Perhiasan Tradisional Sulawesi Selatan

1

Baju Bodo merupakan busana khas wanita di daerah Makasar, Mandar dan Bugis dipropinsi Sulawesi Selatan. Baju Bodo disebut pula Bodo Gesung atau baju yang berlengan pendek dan menggelembung karena pada bagian punggungnya menggelembung. Baju Bodo merupakan busana tertua usianya di bandingkan busana adat lainnya di daerah Sulawesi.

Baju bodo dilengkapi dengan berbagai perhiasan. Penggunaan ragam hias perhiasan emas ‘Kandawarik’ banyak dipakai sebagai pelengkap perhiasan pakaian adat atau tradisional, seperti :

1. Tokeng (kalung bersusun atau beruntai), biasanya hanya digunakan bagi mereka yang merupakan keturunan bangsawan.

Tokeng (https://buruqi.blogspot.com)

Tokeng (https://annisa-rafika.blogspot.com)

2. Karawik, perhiasan yang dikenakan pada bagian dada dan punggung, dengan cara menggantungkannya melalui untaian tali (benang sutra). Digunakan khusus bagi keturunan bangsawan, untuk anak-anak hingga remaja disebut karawik makkeanak, maksudnya selain kedua mainan emas yang terpasang didada dan punggung, masih terdapat lagi mainan emas yang lebih kecil (bersusun). Untuk remaja dan dewasa ditambahkan lagi dengan geno maranang, yakni perhiasan dada yang digunakan bersusun. Semakin banyak susunannya menandakan derajat kebangsawanan sipemakai, bangsawan umum hanya menggunakan satu, empat susun bangsawan tinggi, dan delapan susun sekaligus melambangkan kedudukan pemakai sebagai raja.

 Karawik (https://buruqi.blogspot.com)

3. Sima’ Taiyak (sejenis perhiasan yang dikenakan pada lengan baju bodo), merupakan simbol atau perlambangan kedudukan pemakainya sebagai keturunan bangsawan jika terbuat dari emas. Perhiasan khusus untuk kaum wanita, termasuk anak-anak berusia 4 – 7 tahun.

Sima’ Taiyak (https://annisa-rafika.blogspot.com)

4. Ponto Lolak (gelang), merupakan perhiasan sehari-hari terbuat dari emas, perak, tembaga, kuningan dan jenis logam lainnya. Bagi anak-anak bangsawan terbuat dari emas. Untuk perlengkapan pakaian adat menggunakan Ponto Lolak berbentuk bulat dengan gerigi dan motif pada sekelilingnya

5. Ponto Karrok Tedong (gelang), perhiasan gelang yang berbentuk tabung dan memanjang dipergelangan tangan (lapisan masyarakat biasa), Ponto Bossak perhiasan gelang-gelang umumnya bersusun 14 (lapisan masyarakat bangsawan), biasanya pada bagian bawahnya atau pangkal tangan digabungkan dengan Ponto Lolak

Ponto Lolak (https://annisa-rafika.blogspot.com)

Ponto Lolak (https://senirupasiti.blogspot.com)

6. Sima Simang (gelang), jenis perhiasan gelang yang dikenakan pada pergelangan tangan, bersama-sama atau dipasangkan bersama ponto dan gallang balle

7. Bunga Sibolok (sejenis kembang perhiasan yang dipakai disanggul) berbentuk kembang tunggal

Bunga Sibolok (https://annisa-rafika.blogspot.com)

8. Pa’Toddo’, perhiasan berupa peniti atau sejenis bross

9. Rappo-rappo, perhiasan berupa kancing baju, terbuat dari emas, perak dan dipergunakan bagi laki-laki, meerupakan simbol status, biasnya digunakan pada pakaian adat bagi laki-laki yakni jase’ tutu’ (beskap) dan semakin banyak kancing dan jenis material kancing yang digunakan semakin menunjkkan status pemilik, kaum bangsawan biasanya memiliki 3 hingga 6 dan terbuat dari emas

10. Bulo-bulo (sejenis perhiasan emas yang dikenakan pada pinggiran baju bodo), merupakan pelengkap perhiasan pada pakaian adat baju bodo

11. Songkok nicappai (songkok Pammiring atau Bando), jenis perhiasan penutup kepala berupa songkok berhiaskan emas. Perhiasan emas pada songkok tersebut melambangkan derajat sosial bagi yang memakai

Songkok nicappai (https://annisa-rafika.blogspot.com)

12. Bangkarak, jenis anting-anting terbuat dari emas

13. Toge, jenis anting-anting, namun modelnya lebih panjang, jenis perhiasan ini banyak digunakan oleh wanita berusian 17 hingga 25 tahun

Berbagai sumber

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Peninggalan Kasultanan Kutai Kartanegara

Wed Jul 2 , 2014
Ditinjau dari sejarah Indonesia kuno, Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah prasasti yang ditulis diatas yupa (tugu batu) yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan paleografinya, tulisan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi. Dari prasasti tersebut dapat diketahui […]