Masjid Merah Panjunan Cirebon Jawa Barat

1

Masjid Merah Panjunan, koordinat GPS : 6° 43′ 3.16″ S 108° 33′ 57.71″ E

Masjid Merah Panjunan terletak di Jl. Kolektoran (perempatan dengan Jl. Kenduran) Kampung Panjunan RW 08 RT 02, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemah Wungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat.

Masjid ini merupakan sebuah masjid yang didirikan pada tahun 1480 M oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan. Ia adalah seorang keturunan Arab yang memimpin sekelompok imigran dari Baghdad, dan kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati. Masjid Merah Panjunan terletak di sebuah sudut jalan di Kampung Panjunan, kampung dimana terdapat banyak pengrajin tembikar atau jun.

Masjid Panjunan semula bernama mushala Al-Athya, yang artinya dikasihi, namun karena pagarnya yang terbuat dari bata merah menjadikan masjid ini lebih terkenal dengan sebutan Masjid Merah Panjunan. Awalnya masjid ini merupakan tajug atau Mushola sederhana, karena lingkungan tersebut adalah tempat bertemunya pedagang dari berbagai suku bangsa, Pangeran Panjunan berinisiatif membangun Mushola tersebut menjadi masjid dengan perpaduan budaya dan agama sejak sebelum Islam, yaitu Hindu – Budha. Masjid Merah Panjunan ini telah dimasukkan sebagai benda cagar budaya.

Sejarah

Dalam sejarah perkembangan Islam di Pulau Jawa, khususnya daerah Cirebon mengalami perjalanan yang panjang dan berliku, karena Cirebon masih berada dibawah kekuasaan Pajajaran. Awal masuknya Agama Islam di daerah Cirebon ditandai dengan adanya pesantren di Pedukuhan Amparan Jati. Pesantren tersebut dipimpin oleh ulama besar bernama Syekh Dathul Kahfi.

Sebagai sarana peribadatan umat Islam, para wali membangun masjid dan surau. Pembangunan masjid yang pertama berada di kompleks Dalem Agung Pakungwati Keraton Kasepuhan yang bernama Tajug Pejlagrahan termasuk ke dalam wilayah administratif Kampung Siti Mulya. Dalam perkembangan selanjutnya, pembangunan masjid yang kedua adalah Masjid Merah Panjunan. Masjid ini dibangun sebelum masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun oleh para wali.

Pembangunan Masjid Merah Panjunan berkaitan dengan migrasi keturunan Arab ke Cirebon sekitar abad ke-14. Dalam Babad Cirebon (Sulendraningrat,1984: 21) dikisahkan, bahwa Syarif Abdurakhman dan ketiga adiknya diperintahkan oleh ayahnya (Sultan Bagdad, Irak) untuk bermigrasi ke Pulau Jawa. Mereka adalah Syarif Abdulrakhim, Syarif Kafi, dan Sarifah Bagdad. Daerah tujuan mereka adalah Cirebon. Di Cirebon mereka berguru kepada Syekh Nurjati di Pasambangan Gunungjati. Oleh Syekh Nurjati mereka diperkenalkan kepada Pangeran Cakrabuwana (Ki Kuwu Ceribon). Pangeran Cakrabuwana menerima mereka dengan baik, dan menyuruh Syekh Abdurakhman untuk membangun pemukiman yang sekarang dikenal dengan nama Panjunan, sedangkan Syekh Syarif Abdurakhim membangun pemukiman yang sekarang dikenal dengan nama Kejaksan. Syarif Abdurakhman dikenal dengan nama Pangeran Panjunan, sementara Syekh Syarif Abdurakhim dikenal dengan nama Pangeran Kejaksan.

Arsitektur Masjid Panjunan

Masjid Merah Panjunan yang dibangun oleh Syekh Abdurakhman dengan latar belakang dari Negeri Bagdad (Irak) arsitekturnya dibangun atas budaya Persia, Cina, dan lokal.

Sekilas masjid ini tidak seperti masjid pada umumnya karena memang bentuk bangunannya menyerupai kuil hindu, adanya mihrab yang membuat bangunan Masjid Merah Panjunan ini menjadi terlihat seperti sebuah masjid, serta adanya beberapa tulisan berhuruf Arab pada dinding. Beberapa keramik buatan Cina yang menempel pada dinding konon merupakan bagian dari hadiah ketika Sunan Gunung Jati menikah dengan Tan Hong Tien Nio.

Bangunan

Bangunan lama mushala itu berukuran 40 meter persegi saja, kemudian dibangun menjadi berukuran 150 meter persegi karena menjadi masjid.

Masjid Merah Panjunan termasuk bangunan ukuran kecil dengan jarak antara lantai dan atap yang rendah seperti rumah-rumah tua di Jawa. Bangunan utamanya berukuran 25 x 25 m memiliki halaman yang sangat sempit. Lantai keramik berwarna merah marun, Gerbang dan dinding bata merah sangat mencolok dan tak lazim sebagai bangunan masjid, batu bata sangat lumrah dipakai untuk membuat candi.

Gapura (Pintu Masuk)

Gapura sepasang candi bentar

Ketika Kesultanan Cirebon diperintah oleh Panembahan Ratu (Cicit Sunan Gunungjati), sekitar tahun 1549, halaman masjid dipagar dengan kuta kosod. Pada pintu masuk dibangun sepasang candi bentar dan pintu panel jati berukir.

Pintu Masuk Kedua

Pintu masuk masjid kedua sebelah selatan

Pada awal pembangunan Masjid Merah Panjunan hanya mempunyai satu pintu masuk, yang sekarang menjadi tempat pengimaman (mihrab), kemudian setelah pembuatan kuta kosod, pintu masuk untuk jamaah ditambah 2 pintu, satu sebelah selatan dan satu lagi sebelah timur.

Satu pintu sebelah timur memakai pagar besi (Gapura candi Bentar), sedangkan pintu sebelah selatan ditutup dengan pintu kayu dan tingginya hanya 1,5 m. Jadi jika jamaah akan masuk masjid harus menundukkan kepala. Makna yang terkandung dalam pembuatan pintu ini adalah agar manusia bersifat tawadhu, merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Dengan menundukkan kepala dalam memasuki masjid ini, para wali secara tidak langsung mengajarkan kepada kita selaku umat sesudahnya, agar menghormati tempat tersebut sebagai tempat suci. Sebagai tempat berserah diri, berdoa, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Pagar dan Dinding

Dinding masjid dengan beragam ornamen

Struktur bangunan tembok atau kuta kosod yang mengelilingi Masjid Merah Panjunan, sangat jelas bahwa corak bangunan seperti ini dipengaruhi oleh kepercayaan agama Hindu. Bangunan tersebut mirip dengan bangunan pura-pura sebagai tempat ibadah agama Hindu. Selain itu, juga sangat mirip dengan candicandi Hindu yang ada di Jawa. Pembangunan kuta kosod dengan ciri candi bentar yang diprakasai oleh cicit Sunan Gunung Jati, artinya mengisyaratkan bahwa para pemeluk agama Islam sangat toleran terhadap para pemeluk agama lain. Hal ini tidak terlepas dari cara dakwah para wali dalam menyiarkan ajaran Islam. Mereka sangat menghormati hasil budaya masyarakat sebelum Islam datang. Hasil budaya masyarakat yang sudah ada, baik berupa kesenian, seni bangunan, dan ada istiadat yang ada dibiarkan terus berkembang, kemudian disisipi dengan ajaran Islam. Budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam lambat-laun akan hilang dengan sendirinya.

Bentuk dan tinggi pagar sama, hiasan pada dinding pagar ini beda motif. Dinding kanan pintu masuk Masjid Merah dihiasi motif batik, sedangkan dinding pagar kiri polos tanpa hiasan. Dinding itu memang sengaja dibangun demikian dan memiliki makna khusus.

“Di luar orang boleh berbeda, tetapi ketika memasuki ke masjid, semua orang satu tujuan. Di dalam masjid, setiap orang harus berhati bersih dan punya satu tujuan yang sama untuk menghadap Allah,” Filosofi itu pun mewakili perbedaan karakter Wali Songo (sembilan wali). Namun, mereka toh tetap bersatu, berkumpul, dan berdiskusi tentang ajaran Islam.

Dinding dan pagar masjid masih dipertahankan agar tetap tampak warna asli, merah tanah liat karena dua alasan. Pertama, merah liat itu melambangkan keberanian Pangeran Panjunan serta Wali Songo untuk mengambil keputusan. Selain itu, merah liat sebagai ciri khas dari masjid tersebut, sehingga disebut Masjid Merah.

Kubah

Kubah di Masjid Merah Panjunan

Bentuk kubah yang ada di Masjid Merah Panjunan bentuknya merupakan bentuk piramida. Bentuk ini mengilhami bentuk piramida yang ada di Mesir. Makna dari ciri bentuk kubah seperti ini adalah sesuatu yang mempunyai nilai keabadian, dengan menjunjung tiang penyangga surga. Bentuk kubah Masjid Panjunan kemudian diadopsi oleh pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, hanya saja di atas bentuk kubah tidak terdapat memolo (mustaka).

Pada diagram piramida inilah dapat disusun gambaran tahap pencapaian tingkat keruhanian tersebut, yang bersesuaian dengan konsepsi ahwal dan maqomat. Seluruh jumlah tingkat keruhanian dalam konsepsi ahwal dan maqomat sangat bervariasi bergantung pada aliran pemahaman sufi yang berkembang. Dalam garis besar jumlah itu bergerak antara empat puluh tingkatan dengan pengelompokan pada tiga sampai tujuh tahapan. Tahap-tahap inilah kemudian ditransformasikan ke bentuk arsitektur berupa bentukan masa bangunan maupun hierarki ruang-ruang baik secara
vertikal atau horizontal.

Memolo (Mustaka)

Memolo di Masjid Merah Panjunan

Di atas kubah Masjid Merah yang berbentuk piramida terdapat memolo dengan gaya mahkota raja. Ornamen memolo atau kepala biasanya pada bangunan masjid, tajug dan mushola.

Bentuk memolo yang digunakan pada Masjid Merah ini berasal dari perwujudan mahkota raja, awalnya diambil dari cerita dunia pewayangan yang mengandung unsur-unsur kehinduan. Hal ini bisa dimengerti karena sebelum masuknya Islam ke tanah Jawa, pengaruh ajaran agama Hindu Budha telah menjadi anutan masyarakat Jawa pada umumnya.

Ruang Utama

Interior dalam Masjid Merah Panjunan ini memang di dominasi oleh warna merah pada tembok kelilingnya yang tidak menutup hingga ke atap. Pola yang serupa juga dapat ditemui di Masjid Agung Sang Ciptarasa di wilayah Kraton Kasepuhan.

Masjid Merah disokong 17 tiang penyangga yang melambangkan 17 rakaat dalam salat. Empat dari 17 tiang penyangga itu ada empat sokoguru yang merupakan penyangga utama sebagai simbol empat imam dalam hukum atau syariat Islam. Mereka adalah Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Syafi’i, dan Imam Hanafi.

Ujung setiap tiang penyokong itu berbentuk bintang dengan delapan bunga. Hal itu membuktikan adanya pengaruh arsitektur Arab pada masjid itu. Bintang itu melambangkan delapan lafal selawat yang diajarkan Rasulullah SAW.

Mihrab dan Mimbar

Mimbar Masjid Merah Panjunan

Mimbar pada Masjid Merah Panjunan ditempatkan di sebelah kanan pengimaman (Mihrab). Mimbar ini terbuat dari kayu jati dan diselimuti kain putih, untuk menjaga kebersihan dan ketahanan bahanbahannya agar tidak cepat lapuk.

Tempat Wudhu

Bekas tempat wudhu (kiri) dan tempat wudhu sekarang (kanan)

Pada awalnya tempat wudhu para jamaah berada sebelah kanan bangunan masjid, kemudian karena ruangan dalam sudah tidak bisa menampung jamaah jika pelaksanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha, selain itu juga bekas tempat wudhu difungsikan sebagai selasar tempat jamaah beristirahat.

Bedug

Bedug dan kentongan di Masjid Merah Panjunan

Dari sembilan wali Allah tersebut Sunan Kalijaga merupakan wali penyebar ajaran Islam yang paling peduli terhadap kesenian yang ada di tanah Jawa. Beliaulah yang pertama kali mempunyai ide menciptakan bedug di masjid, dengan memerintahkan muridnya Sunan Tembayat untuk membuat bedug di daerah Semarang. Fungsi bedug adalah guna memanggil orang untuk pergi menunaikan shalat Jum’at.

Ornamen Dekorasi

a. Pada dinding

Ornamen dinding

Ornamen dinding pembatas

Arsitektur Islam bukan hanya diramaikan oleh banyaknya atribut sekunder yang diperhalus semirip aslinya berasal dari tradisi lokal. Ornamen dekoratif banyak berkembang dalam arsitektur Islam sejalan dengan doktrin keagamaan yang melarang duplikasi makhluk yang mampu berjalan. Di antara berbagai ragam hias yang merupakan ornamen yang ditampikan pada dinding Masjid Merah adalah tumbuhan berbentuk bunga matahari. Gambar ini merupakan relief yang menonjol pada dinding tembok pembatas bangunan. Pada hiasan tembok pembatas gambar diapit oleh hiasan piring-piring porselin yang sudah hilang, sekarang hanya terlihat cekungan-cekungan sebagai tempat piring porselin.

Piring bergambar bunga

Piring bergambar flora

b. Kayu Penyangga (Pilar)

Padma pada Tiang Penyangga

Dengan demikian makna yang terkandung di dalam ornamen-ornamen yang terdapat di Masjid Merah mengisyaratkan bahwa Islam tidak melarang hasil daya kreativitas manusia meskipun bukan dihasilkan oleh kaum muslimin, sepanjang tidak bertentangan dengan hukum-hukum Islam.

Padma pada Landasan Tiang bawah

Bentuk ornamen lain yang menghiasi Masjid Merah, pada tiang atau soko penyangga pada bagian atas atau pun bagian bawah menggambarkan relief bunga padma (bunga teratai). Bentuk ornamen relief ini berasal dari profil singgasana sang Budha Gautama yang berbentuk bunga padma atau dipakai juga untuk landasan bangunan stupa. Bentuk relief seperti ini berada pada ruangan luar (bangunan tambahan) yang dipakai sholat setiap hari. Seperti halnya oranamen lain, ragam hias padma ini selain mempunyai fungsi sebagai unsur keindahan, juga mempunyai makna kesucian, keluhuran budi pekerti, kekuatan dan kekokohan.

Buah Labu pada Landasan Tiang Penyangga bawah

 Meskipun masjid ini difungsikan hanya untuk tempat shalat sehari-hari, tidak dipakai untuk ibadah shalat Jumat. Namun pada saat bulan suci Ramadhan tiba, masjid ini banyak dikunjungi para peziarah. Selain itu, menu kopi arab dan makanan ringan khas Cirebon dan Arab menjadi suguhan wajib saat waktu berbuka tiba.

Sumber bacaan:

  1. Bujangmasjid
  2. Wikipedia
  3. Arsitektur Masjid Merah Panjunan Kota Cirebon, Oleh Hermana Balai Peletarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, Jln. Cinambo No. 135 Ujungberung Bandung, 31 Mei 2012.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Desa Wisata Keramik Banyumulek Kediri Lombok Barat Nusa Tenggara Barat

Tue Feb 4 , 2014
(https://id.lombokindonesia.org) Banyumulek ialah salah satu desa wisata di Pulau Lombok yang terletak di kecamatan Kediri, kabupaten lombok barat, yang berjarak sekitar 14 kilometer jika ditempuh dari Kota Mataram. Banyumulek merupakan destinasi pariwisata di pulau Lombok yang ramai dikunjungi wisatawan terutama bagi wisatawan yang memiliki ketertarikan dengan budaya setempat. Sebagian besar […]