Langgar Dhuwur Pesengkongan Tegal Barat Kota Tegal Jawa Tengah

Langgar atau Mushola Duwur atau Mushola Istiqomah (http://adigunaku.blogspot.com)

Langgar atau Mushola Duwur merupakan salah satu tempat bersejarah di Kota Tegal. Pasalnya musala yang yang berada di Kampung Pesengkongan, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah ini berdiri pada tahun 1821.

Gang Pesengkongan tempat Langgar Dhuwur berada

Langgar yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari jalur Pantura, tepatnya di sebuah gang selebar sekitar satu meter yang berada di Jalan. S. Parman No. 5, RT.01 RW.12, Pesengkongan, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, yakni gapura bertuliskan Pesengkongan, Kawasan Bersejarah Awal Penyebaran Islam di Tegal.

Sejarah

Langgar Dhuwur atau Mushola Istiqomah setelah direnovasi total (https://google.com)

Awalnya sebuah Mushola, lantaran banyaknya saudagar perantauan yang datang berlayar dan butuh tempat beristirahat, pedagang Melayu bernama Mukmin mengusulkan pendirian tempat ibadah sekaligus tempat istirahat.

Para saudagar asal Gujarat, Melayu, Pakistan, India dan Kalimantan itu akhirnya mengumpulkan material untuk membangunnya. Mereka membeli kayu bekas galangan kapal yang sudah tidak terpakai atau rusak untuk membangun mushola dua lantai.

Masjid ini juga dahulu dijadikan sebagai pusat pemberangkatan haji yang berasal dari eks-Karisidenan Pekalongan melalui jalur laut Pantai Utara sekaligus sebagai salah satu pusat siar Islam.

Nama Langgar Dhuwur digunakan oleh orang-orang pada masa itu yang merujuk pada lokasi musala. Sedangkan nama Musala Istiqomah baru mulai digunakan pada 1970.

Arsitektur

Bentuknya, gabungan dari kebudayaan Melayu, Jawa dan Arab, semua bagian dari bangunan ini terbuat dari kayu. Ciri khas kebudayaan Arab terlihat dari ornamen pada dinding. Bentuknya, berupa pahatan garis-garis dan motif kerucut segi lima. Sedangkan kebudayaan Melayu diwakili lubang ventilasi pada pintu dan jendela.

Bangunan

Corak bangunan perpaduan rumah panggung Sumatera dengan hanya satu atap mustaka berbentuk stupa. Bentuk bangunan bujur sangkar 10 x10 meter, berdiri di atas lahan seluas 172 meter persegi, dua lantai, lantai pertama untuk penginapan dan latai dua untuk musholanya, dinding terbuat dari kayu dengan motif-motif sangat sederhana, hanya berbentuk jeruji kayu pada lantai atas.

Atap terdiri dari dua undakan. Hal inilah membedakan dengan atap-atap masjid kewalian pada umumnya yang memilih bilangan ganjil pada atapnya.Untuk ornamen masjid pun nyaris tidak ada, hanya ada motif di mihrab dan ventilasi pintu masuk masjid bermotif flora. Hal itu, ujar dia, sejalan dengan ajaran Islam tentang adanya larangan gambar atau relief manusia atau binatang di masjid, karena dikhawatirkan bisa menjadi berhala yang kemudian dipuja oleh manusia.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Masjid R Sayyid Kuning Onje Mrebet Purbalingga Jawa Tengah

Tue Aug 10 , 2021
Masjid R Sayyid Kuning (https://www.visitpurbalingga.com) Masjid R Sayyid Kuning terletak di Desa Onje, Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Dari cerita turun temurun masjid ini pertama dibangun sekitar tahun 1.300 Masehi, oleh Syekh Syamsudin dari Timur Tengah. Saat itu musala didirikan menggunakan tiang dari kayu pakis dan atap ijuk. Saat […]