Masjid Nur Sulaiman Kabupaten Banyumas Jawa Tengah

Masjid Nur Sulaiman (https://www.posjateng.id)

Masjid Nur Sulaiman Banyumas yang terletak di Jl. Alun-alun Barat No. 1, Banyumas, Jawa Tengah. Masjid Agung Nur Sulaiman merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kabupaten Banyumas yang telah terdaftar oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah pada 2004 dengan Nomor 11-12/Bas/44/TB/04. Masjid yang berlokasi di sebelah barat Alun-Alun Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas ini dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Sejarah

Masjid Nur Sulaiman (https://www.aroengbinang.com)

Sulit untuk mengetahui dengan pasti kapan masjid ini dibangun, namun menurut Babad Banyumas oleh Oemarmadi dan Poerbosewojo tertulis bahwa Balai Si Panji (pendopo Kabupaten Banyumas) diperkikaran berdiri pada 1743, sehingga diperkirakan masjid ini didirikan setelah Balai Si Panji didirikan. Masjid Agung Banyumas didirikan pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Yudanegara II.

Pada tahun 1992 Masjid Agung Banyumas berganti nama menjadi Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas. Nama Nur berasal dari nama arsitek pembangun masjid yaitu Nurdaiman. Ia merupakan Demang Gumelem sekaligus penghulu masjid. Ia tak hanya mengarsiteki bangunan masjid dibanyumas jasa tetapi juga tempat lain. Salah satunya Masjid Agung Darussalam di Kabupaten Cilacap. Sedangkan nama Sulaiman diambil dari penyiar agama yang berdakwah di Masjid Agung, yaitu Ki Sulaiman.

Bangunan

Atap Masjid Nur Sulaiman (https://www.youtube.com)

Masjid Nur Sulaiman di bangun di atas tanah seluas 4.950 m². Ruang utama Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas berdenah bujur sangkar dengan ukuran 22 x 22 m dengan ketinggian 14,5 m. Lantainya lebih tinggi 20 cm dari lantai serambi. Ruang ini berfungsi sebagai ruang pokok pada waktu berjamaah.

Ruang Utama

Ruang Utama

Untuk masuk kedalam ruang utama ada tiga pintu, pintu tengah berukuran tinggi 230 cm lebar 192 cm, sedang dua pintu yang mengapitnya berukuran tinggi 230 cm dan lebar 129 cm.

Berdasarkan ukuranyan pintu tengah merupakan pintu utama yang hanya dibuka pada hari Jumat. Lantai ruang utama ditutup dengan tegel abu-abu ukuran 20 x 20 cm dikombinasi dengan tegel kembang warna-warni serta tegel warna polos ukuran 20 x 20 cm. Sebagi contoh lantai bagian pinggir ditutup dengan deretan tegel kembang bermotif geomtris, lantai sisi timur ditutup dengan tegel warna aba-abu dan krwem yang disusun selang-seling membentuk motif papan catur, bagian tengah ditutup dengan tegel berwarna dasar krem dan bermotif flora.

Tiga pintu menuju ruang utama

Di dalam ruang utama terdapat empat saka guru dan dua belas saka pengarak. Tiang-tiang tersebut dibuat dari kayu jati dan masing-masing dilandasi oleh umpak batu. Ke-16 umpak yang ada di ruang utama berbentuk motif molding, tetapi umpak saka guru berukuran lebih besar yakni sisi-sisinya berukuran 75 cm, tingginya 56 cm. Sehingga terlihat perpaduan antara gaya barat dengan lokal. Kemungkinan konstruksi bangunan ini menggunakan sistem tajug Mangkurat. Hal ini dapat dilihat dengan adanya 4 umpak yang lebih besar ukurannya dari pada umpak-umpak yang lain. berbeda dengan Masjid Agung Yogyakarta yang menggunakan sistem tajug Ceblokan.

Mihrab dan Mimbar

Mihrab

Seperti telah disebutkan di atas bahwa ruang mihrab pada masjid ini mempunyai atap terpisah yang berbentuk atap tumpang bertingkat dua. Oleh karena itu, dalam hal ini ruang mihrab yang menjorok ke barat itu dipandang sebagai komponen ruang tersendiri pada masjid yang bersangkutan. Ruang mihrab tersebut berukuran lebar 220 cm, panjang 400 cm, tinggi 590 cm. Puncak atap ditutup oleh mustaka yang berbentuk menyerupai gada.

Sedangkan pada ruang mihrab, terdapat ukiran yang terdapat di atas kusen pintu masuk berupa krawangan yang memuat ragam hias flora dan geometris. Sebagian besar hiasan dalam masjid ini berpola simetris. Menarik di sini bahwa sebagian besar hiasan pada masjid ini berbentuk flora dan geometris. Kaligrafi hanya terdapat pada gantungan bedhug. Seperti diketahui bahwa hiasan kaligrafi terdapat pada umpak dan tiang sakaguru. Hal itu tidak terdapat pada masjid ini.

Mimbar

Mimbar

Mimbar yang fungsinya sebagai tempat khotib menyampaikan khotbah Jum’at, atau ceramah keagamaan lain, di Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas ditempatkan disebelah utara pintu ruang mihrab. Mimbar kuno ini berukuran lebar 125 cm, pnjang 220 cm, tinggi 167 cm dan mempunyai empat tiang penyangga atap dari kayu berukuran 10/10 cm. Untuk mencapai tempat duduk bagi khotib ada tiga anak tangga yang pada sudut-sudutnya terdapat hiasan berupa menara-menara kecil dengan puncak runcing. Bagian-bagian tempat duduk tersebut tidak memuat hiasan apapun. Seperti halnya kursi biasa, mimbar ini juga mempunyai tangan-tangan yang di bagian ujung membentuk ukel,.Tangan-tangan ini pada sisi luarnya dipenuhi ukiran timbul dengan motif flora.

Bagian bawah tempat duduk mimbar merupakan bagian yang berongga, yang ditutup pintu geser. Dengan demikian bagian tersbut dapat dimanfaatkan untuk tempat menyimpan perlengkapan masjid. Atap mimbar berbentuk lengkung, dan keduanya berupa ukel. Bagian depan atap mimbar ini memuat ukiran dekoratif terdiri atas sulur-suluran yang berpangkal pada ragam hias bunga yang terletak di tengah. Ukiran ini dicat dengan warna emas dan merah.

Di dekat mimbar terdapat artefak lain yaitu maksura, yaitu tempat tempat khusus bagi penguasa tertinggi disuatu tempat. Meskipun di dalam ajaran Islam tidak ada pembedaan tempat bagi umat pada waktu sholat berjamaah, namun kemudian pada akhir masa Khulafa’urrasyidin dirasa perlu untuk membuat tempat sholat khusus untuk keamanan bagi penguasa. Didalam perjalanan sejarah –terutama di Indonesia- fungsi keamanan maksura kemudian berubah menjadi simbolik saja.

Maksura di Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas berbentuk mirip panggung kecil berukuran 230 x 230 cm dibuat darim kayu jati. Lantai maksura berupa tatanan papan dan disangga oleh empat kaki setinggi 9,5 cm. Pada keempat sudutnya terdapat tiang yang menyangga bagian atas maksura yang terdiri atas empat bidang berukir. Keseluruhan maksura dicat warna biru muda, sedang ukirannya dicat warna emas.

Ragam Hias

Ragam hias pada masjid Nur Sulaiman Banyumas ini pada umumnya menggunakan motif-motif botanis, geometris dan cosmis. Pada ruang serambi terdapat ukir-ukiran dekoratif pada saka guru, sesanten dan godhegan. Ukiran pada bagian pangkal saka guru berupa ragam hias geometris yang diisikan dalam bingkai berbentuk tumpal dan segi empat. Ragam hias pada sesanten juga berupa sulur-suluran dan bunga, tetapi berbeda dengan ukiran pada pangkal saka guru, ukiran pada sesanten disusun berbentuk pola bolak-balik. Ragam hias suluran juga digunakan pada godhegan, saka guru serambi ini. Semua tiang, pengeret, kili berikut ukirannya dibuat dari kayu jati.

Ragam hias Pintu ruang utama

Untuk masuk ke dalam ruang utama ada tiga pintu utama yang ambang atasnya dihiasi ukiran krawangan dengan ragam hias flora yang menunjukkan gaya awal abad XX. Menarik perhatian bahwa panil ukiran pada ambang atas pintu utama bercorak bolak-balik, seperti halnya ukiran pada sesanten di serambi. Pada bagian pangkal dan ujung saka guru terdapat hiasan berupa ukiran tempel berbentuk tumpal, yang diisi ragam hias flora berpola simetris. Adapun langit-langit ruang utama Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas ditutup dengan papan-papan kayu jati. Pada bagian tengah dan sudut-sudut langit-langit (pemidangan) terdapat ukiran bermotif geometris yang diisi dengan ragam hias flora. Ukiran tumpal yang diisi ragam hias flora juga diterapkan pada sudut-sudut pertemuan antara tiang-tiang dengan kili serta blandar pengarak.

Artefak Kelengkapan Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas

Bedug

Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas mempunyai beberapa artefak yang digunakan dalm rangkaian tata peribadatan sholat. Artefak-artefak itu adalah mimbar, maskura, bedug dan kentongan.

Kenthongan yang terletak di dekat bedhug tidak digantung, melainkan berdiri dengan disangga kayu bersilang yang mempunyai unkuran diameter 21 cm, tinggi 130 cm dan bentuknya mirip kemuncak atap mihrab.

Pemugaran

Masjid Agung Banyumas kemudian dibangun kembali atau dipugar pada tahun 1899, hal ini didukung dengan temuan pada kayu penggantung bedug terdapat hurus prasasti arab yang tertulis angka 1312, hal ini menurut sejarawan diperkirakan menunjukan tahun 1890. Selain itu pemugaran juga pernah dilakukan sebelumnya, hal ini terlihat dari temuan tulisan angka 1889 pada sisi barat gapura dan tulisan yang berbunyi pemugaran I 1889 dan ke II 1980 pada tempat wudhu perempuan.

Seiring berkembangnya waktu, bangunan Masjid Agung terus mengalami perbaikan. Pada tahun 1980 dilakukan perbaikan berupa pembongkatan pagar tembok di serambi, penggantian atap masjid, pengecetan kembali, dan penggantian usuk serambi. Selanjutnya pengecetan tembok masjid dilalukan kembali pada 1984 dan perbaikan tempat wudhu di sebelah utara pada tahun 1989.

Sumber: tinoblog

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Masjid Pakuncen Adiwerna Kabupaten Tegal Jawa Tengah

Wed Apr 14 , 2021
Masjid Jami Pekuncen (http://pesareanpekuncen.blogspot.com) Masjid Jami Pekuncen yang terletak di daerah Tegal Arum, Kecamatan Adiwerna, merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Tegal, peninggalan kerajaan Mataram Islam. Masjid Pekuncen merupakan peninggalan Syekh Samsudin yang merupakan guru spiritual Sunan Amangkurat I. Beliau adalah raja dari Kerajaan Mataran pada abad ke-16 Masehi. […]