Perhiasan Tradisional Kepala, Perhiasan Rambut (Bagian 1)

Perhiasan tradisional memiliki kesamaan desain bentuk, tata letak, dan fungsi penggunaan serta makna simbolis yang menunjukkan ciri identitas sosial budaya komunitas etnis dan sub etnis setiap daerah di Indonesia. Perhiasan melambangkan keagungan, kemegahan, kesucian dan kehidupan. Hal ini dapat dilihat dari pemakaiannya. Biasanya perhiasan tradisional banyak dikenakan pada upacara perkawinan, dan upacara yang sifatnya penuh suka cita.

Perhiasan kepala meliputi yaitu perhiasan rambut, perhiasan dahi, dan perhiasan telinga. Perhiasan ini terbuat dari berbagai macam bahan dasar yakni dari kain, kayu, manik-manik, logan1, dan batu mulia. Cara pemakaiannya dapat dikenakan dengan dililitkan, ditusukkan,digantungkan, disisipkan atau disematkan, dan diletakkan di atas kepala. Selain untuk menambah kecantikan bagi si pemakai, perhiasan kepala berfungsi juga sebagai simbol status sosial dan lambang kekerabatan komunitas etnis.

A. Perhiasan Rambut

Perhiasan rambut yang dikenakan oleh pengantin perempuan dan laki-laki di setiap daerah lebih berfungsi sebagai pelengkap busana. Perhiasan rambut yang dikenakan dengan cara disisipkan diantara rambut disebut sunting dan  bila sunting dipadu dengan sebuah sisir disebut sisir hias/suri. Sedangkan hiasan rambut yang dikenakan dengan cara ditusukkan pada sanggul/konde  disebut tusuk sanggu atau tusuk konde.

Perhiasan yang dipakai di rambut yaitu cucuk ok atau cucok sanggoi (tusuk rambut atau tusuk sanggul). Bentuknya beraneka ragam, ada yang berbentuk bungo11g sullteng (bunga sunting), bungong tajok (sejenis bunga tanjung), bungong jeumpa (bunga cempaka) dan bungong ok (bunga rambut). Pada umumnya perhiasan ini dibliat dari suasa atau perak yang disepuh emas. Ayeuem gumbak, hiasan yang berbentuk daun sukun, dibuat dari emas atau suasa yang digantung di sebelah kanan atau kiri sanggul. Priek-priek yaitu hiasan atau mainan yang berbentuk rumbai-rumbai digantung di sanggul bagian kiri dan bagian kanan. Ulee Ceumara, hiasan rambut yang berbentuk piramid, bersegi empat atau enam, pada ujungnya diberi rantai yang mengkait untuk disangkutkan pada sanggul.

Aceh

Kopiah Meuketob (Pria)

Kain, emas
T.27 cm, Q.21 cm
No. inv. 1533
Museum Negeri Propinsi Daerah Istimewa Aceh

Bermotif binatang, berlapis tenunan songket dan digunakan sebagai hiasan kepala pengantin pria. Pada bagian luar diberi kain warna merah. kuning, hijau yang dibentuk sedemikian rupa sehingga membentuk suatu hiasan. Pada bagian dalam dilapis dilapis dengan kain putih, bagian atas diberi hiasan berupa bunga teratai yang dibuat dengan campuran emas 18 karat. Pada bagian luar kopiah dililitkan kain tenun berwarna merah dan sebagian dari kain tersebut menjulang ke atas membentuk segitiga.

Kupiah Riman

Pelapah ijuk
Pidie
Museum Negeri Propinsi Aceh

Sebuah kupiah rirnan terbuat dari pelepah ijuk (riman) yang dianyarn. Biasa digunakan sebagai topi. terutarma di daerah Pidie.

Sumatera Utara

Bulang (Pria)

Vis, benang emas, perak
B.166 gram
Pj. 166 cm, I. 84 cm
No. inv. 77, 2401
Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara

Bulang (tutup kepala) terbuat dari uis (selendang) nipes beka buluh yakni kain tenun, benang kapas wama dasar merah. Pada bagian tengah kain dihiasi jalur-jalur lungsi merah, putih, kuning, lila, dan diberi pakan tambang dengan benang emas motif pengenteng-enteng. Kedua bag:an pinggir yang memanjang berwama putih. Bulang dipakai oleh pengarrtin laki-laki suku Batak Karo.

Bulang diberi hiasan rudang dan senali rumah-rumah kritik. Rudang dibuat dari perak sepuh emas. Bentuknya berupa setangkai emas, tangkai dihiasi motif tali pilin. Bunga bertingkat tiga masing-masing ujung daun dihiasi motif segi tiga yang dihubungan dengan rantai. Pada bagian atas hiasan terdapat kelopak buah. Sertali rumah-rumah kitik terbuat dari perak sepuh emas dengan motif rumah-rumah dan lepah-lepah yang diikat secara tersusun jan berurutan.

Tudung (Wanita)

Uis, benang emas
232,5 gram
Bagian dalam pj. l66 cm, I. 98 cm
No. inv, 273,3
Bagian tengah pj. l 90 cm, I. 112 cm
No. inv. 1493
Bagian luar pj. 132 cm, I. 49 cm
No. inv. 279
Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara

Tudung (tutup kepala) pengantin wanita suku Batak Karo. Tudung ini dihiasi dengan sertali Iayang-layang kitik yang terbuat dari perak sepuh emas. Motif layang-layang, rumahrumah, dan lepah-lepah diikat secara berurutan tersusun pada benang warna merah. Tudung ini terbagi atas tiga bagian :

a. Bagian dalam
Uis gara-gara jungkit yaitu kain tenun benang kapas warna dasar merah. Bagian tengah kain dihiasi Iungsi motif belah ketupat dan pakan tambahan dari benang emas motif geometris, me mbentuk jalur-jalur sejalan dengan lebar kain. Bagian pinggir yang memanjang dihiasi dengan pakan tambahan warna putih, kuning, dan merah dengan motif garis-garis pendek. ·

b. Bagian tengah
Dibentuk dari uis kelam-kelam yakni sejenis kain tenun benang kapas wama dasar hitam polos.

c. Bagian luar
Dibentuk dari uis jujung-jujungan yakni kain tenun benang kapas warna dasar merah hati . Seluruh permukaan kain dihiasi benang emas motif geometris dan ipen-ipen kecuali kedua ujung berumbai yang terbuat dari benang emas.

Sumatera Barat

Suntiang (Wanita)

Kuningan, permata
Pj . 50 cm, t. 35 cm
Museum Negeri Propinsi Sumatera Barat

Suntiang digunakan sebagai hiasan kepala pengantin wanita. Bahan kuningan dibentuk motif burung merak dan bunga kemudian ditaburkan permata Hiasan ini berbentuk lingkaran rangkaian bunga.

Mahkota (Wanita)

Seng sepuh emas, kain
No. inv. 5722
Museum Negeri Propinsi Sumatera Barat
Dok. Ditmus 396.C

Sejenis hiasan kepala pengantin wanita. Terbuat dari seng dilapisi emas 15 karat. Berat 100 gram (62,5 %). Pada bagian dalam dilapisi kain katun motif bunga dan daun. Bagian bawah bentuk bundar bagian atas runcing-runcing yang digayakan sehingga berbentuk sebuah mahkota.

Riau & Kepri (Wanita)

Tembaga sepuh emas, manik-manik ··
T. 21 ,9 cm
No. inv. 03.2109.2-7
Museum Negeri Propinsi Riau

Sunting yang berbentuk bunga ini mengandung arti kecantikan, keindahan, kegadisan (keperawanan), martabat serta kelembutan yang harus menjadi sifat wanita terpuji. Dahulu sunting/hiasan kepala pengantin wanita Melayu Riau, Kepulauan terbuat dari bunga-bunga segar (hidup) yang dirangkai sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Namun sekarang sunting dibuat dari perak, tembaga kuningan dan diberi hiasan permata. Fungsinya merupakan sunting tingkat terakhir dari perhiasan kepala pengantin wanita melayu Riau Kepulauan.

Jambi

Ikat Kepala (Pria)

Beludru hitam, kerlip manik perak sepuh emas
Museum Negeri Propinsi Jambi

Kain beludru hitam dibentuk melingkar dan pada bagian depan berbentuk segitiga. Diberi hiasan payet-payet yang ditempelkan dan dijahit dengan motif bunga, daun. Digunakan sebagai hiasan kepala pengantin pria Jambi.

Sangkak Surun (Wanita)

Lempengan Iogam, batu permata, kain beludru
Bungo Tebo
Museum Negeri Propinsi Jambi

Sangkak surun (hiasan kepala) dibentuk dari Iempengan-Ieinpengan logam yang disepuh emas, dengan ragam hias ukiran bermotif flora dan ditempelkan permata. Bagian dalam sangkak surun diberi Iapis kain beludru warna merah. Dahulu sangkak surun ini dibuat dari emas murni 18 – 20 karat dengan berat 500 gram. Sangkak suruh digunakan sebagai mahkota pengantin wanita masyarakat Melayu Jambi di Kabupaten Bungo Tebo.

Gandik (Wanita)

Tembaga sepuh emas
Museum Negeri Propinsi Jambi

Gandik adalah merupakan sebuah hiasan kepala pengantin wanita Melayu-Jambi. Pada bagian atas gandik diberi hiasan kembang goyang yang terbuat dari logam tembaga yang disepuh emas. Pada bagian kiri dan kanan gandik diberi hiasan rangkaian bunga yang dironce.

Bengkulu

Destar Besurek (Pria)

Kain batik tulis
T.21 cm, d. 18 cm
Museum: Negeri Propinsi Bengkulu

Merupakan penutup kepala kaum pria yang bertugas mengapit pengantin pria pada saat upacara adat nikah, dan juga dipakai pada saat upacara tarian tradisional masyarakat Melayu.

Sumatera Selatan

Ketu (Pria)

Kain beludru, perak
Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan

Ketu adalah hiasan kepala pengantin pria. Pada sekeliling kopiah 1ni diberi lapisan kain beludru berwarna merah, sedangkan pada bagian depan diberi hiasan kembang goyang yang terbuat dari perak dan hiasan berbentuk empat persegi terbuat dari kain beludru dan perak yang menghiasi sekaliling kopiah.

Ketu Kalimah (Pria)

Kain sutra, perak sepuh emas
T. 11 cm, d. 22 cm
No. inv 03. 1664
Ogan Korniring Ulu
Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan

Kain sutra dibentuk bulat menyerupai topi. Sekeliling badan topi diberi hiasan perak sepuh emas. Pada bagian  atas   ketu  terdapat  tulisan  kaligrafi  berbunyi “Muhammad”. Pada sisi  kiri  ketu  ditancapkan hiasan kembang kenanga, campaka. Fungsi ketu kalimah adalah merupakan hiasan kepala pengantin laki-laki.

Hiasan Kepala (Wanita)

Perak sepuh emas
D. 17 cm, pj. 51 cm, t. 25 cm
Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan

Hiasan kepala ini berbentuk mahkota, digunakan sebagai penutup kepala untuk pengantin wanita dengan motif salur daun.

Sumber: E-book, Perhiasan Tradisional Indonesia, oleh Drs. Muhammad Husni & Dra. Tiarma Rita Siregar, Direktorat Permuseuman Diretorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional 2000

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Perhiasan Tradisional Kepala, Perhiasan Rambut (Bagian 2)

Sat Mar 13 , 2021
A. Perhiasan Rambut Perhiasan rambut yang dikenakan oleh pengantin perempuan dan laki-laki di setiap daerah lebih berfungsi sebagai pelengkap busana. Perhiasan rambut yang dikenakan dengan cara disisipkan diantara rambut disebut sunting dan bila sunting dipadu dengan sebuah sisir disebut sisir hias/suri. Sedangkan hiasan rambut yang dikenakan dengan cara ditusukkan pada […]