Kawasan Bintaran Mergangsan Yogyakarta

Gedung Sasmitaloka Panglima Besar Sudirman (https://www.wikiwand.com)

Kawasan Bintaran terletak di Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta 55151. Komunitas Belanda di Yogyakarta berkembang pesat sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII (tahun 1877- 1921). Hal tersebut berkaitan erat dengan tumbuh dan berkembangnya perkebunan tebu, berbagai jenis pabrik, perbankan, asuransi, perhotelan dan pendidikan.

Pada waktu itu karena warga Belanda makin banyak jumlahnya dan aktivitas mereka makin beragam, dibangunlah kantong-kantong pemukiman khusus untuk mereka, lengkap dengan berbagai fasilitas yang diperlukan pada masa pra Perang Dunia II. Kantong-kantong pemukiman itu bergeser dari seputar pusat kota ke arah timur (Bintaran), timur laut (Kota Baru), dan utara (Jetis).

Kawasan Bintaran pada tahun 1890 (https://id.wikipedia.org)

Kawasan Bintaran merupakan perkembangan dari pemukiman Belanda awal di Yogyakarta, yaitu di Loji Kecil dan Loji Besar (Benteng Vredeburg), karena kedua tempat tersebut sudah tidak dapat mengakomodasi warga Belanda. Perlu diketahui bahwa menjelang Perang Diponegoro, jumlah orang Eropa di Yogyakarta sudah mencapai 400 orang. Pada awalnya kawasan Bintaran belum dilengkapi dengan sarana dan prasarana umum yang diperlukan oleh penghuninya. Orang-orang Belanda yang bermukim di Bintaran masih menggunakan fasilitas umum yang terdapat di kawasan Loji Kecil dan Loji Besar.

Dengan semakin bertambahnya orang-orang Belanda yang bermukim di Bintaran, maka dibangunlah gereja, dan bahkan juga penjara. Orang-orang Belanda yang bermukim di Bintaran adalah opsir-opsir, dan pemilik atau pegawai pabrik-pabrik gula di beberapa wilayah Yogyakarta.

Kantor Komando PemadamKebakaran (http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Bangunan

Museum Biologi (https://lokasimuseum.wordpress.com)

Bangunan rumah tinggal di kawasan Bintaran bergaya Indis dan mempunyai bentuk arsitektur yang hampir sama dengan pemukiman Belanda di kawasan Loji Kecil, tetapi halamannya lebih luas. Bangunan indis mempunyai karakteristik yang khas dan berbeda dengan bangunan pribumi. Rumah-rumah tersebut mempunyai jendela-jendela besar, dan plafond tinggi, sehingga udara dapat bersirkulasi dengan mudah. Selain itu, struktur penyangga seperti dinding dan tiang-tiang besi dibuat kokoh. Demikian pula karakter bangunan-bangunan di kawasan itu juga mempunyai beberapa detil khas, antara lain: tritisan yang relatif kecil, balustrade dari teralis besi, daun pintu luar dari kayu berbentuk krepyak dan daun pintu dalam dari kaca, serta mempunyai pilar-pilar.

SMP BOPKRI II (https://benuailmusekolah.blogspot.com)

Bangunan dengan bentuk arsitektur semacam itu antara lain adalah : bangunan rumah tinggal pejabat keuangan Puro Paku Alam VII; sekarang Gedung Sasmitaloka Panglima Besar Sudirman, dan kediaman Yoseph Henry Paul Sagers; sekarang rumah tinggal dan Kantor Komando Pemadam Kebakaran, bangunan pengawas militer untuk daerah Paku Alaman; sekarang Museum Biologi, dan SMP BOPKRI II.

Sumber: kundhakebudayaan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Prosesi Pernikahan Adat Minahasa Sulawesi Utara

Wed Jul 7 , 2021
Sepasang pengantin adat Minahasa (http://mahligai-indonesia.com) Pernikahan yang diharapkan oleh sebagian besar masyarakat Minahasa adalah bila calon mantunya sudah mempunyai sumber mata pencaharian. Dari Pernikahan itu diharapkan agar keluarga yang baru dibentuk dapat membiayai kebutuhan hidup rumah tangganya sendiri, sehingga tidak menambah beban biaya bagi orang tuanya. Tujuan Pernikahan adalah memperbanyak […]