan bahagia sepanjang masa. (Hasil wawancara dengan Yore Pamei. 19 Januari 2013)

Adapun tugas pemuda pendamping ini ialah membawa sarana peminangan dengan cara digendong dalam kain adat. Kelengkapan sarana peminangan ‘kahowa’ ini antara lain :

  • Satu buah dulang tidak berkaki yang pinggiranya bergerigi besar bersambung, tidak cacat, sebagai simbol perkawinan yang lestari sepanjang masa.
  • Satu lembar kain adat ‘mbeha’ simbol kain pertama pelindung diri perempuan (calon pengantin) sebagai tanda memateraikan calon pengantin perempuan dari calon pengantin laki-laki
  • Satu buah kapak, sebagai simbol bahwa pengantin laki-laki sebagai suami siap membangun hidup baru dalam rumah tangga, dengan membelah kayu bakar guna keperluan memasak bagi istrinya di dapur.

Sesampainya duta atau utusan ini dirumah calon pengantin perempuan ia akan dijemput secara adat dan berlangsung dialog dalam bahasa adat. Sesudah itu sarana peminangan ‘kahowa’ diserahkan dalam sopan-santun adat kepada orang tua calon pengantin perempuan. Selesainya serah terima ‘kahowa’ berarti berakhirlah rangkaian acara peminangan, ditandai rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa melalui jamuan makan adat. Setelah itu duta/utusan berpamitan secara adat dan kembali melaporkan hasil perjalanannya sesuai dengan tugasnya.

Laporan hasil tugas duta tersebut dilanjutkan lagi dengan musyawarah keluarga untuk persiapan prosesi penjemputan pihak laki-laki dari pihak perempuan untuk melangsungkan pernikahan secara adat.

Pernikahan adat Kulawi (https://akurat.co)

B. Pelaksanaan upacara adat perkawinanan

Pelaksanaan upacara adat perkawinan Suku Kulawi dilakukan dengan susunan sebagai berikut:

Sebagai awal dari seluruh proses perkawinan adat Suku Kulawi, ditandai dengan musyawarah antara orang tua, keluarga dan seorang perjaka atau pemuda dari keluarga bersangkutan untuk menentukan siapa gerangan yang akan menjadi calon istri dari anak mereka. Kebiasaan ini ditempuh jika si pemuda dalam suatu keluarga sudah dianggap dewasa untuk menjadi seorang suami dengan cara membentuk keluarga. Jadi calon istri ditentukan berdasarkan pilihan keluarga melalui hasil musyawarah. Cara lain yang juga biasa dilakukan jika si pemuda mempunyai calon sendiri yang sudah menjalin hubungan dengan cara berpacaran beberapa waktu lamanya, dan setelah calon istrinya diajukan kepada orang tua, maka orang tua mengundang kaum kerabat untuk melakukan musyawarah apakah calon istri yang diajukan oleh anak mereka disetujui atau tidak.

Jika calon istri sudah ditetapkan atau direstui maka ditunjuklah seorang duta (huro) sebagai utusan untuk menyampaikan maksud keluarga si pemuda kepada pihak keluarga perempuan. Setelah mendapat petunjuk maka utusan akan berangkat ke rumah orang tua perempuan. Di rumah orang tua perempuan sang duta/utusan akan dijamu dengan sekapur sirih (makan sirih). Selanjutnya sang duta/utusan akan menyampaikan tugasnya dalam bahasa lokal, sebagai suatu tata karma adat yang lasim dilakukan. Setelah itu orang tua perempuan sebagai tuan rumah akan mempersilahkan tamunya bersabar menunggu sebentar, karena pihak keluarga besar akan berembuk dalam suatu musyawarah untuk menyampaikan maksud tersebut dan sekaligus menayakan kepada anak perempuannya apakah menerima atau tidak. Jika hasil musyawarah keluarga menyetujui atau menerima, maka sang duta/utusan akan kembali menyampaikan hal itu kepada orang tua laki-laki. Setelah itu pihak keluarga laki-laki bermusyawarah lagi akan menentukan waktu dan acara peminangan atau lamaran.‘Pemua’ yang umumnya dilaksanakan sore hari menjelang mata hari terbenam persiapan sudah dilakukan dirumah pengantin laki-laki.untuk mengantar pengantin laki-laki kerumah pengantin perempun dalam suatu arak-arakan. Setibanya rombongan pengantin laki-laki dirumah pengantin perempuan, disambut secara adat dengan urutan sebagai berikut:

  1. Pemukulan seperangkat gendang tradisional, sebagai salam dan ucapan selamat datang (umumnya terdiri dari lima buah gendang)
  2. Kemudian dilanjutkan dengan ‘rego bolai’ di halaman rumah pengantin perempuan berupa tari menjodohkan oleh 5 orang gadis dengan iringan gendang dengan syair dua bait yaitu: ‘libu ngkokoyio, libu ngkaromu’ artinya: ‘musyawarah intern keluarga pihak laki-laki untuk menentukan calon istri dari anak perjaka mereka’; ‘Romu mosarara, pangulintotua’ artinya: ‘hasil musyawarah kedua belah pihak keluarga menyetujui dan sepakat menjodohkan anak-anak mereka’.
  3. Selanjutnya dilakukan tari ‘Rego Mpemua’ (tari nikah adat) dengan syair terdiri dari tiga bait yaitu: ‘sanai, pamawa rampotodua’ artinya: dua ekor kerbau, syarat utama yang harus dipenuhi pengantin laki-laki dan keluarga pada acara pembayaran mahar atau mas kawin; ‘Maburi betue’ yang nilainya 2 ekor kerbau silahkan disingkap/dibuka, pengantin laki-laki akan memasuki ruangan nikah adat; ‘Ngkalabata womo kusomba pinongo’ artinya: kehadiran pengantin lakilaki disambut dengan rasa syukur dan gembira melelui suguhan kehormatan adat sekapur sirih/mengunyah sirih.
  4. Dengan berlalunya tari ‘Rego Mpemua’ rombongan pengantin laki-laki menuju kedepan pintu yang masih tertutup. Huro/topebawa sebagai pimpinan rombongan menghentakkan kaki sambil mendehem sebanyak tiga kali sebanyak pertanda rombongan pengantin laki-laki telah berada di depan pintu. Secara spontan seorang tetua adat yang ada di dalam rumah sebagai juru bicara pihak perempuan akan menyahut: ‘hema hangami’ artinya siapa di luar? Pimpinan rombongan akan menyebutkan nama pengantin laki-laki sampai nama itu benar, karena kalau tidak sesuai dengan nama pengantin laki-laki pintu rumah tidak akan dibuka; dan pertanyaan itu akan diulangi sampai nama yang disebutkan benar. Sesudah itu pintu akan dibuka dan rombongan akan segera akan segera masuk disambut seorang tetua adat perempuan dengan hamburan beras kuning (beras biasa yang direndam kunyit lalu dijemur) di kepala. Simbol ini melambangkan rasa suka-cita keluarga keluarga perempuan dalam penyambutan rombongan pengantin laki-laki. Setelah pengantin laki-laki duduk pada pelaminan adat dan seluruh rombongan telah duduk, maka disuguhkan sekapur sirih, dan sesudahnya dilanjutkan dengan santapan bersama secara adat dari dulang berkaki. Acara makan secara adat ini harus hati-hati benar karena kalau terjadi sesuatu yang dianggap kurang sopan maka akan melahirkan ‘megiwu’ denda karena melanggar kesopanan. Misalnya ada seorang yang mencuci tangan setelah makan, sebelum tetua adat pimpinan siding mencuci tangannya, hal ini dapat melahirkan ‘megiwu’. Kalau pihak laki-laki yang dikenakan denda, maka mahar akan bertambah, dan kalau pihak perempuan yang dikenakan denda maka mahar akan dikurangi.
  5. Sesuai santap bersama maka dialog dimulai dari topebawa/pimpinan rombongan pengantin laki-laki dalam bahasa lokal: ‘pomoka kami petudura tuama si A, nangkeni ana si A, nangkeni pale hampulu, mokami tumai mepakaolu, tumai kami mekanaolu. Nangkeni tono ngkulu, nangkeni baliu ngkulu, miaha hei dimi. Rutudu eo ngkara, uda, ntongo bengi, monapa kihuna’ yang artinya: perjalanan kami atas amanat orang tua dan pihak keluarga si A, kami menghantar anak perjaka mereka seorang pemuda yang masih hijau, kehidupan msih kosong, masih buta, belum mengetahui sama sekali tentang kehidupan berumah tangga, oleh karena itu kiranya pada orang tua di tempat ini berkenan menerima, sekaligus mendidik, membina dan membimbing agar anak mereka si A, menjadi seorang suami yang baik bagi istrinya, seorang ayah yang bijaksana bagi anak-anaknya kelak, menjadi kepala keluarga yang baik, seperti harapan keluarga, masyarakat, pemerintah, terutama bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menurut keyakinan agamanya. Seorang juru bicara di rumah perempuan akan menjawab: ‘jadi huro etumi yepe kamimi, lolutara totua si A, tama si A momo belo halaka, belo bulawa, hongko kami tawe naimpo. Welu etu mei maniami, anami, bohu ngkulu motomui miaha ritudimi’. Artinya: jadi mandate dari orang tua dan keluarga si A, kami sudah dengar dan mengerti maksudnya, bukan hanya bernilai perak tetapi bernilai emas dan kami terima dengan tulus, penuh rasa syukur dan sukacita. Hanya satu hal perlu dimaklumi bahwa anak perempuan kami si B, kami persembahkan kepada ananda si A, dan seluruh keluarga, masih sangat hijau dalam berumah tangga, belum tau seluk- beluk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Kiranya orang tua dan seluruh keluarga dapat menerima keadaan ini, sekaligus membina dan membimbing dengan penuh kasih syang sehingga ananda si B dapat menjadi ibu rumah tangga yang di dambakan.
  6. Selesai acara ini berarti telah terjadi kesepakatan, dan segera dilanjutkan dengan cara ‘mahoda tono’ yaitu mengantar pengantin laki-laki ke dalam kamar pengantin perempuan oleh topebawa1 untuk pelaksanaan nikah adat. Kedua pengantin duduk berhadapan di atas kasur, lalu ‘guma’ keris/pedang pusaka yang ada di pinggang pengantin laki-laki diambil dan diletakkan secara benar oleh topebawa 1 ditempat yang sudah ditentukan menurut ketua adat, dan berdoa sebagai berikut: ‘kuhoda tono si A, moma mahala mpohada toraparahikara motoda, raponaintinuwura motoda tiibba, tikoro’na’ yang artinya: saya letakkan keris/pedang pusaka si A dalam kamar pengantin ini secara benar dan tidak salah tempatnya, dan dengan ini saya menyatakan sahnya pernikahan ini secara adat. Tuhan Yang Maha Kuasa akan senantiasa memberkati, memberikan rezeki yang berlimpah-ruah, memberikan keturunan yang soleh dan taat beribadah, menganugrahkan keselamatan hidup berumah tangga secara utuh, menaungi dan melindungi kehidupan keluarga sepanjang masa.
  7. Dengan keluarga topebawa 1 dari dalam kamar, membawa kedua mempelai untuk duduk bersanding di pelaminan berarti selesailah acara ‘pemua’ dan acara dilanjutkan dengan nasehat perkawinan dari seorang tua adat yang sudah ditunjuk. Setelah itu secara formal rombongan pengantin laki-laki berpamitan untuk pulang karena belum boleh tinggal bersama istrinya

Sumber: Pelaksanaan Upacara Adat Perkawinan Suku Kulawi Ditinjau dari Aspek Pendidikan Kewarganegaraan oleh Mardiana, Program Studi PPKn, Jurusan Pendidikan IPS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako, Palu

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Prosesi Pernikahan Adat Bungu Morowali Sulawesi Tengah

Sun Jan 17 , 2021
Wakil Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, dengan pakaian adat di Hari Jadi Kabupaten Morowali ke-18 Provinsi Sulawesi Tengah (https://makassar.tribunnews.com) Pernikahan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dalam pernikahan dikenal beberapa proses atau tahapantahapan yang harus dilalui. Pada suku bangsa bungku pada zaman dahulu ada beberapa tahapan […]