Masjid Jami’ Indrapuri Aceh Besar Aceh

Pintu masuk utama Masjid Jami’ Indrapuri (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Masjid Jami’ Indrapuri terletak di Pasar Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, dipinggir sungai yang memisahkan Pasar Indrapuri dengan jalan raya Medan-Banda Aceh.

Inilah sebuah masjid yang berdiri karena proses evolusi kebudayaan dan sekaligus revolusi ideologis. Disebut evolusi karena terjadinya perubahan dari candi menjadi masjid berlangsung secara alamiah tanpa kekerasan, setelah melewati kurun panjang perubahan budaya sebuah komunitas (masyarakat).

(https://simbi.kemenag.go.id)

Masjid Jami’ Indrapuri pada mulanya merupakan sebuah bangunan candi yang dibangun pada abad ke 12 M di kerajaan Indrapuri. Jauh sebelum berdirinya Kesultanan Aceh darussalam di abad ke 15 M. Sultan pertama Aceh, Sultan Ali Mughayat Syah dinobatkan sebagai Sultan pada hari Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507. Pengaruh Kesultanan Aceh menyebar di pulau Sumatera hingga ke wilayah semenanjung Malaya.

Mesjid ini dibangun di atas pondasi yang diduga merupakan bekas candi, demikian pula Masjid Indrapurwa di Lampageu Kec. Peukan Bada. Kedua bangunan ini berada di kawasan Kabupaten Aceh Besar, dan menurut catatan sejarah, kedua masjid ini dibangun di atas reruntuhan candi oleh Sultan Iskandar Muda.

Meski Ukuran masjid nya tak terlalu besar, namun masjid ini memiliki pelataran yang cukup luas untuk menampung jemaah (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Sayangnya yang masih tertinggal hanya masjid Jami’ Indrapuri, sedangkan masjid Indrapurwa telah hancur ditelan abrasi. Bukan hanya sekarang, tapi di masa Snouck Hurgronje berada di Aceh pun bekas masjid ini sudah tidak dapat dilihat lagi, (Snouck Hurgronje, 1996: 64). Kondisi ini menyulitkan Snouck Hurgronje untuk mengungkap keberadaan agama Hindu di Aceh. Ia hanya bisa menunjukkan model bersanggul miring perempuan Aceh sebagai bukti terwarisi dan mengakarnya budaya Hindu dalam masyarakat Aceh, (Mohammad Said, 1981: 23).

Di masa Sultan Iskandar Muda, bangunan ini dirombak menjadi masjid agar tidak mubazir. Oleh karena itu, sepulangnya dari Malaka, dibangunlah Masjid Jami’ Indrapuri di atas reruntuhan candi yang telah lama terbengkalai. Pondasi candi yang bertingkat-tingkat dibongkar sebagiannya sampai tingkat empat. Di tingkat empat inilah tiang-tiang mesjid didirikan, luas lokasinya cukup memadai bagi pertapakan mesjid untuk kadar jumlah jamaah pada waktu itu. Peristiwa pengalihan fungsi ini terjadi pada tahun 1207 H (1618 M).

Di masa kesultanan, masjid Jami’ Indrapuri tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Tapi juga sebagai tempat belajar (dayah/pesantren). Namun belum diperoleh informasi yang jelas tentang siapa yang mendirikan dan mengembangkan dayah di sini. Hanya diketahui bahwa motivasi menghidupkan dayah Indra Puri setelah perang kolonial, termotivasi oleh keberadaan dayah di masjid ini dalam masa kesultanan.

Bangunan

Dari sudut ini terlihat dengan jelas 4 tembok benteng yang mengelilingi Masjid Indrapuri (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Bekas Candi masih terlihat pada tapak sekeliling Masjid. Menurut Prof. H. Ali Hasjmy (alm), diperkirakan keseluruhan tapak atau bekas Candi tersebut hampir sama besarnya dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah. Profesor Ali Hasjmy menambahkan, bila bangunan ini digali diperkirakan patung-patung Hindu banyak terdapat di dalamnya. Bahkan menurut Yunus Djamil, dalam bukunya Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh menyebutkan, Indrapuri merupakan bagian Kerajaan Hindu Indrapurwa, termasuk Indrapatra dan Indrapurwa.

Masjid Indrapuri menempati areal tanah seluas 33.875 meter, Masjid berkonstruksi kayu sebanyak 36 buah tiang, didirikan di atas reruntuhan bangunan berkonstruksi batu kali berspesi kapur dan tanah liat yang pernah difungsikan sebagai benteng pertahanan pada saat pendudukan Portugis dan Belanda di Aceh.

(https://bujangmasjid.blogspot.com)

Masjid Indrapuri berdenah bujursangkar berukuran 18,80 m x 18,80 m dengan tinggi bangunan 11,65 m. Bangunan ini dikelilingi oleh tembok undakan keempat setinggi 1,48 m. Pintu masuk terletak di sebelah timur, dan untuk mencapainya harus melalui pelataran yang merupakan halaman luar masjid. Di atas halaman kedua terdapat bak penampungan air hujan, yang juga berfungsi untuk mensucikan diri.

Bentuk masjid ini merupakan perpaduan mesjid dan benteng. Pagar tembok tebal dan tinggi mengelilingi masjid. Hanya ada satu jalan masuk menuju masjid, yaitu jalan depan. Melewati tembok pertama, merupakan tempat parkir, tempat wudhu’ dan sekretariat remaja mesjid. Dari lokasi sini, masjid hanya nampak sedikit karena terhalang tembok kedua yang agak tinggi.

(https://bujangmasjid.blogspot.com)

Menaiki tangga menuju ke tembok kedua, di sana ada sebuah bangunan kecil yang dibawahnya ada kolam air tempat mencuci kaki, sebelum masuk ke masjid, jemaah masjid memasukkan kakinya terlebih dahulu ke dalam kolam itu sehingga masuk ke dalam mesjid dalam keadaan benar benar bersih. Luas halaman dalam pagar kedua ini sekitar 10 meter mengelilingin mesjid. Tembok tebal sekitar 1 meter mengelilingi masjid. Hanya ada satu jalan masuk, yaitu di hadapan kolam tadi.

Tembok ketiga masih belum masuk ke dalam masjid, tapi berupa halaman 4 meter yang mengelilingi mesjid. Halaman ini, sama dengan tembok kedua tadi juga dibatasi dengan tembok lainnya. Dan, diseberang tembok tersebut berdiri mesjid bersejarah Masjid Jami’ Indrapuri.

(https://bujangmasjid.blogspot.com)

Atap

(https://kekunaan.blogspot.com)

(https://bujangmasjid.blogspot.com)

Kayu-kayu besar kekar menopang atap mesjid, Atap masjid ini terdiri dari Atap limas bersusun tiga, menggunakan seng sebagai penutup. Secara keseluruhan Masjid Jami’ Indrapuri di topang oleh 36 tiang kayu, masing masing 6 tiang dalam 6 jejeran. Jarak antar tiang kira kira dua shaf shalat. Tidak ada dinding, yang ada adalah tembok setinggi 1 ½ m yang mengelilingi masjid. Tembok yang tidak langsung menempel di kayu sebelah luar mesjid. Mesjid benar-benar sebagai sebuah bangun tersendiri di atas lantai yang tidak memiliki dinding.

(https://bujangmasjid.blogspot.com)

Ukiran floral di salah satu struktur kayu Masjid Indrapuri (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Tidak ada dinding, yang ada adalah tembok setinggi 1 ½ m yang mengelilingi masjid (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Mimbar dan Mihrab

Mihrab dan Mimbar (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Mimbar masjid ini berupa tangga setinggi tiga anak tangga, dilengkapi dengan mimbar dari papan berbentuk setengah lingkaran. Sebagaimana masjid masjid tua di Indonesia, masjid Jami’ Indrapuri juga tidak memiliki menara. Pengeras suara masjid diletakkan di bawah atap limas paling atas, pengeras suara yang lebih kecil dipasang di dalam masjid. Ada enam kipas angin besar yang tersebar di dalam mesjid dan satu kipas angin kecil di tiang dekat imam. Sebuah jam klasik tergantung di tiang depan dekat mimbar. Di sudut kanan depan ada beberapa lemari, tempat inventaris masjid. Sebuah papan bertuliskan kaligarfi tergantung di depan mihrab.

(https://kekunaan.blogspot.com)

Di masa kemerdekaan, Masjid Indrapuri dipugar oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada saat dilakukan pemugaran, ditemukan 12 koin mata uang Aceh kuno yang bertuliskan Aceh Darussalam.

Berbagai sumber

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Taman Nasional Wakatobi Wakatobi Sulawesi Tenggara

Sun May 18 , 2014
Taman Nasional Wakatobi (https://inloveindonesia.com) Taman Nasional Wakatobi yang terletak di Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Ibu kota Wakatobi adalah Wangi-Wangi. Kabupaten Wakatobi terdiri dari empat pulau utama, yaitu Wangiwangi, Kalidupa, Tomia, dan Binongko. Jadi, Wakatobi adalah singkatan nama dari keempat pulau utama tersebut. Sebelum 18 Desember 2003, kepulauan ini disebut […]