Masjid Saka Tunggal Baitussalam Banyumas Jawa Tengah

Oleh Tri Agus Yogawasista

(https://mlente.wordpress.com)

Gerbang Utama Masjid Saka Tunggal, Cikakak, Wangon, Banyumas, Jawa Tengah. Koordinat GPS : 7° 28′ 26.05″ S dan 109° 3′ 20.32″ E (*)

Masjid Saka Tunggal terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas berjarak 30 Km arah Barat daya kota Purwokerto. Ditengah suasana pedesaan Jawa yang begitu kental. Di kawasan masjid yang dipenuhi dengan kera-kera yang berkeliaran bebas. Bangunan masjid juga sangat unik, beratapkan ijuk serta sebagian dindingnya dari anyaman bambu.

Nama resmi masjid ini adalah Masjid Saka Tunggal Baitussalam, tapi lebih populer dengan nama Masjid Saka Tunggal karena memang Masjid ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga satu). Sakatunggal yang berada di tengah bangunan utama masjid, saka dengan empat sayap ditengahnya yang akan nampak seperti sebuah totem, bagian bawah dari saka itu dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan tahun pendirian masjid tersebut.

Masjid saka tunggal berukuran 12 x 18 meter ini menjadi satu satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16M. Sedangkan masjid ini didirikan tahun 1288 M, 2 abad sebelum Wali Songo, lebih tua dari Kerajaan Majapahit yang berdiri tahun 1294 Masehi, berdiri ketika masa Kerajaan Singasari. Sekaligus menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai Masjid Tertua di Indonesia.

Sejarah Masjid Saka Tunggal

Dinamakan Masjid Saka Tunggal, karena memang hanya memiliki satu pilar utama penyangga. Disekitar masjid terdapat makam seorang penyebar agama Islam yang bernama Kyai Mustolih.

Tampilan luar Masjid Saka Tunggal Baitussalam ini memang sama sekali tak menyiratkan lagi sebuah bangunan tua, dengan gerbang betonnya yang dibangun belakangan. Sebuah papan peringatan dipasang di samping gerbang memberi petunjuk bahwa inilah bangunan masjid tertua yang dilindungi undang undang. (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Berdasarkan ceritera nara sumber yaitu KGPH Dipo Kusumo dari Keraton Surakarta Hadiningrat dan Drs. Suwedi Montana, seorang peneliti Arkeologi Islam dari Puslit Arkenas Jakarta pada tanggal 29 Januari 2002 dijelaskan sebagai berikut :

Sunan Panggung adalah salah seorang dari kelompok Wali sanga yang merupakan murid Syech Siti Jenar. Sunan Panggung meninggal pada masa pemerintahan Sultan Trenggono di Demak Bintoro antara tahun 1546-1548 M. Menurut Serat Cabolek, Sunan Panggung dihukum dengan cara dibakar atas kesalahannya menentang suatu syariat. Namun demikian dalam hukumannya tersebut ia tidak mati, bahkan saat pada saat itu mampu menulis suluk yang kemudian dikenal dengan sebutan Suluk Malangsumirang.

Sunan Panggung menurunkan anak bernama Pengeran Halas. Pangeran Halas menurunkan Tumenggung Perampilan. Tumenggung Perampilan menurunkan Kyai Cikakak. Kyai Cikakak menurunkan Resayuda. Kyai Resayuda menurunkan Ngabehi Handaraka, dan Ngabehi Handaraka menurunkan Mas Ayu Tejawati, Istri Amangkurat IV, yang menurunkan Hamengkubuwana, Raja Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kyai Cikakak yang merupakan keturunan ketiga Sunan Panggung tidak diketahui nama aslinya. Nama Kyai Cikakak diperkirakan merupakan sebutan, karena ia bertempat tinggal di Desa Cikakak. Di Desa inilah Kyai Cikakak mendirikan sebuah masjid dengan keunikan tersendiri, yaitu dengan tiang utama tunggal (saka tunggal) yang masih lestari hingga saat ini.

Masjid saka Tunggal di bangun di tempat suci Agama Kuno (agama yang berkembang sebelum masuknya agama Hindu dan Budha) yang dapat dibuktikan di sekitar masjid terdapat sebuah batu menhir yang merupakan tempat untuk kegiatan ritual agama kuno, dibangun pada tahun 1522 M. Di sekitar tempat ini terdapat hutan pinus dan hutan besar lainnya yang di huni oleh ratusan ekor kera yang jinak dan bersahabat, seperti di Sangeh Bali.

Sisa ketuaan bangunan ini yang masih beratap ijuk meski sudah berdinding beton. Dinding beton itu sebenarnya juga bukan dinding asli bawaan masjid tapi dibangun dengan tujuan menjaga kelesatarian bangunan ini. (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Arsitektur Masjid Saka Tunggal

Saka Tunggal atau Saka Guru berdiri sendirian ditengah masjid menopang struktur atap masjid ini. Di tiang tunggal inilah terukir tahun pembuatan masjid, merupakan masjid tertua yang ada di Indonesia saat ini. (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Salah satu keunikan Saka Tunggal adalah empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan ”Papat Kiblat Lima Pancer”, atau empat mata angin dan satu pusat. Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer (pusat) dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi. Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia.

Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. ”Hidup itu harus seimbang,”

Papat kiblat lima pancer ini sama dengan empat nafsu yang ada dalam manusia. Empat nafsu yang dalam terminologi Islam-Jawa sering dirinci dengan istilah aluamah, mutmainah, sopiah, dan amarah. Empat nafsu yang selalu bertarung dan memengaruhi watak manusia.

Interior Masjid Saka Tunggal (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Keaslian yang masih terpelihara adalah ornamen di ruang utama, khususnya di mimbar khotbah dan imaman. Ada dua ukiran di kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip lempeng mandala. Gambar seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan kuno era Singasari dan Majapahit.

Kekhasan yang lain adalah atap dari ijuk kelapa berwarna hitam. Atap seperti ini mengingatkan atap bangunan pura zaman Majapahit atau tempat ibadah umat Hindu di Bali. Tempat wudu pun juga masih bernuansa zaman awal didirikan meskipun dindingnya sudah diganti dengan tembok.

(*) Peta Navteq

Sumber: Berbagai sumber di Internet

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Masjid Wapauwe Maluku Tengah

Tue Feb 4 , 2014
Masjid Wapauwe, Negeri Kaitetu, Leihitu, Maluku Tengah. Koordinat GPS : 3° 35′ 31.49″ S dan 128° 8′ 30.42″ E (*) Di utara Pulau Ambon, tepatnya di Negeri (desa) Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, berdiri Masjid Tua Wapauwe yang berumur tujuh abad. Masjid yang dibangun tahun 1414 Masehi itu masih […]