Masjid Agung Majalaya Majalaya Kabupaten Bandung Jawa Barat

1

Masjid  Agung Majalaya (http://garutnews.com)

Masjid  Agung Majalaya terletak di Jl. Masjid Agung No.13, Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat,  dengan ketinggian 683 m di atas permukaan air laut (mdpl). Masjid ini di bangun pada masa pemerintahan Belanda yang selain difungsikan sebagai tempat beribadah umat Islam masjid ini juga sering digunakan untuk tempat berkumpul dan bermain anak-anak dimasa pemerintahan Belanda.

Sejarah

Masjid  Agung Majalaya (https://masjid-agung-majalaya.business.site)

Sebelum Masjid Agung Majalaya berdiri, ditempat itu sudah ada surau kecil berbentuk. Dulu masjid dibangun dari bambu dan kayu beralaskan tembok. Masjid tersebut berdiri di tanah wakaf Bapak Rd. H. Tubagus Zainudin. Kondisi masjid pada waktu itu sudah lapuk sekitar tahun 1939 kepala desa Majalaya Bpk H.Abdul Gafur mengusulkan untuk merenovasi masjid itu. Usul  H.Abdul Gofur  tersebut mendapat dukungan dari Rd. Hernawan Soemarjo sebagai asisten wedana (camat) pada waktu itu. Karena posisi masjid terletak di pusat kecamatan Hernawan Soemarjo mengusulkan untuk membangun kembali masjid yang lebih besar.

Rd. Hernawan Soemaryo dan H. Abdul Gafur membentuk panitia pembangunan masjid. Hasil rapat tersebut menetapkan Bapak Rd.H. Kosasih (Desa Cibodas)  sebagai ketua, sekretaris yakni Rd. Dendadibrata (Desa Panyadap) sedangkan sebagai bendahara Ijradinata (Desa Majalaya). Panitia masjid sepakat untuk mengubah bentuk masjid dengan melibatkan seorang arsitek yang bernama Ir. Suhamir, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tahun 1940 dimulai pembangunan masjid dengan dana awal 15.000 gulden. Dana tersebut diperoleh dari anggota panitia yang sebagian merupakan pengusaha. Biaya pembangunan masjid juga diperoleh dengan menggalang sedekah amal jariyah dari masyarakat di Kecamatan Majalaya. Masyarakat juga menyetor bahan bangunan seperti batu dan pasir. Bahkan R. Hernawan Soemarjo berinisiatif beserta aparat desa berkeliling naik sepeda ontel hias   mengajak masyarakat menyumbang masjid.

Tahun 1942 bangunan Masjid berserta tempat berwudlu selesai dan mulai dipakai masyarakat. Namun pada tahun yang sama setelah pecah Perang Dunia ke-2, pembangunan Masjid terhenti sementara karena sebagian masyarakat Majalaya mengungsi. Bahkan beberapa bagian Masjid rusak akibat terkena tembakan peluru pesawat milik Belanda. Tahun 1944, masjid sempat menjadi markas dan basis pertahanan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) di Majalaya. Baru setelah Kemerdekaan pembangunan dan pengumpulan dana Masjid dimulai kembali. Selain  itu dibangun balai nikah di sebelah utara Masjid. Tahun 1950-an jendela-jendela Masjid yang tadinya hanya berupa lubang dipasang kaca dan jendela yang terbuat dari kayu jati.

Arsitektur

Masjid Agung Majalaya memiliki  gaya yang mirip dengan Masjid Demak di Jawa Tengah.  Bedanya  Masjid Agung Majalaya memiliki lima tumpang bersusun yang melambangkan rukun Islam, sedangkan Masjid Agung Demak hanya memiliki dua tumpang bersusun. Bagian atap atau sirap Masjid berasal dari Kalimantan yang sama dipakai di gedung ITB.

Bangunan

Atap

Konstruksi kubah bagian dalam (http://garutnews.com)

Pada setiap tingkatan atap terdapat semacam dinding yang di setiap sisinya mempunyai lubang ventilasi (jendela). Jendela pada atap tingkat kedua berbentuk dasar rata dengan bagian atas yang melengkung, sedangkan jendela pada tingkat ketiga dan keempat berbentuk segi empat dari kaca berjumlah dua baris.

Ruang utama

Ornamen bagian bawah tiang soko guru (https://www.google.com)

Ruang utama berukuran 14,70 m x 14,70 m. Ruang utama masjid ditopang oleh empat tiang utama berbentuk bulat dengan diameter sekitar 50 cm. Tiang tersebut mempunyai hiasan profil di bagian bawah dan atas, sedangkan pada bagian badan polos. Pada bagian bawah tiang terdapat umpak berbentuk segi empat berwarna putih berukuran 80 cm x 80 cm x 105 cm. Lantai masjid bagian dalam masih terawat yakni lantai yang seperti  digunakan  di Masjid Cipaganti dan SMPN 5 Bandung.

Pintu masuk ke ruang utama berada di sisi timur, berukuran lebar 1,95 m dan tinggi 2,23 m. Sementara di sisi utara dan selatan terdapat dua pintu masuk lainnya. Pintu masuk ini berbentuk lengkung pada bagian atasnya, yang serupa dengan elemen bangunan masjid di kawasan Timur Tengah. Ruang utama  dikelilingi oleh serambi dengan jendela-jendela pada dindingnya.

Mihrab dan Mimbar

Mihrab dan mimbar

Ruang mihrab dan mimbar masjid ini cukup unik. Bagian atapnya berbentuk setengah bola, yang terlihat dari bagian yang menonjol luar bangunan. Bagian atap sebelah dalam tersusun dari kayu. Pada dinding mihrab terdapat hiasan dekoratif berbentuk lengkung warna hijau di bagian sudutnya.

Bedug

Masjid Agung Majalaya memiliki kohkol (bedug) yang dikenal dengan nama Geumper Sakaten. Kohkol yang dipesan langsung oleh Hernawan Soemaryo terbuat dari kayu jati Jepara dan memiliki panjang sekira 1,70 meter. Waktu itu, masyarakat yang mau membunyikan kohkol itu dikenakan tarif sebesar satu benggol (sakeuntreung sabenggol).

Sumber: pikiran-rakyat | kebudayaan.kemdikbud

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Masjid Darussyajidin Sukagumiwang Indramayu Jawa Barat

Fri Aug 7 , 2020
Masjid Darussyajidin atau Masjid Kuno Bondan (https://www.facebook.com) Masjid Darussyajidin disebut juga Masjid Kuno Bondan terletak di Jl. Sapuangin, Desa Bondan, Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu 45274, Jawa Barat. Letak masjid kuno yang berada dipinggiran Sungai Cimanuk sangat potensial terancam abrasi akibat luapan air Sungai Cimanuk. Sejarah Masjid Darussyajidin atau Masjid Kuno […]