Masjid Rao-Rao Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat

1

Masjid Rao Rao pada Oktober 2008 (https://id.wikipedia.org)

Masjid Rao-rao terletak di Nagari Rao-Rao, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Masjid Rao-Rao terletak di jalan poros antara Batusangkar dan Payakumbuh. Masjid ini dibangun pada tahun 1901 oleh masyarakat Nagari Rao-Rao dan mulai dipakai pada tahun 1918.

Masjid Rao-Rao tampak dari depan. Terlihat bentuk tiang-tiang pilar yang kokoh dan kekar bergaya bangunan kolonial

Arsitektur

Arsitektur masjid ini mengikuti gaya kolonial karena dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Diskripsi Bangunan

Atap masjid berbentuk atap tumpang bersusun empat (https://www.skyscrapercity.com)

Atap masjid berbentuk atap tumpang bersusun empat. Hal ini melambangkan 4 suku yang ada di Nagari Rao-Rao, yaitu Caniago, Bendang Mandailing, Koto Piliang, dan Petapang Koto Ampek.

Menara

Menara masjid memakai gonjong sejumlah 4 buah yang juga melambangkan keempat suku tersebut.

Pintu dan Tiang

Pintu masuk masjid berjumlah 4 buah, tiang pada bagian utama masjid 4 buah, dan tiang di depan mihrab juga 4 buah. Kesemuanya ini juga melambangkan keempat suku yang ada.

Lantai

Keramik Belanda

Lantai masjid bagian dalam berupa lantai marmer hitam yang merupakan lantai baru. Adapun pada bagian luar masjid lantainya masih asli berupa lantai keramik dengan motif bunga berwarna coklat. Menurut pengurus masjid, keramik ini didatangkan dari Belanda.

Tangga dan Kolam

Tangga masuk ada 2 buah, di sebelah kiri dan kanan. Pada bagian depan masjid, yaitu pada bagian tangga kiri dan kanan, terdapat 2 buah kolam yang berfungsi sebagai tempat mencuci kaki sebelum memasuki masjid.

Ruang Utama

Ruang utama masjid dengan empat tiang utama

Di dalam ruang salat berdiri empat tiang utama yang terbuat dari beton.

Ornamen ruang utama (https://www.islamicboard.com)

Mihrab dan Mimbar

Mihrab dan Mimbar (https://simbi.kemenag.go.id)

Di bagian mihrab masjid yang baru dibuat mimbar permanen pada tahun 1930, dihiasi hiasan berupa pecahan kaca keramik. Mimbar tersebut berukuran 3 × 1,38 meter dengan tinggi 3,1 meter, dengan 5 anak tangga.

Bangunan Tambahan

Di sebelah kiri masjid ini berdiri sebuah bangunan berlantai dua berukuran 7 × 10 m. Bangunan yang disebut “Markaz” tersebut selesai dibangun pada tahun 2001. Sementara itu di sebelah kanan masjid ini juga berdiri sebuah bangunan yang digunakan sebagai sekolah agama, yang sejak tahun 1982 berganti nama menjadi “Darul Huda” (sebelumnya Madrasah Islamiyah).

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Mudik Lewat Jalan Tuan Besar Guntur alias Herman Willem Daendels

Sun Apr 19 , 2015
Jalan Pos atau jalan Daendels (https://id.wikipedia.org) Tradisi mudik kembali akan berulang setiap tahunnya. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, pemudik yang memilih naik kendaraan pribadi mulai bisa dilihat di jalan-jalan. Khususnya di malam hari. Mereka mengarah ke Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dikenal sekarang dengan sebutan Jalan Raya Pantura […]