Masjid Jami’ Al Ma’mur Menteng Jakarta Pusat

1

Masjid Jami’ Al Ma’mur Cikini (https://poskotanews.com)

Masjid Jami’ Al Ma’mur terletak di Jl. Raden Saleh Raya No. 30, RT.3/RW.3, Kelurahan Cikini, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Masjid yang dibangun pada tahun 1890 ini merupakan pindahan dari sebuah Surau yang dibangun oleh Raden Saleh Syarif Bustaman atau maestro pelukis Indonesia, sekitar tahun 1860 di samping rumah kediamannya.

Sederet tokoh tokoh pahlawan Nasional pernah menorehkan nama mereka dalam sejarah mempertahankan masjid ini sejak era penjajahan Belanda hingga ke masa kemerdekaan sampai ahirnya Masjid Al Ma’mur Cikini ahirnya benar-benar kembali ke pangkuan ummat Islam hingga hari ini. Tak hanya sejarah mempertahankannya tapi sejarah pembangunannya pun tak lepas dari kegigihan dan tekad muslim Batavia dalam masjid ini, sejarah mencatat warga muslim setempat bahkan rela mengumpulkan beras demi mendanai pembangunan masjid ini.

Sejarah

Masjid Jami’ Al Ma’mur Cikini zaman Kolonial Belanda (https://id.wikipedia.org)

Dikutip dari laman wikipedia, bahwa sejarah Masjid Jami’ Al-Makmur dimulai pada tahun 1860 ketika Raden Saleh dan masyarakat sekitar membangun sebuah Surau sederhana yang terbuat dari kayu dan gedek di samping kediamannya. Berdasarkan data yang dikeluarkan Yayasan Masjid Al-Makmur, sesudah Raden Saleh meninggal dunia, tanah itu dimiliki oleh Sayed Abdullah bin Alwi Alatas, yang pemilikannya diperkuat oleh Keputusan Pengadilan Negeri No 694 tanggal 25 Juni 1906, sebagai suatu kelanjutan dari Keputusan Pengadilan Negeri No. 145 tanggal 7 Juli 1905. Tanah itu dibeli melalui sebuah pelelangan. Tanah yang sangat luas ini kemudian oleh Sayed Abdullah Bin Alwi Alatas, salah satu tokoh gerakan Pan Islam dijual kepada Koningen Emma Ziekenhuis dengan harga 100 ribu gulden. Tapi karena yayasan ini ingin membangun rumah sakit, harganya dikurangi menjadi 50 ribu gulden dengan penegasan bahwa Masjid yang ada di sana tidak boleh dibongkar.

Namun perjanjian jual beli tersebut diingkari oleh Koningen Emma Ziekenhuis. Akibatnya Surau yang dibangun oleh Raden Saleh dipindahkan ke samping kali Ci Liwung, sehingga tempat ibadah ini kerap kebanjiran. Tahun 1890 tercatat sebagai tahun ketika Masjid itu dipindahkan secara gotong-royong dengan diusung beramai-ramai oleh masyarakat sekitar. Tanah yang dipilih sebagai lokasi baru adalah tanah milik Sayid Ismail Salam bin Alwi Alatas yang lain di lokasi Masjid sekarang. Walaupun begitu ternyata Koningen Emma Ziekenhuis tetap ingin memindahkan Masjid ini karena di lahan tersebut direncanakan akan dibangun sebuah Gereja. Persoalan ini akhirnya membuat masyarakat sekitar marah. Bahkan sampai terdengar oleh H. Agus Salim, bersama tiga rekannya, KH Mas Mansyur, HOS Cokroaminoto, dan Abi Kusno yang tergabung dalam Serikat Islam. Kemudian oleh sebuah panitia yang didukung oleh Beliau, dipugarlah Masjid tersebut pada tahun 1926. Di bagian depan Masjid kemudian ditambahkan lambang Organisasi Sarekat Islam yang sampai sekarang menjadi ciri khas Masjid tersebut. Keseluruhan proses pemugaran akhirnya selesai pada tahun 1936 menjadi bentuk Masjid yang sekarang.

Setelah Indonesia Merdeka, Persoalan sengketa lahan antara Masjid dengan rumah sakit kembali memanas. Hal tersebut berawal ketika Kementrian Agraria RI yang menerbitkan SK hak milik berupa sertifikat tanah atas nama Dewan Gereja Indonesia (DGI). Dalam sertifikat itu disebutkan bahwa tanah di sekitar Masjid termasuk tanah yang di atasnya dibangun Masjid itu diklaim milik DGI. Pada tahun 1987 saat perundingan Segitiga antara Gubernur DKI Jakarta, RS DGI Cikini dan pengurus Masjid, pihak RS DGI Cikini menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan tanah tersebut. Namun pengurus Masjid menegaskan, “Kami tidak ada sangkut pautnya dengan DGI. Kami meminta agar tanah kami dikembalikan.” Upaya perundingan juga turut dibantu oleh Wali kota Jakarta Pusat Abdul Munir pada tahun 1989 hingga tahun 1990.

Akhirnya proses sengketa lahan antara Masjid dengan rumah sakit akhirnya dapat diselesaikan pada tahun 1991 setelah Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto mengumumkan sertifikat tanah atas nama RS PGI Cikini yang mencakup tanah Masjid Al-Makmur telah dicabut. Tanah Masjid telah dikembalikan kepada pihak semula dengan sertifikat tersendiri atas nama Yayasan Masjid Al-Makmur yang diketuai oleh Mayjen (purn) H. M. Joesoef Singedekane, mantan Gubernur Jambi. Kemudian Masjid ini dijadikan bangunan Cagar Budaya oleh Gubernur DKI Jakarta berdasarkan Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 9 Tahun 1999.

Arsitektur

Masjid Jami’ Al Ma’mur Cikini dengan menaranya (https://books.google.co.id)

Arsitektur dari Masjid Jami Cikini banyak dipengaruhi oleh budaya Tionghoa dengan dominasi warna hijau dan putih. Atap masjid ini berbentuk limas terpancung dengan lengkung di ujung atap mirip bangunan kelenteng, puncaknya terdapat hiasan dengan tulisan “Allah” dalam sebuah lingkaran. Lalu, di bagian belakang masjid tersebut juga ada sebuah kubah yang berbentuk bulat.

Bangunan

Bangunan lama Masjid Jami’ Al Ma’mur Cikini dan bangunan baru (https://books.google.co.id)

Masjid ini menempati lahan seluas 1.430 m² dengan pagar besi dan sebuah pintu gerbang pada sisi timur.

Menara

Menara masjid terdapat pada sisi timur dengan tinggi 10 m. Menara terbuat dari beton, berbentuk bulat pada dinding bawahnya dan diberi hiasan batu kali berwarna hitam. Pada bagian menara terdapat pelataran berbentuk segi enam yang diberi pagar kawat setinggi satu meter. Pada bagian ini terdapat pintu masuk menghadapt ke arah timur dan jendela menghadap selatan.

Ruang Utama

Mihrab dan Mimbar (https://books.google.co.id)

Sedangkan ruang utama membentuk denah persegi panjang dengan ukuran 17 x 12 m. Di dalam ruang utama ini terdapat tiang penyangga sebanyak delapan buah dan bagian atasnya terdapat hiasan pelipit.

Delapan soko guru di ruang utama

Pemugaran

Tahun 1980-an, masjid dipugar, lalu tangga yang menghubungkan antara masjid dan tempat wudu ditutup,” tutur Syahlani. Sekitar tahun 1980, masjid digunakan untuk beribadah warga Paseban, Kramat Lontar, Senen, karena lokasinya yang ada di tengah-tengah. Bangunan masjid juga terdiri dari dua bagian, yaitu bagian atas (baru) dan bawah (lama). Saat hari biasa, masjid bangunan lama dibuka untuk shalat berjemaah dan melayani para pengunjung. Adapun saat tarawih dan bulan Ramadhan, seluruh bagian masjid dibuka karena banyaknya jemaah yang datang.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Masjid Jami Al Riyadh Senen Jakarta Pusat

Tue Nov 20 , 2018
Masjid Jami Al Riyadh Kwitang, Senen Jakarta Pusat Masjid Jami Al Riyadh terletak di Jl. Kembang VI No. 4A, RT 001 RW 02 Kwitang, Senen, Jakarta Pusat yang berada di kawasan pada penduduk. Masjid ini didirikan oleh Habib Ali Al Habsyi bin Habib Abdurrahman Al Habsyi sekitar tahun 1938. Sejarah […]