Masjid Al Wustho Mangkunegaran Surakarta Jawa Tengah

Masjid Al Wustho Mangkunegaran (https://en.wikipedia.org)

Masjid Al Wustho Mangkunegaran terletak di Jl. Kartini No.3, Ketelan, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta 57132, Provinsi Jawa Tengah. Dalam setiap perencanaan tata kota di Jawa, masjid merupakan bangunan yang harus ada di samping kraton, alun-alun, dan pasar. Di Kasunanan ada Masjid Agung, sedang di Mangkunegaran ada Masjid Al Wustho. Masjid memiliki arti penting karena diartikan sebagai simbol perhatian raja kepada umat terkait dengan gelar panotogomo (penata agama).

Sejarah

Masjid Al Wustho Mangkunegaran

Pendirian masjid mangkunegaran diprakarsai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (KGPAA) Mangkunegara I di Kadipaten Mangkunegaran sebagai masjid Lambang Panotogomo. Sebelumnya  terletak diwilayah kauman, Pasar Legi, namun pada masa Mangkunegaran II dipindah ke wilayah Banjarsari  dengan pertimbangan letak masjid yang strategis dan dekat kepada Puro Mangkunegaran.

Masjid Al Wustho Mangkunegaran dipugar besar-besaran oleh Paduka Pangeran Adipati Mangkunegaran VII. Bangunan mesjid yang dirancang oleh Ir. Herman Thomas ini didirikan tahun 1878-1918 maka tak  heran walaupun arsitektur bangunan Jawa tetapi terdapat banyak pengaruh gaya kolonial.

Gapura  halaman masjid dibuat tahun 1917-1918, dengan dinding berhiaskan relief kaligrafi huruf  arab. Pengelolaaan masjid dilakukan oleh para abdi dalem Puro Mangkunegaran, sehingga status masjid merupakan Masjid Puro Mangkunegaran.

Denah

Denah Masjid Al Wustho Mangkunegaran

Arsitektur

Gapura utama Masjid Al Wustho Mangkunegaran (https://puromangkunegaran.com)

Walaupun bangunan masjid Al-Wustho berarsitektur Jawa tetapi terdapat banyak pengaruh gaya kolonial. Mangkunegaran merupakan masjid yang cukup unik karena  terdapat hiasan kaligrafi Al-Qur’an di berbagai tempat, seperti pada pintu gerbang, pada markis/kuncungan, soko dan Maligin.

Halaman

Bagian halaman depan berbentuk lengkung menyerupai gunungan atau kubah setinggi 3 meter. Gapura bagian depan juga berbentuk lengkung yang harmonis dengan bentuk pagar di kiri dan kanan. Keunikan arsitektur masjid Al Wustho terdapat pada gapura yang dihiasi dengan kaligrafi Arab.

Menara

Menara Masjid Al-wustho dibangun tahun 1926 pada masa Mangkunegaran VII. Dipergunakan untuk mengumandangkan adzan, pada saat itu dibutuhkan 3-4 orang muadzin untuk adzan bersama-sama dalam menara ke arah 4 yang  berbeda. Bangunan menara ini berdiri di depan Kantor Pengurus Masjid  dengan tinggi 25 m dan bergaris tengah 2 m.

Atap

Atap bangunan teras berbentuk limasan dan atap tumpang untuk bagian atap ruang utama, yang bersusun tiga.

Pintu

Perbedaan dengan masjid lain adanya markis atau kuncung yaitu semacam pintu utama menuju teras dengan tiga akses pintu masuk, yaitu di sisi kanan atau utara, sisi depan atau timur dan kiri atau selatan, yang pada masing-masing atasnya dihiasi dengan kaligrafi.

Bangunan

Luas masjid sekitar 4.200m² dengan batas pagar tembok keliling sebagian besar dimuka berbentuk lengkungan setinggi 3 meter.

Ruang Utama

Ruang Utama Masjid Al Wustho Mangkunegaran (https://www.kontraktorkubahmasjid.com)

Ruang Utama merupakan ruang dalam dengan 4 soko guru dan 12 soko rowo (penyangga pembantu) yang berhias huruf  kaligrafi Alquran. Ruang utama untuk shalat berukuran 24 m X 22 m,  Mimbar ukiran untuk berkhotbah diletakkan di dekat mihrab, mimbar dengan ukiran khas mataraman.

Mihrab dan Mimbar Masjid Al Wustho Mangkunegaran

Di bagian depan kaki mimbar yang menghadap ke timur dulunya ada figur dua ekor singa yang bagian kepalanya sudah hilang karena dipotong secara sengaja dengan gergaji. Hal ini dilakukan karena alasan agama yang melarang adanya patung di dalam masjid dan karena adanya keberatan dari beberapa orang jamaah. Sedangkan di pojok ruangan sebelah tenggara dibuat sebuah ruangan untuk menyimpan alat-alat pengeras suara yang dipakai setiap akan mulai shalat rawatib, dan shalat Jum’at.

Pawastren

Pawastren merupakan bangunan tambahan yang dipergunakan untuk tempat salat khusus wanita. Dahulu sebelum dibangun pawastren tambahan, ada sekat sebagai pemisah tempat shalat untuk wanita. Pawastren ini berukuran 10 m X 7 m. Di dalam ruangan pawastren, ada sebuah ruang gudang serta fasilitas kolah untuk berwudlu wanita dibangun di sebelah timur pawastren.

Bangunan Pendukung

Kompleks masjid Al Wustho Mangkunegaran terdiri dari bangunan utama serta bangunan bangunan pendukungnya. Di sebelah selatan terdapat bangunan sekolah Taman Kanak-Kanak Aisyiah Bustanul Athfal yang berhubungan langsung dengan bangunan rumah tinggal keluarga ta’mir atau pengurus masjid. Di sebelah utara terdapat fasilitas Unit Kesehatan Masjid dan tempat tinggal Ta’mir masjid.

Maligin dibangun atas prakarsa Mangkunegaran V, digunakan untuk melaksanakan khitan bagi putra kerabat Mangkunegaran. Sejak pemerintahan Mangkunegaran VII Maligin diperkenankan untuk dipergunakan oleh  Muhammadiyah sebagai tempat khitan masyarakat umum.

Serambi Masjid

Serambi merupakan ruangan depan masjid dengan saka sebanyak 18 yang melambangkan umur Raden Mas Said (Mangkunagara I) ketika keluar dari Keraton Kasunan Surakarta untuk dinobatkan sebagai Adipati Mangkunagaran. Di bagian timur laut serambi terdapat bedug yang bernama Kanjeng Kyai Danaswara dan kentongan. Ruangan Serambi berukuran 22 m, X 11 m.

Ornamen

Ornamen menarik di masjid Al-Wustho ini berupa nukilan ayat ayat suci Al-Qur’an maupun hadist yang menghiasi beberapa bagian masjid. selain di gapura pertama dan kedua, kaligrafi arab tersebut juga dapat disaksisakan pada pintu pintu masjid, jendela, 4 sokoguru masjid dan 12 soko rowo masjid, markis/kuncungan, soko dan Maligin. Tiap tiap tiang di dalam masjid tersebut dihias dengan kaligrafi. Salah satu nukilan hadist nya berbunyi “siapa yang membangun masjid ini untuk Allah, maka Allah kan mendirikan sebuah rumah untuknya di surga kelak”.

Pemberian nama

Pemberian nama Al-wustho pada masjid mangkunegaran pada tahun 1949 oleh Bopo Panghulu Puro Mangkunegaran Raden Tumenggung K.H. Imam Rosidi.

Sumber:

  • bujangmasjid
  • Pola Tata Ruang Masjid Kerajaan di Surakarta Oleh Dewi Adityaningrum, Wiwik Setyaningsih, Avi Marlina, Prodi Magister Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta 2019.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Masjid – Masjid Kuno di Jawa Tengah

Mon Dec 14 , 2020
Masjid Agung Demak (@gpswisataindonesia) Masjid adalah produk rancang bangun, yang menandai bagaimana Islam bekembang di suatu wilayah. Hal ini karena masjid adalah penanda atau bukti utama keberadaan Islam di lingkungan masyarakat. Dari bentuk arsitektur masjid juga dapat memberikan gambaran, darimana pengaruh Islam berasal. 01. Kabupaten Brebes Masjid Al-Kurdi Ketanggungan Kabupaten […]