Masjid Mantingan Jepara Jawa Tengah

Masjid Mantingan (https://bujangmasjid.blogspot.co.id). Koordinat GPS : 6° 37′ 9.97″ S dan 110° 40′ 7.24″ E

Masjid Mantingan terletak di jalan Mantingan Ngabul, Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. 5 km kearah selatan dari pusat kota Jepara.

Masjid Mantingan didirikan pada tahun 1481 Saka atau tahun 1559 M, sesuai dengan pernyataan yang terdapat di atas mihrab masjid terdapat sengkala yang berbunyi “Rupa Brahman Wanasari” berarti 1481 Saka atau 1559 Masehi (Bosch, 1930: 52). Ditulis oleh Raden Toyib yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hadiri, Adipati Jepara, yang juga adik Ipar dari Sultan Trenggono (Sultan Demak).

Ornamen dinding Masjid Mantingan (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Dibangun dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok, undak-undakannya didatangkan dari Makao. Sedangkan bangunan atap hingga bubungan-nya bergaya Tiongkok. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib dihiasi dengan relief-relief persegi bergambar margasatwa, dan penari penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua.

Raden Toyib berasal dari Aceh, beliau merupakan utusan Sultan Aceh, setelah mempelajari agama Islam di Mekah lalu bersyiar di Cina, kemudian berlabuh di tanah Jawa, bermukim di Jepara dan menikah dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), saudara perempuan dari Sultan Trenggono Penguasa Kesultanan Demak Terahir. Dinobatkan sebagai Adipati Jepara dengan gelar Sultan Hadiri berkuasa pada periode 1536-1549 sampai beliau meninggal dan dimakamkan disebelah Masjid yang dia dirikan yaitu Masjid Mantingan. Kekuasaan pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh Sultan Hadiri, Ratu Kaliyamat tahun 1549-1579.

Serambi Masjid Mantingan (https://www.nasirullahsitam.com)

Bangunan

Menurut Knabel yang mengunjungi Mantingan pada 1910 (ROC, 1910: 166-167) bahwa Masjid Mantingan terbuat dari bata merah, atapnya bersusun tiga, dan memiliki tiga pintu yang masing-masing berdaun pintu ganda; ketiga pintu ini menyebabkan dinding di bagian depan terbagi menjadi empat bidang. Pada dinding ini terdapat relief rendah, dalam panel-panel. Pada setiap bidang tembok terdapat tujuh panel berelief yang tersusun dari atas ke bawah, sehingga dalam empat bidang seluruhnya ada 28 panel. Di kiri kanan masing-masing deretan panel berelief terdapat hiasan berbentuk kelelawar, demikian juga di tiap-tiap pintu, sehingga jumlah seluruhnya 64 buah. Hiasan medalion bulat yang juga terdapat di dinding yang terletak di kiri kanan tangga naik menuju masjid, pada masing-masing sisi terdapat empat panel.

Tahun 1927 Kompleks Mantingan dipugar, menggunakan semen dan kapur sehingga merusak kekunaan dan keasliannya. Bangunan baru ini telah ditempelkan pada panel relief yang berasal dari masjid lama yang dibangun pada 1559 Masehi. Papan-papan batu berelief ini sebagian besar diletakkan di kanan-kiri atas tiga pintu yang terdapat pada dinding serambi masjid, kemudian ada yang dipasang di dinding bawah, dinding luar dan sudut-sudut bangunan.

Sekitar tahun 1978-1981, Masjid Mantingan kembali dipugar. Dalam kegiatan pemugaran berhasil ditemukan enam panel yang berelief di kedua belah sisinya, sejumlah besar balok-balok batu putih dan juga suatu fondasi bangunan kuna (Kusen, 1989, 122). Pemugaran yang terakhir ini telah mengakibatkan perubahan bentuk masjid yang atapnya dahulu bersusun tiga, kini beratap satu, tiang serambi depan dibongkar dan reliefnya dipindah. Di sisi kanan dan kiri terdapat tambahan ruangan sehingga bidang dindingnya menjadi enam bidang dan masing-masing bidang terdapat panel berelief.

Interior

Ragam Hias (Ornamen) Masjid Mantingan

Beragam ornamen di Masjid Mantingan (https://widayanti007.blogspot.com)

Sesuai dengan literatur, arsitektur masjid ini sangat unik. Dari relief-relief yang ada di bangunan masjid menggambarkan pada masa pembangunannya, budaya hindu masih kental mewarnai perkembangan budaya masyarakat saat itu. Ini terlihat dari motif-motif ornamen yang ada pada hiasan masjid.

Gapura Candi Bentar (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Keunikan lain arsitektur Masjid Mantingan yang sampai saat ini bisa dilihat adalah adanya bangunan gapura Candi Bentar. Lagi-lagi ini menunjukkan masih adanya pengaruh budaya Hindu pada masa itu.

Ragam hias yang terdapat di Mantingan sangat menarik karena hiasan yang berbentuk relief dipahatkan pada panel-panel. Bentuk panel ada yang bulat (medalion), roset, bujur sangkar, empat persegi panjang dengan kedua sisinya berbentuk lengkung kurawal dan ada pula berbentuk kelelawar. Panel-panel ini berisi relief yang menggambarkan.

1. Tumbuh-tumbuhan daun dan bunga teratai, sulur-suluran, labu air, pandan, kangkung, nipah, bambu, paku, kelapa, keben, sagu dan kamboja

Teratai (https://humaspdg.wordpress.com)

2. Binatang yang distilir seperti angsa, burung, ular, kuda, kijang, gajah, kera, ketam dan kelelawar.

Kera (https://commons.wikimedia.org)

3. Rumah panggung, pagar, gapura dan bentar
4. Gunung dan matahari
5. Motif makara yang distilir
6. Anyaman (jalinan)

Panel yang kedua sisinya berelief

Pada pemugaran yang terakhir ditemukan enam panel yang kedua bidang sisinya berisi relief. Bentuk-bentuk panel dan reliefnya sebagai:

  1. Panel berbentuk bujur sangkar. Sisinya yang tampak dihiasi bunga dan sulur-suluran. Sisi di baliknya yang semula terpendam dalam dinding berisi hiasan yang menggambarkan dua orang dan seorang memakai kain panjang, berdiri dan sikapnya menyambah dan mereka tanpa kepala. Adegan ini diduga melukiskan Rama, Laksamana sedang duduk dan Sinta menghormat di depannya
  2. Panel berbentuk bundar. Sisinya yang tampak berhiaskan labu air dan sisi di belakangnya terdapat hiasan (relief) seekor kijang yang distilir. Kijang ini mungkin penjelmaan raksasa yang bernama Marici
  3. Panel berbentuk segi enam atau persegi panjang dengan kedua sisinya berbentuk kurawal atau akulade berisi seekor gajah yang distilir dengan daun, sulur-suluran dan bunga teratai. Sisi belakangnya berelief dua ksatria. Seorang bersanggul jatamakuta, berupawita, memakai kalung, subang, gelang, berkelat bahu, berkain mulai dari perut sampai ke kaki dan memegang busur. Ksatria yang lain rambutnya terurai, memakai kalung, subang, gelang, upawita, berkain mulai dari perut sampai ke kaki. Kakinya terpotong. Muka kedua ksatria ini keadaannya sudah rusak. Di depannya tampak seorang laki-laki berukuran pendek, rambut dikuncir. Orang ini seperti sedang memancing. Adegan ini menggambarkan Rama membawa busur dan Laksmana di belakangnya. Sedangkan orang pendek sebagai pengiring/punakawannya.
  4. Panel berbentuk bujur sangkar memuat relief yang menggambarkan bunga dan sulur-suluran. Sisi sebaliknya menggambarkan seorang ksatria bersanggul dan berekor, diiringi oleh dua pengiring bertubuh manusia berkepala dan berekor seperti kera. Sayangnya semua muka mereka dalam keadaan rusak. Adegan ini menggambarkan Hanoman yang sedang berjalan dan diiringi oleh dua sosok bertubuh kera
  5. Panel berbentuk bujur sangkar. Sisi depan dihiasi dengan bunga dan suluran, sedangkan sisi belakangnya dihiasi dengan seorang raksasa.
  6. Panel berbentuk persegi panjang dengan kedua sisinya berkurawal. Sisi depan memuat bunga dan daun teratai. Sisi di baliknya berisi dua kera tanpa pakaian sedang memanjat suatu tempat, satunya lagi memegang tongkat. Adegan ini menggambarkan dua kera sedang bermain-main

Jika diperhatikan, relief yang menggambarkan Ramayana terpotong sehingga tidak menggambarkan selengkapnya, sedangkan relief yang dibaliknya dalam penggambarannya lengkap dan sempurna. Dapat disimpulkan bahwa relief Ramayana dibuat lebih dulu dan relif sebaliknya dibuat kemudian. Relief Ramayana memang sengaja dipotong dan dirusak yang kemudian dimanfaatkan untuk dibuat panel sebaliknya. Selain itu dapat dilihat pula bahwa wajah semua tokoh yang digambarkan dalam relief itu rusak. Kerusakan pada wajah para tokoh manusia memang disengaja karena masa itu terjadi transisi antara kesenian masa Hindu ke masa Islam.

Menurut Bernet Kempers, dalam Islam tidak lazim adanya penggambaran manusia atau binatang. Maka hiasan yang ada di masjid Mantingan yang menggambarkan binatang maupun manusia ditiadakan. Apabila ada maka binatang itu dilukiskan dengan stiliran. Ada pendapat baru bahwa pengaruh kesenian Islam dalam relief Mantingan dapat dihubungkan dengan pengaruh kebatinan Islam atau tasawuf (Kusen, 1989: 128). Hal ini didasarkan pada bentuk panel persegi panjang dengan sepasang sisi pendeknya berbentuk lengkung yang dihiasi relief binatang yang distilir serta letak panel-panel di serambi Masjid Mantingan yang terdiri atas tujuh panel dalam setiap bidang (sebelum dipugar tahun 1976-1981) dan bentuk kelelawae yang mengelilinginya, serta relief anyaman/jalinan (Kusen, 1989: 142-161).

Panel yang berbentuk empat persegi panjang dengan sepasang sisi pendeknya berbentuk lengkung kurawal disebut cermina oleh van der Hoop (1949; 316). Cermin ini dalam sufisme merupakan benda yang sering dipakai untuk menjelaskan hubungan Allah dengan manusia.

Orang yang melihat dalam cermin adalah subyek sekaligus objek dari pengelihatanya, artinya sesuatu muncul dari dan kembali ke tempat asalnya. Demikian pula dalam menanamkan pengertian tentang hakekat Tuhan sebagai “Yang Ada – Tiada”. Relief yang menggambarkan binatang yang distilir dapat ditafsirkan sebagai contoh tentang pengertian “ada – tiada”.

Berbagai gambaran yang terdapat di dalam bingkai cermin merupakan cermin dari realitas dunia. Orang yang belum berpengetahuan dan karena kecerobohannya akan menyangka bahwa yang dilihatnya adalah kenyataan, pada hal semuanya hanya bayang-bayang saja. Dengan diterangi oleh cahaya atau nur Allah yang dilambangkan dalam bentuk “garuda”, melalui permenungan dia akan dapat melihat kebenaran. Cahaya adalah salah satu daya terpendam dalam diri; Allah sendiri juga disebut Nur. Allah menyinarkan cahaya-Nya ke tujuh langit dan tujuh bumi. Hal ini dihubungkan dengan panel relief yang bersusun tujuh serta hiasan kelelawar (ditafsirkan sebagai garuda) yang mengelilingi semua panel. Sedangkan relief dengan motif jalinan (anyaman) melambangkan cinta kasih Allah yang tak ada batasnya.

Adanya enam panel yang memiliki relief pada kedua sisinya, membuktikan bahwa di Mantingan terjadi perubahan tata nilai, yaitu tata nilai kesenian dari masa Hindu menuju ke kesenian masa Islam sehingga relief di Mantingan merupakan transisi yang benar-benar terjadi.

Ruang Utama

Ruang utama Masjid Mantingan

Ruang utama Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan Jepara dengan warna dominan merah pada karpet sholat bentuk sajadah, sedangkan keempat soko guru yang tak begitu besar berwarna semu kekuningan dengan ornamen warna hijau. Pada dinding mihrabnya, di atas lengkung ruang imam dan di dalam ruang imam, juga terdapat ragam hias ukir.

Pada dinding mihrab ini terdapat candrasengkala “Rupa Brahmana Warna Sari” atau 1841 yang dibaca terbalik sebagai tahun 1481 Saka atau 1559 Masehi, sebagai tahun didirikannya masjid. Mimbar kayu berundak tiganya berhias ukir dengan warna dominan hijau dengan kubah berwarna dominan merah. Lampu gantung di pusat ruangan terkesan biasa saja.

Mihrab dan Mimbar Masjid Mantingan (https://wikimapia.org)

Pada kiri kanan dinding mihrab terdapat jendela kayu yang lazim dijumpai pada masjid kuno. Benda lain di Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan Jepara adalah bedug besar yang ada di sisi kiri serambi, dant papan nama pengurus serta jadwal khatib. Di sebelah masjid utama terdapat bangunan tambahan berbentuk pendopo dengan atap genting.

Berbagai sumber

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Masjid Al-Alam Marunda Jakarta Utara

Wed May 14 , 2014
Masjid Al Alam atau Masjid Al Aulia (https://www.kaskus.co.id, koordinat GPS : 6° 5′ 45.09″ S dan 106° 57′ 35.51″ E Masjid Al-Alam atau Al-Auliya, terletak di Jalan Marunda Besar RT 09/RW 01, Kampung Marunda Besar, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara 14150. Menurut kisah, masjid ini dibangun Walisongo saat menempuh […]