Kesenian Srandul Sleman DI Yogyakarta

Kesenian srandul

Kesenian srandul termasuk jenis drama tari dan merupakan seni tradisisional kerakyatan yang bersumber dari masyarakat setempat. Srandul merupakan tari kelompok, garapan sebuah tari sederhana yang tidak diketahui penciptanya, karena berupa karya seni turun-temurun sebagai karya kolektif. Cerita yang biasa dipentaskan berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain. Di daerah tertentu cerita yang dimainkan adalah ceritera rakyat yang tidak terbatas pada kisah tokoh, di daerah lainnya hanya mementaskan ceritera rakyat dengan tokoh Dadung Awuk saja, sehingga hampir sama dengan kesenian Dadung Awuk. Ada yang berupa drama tari yang disajikan dengan cerita karangan atau cerita rakyat, misalnya Demang Cokroyuda dan Prawan Sunthi. Alat-alat musik yang dipergunakan adalah angklung, terbang dan kendang. Pertunjukan Srandul dipentaskan pada malam hari, lama pertunjukan tidak tentu, tergantung permintaan.

Kesenian srandul

Srandul biasanya dimainkan oleh 15 orang, 6 pemusik dan 9 pemain. Namum jumlah pemain ini amat fleksibel. Pada awal pertunjukan, pemain menari mengelilingi oncor sambil menembang :“Gusti Allah, Gusti Allah, kami semua mohon ampun, semoga Allah memberi karunia, Ya Allah, semoga memberi ampun, Allah yang telah memberi agama.” Doa ini dilantunkan dengan khusuk, dan dibacakannya doa dimaksudkan agar pertunjukan tidak mendapat halangan sampai selesai. Dilanjutkan dengan melantunkan tembang kinanthi dari Serat Wedhatama. Tembang tersebut berisi tentang ajaran budiluhur.

Sumber: Ebook, Penetapan Warisan Budaya Tak Benda IndonesiaTahun 2017, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budayai, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Kesenian Montro Bantul DI Yogyakarta

Tue Apr 20 , 2021
Kesenian Montro Kesenian Montro Sukalestari berasal dari Dusun Kauman, Pleret, Bantul. Kesenian Montro ini mulanya berfungsi sebagai sarana dakwah, dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan hari-hari besar Islam lainnya. Diawali pada 11 April 1939 di Kauman Pleret, Bantul, semenjak hadir Kanjeng Pangeran yudanegara menantu HB VII untuk memberikan […]