Perhiasan Tradisional Kepala, Perhiasan Rambut (Bagian 2)

A. Perhiasan Rambut

Perhiasan rambut yang dikenakan oleh pengantin perempuan dan laki-laki di setiap daerah lebih berfungsi sebagai pelengkap busana. Perhiasan rambut yang dikenakan dengan cara disisipkan diantara rambut disebut sunting dan bila sunting dipadu dengan sebuah sisir disebut sisir hias/suri. Sedangkan hiasan rambut yang dikenakan dengan cara ditusukkan pada sanggul/konde  disebut tusuk sanggu atau tusuk konde.

Perhiasan yang dipakai di rambut yaitu cucuk ok atau cucok sanggoi (tusuk rambut atau tusuk sanggul). Bentuknya beraneka ragam, ada yang berbentuk bungo11g sullteng (bunga sunting), bungong tajok (sejenis bunga tanjung), bungong jeumpa (bunga cempaka) dan bungong ok (bunga rambut). Pada umumnya perhiasan ini dibliat dari suasa atau perak yang disepuh emas. Ayeuem gumbak, hiasan yang berbentuk daun sukun, dibuat dari emas atau suasa yang digantung di sebelah kanan atau kiri sanggul. Priek-priek yaitu hiasan atau mainan yang berbentuk rumbai-rumbai digantung di sanggul bagian kiri dan bagian kanan. Ulee Ceumara, hiasan rambut yang berbentuk piramid, bersegi empat atau enam, pada ujungnya diberi rantai yang mengkait untuk disangkutkan pada sanggul.

DKI Jakarta

Alpie (Pria)

Kain satin, benang, beludru
Dit Permuseuman

Alpie adalah tutup kepala pengantin pria suku Betawi. Terbuat dari bahan satin putih diberi hiasan manik-manik pada bagian depan alphie, sedangkan pada bagian atas di-tempelkan kain beludru merah dan diberi hiasan rangkaian bunga terbuat dari benang yang berjuntai ke bawah.

Hiasan Kepala (Wanita)

Beludru, kuningan
Dit. Permuseuman

Terbuat dari kain beludru hitarn.
Hiasan kepala ini terdiri dari :

  • Siangko bercadar, bahan beludru merah, motif salur bunga dari bahan payet dan manik-manik
  • Siangko kecil, berbentuk mahkota motif bunga bertaburkan permata
  • Empat ekor burung hong

Jawa Barat

Udeng Naga (Pria)

Perunggu, kai n, kertas
Museum Negeri Propinsi Jawa Barat

Perhiasan ini berbentuk ular naga yang yang dilingkarkan, terbuat dari kain, sedangkan kepala dan ekornya terbuat dari perunggu, yang diletakkan menyilang di bagian depan. Pada bagian mulut naga dipasang jumbai-jumbai rantai dan biji mentimun. Di sekeliling badan bagian atas ditancapka n bunga mawar yang terbuat dari kertas berwarna merah dan putih. Sedangkan kembang goyang bermotif bunga dan burung terbuat dari perunggu. Pada bagian samping badan diberi hiasan bros yang terbuat dari perunggu berbe ntuk faun a dan flora, dan pada bagian bawahnya dipasang rantai yang ditata membentuk setengah lingkaran.

Daerah Istimewa Yogyakarta (Pria)

Blankon (Pria)

Kain batik
Museum Negeri Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Dibuat dari kain batik. Digunakan sebagai penutup kepala pria untuk pemakaian sehari-hari dan acara resmi. Blankon dari daerah Yogyakarta mempunyai perbedaan dengan daerah Solo. Blankon dari Yogyakarta mempunyai mondolan sedangkan dari daerah Solo tidak ada Mondolan ini kisahnya dari kebiasaan pria yang berambut panjang diikat dan digulung sehingga timbullah ide membuat blankon mempunyai mondolan yang menggambarkan seperti rambut yang digulung dibagian belakang.

Ikat Kepala (Pria)

Kain
Museum Negeri Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Ikat kepala ini dibentuk dari kain batik motif cemukiran, digunakan sebagai hi as an kepala masyarakat desa untuk pemakaian sehari-hari.

Jawa Timur

Tusuk Dinar (Wanita)

Emas, perak
B. 19 gram
Sumenep Madura
Museum Negeri Propinsi Jawa Timur

Sebuah tusuk dinar (tusuk konde), berupa uang dolar emas 20 dolar A.S dibuat tahun 1904 (umum disebut dinar).
Tangkai terbuat dari perak.

Bali

Udeng (Pria)

Kain beludru, emas, permata
T. 12 cm, gt. 19,5 cm
No. inv. 6786.2. 3/03
Klungkung
Museum Negeri Propinsi Bali

Sebuah destar dibuat dari perak disepuh dengan emas. Pada bagian dalamnya dibuat dari kain beludru merah. Bentuk muka bagian kanan lekukannya lebih pendek dari yang kiri pada bagian depan memakai hiasan
patra sari dan ditaburi permata mirah, safir. Sedangkan bagian luar penuh dengan ukiran dengan motif mas-masan.
Dipergunakan sebagai hiasan kepala laki-laki.

Empok-empokan atau Sumpang (Wanita)

Perak sepuh emas, permata kertas
P. 32,5 cm, I. 35 cm
No. inv. 6788.2.10/03
Singaraja
Museum Negeri Propinsi Bali

Sebuah sampang di-buat dari perak dicelup emas. Bentuknya setengah lingkaran yang terdiri dari 60 kuntum kembang sasak 4 diantaranya berukuran lebih besar dan masing-masing kuntum ditengahnya diberi permata rnirah delima. Sedangkan alasnya dibuat dari kertas. Dipergunakan untuk hiasan pada bagian kepala perempuan.

Nusa Tenggara Timur

Hiasan Kepala (Pria)

Daun pandan
Museum Negeri Propinsi Nusa Tenggara Timur

Hiasan kepala ini terbuat dari daun pandan yang dianyam berwarna kuning, hijau, merah, berbentuk topi. Digunakan sebagai penutup kepala/topi kaum pria.

Ikat Kepala (Pria)

aaaaa

Haikara atau Sisir Hias (Wanita)

Kulit Penyu
T.12,2 cm, I. 11 ,9 cm
No. Inv. 03.2160
Sumba Timur
Museum Negeri Propinsi Nusa Tenggara Timur

Haikara (sisir hias) ini dipakai sebagai perhiasan kepala kaum wanita. Kulit penyu yang telah dibersihkan dan dikeringkan, dibentuk menyerupai sisir. Teknik pembuatan dengan cara potong dan ukir. Motif yang terdapat pada sisir hias ini antara Iain ayam jantan dan kuda. Simbol ini memberikan makna akan keperkasaan dan kekuatan.

Tefan

Benang, manik-manik kulit siput, perak.
P. 124 cm, t. 41 cm
No. inv. 03.1796
Uta-kab. Timor Tengah
Museum Negeri Propinsi Nusa Tenggara Timur

Tefan adalah sebuah hiasan kepala yang terbuat dari benang kapas, manik-manik, kulit siput, dan perak yang ditata sedemikian rupa. Proses pembuatan teknik tenun buna (konsep sulam) untuk benang kapas, teknik cetak untuk perak. Sedangkan simbol-simbol yang terdapat dalam koleksi ini melambangkan sistem kepercayaan kekuatan supernatural yakni adanya 3 dewa.
– dewa langit (uis Neno)
– dewa bumi (uis Pak)
– dewa air (uis Oes)

Simbol-simbol yang dilambangkan ini terlihat pada lempengan perak. Disamping simbol tersebut, juga terdapat ragam hias kait (kaif) pada tenunan dalam koleksi int Ragam bias ini memberikan arti/makna
kesatuan dan persatuan.

Sumber: E-book, Perhiasan Tradisional Indonesia, oleh Drs. Muhammad Husni & Dra. Tiarma Rita Siregar, Direktorat Permuseuman Diretorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional 2000

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Perhiasan Tradisional Kepala, Perhiasan Rambut (Bagian 3)

Sat Mar 13 , 2021
A. Perhiasan Rambut Perhiasan rambut yang dikenakan oleh pengantin perempuan dan laki-laki di setiap daerah lebih berfungsi sebagai pelengkap busana. Perhiasan rambut yang dikenakan dengan cara disisipkan diantara rambut disebut sunting dan bila sunting dipadu dengan sebuah sisir disebut sisir hias/suri. Sedangkan hiasan rambut yang dikenakan dengan cara ditusukkan pada […]