Kesenian Panjidor Kulon Progo DI Yogyakarta

Kesenian Panjidor (https://docplayer.info)

Panjidor atau Panjidur, merupakan kesenian rakyat dari Dusun Jambon, Desa Donomulyo, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo. Kesenian tradisonal ini berdiri sekitar tahun 1948, diprakarsai oleh Sastrodiwiryo. Kesenian tradisional ini berwujud tarian yang awalnya adalah kumpulan ragam gerak yang sederhana, tanpa hiasan-hiasan ragam gerak yang rumit, diulang-ulang dan miskin pola lantai. Iringan musik yang sederhana dengan lantunan syair atau singir yang berisikan kiasan-kiasan tentang nilai-nilai agama Islam, nilai-nilai moral serta petunjuk dan ajakan untuk hidup ke arah yang lebih baik. Sudah bisa dipastikan, bahwa kesenian tradisional yang berwujud tarian ini awalnya berfungsi sebagai sarana dakwah. Petuah-petuah yang ada di dalam syair atau singir lagu-lagunya mengajak orang untuk hidup lebih baik sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Semenjak tahun 1960an, aktivitas kesenian tradisional ini sempat berhenti hingga tahun 1970an, dikarenakan situasi politik di Indonesia. Kemudian setelah tahun 1975an kesenian ini kembali hidup dengan gairah yang baru. Para pelaku dan pendukung kesenian ini di Dusun Jambon, Desa Donomulyo, Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulon Progo merangkak kembali. Latihan-latihan kembali dihidupkan oleh anak cucu dan pendukung kesenian ini tetap dipertahankan.

Kesenian Panjidor (https://docplayer.info)

Secara koreografis, ragam gerak para prajurit itu dikembangkan dalam struktur ragam gerak maknawi dan simbolisasi. Kesederhanaan pengembangan ragam gerak yang menyatu memberikan aksen-aksen semakin dinamis. Pola lantainya pun dikembangkan tidak lagi sejajar dan berbaris, tetapi bisa menjadi diagonal, lingkaran, pecah dan rakit. Pengembangan properti senapan yang terbuat dari kayu itu tidak harus dalam posisi dibawa saja, tetapi bisa diputar seperti kolone senapan, diangkat, diletakkan dalam posisi semua senapan bersandar, dan diberi aksen tembakan. Sedangkan untuk perlengkapan alat musiknya antara lain: kendang, bedug, rebana, dan perkembangannya memakai drum set.

Tari rakyat Panjidur, yang pada awalnya berfungsi sebagai sarana dakwah, namun pada sekitar tahun 1980an fungsi itu berubah menjadi fungsi sosial dan seni pertunjukan rakyat. Hal ini tak bisa dipungkiri, bahwa perkembangan zaman yang semakin maju akan memberikan pengaruh kepada masyarakat di Dusun Jambon ke peradaban baru. Aspek-aspek estetika dan kebutuhan dinamika kesenian yang semakin tak terhindarkan, membuat kesenian tradisional ini harus bernafas dalam estetika baru. Sentuhan-sentuhan estetika baru itu antara lain, untuk kebutuhan hajad masyarakat, upaya pengembangan kesenian dan sebagai sumber data dalam pendokumentasian oleh pemerintah.

Sumber: Ebook, Penetapan Warisan Budaya Tak Benda IndonesiaTahun 2017, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budayai, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.