Masjid Beuracan Pidie Aceh

Masjid Beuracan terletak di Desa Beuracan, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie, yaitu di pinggir jalan Sigli-Medan yang dapat dijangkau dengan semua jenis kendaraan darat. Masjid ini dibangun di atas tanah seluas 40 x 40 meter dengan status tanah wakaf.

Berdasarkan informasi bahwa mesjid Beuracan dibangun oleh Tgk. Salim pada tahun 1622 M pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh. Tgk. Salim berasal dari Madinah. Ia datang melalui selat Malaka hingga sampai di daerah Meureudu bersama-sama dengan Tgk. Japakeh dan Malim Dagang. Tgk. Salim tinggal menetap di Pocut Krueng sehingga ia dikenal dengan nama Tgk. Chik di Pocut Krueng. Tgk. Japakeh menetap di Desa Meunasah Raya dan Malim Dagang menetap di Desa Manyang Cut. Ia adalah seorang ulama. Oleh karena itu, ia kemudian membangun masjid sebagai pusat pengajaran agama Islam kepada masyarakat disekitarnya. Di samping itu, ia juga membuka lahan persawahan seluas 50 ha dan tanah perkebunan dilingkungan mesjid seluas 6 ha, yang hasilnya digunakan untuk membiayai pembangunan mesjid.

Masjid Beuracan (https://visitacehdarussalam.blogspot.co.id)

Bangunan mesjid berdenah bujur sangkar. Bagian luar sisi barat bangunan maesjid ini masihtersisa adanya bekas pondasi dari bangunan lama. Bila melihat pondasi yang tersisa itu tampak bahwa dasar pondasi yang sekarang telah bergeser sekitar 50cm ke arah timur. Mesjid Beuracan hingga kini masih difungsikan meskipun masjid baru telah dibangun pada sisi utara. Terlebih lagi karena masjid ini ramai dikunjungi oleh masyarakat pada hari-hari tertentu untuk melepaskan nazar.

Masjid Beuracan beratap tumpang 3 dari bahan seng dan berdinding kayu dengan ukiran dekoratif motif Aceh serta sulur-suluran. Dinding ini merupakan hasilpemugaran yang dilakukan pada tahun 1990. Pada luar dinding terdapat teras yang dipisahkan oleh dinding tembok setinggi 95 cm dengan tebal 26 cm. Pada bagian depan atap teras terdapat ukiran sulur-suluran dengan kombinasi berbagai warna.

Pada masjid ini terdapat 16 buah tiang sebagai soko guru yang berdiameter 52 cm untuk menopang atap bagian atas. Masing-masing tiang tersebut berbentuk segi delapan dan satu buah tiang diantaranya telah diganti dengan bentuk yang sama. Selain tiang soko guru, masih terdapat 4 buah tiang gantung yang turut menopang atap bagian atas. Sejak pemugaran yang dilakukan tahun 1947 dan 1990, masjid tersebut telah diberi langit-langit dari papan. Lantai masjid terbuat dari semen dan bata. Pola hias berupa tumpal, sulur-suluran dan hiasan bunga juga terlihat pada balok pengikat antara tiang soko guru dengan tiang gantung.

Pada sisi barat bangunan inti terdapat bagian yang menjorok ke luar yang difungsikan sebagai mihrab. Di dalamnya terdapat sebuah mimbar dari tembok semen dengan cat putih dan atap dari tirap atau kayu dengan pola hias sulur-suluran dan bunga.

Mihrab dan Mimbar (https://visitacehdarussalam.blogspot.co.id)

Unsur lain yang masih tersisia ialah adanya sebuah bedug yang terbuat dari kulit sapi dan batang pohon lontar. Menurut seorang informan bahwa kulit sapi yang digunakan pada bedug ini dan rotan yang digunakan sebagai pengikat telah diganti dengan yang baru. Adapun ukuran bedug itu adalah panjang 142 cm, diameter bagian atas 75 cm, diameter badan 67 cm,dan diameter dasar 51 cm.

Peningalan lain yang tidak kalah penting adalah adanya sebuah tongkat yang seusia dengan bangunan mesjid ini. Tongkat tersebut terbuat dari rotan, bagian atas terbuat dari kuningan dan bagian bawah terbuat dari besi yang bentuknya menyerupai linggis dengan ukuran panjang 163 cm.

Di bagian luar bangunan masjid terdapat sebuah guci Siam yang sebagian badannya tertanam di dalam tanah sehingga yang nampak pada permukaan ialah bagian leher dan mulut guci. Guci ini masih dikeramatkan sehingga diberi pembatas dari kain dan kain penutup seluruh bagian badan guci. Adapun ukuran guci diameter mulut 35 cm, diameter badan 80cm, kedalaman atau tinggi 92 cm.

Guci Siam

Masjid Beuracan pernah dipugar oleh masyarakat pada tahun 1947 dengan memperindah bangunan tanpa merubah bentuk semula, hanya menambah dinding bagian belakang (sisi barat). Kemudian pada tahun 1990 dipugar kembali oleh Muskala Kanwil Depdikbud Provinsi Daerah IstimewaAceh dengan penambahan dinding pada seluruh bagian mesjid dan mengganti tiang-tiang serta atap yang rusak.

Sumber: Academia

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Masjid Tuwo Padang Aceh Selatan Aceh

Sun Jul 20 , 2014
Masjid Tuwo Padang atau Masjid Towo Al-Khairiah terletak di Tapaktuan, ibukota Kabupaten Aceh Selatan, Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Menurut informasi salah seorang tokoh masyarakat setempat dan berdasarkan pada data (dokumentasi) yang terpajang pada papan informasi di dalam masjid Tuwo Padang pertama sekali dibangun pada tahun 1276 H […]