Kawasan Pusaka Terlengkap ada di Daerah Istimewa Yogyakarta

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (https://blog.tiket.com)

Kota Yogyakarta berada di tengah-tengah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikelilingi oleh empat kabupaten dengan potensinya masing-masing. Kelima wilayah tersebut dalam sejarah Yogyakarta bisa ditelusuri perkembangan kawasannya sejak jaman pra sejarah yaitu jaman Megalitikum sampai jaman Mataram Islam dan Kasultanan, bahkan sampai jaman kolonial Inggris dan Belanda.

Diceritakan bahwa situs-situs megalitikum diketemukan di Gunung Kidul sebagai wilayah yang didominasi perbukitan. Candi dan situs banyak ditemukan di Kabupaten Sleman, di sepanjang lereng Gunung Merapi dengan konsep ruang kosmologis yang dipengaruhi oleh budaya indianisasi. Secara umum, kawasan perbukitan dan pegunungan mempunyai sejarah yang lebih panjang, dibandingkan dengan di bagian dataran. Kerajaan Mataram Islam berkembang di wilayah yang relatif datar dengan pusatnya berada di Kota Gede dan kemudian pindah ke Plered (Bantul), dan akhirnya ke Kraton Kasultanan Yogyakarta. Selain sebagai pusat kegiatan pada jaman Kasultanan, Yogyakarta berkembang pesat pada jaman kolonialisme berkuasa di Indonesia yang dulu dikenal dengan kawasan Hindia Belanda.

Tugu Jogja (https://www.pikniek.com)

Kasultanan Yogyakarta yang berdiri tahun 1756 di kawasan Kraton berkembang dengan dukungan wilayah-wilayah di sekitarnya. Pola ruang dipengaruhi kondisi alam dan geografis Yogyakarta dengan ruang kosmologisnya. Sumbu imajiner mulai dari Pantai Selatan (Bantul), Kraton (Yogyakarta), sampai ke Gunung Merapi (Sleman) merupakani elemen penting Yogyakarta menunjukkan adanya hubungan antar wilayah. Sedangkan sumbu filosofis adalah dari Panggung Krapyak, Kraton, sampai ke Tugu. Keberadaan Dalem Pangeran yang tersebar di kawasan Kraton dan sekitarnya (Ikaputra, 1997) menunjukkan wilayah Bantul, Sleman dan Kulon Progo merupakan satu kesatuan dengan wilayah Yogyakarta yang berkembang sebagai pusat kegiatan. Konsep Pathok Negara dengan empat desa sebagai batas wilayah dan daerah alim ulama dengan masing-masing pemimpinnya menunjukkan adanya keterkaitan antar kawasan utama Kasultanan Yogyakarta yaitu Kraton dan masjidnya dengan kawasan-kawasan lainnya diKasultanan Yogyakarta (Rahmi dkk, 2013).

Yogyakarta pada jaman kolonial berkembang pesat di daerah yang relatif datar dengan dukungan daerah-daerah perbukitan, pegunungan, dan pesisir pantai. Kawasan-kawasan di Kulon Progo, Bantul dan Sleman digunakan sebagai daerah pendukung dengan berkembangnya beberapa elemen perkotaan, misalnya Stasiun Kereta Api dengan jaringannya, villa atau pesanggrahan sebagai tempat istirahat dan sebagainya.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa faktor alam, lanskap atau bentang lahan serta budaya manusia menjadi pertimbangan dalam perkembangan wilayah di Yogyakarta pada masing-masing periode waktu. Pusaka Yogyakarta merupakan suatu jaringan atau sistem yang terkait satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan antar wilayah.

Baca juga: Wisata Sejarah di DI Yogyakarta (1 dari 2)

Karakteristik

Karakteristik Kawasan Pusaka Daerah Istimewa Yogyakarta

Karakteristik kawasan pusaka Daerah Istimewa Yogyakarta meliputi:

  1. Kawasan pusaka gunung berapi, terdapat di Sleman (Merapi)
  2. Kawasan pusaka perkotaan, terdapat di Yogyakarta, Kulon Progo (Wates), Bantul
  3. Kawasan pusaka bersejarah, terdapat di semua wilayah
  4. Kawasan pusaka percandian, terdapat di Sleman
  5. Kawasan pusaka perbukitan, terdapat di Kulon Progo dan Gunung Kidul
  6. Kawasan pusaka megalitikum, terdapat di Gunung Kidul
  7. Kawasan pusaka pegunungan karst, terdapat di Gunung Kidul
  8. Kawasan pusaka pantai, terdapat di Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo

Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki karakter berbeda di tiap-tiap wilayahnya, telah membentuk karakter kawasan pusaka yang unik dengan adanya hubungan antar wilayah-wilayahnya.

Baca juga: Candi di Daerah Istimewa Yogyakarta

Kawasan Pusaka di Kabupaten Sleman

Kabupaten Sleman didominasi oleh kawasan pusaka percandian dan situs serta pusaka alam Gunung Merapi. Bagian Barat pada wilayah yang relatif datar merupakan kawasan pusaka Kasultanan Yogyakarta, di bagian Utara merupakan kawasan pusaka Gunung Merapi dengan wilayah lereng gunungnya dan kawasan percandian dan situs di sekeliling lereng Gunung Merapi (Candi Morangan, Candi UII, Candi Sambisari dll), sementara di bagian Timur khususnya di wilayah dengan ketinggian wilayahnya didominasi kawasan pusaka percandian (Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, Candi Kalasan dll) dan pada wilayah yang datar merupakan kawasan pusaka Kasultanan Yogyakarta. Menurut pemerintah daerah Kabupaten Sleman, setidaknya ada 185 buah candi dan 468 buah bangunan cagar budaya (BCB) yang tersebar di 16 kecamatan dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Sleman.

Penyebaran 185 situs dan candi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kecamatan Prambanan sejumlah 37 buah candi dan situs
  2. Kecamatan Kalasan sejumlah 18 buah candi dan situs
  3. Kecamatan Berbah sejumlah 8 buah candi dan situs
  4. Kecamatan Ngemplak sejumlah 3 buah candi dan situs
  5. Kecamatan Ngaglik sejumlah 9 buah candi dan situs
  6. Kecamatan Depok sejumlah 3 buah candi dan situs
  7. Kecamatan Mlati sejumlah 24 buah candi dan situs
  8. Kecamatan Sleman sejumlah 12 buah candi dan situs
  9. Kecamatan Gamping sejumlah 1 buah candi dan situs
  10. Kecamatan Godean sejumlah 0 buah candi dan situs
  11. Kecamatan Moyudan sejumlah 11 buah candi dan situs
  12. Kecamatan Seyegan sejumlah 12 buah candi dan situs
  13. Kecamatan Minggir sejumlah 8 buah candi dan situs
  14. Kecamatan Tempel sejumlah 11 buah candi dan situs
  15. Kecamatan Turi sejumlah 8 buah candi dan situs
  16. Kecamatan Pakem sejumlah 8 buah candi dan situs
  17. Kecamatan Cangkringan sejumlah 12 buah candi dan situs

Beberapa kawasan dan bangunan pusaka telah ditetapkan sebagai kawasan dan bangunan cagar budaya dengan beberapa ragam penetapannya, yaitu:

  1. Kompleks Candi Prambanan, Dusun Karangasem, Bokoharjo, Prambanan, melalui penetapan World Heritage List No.642, Kep.Mendikbud 157/M/1998
  2. Situs dan Bangunan Kraton Ratu Boko, Dawung, Bokoharjo, Prambanan melalui penetapan Kep.Mendikbud 157/M/ 1998
  3. Situs dan bangunan candi Kalasan, Kalibening, Tirtomartani, Kalasan melalui penetapan Kep.Mendikbud 157/M/ 1998
  4. Candi Sari, Tirtomartani, kalasan melalui penetapan Per.Menbudpar No.PM25/PW.007/MKP/2007
  5. Situs dan Bangunan candi Ijo, Klengkong, Sambirejo, Prambanan melalui penetapan Kep.Mendikbud 157/M/ 1998
  6. Candi Barong, Sambirejo, Prambanan melalui penetapan Per.Menbudpar No.PM25/PW.007/MKP/2007
  7. Situs Sambisari, Sambisari, Kalasan melalui penetapan Kep.Mendikbud 157/M/ 1998
  8. Masjid Pathok Negara ‘Sulthoni’ melalui penetapan SK Gub. No. 210/Kep/2010
  9. Pesanggrahan Ambarukmo, Caturtunggal, Depok melalui penetapan Per.Menbudpar No.PM25/PW.007/MKP/2007
  10. Pesanggrahan nDalem Ngeksigondo, Kaliurang, Hargobinangun, Pakem melalui penetapan SK Gub. No. 210/Kep/2010
  11. Situs dan Bangunan Candi Banyunibo, Bokoharjo, Prambanan melalui penetapan Kep.Mendikbud 157/M/ 1998
  12. Jembatan Rel KA Pangukan, Pangukan, Tridadi, Sleman melalui penetapan SK Gub. No. 210/Kep/2010
  13. RS Grhasia, Pakem melalui penetapan SK Gub. No. 210/Kep/2010
  14. Selokan Van der Wijk, Tangisan, Banyurejo, Tempel melalui penetapan SK Gub. No. 210/Kep/2010
    Rumah Hersat Wahyutama, Jl.Solo Km 13, Glondong, Tirtomartani, Kalasan melalui penetapan SK Gub. No. 210/Kep/2010
  15. Rumah Sri Widodo, Jaranan, Argomulyo, Cangkringan melalui penetapan SK Gub. No. 185/Kep/ 2011
  16. Kantor Pegadaian Tempel, Jl. Magelang, Tempel melalui penetapan SK Gub. No. 185/Kep/ 2011

Baca juga: Kawasan Kars Indonesia

Kawasan Pusaka di Kabupaten Bantul

Kabupaten Bantul mempunyai beberapa kawasan pusaka yang tersebar di beberapa kecamatan. Saat ini terdapat dua kawasan pusaka yang sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya melalui Penetapan Gubernur Nomor 186 Tahun 2011, yaitu Kawasan Cagar Budaya Imogiri dan Kawasan Cagar Budaya Kota Gede yang masuk dalam wilayah administrasi Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Secara umum, Kabupaten Bantul didominasi oleh kawasan pusaka bersejarah yang terkait langsung dengan Kerajaan Mataram Islam dan Kasultanan Yogyakarta.

Setidaknya terdapat 14 situs purbakala yang bisa ditemukan di Kabupaten Bantul, yaitu:

  1. Candi Mantup di Kecamatan Banguntapan;
  2. Situs Gampingan di Kecamatan Piyungan;
  3. Situs Payak di Kecamatan Piyungan;
  4. Situs Potorono di Kecamatan Banguntapan;
  5. Goa Surocolo di Kecamatan Pundong;
  6. Goa Jepang di Kecamatan Pundong;
  7. Goa Selarong di Kecamatan Pajangan;
  8. Makam Ki Ageng Karang Lo di Kecamatan Banguntapan;
  9. Gereja Ganjuran di Kecamatan Bambanglipuro;
  10. Goa Siluman di Kecamatan Banguntapan;
  11. Ambarbinangun di Kecamatan Kasihan;
  12. Gunung Wingko di Kecamatan Sanden;
  13. Gunung Lanang di Kecamatan Kretek dan
  14. Bayutemumpang di kecamatan Bantul.

Beberapa kawasan pusaka sudah ditetapkan pemerintah sebagai kawasan cagar budaya melalui Perda 4/2011 tentang RTRW Kabupaten Bantul 2010-2030, yaitu:

  1. Masjid Agung Kotagede di Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan dan Museum Kekayon di Desa Baturetno, Kecamatan Banguntapan
  2. Kompleks Makam Raja-Raja di Desa Imogiri, Kecamatan Imogiri
  3. Situs Ambarbinangun dan Masjid Pathok Negara di Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan
  4. Petilasan/Ziarah Mangir di Desa Sendangsari dan Gua Selarong di Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan
  5. Petilasan Kraton Mataram di Desa Pleret dan Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret
  6. Cagar Budaya Pendidikan di Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon
  7. Makam Sewu di Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak

Posisi Bantul dengan pantainya yang berada di sebelah Selatan Yogyakarta menjadikan beberapa kawasan di Kabupaten Bantul menjadi bagian penting dari nilai filosofis ruang Yogyakarta. Pantai Selatan yaitu Pantai Parang Tritis dan Panggung Krapyak merupakan elemen penting dalam keistimewaan sumbu imajiner yang berhubungan dengan Kraton, Tugu Golong Gilig, dan Gunung Merapi di sebelah Utara Yogyakarta.

Kawasan Pusaka di Kabupaten Kulon Progo

Kabupaten Kulonprogo memiliki beberapa Peraturan Bupati dalam mengelola kawasan dan benda pusaka, yaitu Perbup Kulon Progo No. 47 Tahun 2009 tentang Tata Cara Pengelolaan dan Pembinaan Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya; Perbup Kulon Progo N0. 48 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penetapan dan Klasifikasi Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya; Perbup Kulon Progo No. 49 Tahun 2009 tentang Pemberian penghargaan Pelestarian Kawasan Budaya dan Benda Cagar Budaya.

Kabupaten Kulon Progo mempunyai 13 bangunan dan kawasan pusaka dan sudah ditetapkan oleh pemerintah baik melalui Surat Keputusan Gubernur maupun rekomendasi Gubernur dengan diawali Surat Keputusan Bupati. Ketigabelas bangunan dan kawasan tersebut adalah (1) Gereja Santa Maria Lourdes; (2) Rumah Hj Jamal; (3) Dua buah Rumah Kawasan Babrik; (4) Jembatan Duwet; (5) Kawasan Sendangsono; (6) Rumah eks TB Simatupang; (7) Pagar Eks Kabupaten Kulon Progo; (8) Rumah Sakit Santo Yusup; (9) Jembatan Bantar; (10) SD Butuh; (11) Pasar Bendo dan (12) Bale Agung. Beberapa kawasan lainnya yang termasuk dalam kawasan pusaka antara lain adalah eks pabrik Gula Sewugalur, Pesanggrahan Bulu, Pesanggrahan Glagah, Sentolo dan Kalibawang (Presentasi Bappeda Kulon Progo, 2013).

Jika melihat wilayah administrasi Kabupaten Kulon Progo, terdapat satu kawasan yang mampu menjadi kenangan kolektif (collective memory) khususnya pada jaman kolonial Belanda yaitu pusat Kota Wates. Setidaknya masih terdapat sepuluh bangunan peninggalan Belanda yaitu Pegadaian, Stasiun Kereta Api, Kawasan Rumah di Jogoyudan-Mutihan, Wakapan dan depan Pasar Wates, Tugu Pagoda, Kantor Panwaslu, SD Percobaan 4, Media Centre, Bangunan Polres Lama dan Bale Agoeng.

Baca juga: Taman Nasional Geopark Indonesia

Kawasan Pusaka di Kabupaten Gunungkidul

Kabupaten Gunungkidul merupakan wilayah yang terdiri dari perbukitan, dataran, pegunungan karst dan pesisir pantai yang masing-masing sebagai pusaka Yogyakarta. Pusaka alam yang dapat dinikmati di Kabupaten Gunungkidul antara lain Perbukitan Baturagung, Pegunungan Karst Gunung Sewu atau Pegunungan Seribu dan Pantai di sepanjang pesisir Pantai Selatan.

Menurut pendataan yang dilakukan pemerintah Kabupaten Gunungkidul, terdapat 383 pusaka atau cagar budaya yang tersebar di 18 kecamatan, yang terbagi dalam periode prasejarah, klasik, Islam dan Kolonial. Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya tersebut meliputi:

  1. Kawasan konservasi Goa Arkeologi di Kawasan Karst (Goa Seropan, Bentar, Braholo, Tritis, Song Gupuh, Song Keplek dan Goa Tabuhan)
  2. Kawasan petilasan Sunan Kalijaga (Girisuba, Tepus)
  3. Kawasan petilasan Ki Ageng Giring (Paliyan)
  4. Kawasan Situs Klepu dan Situs Karanggebang (Tepus)
  5. Kawasan Candi Risan (Semin)
  6. Kawasan Petilasan Gembirowati (Purwosari)
  7. Kawasan Situs Bleberan (Playen)
  8. Kawasan Petilasan Gununggambar (Ngawen)
  9. Kawasan Petilasan Kembanglampir & Cupu Panjolo (Panggang)
  10. Kawasan Situs Paleolitik Semin
  11. Kawasan Situs Megalitik Sokoliman (Karangmojo)
  12. Kawasan Situs Megalitik Gunungbang (Karangmojo)
  13. Kawasan Situs Megalitik Gondang (Karangmojo)
  14. Kawasan Situs Megalitik Ngawis & Wiladeg (Karangmojo)
  15. Kawasan Situs Megalitik Beji (Playen)
  16. Kawasan Situs Megalitik Semanu Kidul (Semanu)

Kawasan Pusaka di Kota Yogyakarta

Secara umum, hampir semua kecamatan di Kota Yogyakarta merupakan kawasan pusaka dengan nilai dan potensinya masing-masing. Semua kawasan mempunyai peran, baik pada masa Kasultanan Yogyakarta, maupun pada masa kolonial dan masa perjuangan. Ada lima (5) kawasan cagar budaya yang sudah ditetapkan melalui SK Gubernur DIY Nomor 186/KEP/2011 yaitu Kawasan Kraton, Kawasan Malioboro, Kawasan Kotabaru, Kawasan Kota Gede dan Kawasan Pura Pakualaman serta tiga (3) kawasan pusaka yang sedang diusulkan menjadi kawasan cagar budaya yaitu kawasan Pengok, kawasan Baciro dan kawasan Terban. Kedelapan kawasan tersebut meliputi kawasan yang memiliki arti penting pada masa Kerajaan Mataram Islam, Kasultanan Yogyakarta dan kolonial Belanda. Kawasan-kawasan tersebut tidak terlepas dari perannya pada setiap periode waktu, termasuk pada masa kini. Selain itu, kedelapan kawasan tersebut masih mampu menunjukkan karakter kawasannya.

Sumber: arsitekturdanlingkunganugm

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Candi Klodangan Berbah Sleman DI Yogyakarta

Mon Mar 1 , 2021
Candi Klodangan terletak di Dusun Klodangan, Kelurahan Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi ini ditemukan pada tanggal 3 Juni 1998. Candi Klodangan terbuat dari batu putih, berukuran 7,5 x 7,5 m. Posisi Candi Klodangan berada pada kedalaman 1,2 meter di bawah permukaan tanah. Candi ini diperkirakan berasal […]