... (several lines of code) ... https://optimize.google.com/optimize/home/#/accounts/175585813/

Pakaian Bregada Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Bregada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Saat ini, keraton memiliki sepuluh kelompok pasukan yang disebut sebagai bregada. Jumlah seluruh prajurit cukup kecil, sekitar 600 orang. Jumlah anggota tiap pasukan berbeda-beda. Bregada Nyutra misalnya, hanya terdiri dari 64 orang saja.

Pimpinan tertinggi dari keseluruhan bregada prajurit keraton adalah seorang Manggalayudha atau Kommandhan atau Kumendham. Sebutan lengkapnya adalah Kommandhan Wadana Hageng Prajurit. Manggalayudha bertugas mengawasi dan bertanggung jawab penuh atas keseluruhan pasukan. Ia dibantu oleh seorang Pandhega (Kapten Parentah), dengan sebutan lengkapnya Bupati Enem Wadana Prajurit, yang bertugas menyiapkan pasukan.

Pakaian keprajuritan telah dikenal dalam sejarah Kasultanan Yogyakarta sejak Pangeran Mangkubumi masih berperang melawan pemerintah VOC (Kompeni Belanda). Pakaian keprajuritan ini kemudian berubah dari waktu ke waktu hingga yang kita kenal saat ini.

Pakaian perang Pangeran Mangkubumi berupa semacam seragam, celana dan bebed (kain yang menutup badan bagian bawah dan kaki), baju sikepan (baju luar yang dipakai saat membawa senjata), udheng atau ikat kepala, sebilah keris yang diselipkan dalam sabuk, dan satu buah keris lagi yang digantungkan pada sabuk.

Sejarah

Pakaian Bregada pada Awal Kesultanan

Gubernur VOC Nicolaas Hartingh pernah mendeskripsikan pakaian yang dikenakan Pangeran Mangkubumi saat pertemuan pribadi mereka di Pedagangan, Grobogan, saat mereka menegosiasikan tuntutan Pangeran Mangkubumi atas bumi Mataram. Pangeran Mangkubumi menggunakan pakaian putih dan kain, memakai dua keris, tutup kepala ulama yang dibalut dengan ikat kepala linen halus berjahit benang emas. Para pengiring Pangeran Mangkubumi juga mengenakan pakaian yang mirip.

Deskripsi mengenai pakaian yang dikenakan Pangeran Mangkubumi dalam berperang menunjukkan bahwa pakaian keprajuritan pada awal Kasultanan Yogyakarta telah dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Namun menilik beberapa lukisan tentang prajurit Jawa pada masa-masa awal Kasultanan Yogyakarta, tidak dapat dikatakan bahwa corak Islam ada dalam tiap seragam prajurit.

Pengaruh Eropa pada Pakaian

Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana IV (1816-1823), desain Eropa mulai dipakai pada pakaian prajurit keraton. Hal ini bersamaan dengan diterimanya pengaruh-pengaruh Eropa pada beberapa hal, termasuk pemberian pangkat Mayor Jenderal tituler pada Sultan yang berkuasa.

Selepas kekalahan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830), pemerintah Hindia Belanda memangkas kemampuan militer Kasultanan Yogyakarta hingga prajurit keraton hanya berfungsi sebagai kesatuan pengawal istana dan upacara keraton saja. Mulai masa inilah pakaian prajurit keraton berkembang menjadi yang dikenal sekarang. Saat ini kita melihat unsur-unsur Eropa tersebut diselipkan secara bijak dalam bentuk kaos kaki, sepatu, maupun topi.

Makna Warna

Desain dari pakaian prajurit keraton tidak sekadar mengejar keindahan semata. Mulai warna hingga motif kain memiliki muatan filosofisnya sendiri. Dalam dunia simbolik Jawa terdapat istilah mancapat dan mancawarna. Segala sesuatu dalam dunia dibagi ke dalam empat bagian yang tersebar seusai arah mata angin, dan satu lagi bagian di tengah sebagai pusatnya. Begitu juga dengan empat macam nafsu manusia, yaitu aluamah, amarah, supiyah, dan mutmainah. Keempat nafsu ini kemudian diwujudkan dalam empat macam warna, yaitu warna hitam, merah, kuning, dan putih.

Warna hitam terletak di utara. Warna merah berada di selatan. Warna putih di timur. Warna kuning bertempat di barat. Sedang sebagai pusat adalah perpaduan berbagai warna tersebut. Masing-masing warna tersebut memiliki asosiasi dengan berbagai macam hal. Seperti sifat, benda-benda, maupun titah alus.

Bregada Bugis

Bregada Bugis

Bregada Bugis awalnya berasal dari Bugis, Sulawesi. Namun prajurit yang ada kini sudah tidak lagi terdiri dari orang-orang Bugis. Dalam upacara Garebeg bertugas sebagai pengawal gunungan yang dibawa menuju Kepatihan.

Panji

Panji-panji atau bendera atau klebet Prajurit Bugis adalah Wulan-dadari, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna kuning emas. Wulan berarti bulan. Dadari berarti mekar, muncul timbul. Secara filosofis bermakna pasukan yang diharapkan selalu memberi penerangan dalam gelap. Ibarat berfungsi seperti munculnya bulan dalam malam yang gelap, cahayanya menggantikan matahari.

Pakaian

Seragam yang dikenakan oleh prajurit Bugis adalah baju berbentuk kurung/jas tutup dan celana panjang hitam topi hitam.

Senjata

Senjata yang digunakan oleh seluruh Bregada Prajurit Bugis adalah tombak (waos). Tombak pusakanya bernama Kanjeng Kiai Trisula dengan bentuk ujung (dapur) yang juga dinamakan Trisula.

Musik (Gendhing)

Pada saat berjalan Bregada Prajurit Bugis diiringi dengan Gendhing Sandung Liwung.

Bregada Surakarsa

Bregada Surakarsa

Nama Bregada Surakarsa berasal dari kata sura dan karsa. Kata sura berarti berani, sedangkan karsa berarti kehendak. Secara filosofis Surakarsa bermakna prajurit yang pemberani dengan tujuan selalu menjaga keselamatan Adipati Anom (Putra Mahkota). Dalam upacara Garebeg, Bregada Surakarsa bertugas mengawal gunungan yang dibawa ke Masjid Gedhe.

Panji

Klebet prajurit Surakarsa adalah Pareanom, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hijau, di tengahnya terdapat lingkaran dengan warna kuning. Pareanom berasal dari kata pare (sejenis tanaman berbuah yang merambat) dan kata anom yang berarti muda. Klebet ini memiliki makna bahwa Surakarsa adalah pasukan yang selalu bersemangat dengan jiwa muda.

Pakaian

Seragam yang digunakan berupa baju lengan panjang berwarna putih dengan celana panjang dan kain bermotif gebyar. Dengan memakai ikat kepala teleng kewengen yakni kain berwarna hitam ditengah putih dan tepinya bergaris garis putih. Kaos kaki hitam dan sepatu juga hitam.

Senjata

Senjata yang digunakan oleh seluruh Bregada Prajurit Surakarsa adalah tombak (waos). Tombak pusakanya bernama Kanjeng Kiai Nenggala dengan bentuk ujung (dapur) yang dinamakan Banyak Angrem.

Musik (Gendhing)

Pada saat berjalan Bregada Prajurit Surakarsa diiringi dengan Gendhing Plangkenan.

Bregada Wirabraja

Bregada Wirabraja

Nama Bregada Wirabraja berasal dari kata wira dan braja. Kata wira berarti berani, dan braja berarti tajam. Secara filosofis Wirabraja berarti prajurit yang sangat berani dan tajam panca inderanya. Mereka selalu peka dengan keadaan, pantang menyerah dalam membela kebenaran, dan pantang mundur sebelum musuh dikalahkan.

Panji

Klebet prajurit Wirabraja adalah Gula-klapa. Berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar putih, pada setiap sudut dihias dengan chentung berwarna merah seperti ujung cabai merah (kuku Bima). Di tengahnya terdapat segi empat berwarna merah dan segi delapan berwarna putih pada bagian dalamnya. Gula-klapa berasal dari kata gula dan kelapa. Gula yang dimaksud adalah gula Jawa yang berwarna merah. Sedang kelapa berwarna putih. Klebet ini memiliki makna bahwa Wirabraja adalah pasukan yang berani membela kesucian dan kebenaran.

Pakaian

Bergada prajurit Wirabraja menggunakan seragam berbentuk sikepan, ikat pinggang kain satin dan celana panji dengan dominasi keseluruhan seragam berwarna merah. Warna merah merupakan simbol keberanian dan semangat membara. Kundhup tari yakni topi yang digunakan prajurit, berbentuk corong melengkung berwarna merah sehingga tampilan keseluruhan prajurit mirip seperti ‘cabai merah’. Oleh karena itu, kesatuan Wirabraja kerap dijuluki “lombok abang”. Pakaian yang dikenakan semuanya didominasi warna merah menyala yang terdiri dari:

  • Topi centhung : bentuknya mirip kepompong dengan warna merah
  • Destar atau ikat kepala : berwarna wulung/ungu
  • Baju dalam lengan panjang : warna putih
  • Beskap baju luar : warna merah
  • Lonthong atau ikat pinggang dalam : berupa kain bermotif cinde dominasi warna merah
  • Kamus atau Ikat pinggang luar : berwarna hitam
  • Sayak : Kain penutup dari pinggang sampai dengan lutut warna putih
  • Celana Panji : celana yang mempunyai panjang sebatas lutut warna merah
  • Kaos Kaki : warna putih
  • Sepatu : fantopel warna hitam

Senjata

Senjata yang digunakan oleh anggota Bregada Prajurit Wirabraja adalah tombak (waos) dan senapan. Tombak pusakanya bernama Kanjeng Kiai Slamet dan Kanjeng Kiai Santri dengan bentuk ujung (dapur) yang dinamakan Manggaran/ Catursara/ Crengkeng.

Musik (Gendhing)

Pada saat berjalan cepat (mars) Bregada Prajurit Wirabraja diiringi dengan Gendhing Dhayungan. Apabila berjalan lambat (lampah macak) akan diiringi dengan Gendhing Reta Dhedhali.

Bregada Dhaeng

Bregada Dhaeng

Nama Bregada Dhaeng berasal dari sebutan gelar bangsawan di Makasar. Pada awalnya prajurit Dhaeng memang berasal dari sana. Namun prajurit yang ada kini sudah tidak lagi terdiri dari orang-orang Makasar.

Panji

Klebet prajurit Dhaeng adalah Bahningsari. Berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar putih, di tengahnya terdapat bintang segi delapan berwarna merah. Bahni berarti api, dan sari berarti indah. Klebet ini memiliki makna bahwa Dhaeng adalah pasukan yang tidak pernah menyerah karena keberaniannya, sama seperti semangat inti api yang tidak pernah kunjung padam.

Pakaian

Seragam Prajurit Dhaeng terdiri atas topi hitam pakai cundhuk, destar wulung, jas putih setrip merah, lonthong biru, kamus hitam, celana panjang setrip merah, kaos kaki hitam, sepatu fantopel.

Senjata

Senjata yang digunakan oleh anggota Bregada Prajurit Dhaeng adalah tombak (waos) dan senapan. Tombak pusakanya bernama Kanjeng Kiai Jatimulya dengan bentuk ujung (dapur) yang dinamakan Dhoyok.

Musik (Gendhing)

Pada saat berjalan cepat (mars), Bregada Prajurit Dhaeng diiringi dengan Gendhing Ondhal-Andhil. Apabila berjalan lambat (lampah macak) akan diiringi dengan Gendhing Kenaba.

Bregada Patangpuluh

Bregada Patangpuluh

Asal usul nama Bregada Patangpuluh masih kabur sampai sekarang, yang jelas nama tersebut tidak ada hubungannya dengan jumlah anggota bregada.

Panji

Klebet prajurit Patangpuluh adalah Cakragora. Berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, ditengahnya terdapat bintang segi enam berwarna merah. Cakra adalah senjata berbentuk roda bergerigi, dan gora berarti dahsyat atau menakutkan. Klebet ini memiliki makna bahwa Patangpuluh adalah pasukan yang mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa, sehingga segala musuh seperti apapun bisa terkalahkan.

Pakaian

Seragam yang dikenakan prajurit patangpuluh adalah berbentuk sikepan dengan corak lurik khas patangpuluh yakni lurik kemiri, dengan celana pendek warna merah diluar celana panjang putih. Destar wulung, lonthong atau ikat pinggang dalam berwarna merah, kamus atau ikat pinggang luar berwarna hitam, Rompi warna merah dengan tutup kepala berupa songkok berwarna hitam serta sepatu fantopel hitamdengan kaos kaki hitam.

Senjata

Senjata yang digunakan oleh anggota Bregada Prajurit Patangpuluh adalah tombak (waos) dan senapan. Tombak pusakanya bernama Kanjeng Kiai Trisula dengan bentuk ujung (dapur) yang dinamakan Daramanggala/ Trisula Carangsoka.

Musik (Gendhing)

Pada saat berjalan cepat (mars), Bregada Prajurit Patangpuluh diiringi dengan Gendhing Bulu-Bulu. Apabila berjalan lambat (lampah macak) akan diiringi dengan Gendhing Mars Gendera.

Bregada Jagakarya

Bregada Jagakarya

Nama Bregada Jagakarya berasal dari kata jaga dan karya. Kata jaga berarti menjaga dan karya berarti tugas atau pekerjaan. Secara filosofis Jagakarya bermakna prajurit yang mengemban tugas selalu menjaga dan mengamankan jalannya pelaksanaan pemerintahan dalam kerajaan.

Panji

Klebet prajurit Jagakarya adalah Papasan. Berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar merah, ditengahnya terdapat lingkaran dengan warna hijau. Papasan mungkin berasal dari nama tumbuhan atau burung papasan. Namun ada pendapat lain yang menyatakan kalau Papasan berasal dari kata dasar papas menjadi amapas yang berarti menghancurkan. Jika demikian, Papasan berarti pasukan pemberani yang dapat menghancurkan musuh dengan teguh.

Pakaian

Seragam dari prajurit Jagakaryo adalah Tpo Hitam bentuk tempelengan yang terlihat seperti kapal terbalik, Destar atau ikat kepala berwarna wulung, rompi berwarna crem atau kuning emas, beskap lurik lupat lapis warna merah, sayak lurik, lonthong atau ikat pingang dalam warna merah dan Kamus atau ikat pinggang luar berwarna hitam. Sedangkan Celana panji lurik, menggunakan kaos kaki panjang, sepatu fantopel warna hitam .

Senjata

Senjata yang digunakan oleh anggota Bregada Prajurit Jagakarya adalah tombak (waos) dan senapan. Tombak pusakanya bernama Kanjeng Kiai Trisula dengan bentuk ujung (dapur) yang juga dinamakan Trisula.

Musik (Gendhing)

Pada saat berjalan cepat (mars), Bregada Prajurit Jagakarya diiringi dengan Gendhing Tameng Madura. Apabila berjalan lambat (lampah macak) akan diiringi dengan Gendhing Slahgendir.

Bregada Prawiratama

Bregada Prawiratama

Nama Bregada Prawiratama berasal dari kata prawira dan tama. Kata prawira berarti berani atau perwira. Kata tama dalam bahasa Sansekerta berarti utama atau lebih, sedang dalam bahasa Kawi berarti ahli atau pandai. Secara filosofis Prawiratama bermakna prajurit yang pemberani dan pandai dalam setiap tindakan, selalu bijak walau dalam suasana perang.

Panji

Klebet prajurit Prawiratama adalah Geniroga/Banteng Ketaton. Berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya terdapat lingkaran dengan warna merah. Geni berarti api dan roga berarti sakit. Klebet ini memiliki makna bahwa Prawiratama adalah pasukan yang diharapkan dapat selalu mengalahkan musuh dengan mudah.

Pakaian

Seragam yang dikenakan prajurit Prawirotomo berupa topi berbentuk mete dengan warna hitam, destar atau ikat kepala warna wulung/ungu, beskap hitam, baju dalam merah sayak putih, lonthong atau sabuk dalam berwarna merah kamus atau sabuk bagian luar berwarna hitam. Untuk celana atas merah dan bagian bawah putih, bengkap hitam, kaos kaki hitam serta sepatu fantopel hitam.
Senjata

Senjata yang digunakan oleh anggota Bregada Prajurit Prawiratama adalah tombak (waos) dan senapan. Tombak pusakanya bernama Kanjeng Kiai Trisula dengan bentuk ujung (dapur) yang dinamakan Trisula.

Musik (Gendhing)

Pada saat berjalan cepat (mars), Bregada Prajurit Prawiratama diiringi dengan Gendhing Pandebrug. Apabila berjalan lambat (lampah macak) akan diiringi dengan Gendhing Balang.

Bregada Nyutra

Bregada Nyutra

Nama Bregada Nyutra berasal dari kata dasar sutra yang mendapat awalan “n”. Kata sutra dalam bahasa Kawi berarti unggul atau ketajaman. Sedang dalam bahasa Jawa Baru mengacu pada kain sutra yang halus. Sedang tambahan awalan “n” memberi arti tindakan aktif sehubungan dengan sutra. Prajurit Nyutra merupakan pengawal pribadi Sultan. Secara filosofis Nyutra bermakna prajurit yang sehalus sutra dan selalu mendampingi dan mejaga keamanan raja, tetapi memiliki ketajaman rasa dan keterampilan yang unggul.

Panji

Klebet prajurit Nyutra adalah Podhang Ngingsep Sari dan Padma-Sri-Kresna. Podhang Ngingsep Sari untuk prajurit Nyutra Merah, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar kuning, di tengahnya terdapat lingkaran dengan warna merah. Padma-Sri-Kresna untuk prajurit Nyutra Hitam, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar kuning, di tengahnya terdapat lingkaran dengan warna hitam. Podhang berasal dari kepodang, burung dengan bulu warna kuning keemasan. Ngingsep berarti menghisap. Sari berarti inti. Klebet ini memiliki makna bahwa Nyutra Merah adalah pasukan yang selalu memegang teguh keluhuran. Padma berarti bunga teratai. Sri Kresna adalah tokoh pewayangan yang merupakan titisan Dewa Wisnu. Klebet ini memiliki makna bahwa Nyutra Hitam adalah pasukan yang selalu membasmi kejahatan, seperti yang selalu dilakukan oleh Sri Kresna.

Pakaian

Seragam Bregade nyutro Hitam seragam yang digunakan ikat kepala berbentuk udheng gilig berwarna hitam, rompi dan celana panji berwarna hitam, kain kampuh biru tua dengan warna putih ditengahnya. Kalau Prajurit Nyutro Hitam didominasi warna hitam maka Nyutro merah di dominasi warna merah.

Senjata

Senjata yang digunakan oleh anggota Bregada Prajurit Nyutra adalah tombak (waos), towok, tameng, panah dan senapan. Tombak pusakanya bernama Kanjeng Kiai Trisula dengan bentuk ujung (dapur) yang dinamakan Trisula.

Musik (Gendhing)

Pada saat berjalan cepat (mars), Bregada Prajurit Nyutra diiringi dengan Gendhing Surengprang. Apabila berjalan lambat (lampah macak) akan diiringi dengan Gendhing Mbat-Mbat Penjalin/ Tamtama Balik.

Bregada Ketanggung

Bregada Ketanggung (http://sambalbawangkangadi.blogspot.com)

Nama Bregada Ketanggung berasal dari kata tanggung yang mendapat awalan “ke-“. Tanggung berarti beban atau berat. Sedangkan awalan “ke-” bermakna sangat. Secara filosofis Ketanggung bermakna pasukan dengan tanggung jawab yang sangat berat.

Panji

Klebet prajurit Ketanggung adalah Cakra-Swandana. Berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya terdapat bintang persegi enam berwarna putih. Cakra berarti senjata berbentuk roda bergerigi. Swandana berarti kendaraan atau kereta.

Pakaian

Seragam yang digunakan prajurit ketanggung adalah berbentuk sikepan, dengan corak lurik khas ketanggung serta celana pendek hitam diluar celana panjangputih, sepatu lars hitam dan topi mancungan berwarna hitam dengan hiasan bulu bulu ayam.

Senjata

Klebet ini memiliki makna bahwa Ketanggung adalah pasukan yang membawa senjata dahsyat yang akan memporakporandakan musuh. Senjata yang digunakan oleh anggota Bregada Prajurit Ketanggung adalah tombak (waos) dan senapan. Tombak pusakanya bernama Kanjeng Kiai Nenggala dengan bentuk ujung (dapur) yang dinamakan Nenggala.

Musik (Gendhing)

Pada saat berjalan cepat (mars), Bregada Prajurit Ketanggung diiringi dengan Gendhing Lintrikmas/Ricikanmas/Pragolamilir. Apabila berjalan lambat (lampah macak) akan diiringi dengan Gendhing Harjunamangsah dan Bimakurda.

Bregada Mantrijero

Bregada Mantrijero

Nama Bregada Mantrijero berasal dari kata mantri dan jero. Mantri berarti juru bicara, menteri, atau jabatan di atas bupati. Jero berarti dalam. Secara filosofis Mantrijero bermakna prajurit yang mempunyai wewenang ikut ambil bagian dalam memutuskan hal-hal dalam lingkungan keraton.

Panji

Klebet prajurit Mantrijero adalam Purnamasidhi. Berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya terdapat lingkaran warna putih. Purnama berarti bulan penuh dan sidhi berarti sempurna. Klebet ini memiliki makna bahwa Mantrijero adalah pasukan yang diharapkan selalu memberikan cahaya dalam kegelapan.

Pakaian

Seragam yang dikenakan oleh pasukan mantrijero adalah Jas buka dengan kain lurik bergaris hitam putih, berbaju dalam putih, bercelana putih, kaos kaki panjang putih dan bersepatu fantopel warna hitam, topi songkok berwarna hitam.

Senjata

Senjata yang digunakan oleh anggota Bregada Prajurit Mantrijero adalah tombak (waos) dan senapan. Tombak pusakanya bernama Kanjeng Kiai Cakra dengan bentuk ujung (dapur) yang dinamakan Cakra.

Musik (Gendhing)

Pada saat berjalan cepat (mars), Bregada Prajurit Mantrijero diiringi dengan Gendhing Plangkenan/Mars Setok. Apabila berjalan lambat (lampah macak) akan diiringi dengan Gendhing Slagunder/ Restopelen.

Sumber: keratonjogja | lembahsungaibedog

Share and Enjoy !

0Shares
0

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Batik Kota Pasuruan Jawa Timur

Wed Jan 13 , 2021
Batik kota Pasuruan Kota Pasuruan sebagai kota terbesar ketiga di Jawa Timur, 65 km sebelah tenggara Kota Surabaya dan terletak di kawasan segitiga emas dan termasuk gerbang Kertosusilo plus Jawa Timur, Kota Pasuruan mengalami kemajuan pesat di bidang industri, perdagangan dan jasa. Sejarah Pasuruan memiliki potensi alam yang sangat indah, […]