Masjid – Masjid Kuno di Sumatera Selatan

Perkataan “Masjid” dapat diartikan sebagai tempat di mana saja untuk bersembahyang bagi orang Muslim, seperti sabda Nabi Muhammad SAW: ”Dimanapun engkau bersembahyang, tempat itulah masjid”. Kata Masjid disebut sebanyak dua puluh delapan kali di dalam Al-Qur’an, bersal dari kata Sajada-Sujud, yang berarti patuh, taat serta tunduk penuh hormat dan takzim. Masjid di setiap daerah mempunyai perbedaan dan ciri khusus dari segi arsitekturnya, merupakan alkulturasi budaya lokal, Cina dan Eropa.

Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I  atau biasa disebut Masjid Agung Palembang berada di pusat Kota Palembang, yakni di persimpangan Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman. Secara administratif terletak di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Masjid Agung pada mulanya disebut Masjid Sultan. Perletakan batu pertama pada tahun 1738, dan peresmiannya pada hari Senen tanggal 28 Jumadil Awal 115 H atau 26 Mei 1748. Masjid Agung didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang dikenal pula dengan Jayo Wikramo (tahun 1724-1758). Masjid Agung Palembang bagian dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam.

Masjid Ki Muara Ogan

Masjid Ki Muaro Ogan terletak di Jalan Kiai Marogan, Kelurahan I Ulu, Kecamatan Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan.

Pada tahun 1871, Kiai Muara Ogan mendirikan masjid di lokasi pertemuan antara Sungai Musi dan Sungai Ogan atau di lingkungan masyarakat setempat disebut muara. Masjid Kiai Muara Ogan ini berdekatan dengan Stasiun Kereta Api yang terletak di Jalan Kiai Marogan, Kelurahan I Ulu, Kecamatan Kertapati, Palembang. Masjid Kiai Muara Ogan Masjid ini awalnya bernama Masjid Jami Kiai Abdul Hamid bin Mahmud. Karena Kiai Muara Ogan sangat dikenal masyarakat sebagai ulama, kemudian berubah menjadi Masjid Kiai Muara Ogan.

Masjid Lawang Kidul

Masjid Lawang Kidul terletak di Jl. Slamet Riyadi, Gang atau Lorong Lawang Kidul, Ilir Tim. II, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30118.

Masjid ini terletak di bantaran Sungai Musi, yakni semacam tanjung yang terbentuk oleh pertemuan dengan muara Sungai Lawang Kidul, dibangun pada tahun 1310 H atau 1890.

Material masjid terdiri atas campuran batu kapur, putih telur dan pasir. Bahan-bahan inilah yang mempertahankan lamanya usia bangunan. Material utama lainnya adalah kayu unglen untuk unsur tiang, pintu, atap, dan jendela.

Masjid Besar Al Mahmudiyah

Masjid Besar Al Mahmudiyah terletak di Jalan Ki Ranggo Wiro Sentiko, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Kota Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, kurang lebih satu kilomenter dari pusat kota Palembang. Letaknya yang strategis di persimpangan jalan ini, memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat di sekitamya. Barangkali karena bentuknya yang tidak banyak berubah dari bentuk aslinya.

Masjid Suro ini didirikan oleh KH Abdurrahman Delamat pada tahun 1889, dan selesai pada tahun 1891. Sebagaimana fungsi masjid pada umumnya, masjid ini juga didirikan dengan tujuan untuk memudahkan masyarakat melaksanakan ibadah kepada Allah.

Masjid Al-Abror

Masjid Al-Abror terletak di Jalan Raya Lintas Timur, Desa Krinjing, Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.

Pada tahun 1907, Masjid Al-Abror dibangun baru oleh K.H. Jenaam bin K.H. Daiman. Ia diangkat oleh Pemerintah Kolonial Belanda sebagai khatib dan penghulu agama untuk Desa Kerinjing dan Sekitarnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Senjata Tradisional Sulawesi Tenggara

Sat Apr 1 , 2017
Sulawesi Tenggara memiliki beberapa tempat bersejarah seperti Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terluas di dunia. Selain itu masih ada Istana Malige di Kota Baubau, benteng kerajaan Kabaena di Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana dan Benteng Liya yang berada di Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tempat-tempat […]