Perhiasan Tradisional Badan, Leher

Perhiasan badan terdiri dari perhiasan Ieher, dada, pinggang, tangan dan jari. Jenis perhiasan badan antara lain berupa kalung, bros, selempang, ikat pinggang, gelang lengan, gelang tangan, dan cincin.

1. Perhiasan Leher

Perhiasan leher pada umumnya berupa perhiasan kalung. Bentuknya ada yang terdiri dari dua komponen yaitu rantai dan liontin, tetapi ada juga yang hanya terdiri dari satu komponen yakni berupa rantai saja. Jenis kalung untuk anak-anak ada yang dibuat dari aneuk saga (biji saga), boih glein (biji tasbih) berwarna hitam dan merah, boih dram (berasal dari derham). boih agok yang didalamnya dibubuhkan azimat, being (kepiting) meuih (emas), uke rimueng (kuku harimau) dan sebagainya. Jenis lain yang terbuat dari emas khusus dari propinsi Aceh: euntuk, sejenis kalung yang dibuat dari bulatan-bulatan emas.

Meuseukah; jenis kalung leher yang dibuat dari emas, terdiri dari butiran manik-manik bulat yang disebut manek keutumpa atau menek roe (butiranbutiran ketumbar). Kiah takue atau lelet dibuat dari lempengan-lempengan emas atau dari suasa dan kuningan bentuknya seperti kalung berukir seperti yang ada pada tali pinggang, sehingga pada masa dulu disebut dengan nama taloe keuieng takue (tali pinggang leher).

Aceh

Bieng Meuih (Wanita)

Emas, batu permata
Pj. 40 cm
No.inv. 2105
Museum Negeri Propinsi Daerah Istimewa Aceh.

Sebuah kalung terbuat dari emas, yang terdiri dari rantai dan tujuh buah hiasan, enam buah berbentuk hati, dan satu buah berbentuk kepiting. Pada bagian yang berbentuk hati terdapat piligram motif bunga dan saluran. Sedangkan yang ber-bentuk kepiting dihiasi dengan ukiran piligram motif bunga yang disusun dala.m posisi bentuk hati. Perhiasan ini di-pakai oleh kaum perempuan pada upacara adat di Aceh.

Euntuek Boh Bili

Perak sepuh emas
P. 66 cm
No.inv. 03.500
Aceh Besar
Museum Negeri Propinsi Daerah Istimewa Aceh

Seuntai kalung berbentuk buah bili (sejenis aur) dengan teknik pembuatan ditempa dan disepuh. Jumlah rangkaian manik-manik 29 butir yang dijalin/dirangkai dengan gelang-gelang kecil , dan pada bagian ujungnya diberi kancing berbentuk seperti kait terbuat dari perak sepuh emas. Dipakai sebagai perhiasan Ieher perempuan Aceh untuk melengkapi pakaian adat•dan juga perhiasan pakaian sehari-hari.

Euntuek Boh Ru

Perak sepuh emas
P. 64 cm, d. 2 cm
No.inv. 03.2513
Museum Negeri Propinsi Daerah Istimewa Aceh

Euntuek Boh Ru atau seuntai kalung yang terbuat dari rangkaian perak yang disepuh emas sebanyak 14 butir, dibuat dengan teknik tempa. Hiasan motif stilirisasi Boh Ru (buah eru/cemara) berbentuk segi enam kemudian disepuh emas. Digunakan sebagai hiasan Ieher wanita Aceh untuk melengkapi pakaian adat.

Sumatera Utara

Sertali layang-layang

Perak sepuh emas
Berat 228 gram
No. inv. 2400
Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara

Sertali layang-layang adalah sejenis kalung, motif Iayang-layang, lepah-lepah, rumah-rumah, yang diikat tersusun secara berurutan pada benang wama merah. Dipakai sebagai hiasan leher pengantin wanita suku batak Karo.

Kalung

Manik-manik, benang
K. 72 cm
No.inv.
Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara

Seuntai kalung terbuat dari manik-manik putih dan hltam. Teknik penguntaiannya sangat terencana, sehingga beberapa untaian dapat menyatu dan hasilnya sangat sempuma berupa variasi warna yang serasi. Kalung ini merupakan hasil karya seni yang tinggi.

Kala Bubu

Kun.ingan, tempurung kelapa
D. 22,5 cm
No.inv.2036
Gunung Sitoli
Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara

Kala bubu adalah seuntai kalung yang terbuat dari kuningan yang dibentuk bulat melingkar, dilapis dengan pecahan-pecahan tempurung kelapa yang disusun. Bugian persambungan ditempel kun.ingan bulat dan pipih. Dipakai oleh Panglima Perang atau saat pertunjukan tari perang pada acara adat suku Nias.

Horung-horung Simata (Pria)

Kain, benang, manik-martik
P. 120 cm, I. 13 cm.
No.inv. 324.1
Tapanuli Utara
Museum Negeri Propinsi Sumatra Utara

Horung-horung simata dibuat dari kain berwarna merah lapis dua, bentuk melebar dan memanjang. Kedua sisi dihiasi manik-martik merah, putih dan h.itam yang disambung dengan motif iran-iran. Kedua ujung berumbai manik-manik merah, putih, dan hitam yang dih.iasi dengan kulit kerang. Benda irti digunakan sebagai hiasan leher pengantin laki-laki suku Batak Toba.

Sumatera Barat

Kalung Kudo-kudo (Wanita)

Emas
P. untai 44 cm
P. kudo-kudo 18 cm
P. lempengan bagian atas 7,5 cm
No. inv. 6186
Museum Negeri Propinsi Sumatera Baral

Kalung kudo-kudo adalah sejenis perhiasan leher pengantin wanita pada upacara adat perkawinan. Terbuat dari emas 15 karat, diperkirakan beratnya 60 gram. Pada bagian bawah berbentuk binatang kuda laut, sekelilingnya runcin-gruncing. Salah satu sisinya dihiasi motif flora, sedangkan sisi lainnya pada bagian kepala motif garis-garis lengkung, bagian ekor berbentuk sisik-sisik. Pada bagian pinggir bawah terdapat tiga rantai mainan, sedangkan bagian atas terdapat bentuk lempengan agak mdengkung dengan hiasan tumbuh-tumbuhan.

Keseluruhan hiasan ini dihubungkan dengan benang yang diselingi dengan batu koral warna orange serta mainan empat persegi panjang. Kalung ini realia dan jarang ditemukan.

Kalung Permata (Wanita)

lrnitasi
Pj. 46 cm
No. inv. (3M.A)
Museum Negeri Propinsi Sumatera Barat.

Kalung ini dibuat dengan teknik “bapahek” (dipakat). Pada bagian tengah berbentuk bunga sebanyak lima buah masing-masing diberi permata putih. Bagian kiri dan kanan bermotif burung sebanyak enam ekor yang dihubungkan dengan rantai dan dibagian bawah motif bunga diberi mainan. Ragam hias burung melambangkan dunia atas. Sedangkan ragam hias bunga adalah lambang kesuburan dan harapan. Kalung ini .dipakai oleh pengantin wanita daerah Padang dan sekitarnya pada upacara perkawinan.

Dukuah Rago-rago

Imitasi
Pj. untai 49 cm
No.inv. 4930 (4 MA)
Payakumbuh
Museum Negeri Propinsi Sumatera Barat

Seuntai kalung yang dinamakan “dukuah rago-rago” oleh masyarakat Sumatra Barat, sebab kalung ini menyerupai bola-bola (rago-rago). Perhiasan ini berwama kuning keemasan, terdiri dari 21 bola-bola dan rantai. Dukuah ini tersusun tiga tingkat, tingkat pertama terdapat enam buah bola-bola, tingkat kedua tujuh buah bola, tingkat ketiga delapan bual1 bola. Masingmasing bola tersebut dihubungkan oleh rantai. Kedua ujung rantai diberi sangkutan/kancing agar dapat dirangkaikan jika hendak dipakai. Dukuah ini sebagai perhiasan pada upacara adat seperti pernikahan dan sebagainya.

Jambi

Kalung Manik-manik

Batu
No.inv. 03.0234
Talang Banjar
Museum Negeri Propinsi Jambi

Teknik pembuatan manik-manik adalah dengan cara digosok. Pembuatan lobang di tengah dengan meng-gurdil dua sisi yang berbeda dengan dekorasi bergalur. Bentuk manik-manik tediri dari : kerucut ganda segi banyak (flacated polygonal bycone), bulat depan (oblate), silinder (cylinder) kerucut cembung pendek (short convexlone). Kalung ini berfungsi sebagai perhiasan leher. Pada masa lalu di kalangan masyarakat tradisional manik-manik semacam ini sebagai alat upacara keagamaan atau upacara spiritual.

Bengkulu

Kalung Glamour (Wanita)

Perak sepuh emas
Gt. 21,5 cm.
No. inv. 5717
Museum Negeri Propinsi Bengkulu

Teknik pembuatannya dengan cara dibakar dan tempa. Untaian kalung terdiri dari karang batu enam buah, sedangkan induk kalung terbuat dari mata uang logam lama. Fungsinya sebagai pelengkap perhiasan untuk
pengantin wanita melayu.

Sribulan (Pria)

Kuningan sepuh emas, kai n beludru, kaca
P. 44 cm, I. 11 ,5 cm
No.inv. 0616
Pasar Melint.ang,
Bengkulu
Museum Negeri Propinsi Bengkulu

Sribulan adalah sejenis perhiasan dada, yang bentuknya seperti lidah. Cara pemakaiannya diikatkan pada leher. Berfungsi sebagai perhiasan dada pengant.i n pria Melayu Bengkulu.

Sumatera Selatan

Kalung Kuku Macam (Wanita)

Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan

Disebut kalung kuku macam karena kepala kalung berbentuk menyerupai kuku macan, sedangkan untaian kalung berujud hiasan ikan, silinder dan bulatan yang dirangkai. Berdasarkan keadaannya, kalung ini dipergunakan sebagai jimat. Kuku macan adalah lambang kekuatan, ikan lambang dunia bawah. Bentuk bundar menyerupai roda atau cakra melambangkan peredaran matahari. Kotak-kotak kecil biasanya berupa wadah atau jimat bagi orang pintar atau dukun.

Lampung

Kalung Manik-Manik (Wanita)

Manik-manik, benang
No. inv. 04.2867
Banjar Negeri, Kee. Talang Padang
Museum Negeri Propinsi Lampung

Seuntai kalung terdiri dari manik-manik ·kaca merah, biru, hitam, putih, dan kuning. Pada bagian bawah kalung terdapat tiga buah manik-manik berbentuk bulat yang berfungsi sebagai liontin.

Kalung Manik-manik

Manik-rnanik, benang
No.inv. 04.2638
Desa Banjar Negeri, Talang Padang
Museum Negeri Propinsi Larnpung

Seuntai kalung dari manik-rnanik berukuran besar dan kecil yang terdiri dari manik-manik hijau 21 buah, biru 21 buah, coklat 106 buah, kuning 8 buah, rnerah 1 buah, dan hitam 2 buah. Manik-rnanik yang berukuran besar berbentuk bola dibuat dari batu agat atau akik, sedangkan rnanik-manik kecil terbuat dari bahan silica atau kaca. Hal ini terlihat jelas dari permukaannya yang mernbentuk kontur melingkar. Teknik pernbuatannya: bahan kaca dilebur dengan sepotong kayu/duri berdiarneter kecil, kemudian dicelupkan kedalarn adonan lalu digulung sesuai ukuran manik-manik yang dikehendaki. Pembuatan lubang dari dua arah dan terkadang alur lubang tidak sirnetris dengan manik-rnanik yang dikehendaki.

Jawa Barat

Kalung Manik-manik

Tanah liat, batu k:uarsa
P. 56 cm
No.inv. 04. 299
Kampung Bumi, Bekasi
Museum Negeri Propinsi Jawa Barat

Manik-manik yang digunakan untuk kalung ini terdiri dari bermacam-macam bahan baku, bentuk dan uk:uran. Manik-manik ini sebagian besar terbuat dari tanah liat merah, hitam, kombinasi merah dan putih serta hijau, sedangkan yang lainnya dari k:uarsa putih, dan biru serta kornelian merah. Manik-manik tersebut dibuat dengan cara dibakar dan diupam agak kasar berbentuk bulat. Manik-manik ini
diperkirakan peninggalan masa pra sejarah tepatnya masa perundagian.

Menurut urutan ukuran yang besar sampai yang kecil dan indah diperkirakan digunakan untuk perhiasan bagi kalangan masyarakat tertentu seperti tokoh-tokoh masyarakat dan juga berfungsi sebagai alat tukar, mas kawin, dan bekal kubur.

Kalung Batu

Tanah liat
P. 54 cm
No.inv. 04. 332
Kampung Bumi, Bekasi
Museum Negeri Propinsi Jawa Barnt

Kalung ini terbuat dari untaian manik-manik tanah liat yang digulung dan dibakar sehingga berwarna kehitam-hitaman seperti batu dan ditengahnya terdapat garis memanjang. Berbentuk bulat dan silinder, ditengahnya berlubang untuk tempat memasukkan benang. Berdasarkan pada teknik pembuatannya yang masih sederhana, diperkirakan berasal dari masa prasejarah (perundagian). Berfungsi sebagai alat upacara kematian (bekal kubur).

Kalung manik-manik

Bambu, biji anjeli
Museum Negeri Propinsi Jawa Baral

Kalung manik-manik terbuat dari potongan ranting bambu tamiang dan biji anjeli yang diuntai berselang-seling sehingga membentuk sebuah kalung. Pada manik-manik ranting bambu terdapat garis-garis warna coklat berasal dari goresan tempurung kelapa yang dipanaskan. Kalung ini merupakan hasil karya atau keterampilan siswa-siswi sebuah SLTA di Bandung. Pada tahun 60-an kalung semacam ini dipakai sebagai perhiasan dan menjadi mode di kalangan remaja daerah Jawa Barat, khususnya kota Bandung.

Daerah Istimewa Yogyakarta

Hiasan Leher (Wanita)

Emas
Imogiri Bantul
Museum Negeri Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Sebuah hiasan leher terdiri dari tujuh bagian, bentuk mirip daun, dan pada bagian pangkal terdapat pula lekukan yang berlobang untuk merangkai yang satu dengan lainnya. Hiasanya menonjol (timbul) bentuk flora.

Kalung Jali

Biji jali, kemiri, benang
P. 62 cm
No.inv.
Museum Negeri Propinsi Daerah lstimewa Yogyakarta

Seuntai kalung terdiri dari 91 buah biji jali coklat muda, 12 bu.ah biji jali coklat tua dan 3 biji kemiri. Digunakan sebagai kalung oleh anakanak perempuan di desa. Biji jali termasuk biji-bijian yang murah, sebab pohon jali termasuk tumbuhan liar. Adakalanya biji jali digunakan untuk meng-hiasi kuda lumping yang dibuat dari anyaman bambu.

Kalung Manik-manik

Batu
Gunung Wingko, Bantul
Museum Negeri Propinsi Daeran lstimewa Yogyakarta

Pembuatan manik-manik dengan teknik abrasi. Untaian manik-manik terdiri dari berbagai warna dan ukuran sebanyak 33 buah. Manik-manik semacam ini digunakan sebagai perhiasan pada masa kini. Koleksi ini merupakan hasil penggalian Balai Arkeologi Yogyakarta, tahun 1976 di situs Gunung Wingko, Bantu!, Yogyakarta. Manik-manik ditemukan bersama kerangka manusia, maka diperkirakan sebagai bekal kubur.

Jawa Tengah

Kalung

Batu jasper merah
No.inv. 09.2237
Desa Sejati, Wonogiri
Museum Negeri Propinsi Jawa Tengah

Batu jasper merah mempunyai kekerasan 6 – 7 skala mosc, dengan bermacam-macarn warna; hijau, merah, kuning. Batu ini sejenis batu keras dan bewarna-warni, cerah, quartz dan kalsedoni, mengandung butir-butir halus Uesper), sering dipolusi oleh hematite, epidot, k.h.lorit

Berfungsi sebagai :
– Bagi umat Islam digunakan sebagai “Tasbih” untuk menghitung ungk.apan memuji kebesaran Allah.
– Bagi umat Katolik digunakan sebagai “Rosario”

Kalung

Batu jasper kuning/merah
No.inv. 09.2242
Desa Sejati, Wonogiri
Museum Negeri Propinsi Jawa Tengah

Jasper merupakan jenis batuan berwarna-warni, cerah, mengandung butir-butir quartz halus dan kalsedoni. Jenis batuan ini sering dipolusi oleh hematite dan epidot khlorit. Jenis batu ini mempunyai kekerasan 6 – 7 skala mose. Batu jesper kuning/merah diuntai berbentuk tasbih. Bagi umat Islan1 digunakan untuk menghitung ungkapan rnemuji kebesaran Allah. sedangkan bagi umat Katolik digunakan sebagai “Rosario”.

Jawa Timur

Jawa Mozaik

Campuran (jenangan) berunsur kaca
Banyuwangi
Museum Negeri Propinsi Jawa Timur

Seuntai kalung manik-manik warna hitam mengkilap dengan variasi bintik-bintik putih, bentuk hampir silinder. Bahan pembuatan manik-manik ini dari sejenis kaca (glass) yang mengandung pasir kuarsa, dibentuk memanjang, diberi sumbu kawat atau lidi pada bagian tengah. Bentukan ini kemudian diputar dengan roda putar dan dipotong-potong dengan pisau bambu (bilah bambu tipis) sehingga membentuk bulatan silinder yang beraturan. Jumlah 64 buah manik-manik.

Jawa Mozaik

Jenangan berunsur kaca
Desa Purwosari,
Prop. Jawa Tengah
Museum Negeri Propinsi Jawa Timur

Untaian kalung berasal dari sejenis kaca (glass) yang mengandung pasir kuarsa. Warna abu-abu mengkilap dengan variasi bintik-bintik kuning. Dibentuk memanjang diberi sumbu kawat atau lidi pada bagian tengah. Pada saat pembentukannya, bahan manik-manik yang masih lembek diputar dengan bantuan roda putar. Untuk memotong manikmanik agar berbentuk bulatan silinder yang beraturan digunakan pisau yang dibuat dari sejenis bilah bambu yang tipis. Kalung ini digunakan sebagai perhiasan dan dibeberapa tempat digunakan sebagai tasbih.

Nusa Tenggara Timur

Wudu (Wanita)

Manik-manik kaca, logam, dan benang.
Pj. lingkaran 68 cm, d. manik-manik kecil
2 – 2,5 mm, yang besar rata-rata 7 mm.
No. inv. 178/EP. 102. 9192
Pulau Sabu
Museum Negeri Propinsi Nusa Tenggara Timur

Wudu (kalung manik-manik) ini terdiri dari tiga untai manik-manik yang pada beberapa bagian disatukan sebagai tempat untuk diselang-selingi manikmanik yang lebih besar dan biji logam (wona hobo) sebanyak sembilan buah untuk memperindah kalung ini dan mengandung makna/perlambang persatuan keluarga. Teknik memberi selang-seling antara manik-manik kecil, besar, dan biji logam pada muti sala adalah ciri khas kalung/perhiasan leher wudu dari sabu.

Dari segi sosialnya melambangkan nilai seorang gadis sekaligus status derajat sosialnya. Wudu sebagai perhiasan bernilai tinggi maka dijadikan sebagai mas kawin (ihi mala – bahasa Sabu). Manik-manik ini diperkirakan diperoleh dari masa perdagangan barter dengan pedagang-pedagang Arab dan India pada masa lalu.

Kenu (Wanita)

Perak
Pj. 55 cm
No. inv. 03.1110
Kabupaten Belu
Museum Negeri Propinsi Nusa Tenggara Timur

Kenu adalah sejenis hiasan leher atau kalung. Teknik pembuatan tuang dan tempa. Untaian kalung terdiri dari berbagai macam bentuk. Digunakan sebagai perhiasan leher.

Kalimantan Timur

Simbang Sambing

Kerang, siput, kayu, gigi/taring binatang, manik-manik.
No.inv. 256 l
Museum Negeri Propinsi Kalimantan Timur

Simbang sambing adalah untaian kalung dibuat secara berselang-seling dari berbagai bahan kayu diukir menyerupai bentuk manusia yang melambangkan patung nenek moyang. Digunakan oleh balian/dukun dalam kegiatan pengobatan tradisional suku Dayak di Kabupaten Kutai. Kalung ini diyakini dapat memberikan kekuatan supranatural bagi dukun atau pemelian. Simbang sambing terbuat dari berbagai bahan yang setiap bahan dapat memberikan daya magis masing-masing seperti taring binatang, jenis batuan, manik-manik dan sebagainya. Dukun dipandang oleh anggota masyarakat setempat mampu mendatangkan roh nenek moyang dengan perantara simbang sambing untuk mem-berikan tuah keselamatan bagi yang masih hidup.

Kalung Manik Kaca

Manik kaca. benang
No.inv. 2451
Museum Negeri Propinsi Kalimantan Timur

Kalung ini diuntai dari bahan manik kaca berwarna merah yang berasal dari Indo-Pasifik. Bentuk mata, bundar silinder. .Kalung ini digunakan sebagai :
– mas kawin (mahar)
– pelengkap pakaian adat
– bekal kubur

Kalung Manik Kaca

Manik-manik kaca, taring binatang
No.inv. 2401
Museum Negeri Propinsi Kalimantan Timur

Kalung berupa untaian manik kaca dan dua buah taring binatang, manik-manik berbentuk bundar, cakram, dan silinder pelangi. Pada masyarakat Kalimantan Timur, khususnya suku Dayak manik-manik sangat dihargai . Manik-manik yang dirangkai dalam berbagai bentuk, rnisalnya perhiasan banyak dipakai sebagai mas kawin, sebagai pelengkap pakaian adat, sebagai bekal kubur.

Kalimantan Selatan

Kalung Gerabah

Tanah liat
Pj. lingkaran 70 cm
No. inv. 7642
Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai
Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan

Seuntai kalung terdiri dari bentuk silinder dan bulat. Tanah liat dibakar, dibentuk kemudian dilobangi pada bagian tengahnya. Benda ini digunakan sebagai hiasan leher.

Kalung Balian

Uang picis, kayu, kristal, plastik, keramik, batuan, buntalan kain.
K. 90cm
No inv. 2800
Palangkaraya
Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan

Kalung balian ini dibuat dari manik-manik yang terdirj dari berbagai macam bentuk yang diuntai secara berselang-seling. Digunakan sebagai kelengkapan pakaian Balian.

Kalimantan Barat

Agit

Kerang, kuku binatang, manik-manik kaca, rotan
No.inv.4837/E
Pontianak
Museum Negeri Propinsi Kalimantan Barat

Rotan dibentuk menjadi sebuah ]jngkaran kalung. Pada bagian dalam lingkaran diberi hiasan untaian manik kerang. Sedangkan bagian luar lingkaran diberi hiasan manik kaca biru dan merah yang diselang-selingi dengan kuku binatag (beruang). Agit digunakan oleh sang dukun suku Dayak Manyuke dalam upacara perdukunan dan upacara yang sifatnya religius. Benda seperti ini dipandang mempunyai kekuatan gaib yang dapat menolong sang pemakainya. Kepercayaan semacam itu pada masa lalu bersifat universal

Sulawesi Utara

Kalung

Batuan, benang
No.inv. A. 352
Desa Sawangan, Minahasa
Museum Negeri Propinsi Sulawesi Utara

Untaian batu dirangkai dan dibentuk menyerupai kalung dengan dasar warna warni (belling, biru, putih, coklat, hitam, ungu, dan kuning). Dibentuk menurut selera si empunya yang dilatarbelakangi oleh stratifikasi sosial. Kalung ini merupakan bekal kubur yang ditemukan dalam waruga.

Maluku

Kalung Manik-manik

Plastik
Pj. 55 cm, panjang mainan 15 cm
No. inv. 203
Kaisar, Maluku Tenggara
Museum Negeri Propinsi Maluku

Kalung ini terbuat dari bahan plastik berwarna merah tua dan merah muda. Dipakai sebagai hiasan leher kaum perempuan pada upacara adat dan tari-tarian. Benda ini merupakan benda langka.

Manik-manik

Batu, benang
P. 130.5 cm,
p. mainan 14 cm.
No.inv. 608
Seram, Maluku Tengah
Museum Negeri Propinsi Maluku

Untaian manik-manik dibentuk berupa kalung Liontin (mainan kalung) diuntai memanjang. Bahan batu berwarna biru tua, campuran biru muda, hijau, putih, dan ungu. Kalung ini dipakai sebagai hiasan badan pada upacara yang sifatnya sakral. Seperti upacara perkawinan adat, upacara keagamaan, upacara pemujaan dan Iain sebagainya.

Kalung Manik-manik

Manik-manik, benang
P. 132 cm
No.inv. 606
Seram, Maluku Tengah
Museum Negeri Propinsi Maluku

Teknik pembuatan manik-manik dengan cetak, asah, potong (upam). Bentuk kalung dengan hiasan untaian manik-manik batu berbagai corak sejurnlah 190 butir. Untaian kalung terdiri dari manik-manik biru, hijau, kuning, hitam yang terdiri dari berbagai bentuk seperti bentuk silinder, bulat, dan tabung. Untuk hiasan kalung terdiri dari manik-manik coklat, putih, hitam, merah, hijau, dan biru. Pada bagian tengah terdapat untaian manik-manik yang lebih besar dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Dipakai sebagai hiasan badan pada saat upacara yang bersifat sakral (nagis).

Papua  

Hiasan Dada

Kulit kerang, serat kayu, benang
No.inv. 1939
Arso, Jayapura
Museum Negeri Propinsi Irian Jaya

Hiasan dada (kalung) ini dibuat dengan teknik pintal, anyam, jahit; warna coklat, putih, dan merah. Bentuk rantai, tali (benang) dari serat kulit kayu dipintal dan diayam. Sewaktu teknis anyaman tali dilakukan, kulit kerang yang telah diasah dipasang pada tali tersebut. Kulit kerang menutupi semua anyaman tali/benang (dari serat kulit kayu). Disamping kulit kerang, juga dihiasi dengan ikatan benang katun merah dan hiasan untaian manik-manik hijau dan orange. Hiasan dada ini digunakan oleh masyarakat Abrab sebagai atribut dada.

Rowari

Manik-manik, tanah liat. batu (kalsedon, jasper, ajat)
No.inv.1217
Yapen. Waropcn
Museum Negeri Propinsi Irian Jaya

Rowari adalah seu nt a: kalung manik-manik berbentuk tabung pcrsegi sepeti buah bclimbi ng. Teknik pembuatan dcngan cara cetak, hakar. Manik-manik berb entuk belimbing kuning (rowari) dalam kehidupan orang Yapcn. Waropen pada masa lampau digunakan sebagai alat tukar, mas kawi n, henda upacara , dan pelengkap tarian adat.

Sumber: E-book, Perhiasan Tradisional Indonesia, oleh Drs. Muhammad Husni & Dra. Tiarma Rita Siregar, Direktorat Permuseuman Diretorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional 2000

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Tempat Pentas Seni Budaya di Kabupaten Bandung Jawa Barat

Tue Mar 16 , 2021
Seni tradisional menurut Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, SH, S.Ip mesti terus dikembangkan sebagai warisan budaya bangsa. Karena menurutnya, maju mundurnya sebuah bangsa akan terlihat dari keluhuran budayanya. “Saya sangat mendukung dengan adanya kegiatan pentas seni seperti ini”, ucapnya. Gedung Budaya Sabilulungan (GBS) Jl. Raya Soreang Cincin No.104, Pamekaran, […]