Masjid Agung Surakarta Jawa Tengah

Masjid Agung Surakarta (https://www.kontraktorkubahmasjid.com)

Masjid Agung Surakarta terletak di Jl. Alun Alun Utara, Kedung Lumbu, Kauman, Pasar Kliwon, Kota Surakarta, merupakan suatu komplek dengan luas keseluruhan 19.180 m² yang dibatasi pagar keliling dengan daerah sekitarnya dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter.

Sejarah

Masjid Agung Surakarta (https://surakarta.go.id)

Keberadaan Masjid Agung Surakarta tidak terlepas dari peristiwa pemindahan Keraton Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745 atau atau 14 Suro tahun 1670 Saka. Pindahnya keraton ini terjadi di masa pemerintahan Pakubuwana II. Pemindahan ini terjadi karena imbas dari peristiwa Geger Pecinan yang membuat Keraton Kartasura hancur.

Pembangunan keraton baru di Surakarta juga diikuti dengan pembangunan masjid yang dirintis oleh Pakubuwana II. Sebagian bahan bangunan yang digunakan untuk membangun Masjid Agung Surakarta merupakan bekas Masjid Agung Kartasura yang ikut dibawa oleh Pakubuwana II. Pembangunan masjid dilanjutkan di masa pemerintahan Pakubuwana III. Pembangunan dimulai pada tahun 1757 M. Hal itu diketahui dari prasasti yang terdapat di dinding luar ruang utama masjid dan selesai diperkirakan pada tahun 1768.

Denah

Denah Wilayah Masjid Agung Surakarta

Denah Masjid Agung Surakarta

Keterangan:

1. Bangunan utama masjid
a. Ruang utama (liman)
b. Pawestren
c. Balai Pabongan dan Balai Yogaswara
d. Serambi
e. Emperan
f. Tratag Rambat
g. “Kuncung” Bangunan

2. Bangunan dan elemen pendukung masjid
a. Gapura Utama
b. Gapura Utara
c. Gapura Selatan
d. Menara
e. Pagar keliling pembatas komplek masjid
f. Pagar pembatas masjid
g. Sumur artesis dan tempat wudhu pria
h. Tempat wudhu wanita
i. Kelir
j. Gudang Selirang, tempat tinggal marbot
k. Membaul ulum
m. Pemakaman

3. Bangunan pendukung Prosesi Upacara Adat
– Dua Bangsal Pradangga

4. Alih Fungsi Bangunan
a. Istal kini menjadi kantor tata usaha pengelolaan masjid
b. Garasi Kereta Raja kini menjadi ruang rapat

5. Penambahan Fungsi Bangunan
a. Pesantren putri
b. Pesantren putra
c. Perpustakaan
d. Kantor MUI
e. Parkir Sepeda dan sepeda motor

Arsitektur

Sesuai dengan konsep tata kota Islam di Jawa, Masjid Agung Surakarta Kauman terletak di sebelah barat Alun-alun Utara.

Gapura Utama

Gapura Utama Masjid Agung Surakarta (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Gapura Utama adalah gerbang utama yang mempertemukan kompleks Masjid Agung Surakarta dengan kawasan Alun-Alun Keraton Surakarta. Terletak di sisi Timur kompleks, membujur Utara-Selatan. Terdapat tiga pintu masuk pada gapura utama kompleks Masjid Agung Surakarta.

Gapura Utara dan Selatan

Sepasang gapura yang membujur Timur-Barat di sisi Utara dan Selatan kompleks Masjid Agung Surakarta kini juga bergaya selaras dengan gapura utama yang dibangun pada masa Sunan Paku Buwana X.

Pagar Keliling

Pagar keliling kompleks Masjid Agung Surakarta dibangun oleh Sunan Paku Buwana VII pada tahun Jawa 1787 atau 1858 M adalah tembok pembatas mengelilingi keempat sisi kompleks Masjid Agung Surakarta.

Menara

Menara Masjid Agung Surakarta

Menara di kompleks Masjid Agung Surakarta berfungsi sebagai tempat mengumandangkan azan untuk memberi tanda waktu sholat. Menara dengan ketinggian 33 m yang kini dapat dijumpai di halaman Masjid Agung Surakarta dibangun pada masa Paku Buwana X. Menara ini bergaya arsitektur ktub minar khas India. Pembangunan menara dimulai tahun 1861 Jawa.

Atap

Atapnya menjulang ke udara berjumlah tiga lapis dengan mustaka di puncaknya dengan gaya yang lazim disebut tajuk masjidan lambang teplok.

Bangunan

Luas bangunan Masjid Agung Surakarta adalah 3.081,7 m2. Bangunan utama terdiri atas sejumlah ruang yang mendukung fungsi masjid sebagai tempat ibadah.

Bangunan utama

Ruang utama Masjid Agung Surakarta (https://id.m.wikipedia.org)

Mihrab Masjid Agung Surakarta

Bangunan utama masjid terdiri atas ruang utama yang berfungsi sebagai ruang shalat dengan mihrab, sayap kembar atau pawestren di utara dan selatan ruang utama, ruang atau balai pabongan dan yogaswara, serambi, emper, tratag rambat, dan “kuncung” bangunan.

Mimbar Masjid Agung Surakarta

Bangunan Sayap

Bangunan Sayap Masjid Agung Surakarta dari waktu ke waktu mengalami pengembangan demi memenuhi kebutuhan tempat beribadah. Dalam pengembangan itu, bangunan utama masjid agung dilengkapi sayap kembar di utara dan selatan ruang utama.

Sayap bangunan di bagian utara digunakan sebagai balai khitan yang lazim disebut balai pabongan, dan ruang pengelola masjid yang disebut balai atau bilik yogaswara, sedangkan sayap bangunan di selatan yang disebut pawestren dikhususkan untuk jemaah perempuan.

Bangunan elemen pendukung masjid terdiri atas gapura utama, dua gapura samping, pagar, menara, Bangsal Pradangga sebagai bangunan pendukung upacara, sumur dan tempat wudu, kelir sebagi batas sekaligus penutup kolam, tugu jam istiwa, sekolah Mambaul Ulum, Istal (awalnya sebagai kandang kuda), tembok pemisah antara halaman depan dan halaman belakang,

Gedang Selirang sebagai tempat tinggal para marbot atau abdi dalem keraton yang ditugasi mengurus dan memelihara masjid. Pada halaman belakang kompleks  Masjid Agung Surakarta tepatnya di sebelah selatan dan sebelah utara mihrab terdapat beberapa makam.

Dalam mewujudkan bangunan yang megah Masjid Agung Surakarta, generasi demi generasi penguasa Keraton Kesunanan Surakarta Hadininggrat membangun bagian demi bagian masjid.

Penambahan Bangunan

Penambahan bangunan lain di kompleks Masjid Agung Surakarta berupa bangunan-bangunan pendukung kebutuhan masjid, bangunan pendukung prosesi upacara upacara adat, serta kelengkapan kebutuhan legitimasi raja dibangun pada masa berikutnya.

Pada kompleks Masjid Agung Surakarta ada beberapa bangunan yang mengalami perubahan bentuk dan fungsi, seperti pergantian Mustaka Masjid Agung Surakarta, seluruh bagian kayu pada mimbar Masjid Agung Surakarta pada saat ini diplitur warna coklat tua, lantai ruang utama masjid kini dilapisi marmer putih berukuran 60 x 60 cm, bangunan istal saat ini sudah mengalami perubahan baik itu dalam segi bentuk dan fungsinya.

Penambahan bagian masjid kemudian dilakukan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV dengan menambahkan mustoko berbentuk paku bumi di puncak atap masjid. Pada masa Sri Susuhunan Pakubuwono VII (1830-1875 ) diadakan kembali renovasi berupa pendirian Pawestren (1850), perluasan serambi (emper) dengan memakai kolom-kolom bergaya doric, serta dibangun dengan lantai yang lebih rendah.

Pada tahun yang sama dilaksanakan penggantian mustaka, karena yang lama disambar petir. Pada masa Sri Susuhunan Pakubuwono VII juga dibangun pagar tembok keliling masjid, yaitu tahun 1858. Pada masa pemerintahan Pakubuwono X (1893-1939 M), sebuah menara dibangun di halaman masjid (1901). Selain itu, gapura utama yang sudah ada dirombak dan diganti dengan gapura baru bergaya arsitektur Persia pada tahun 1901.

Sumber:

1. cagarbudaya
2. ums

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Masjid Al Wustho Mangkunegaran Surakarta Jawa Tengah

Mon Dec 14 , 2020
Masjid Al Wustho Mangkunegaran (https://en.wikipedia.org) Masjid Al Wustho Mangkunegaran terletak di Jl. Kartini No.3, Ketelan, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta 57132, Provinsi Jawa Tengah. Dalam setiap perencanaan tata kota di Jawa, masjid merupakan bangunan yang harus ada di samping kraton, alun-alun, dan pasar. Di Kasunanan ada Masjid Agung, sedang di Mangkunegaran […]