Masjid Al-Alam Marunda Jakarta Utara

3

Masjid Al Alam atau Masjid Al Aulia (https://www.kaskus.co.id, koordinat GPS : 6° 5′ 45.09″ S dan 106° 57′ 35.51″ E

Masjid Al-Alam atau Al-Auliya, terletak di Jalan Marunda Besar RT 09/RW 01, Kampung Marunda Besar, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara 14150.

Menurut kisah, masjid ini dibangun Walisongo saat menempuh perjalanan dari Banten ke Jawa. Karena itu, nama asli masjid ini Al-Auliya atau masjid yang dibangun wali Allah.

Pintu Gerbang Masjid Al Alam atau Masjid Al Aulia (https://www.kaskus.co.id)

Kisah yang lain, dibangun tahun 1527 oleh Fatahillah bersama para prajuritnya sebagai rasa syukur atas penaklukan Portugis yang saat itu berkuasa di Sunda Kelapa.

Pada tahuan 1628 – 1629, saat ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC yang kini menjadi gedung museum sejarah Jakarta, para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Marunda untuk mengatur siasat perjuangan.

Sumur Tua (https://www.djangkarubumi.com)

Lubang kecil berbentuk setengah oval yang terdapat di bagian kiri masjid Al Alam. Diketahui sebagai pengintaian terhadap bala tentara musuh. Banyak tokoh Betawi bersembunyi di masjid ini saat dikejar Balanda. Mereka akan selamat karena menurut cerita, bila bersembunyi di Masjid ini mereka tidak akan kelihatan.

Bangunan

(https://www.tribunnews.com)

Bangunan masjid dikelilingi pagar beton bercat putih pada sisi utara, timur dan selatan. Pintu masuk ke halaman masjid (gerbang utama) terletak di sisi selatan. Halaman masjid di bagian selatan diberi ubin warna merah yang befungsi sebagai tempat shalat bila ruangan masjid penuh.

Bangunan masjid bergaya tradisional dengan bentuk atap limasan, tmpang dua dan terbuat dari genteng. Denahnya persegi empat berukuran 12 x 12 m dengan arah hadap ke selatan. Pintu masuk ke ruang utama ada di sisi selatan dan timur. Di sisi selatan terdapat serambi berbentuk persegi panjang dengan pintu masuk terletak di tengah. Dinding serambi bagian bawah kurang lebih 1 m terbuat dari tembok dan bagian atas terbuat dari teralis kayu seperti layaknya jeruji pada jendela yang disusun secara vertical. Di sisi timur ruang utama terdapat serambi berbentuk persegi panjang, untuk masuk ke serambi ini terdapat pintu di sisi timur dengan dua buah anak tangga. Serambi ini mempunyai empat buah jendela, dua di sisi timur dna masing-masing satu di sisi utara dan selatan. Di dalam ruangan serambi ini terdapat pintu masuk ke ruangan utama masjid. Ruangan serambi ini dipergunakan untuk duduk-duduk sambil menunggu waktu shalat. Di sisi serambi terdapat sebuah bedug yang disangga empat buah kayu yang dibentuk menyilang. Di tengah-tengah serambi bagian dalam terdapat pintu masuk ke ruang utama masjid dengan ukuran tinggi 190 cm, lebar 70 cm.

Tempat Sholat  (https://www.djangkarubumi.com)

Interior

Denah ruang utama berbentuk bujur sangkar, berukuran 8 x 8, tinggi plafon 2,2 m, lantai dari ubin ditutup dengan karpet berwarna hijau. DInding masjid terbuat dari tembok berwarna putih. Pada masing-masing dinding ruang utama terdapat dua buah jendela dengan ukuran yang berbeda-beda. Jendela di sisi timur yang mengapit pintu masuk utama berukuran 116 x 90 cm, jendela di sisi barat yang mengapit berukuran 118 x 94 cm dan di sisi utara dan selatan masing-masing berukuran 111 x 87 cm dan 120 x 90 cm. Kesemua jendela ini tanpa daun pintu, untuk pengaman dipasang teralis terbuat dari kayu bulat bergelombang yang disusun vertical.

Pada dinding sebelah utara dan selatan bagian atas terdapat tulisan kaligrafi yang berbunyi “wa bud rabukha hatta taktikal yakin”. Di dalam ruang utama terdapat empat buah tiang beton (sokoguru) yang berfungsi sebagai penyangga bangunan. Separuh bagian bawah tiang berbentuk persegi empat dan bagian kakinya terdapat umpak berukuran 85 x 85 cmdengan ketinggian dari lantai 16 cm. Tubuh tiang separuh bagian atas berbentuk bulat, makin ke atas makin kecil dan pada bagian atasnya terdapat susunan pelipit, tinggi tiang keseluruhan dari lantai sampai bagian bawah adalah 206 cm.

Soko Guru (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Disamping empat tiang sokoguru, terdapat pula tiga buah tiang semu yang menempel pada idnding bagian barat. Bagian atas tiang semu ini dihiasi pelipit, sedangkam pada bagian tubuhnya terdapat hiasan berbentuk jalur-jalur atau garis-garis vertical. Tiang semu ini membentuk dua buah relung atau lingkaran di atasnya. Pada lengkungan terdapat hiasan kaligrafi dengan kalimat syahadat dalam relung kanan. Sedangkan di dalam relung sebelah kiri terdapat mimbar terbuat dari beton dengan tiga anak tangga. Pada dinding mihrab dan mimbar bagian belakang terdapat ventilasi udara berukuran 33 x 53 cm, bagian tengahnya dihiasi dengan bentuk kelopak bunga.

Pendopo (https://www.djangkarubumi.com)

Sebuah bangunan tambahan terdapat di sebelah timur bangunan masjid, yaitu berupa bangunan terbuka berbentuk persegi empat dan tidak mempunyai dinding. Bangunan tersebut berbentuk pendopo baru bergaya joglo. Di latar depan tampak sebuah tengara yang menunjukkan status Masjid Al-Alam Marunda sebagai Benda Cagar Budaya berdasarkan Perda DKI tahun 1999. Bangunan ini agak ditinggikan kurang lebih 80 cm dan untuk memasuki ruangannya terdapat anak tangga sebanyak empat buah yang terletak di sisi barat, lantai bangunan terbuat dari ubin dan pada keempat sisinya terdapat 12 buah tiang yang berfungsi sebagai penyangga atap. Atap bangunnan dari genteng berbentuk tumpang dua sebagai penyangga atap terdapat empat buah tiang kayu di tengah ruangan. Bangunan ini dipergunakan untuk pengajian dan pertemuan-pertemuan lainnya. Kemudian sebuah bangunan kecil/WC, terletak di sebelah tenggara berbentuk persegi empat berukuran kurang lebih 2 x 3 m, dinding tembok, dan mempunyai dua pintu.

Tahun 1970 dilakukan pemugaran masjid oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, dengan melakukan penggantian beberapa komponen atap dan pemberian lapisan pelindung berupa plastik pada bagian bawah atap agar terlindung dari kelembaban dan siraman air hujan, pembuatan tanggul di sisi utara masjid untuk melindungi masjid dan ancaman abrasi pantai.

Berbagai sumber

3 thoughts on “Masjid Al-Alam Marunda Jakarta Utara

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Masjid – Masjid Kuno di Aceh

Fri May 16 , 2014
Masjid Raya Baiturrahman di tahun 1890 M Sahabat GPS Wisata Indonesia, mencoba disusun kembali Masjid-Masjid Kuno yang ada di Provinsi Aceh, dari periode 1400 sampai 1800, akan dimulai dengan tahun yang paling tua. Kemudian akan dibahas satu persatu disetiap artikel nantinya. 1. Masjid Asal Penampaan Masjid Asal Penampaan (https://www.lintasgayo.com) Masjid […]