Kampung Naga Tasikmalaya Jawa Barat

1

04555-800px-dsc00029_java_little_sundanais_traditional_village_kampung_naga_6219569245 Pemandangan Kampung Naga Tasikmalaya Jawa Barat (https://id.wikipedia.org)

Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, dengan luas sekitar 1,5 hektar. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya.

Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Ci Wulan (Kali Wulan) yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.

Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektare setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.

Sejarah

a52b9-kn-3Kampung Naga (https://www.disparbud.jabarprov.go.id)

Sejarah keberadaan Kampung Naga yang diceritakan oleh beberapa sumber diantaranya, pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Namun masyarakat kampung Naga sendiri tidak meyakini kebenaran versi sejarah tersebut, sebab karena adanya “pareumeun obor” tadi.

Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, Matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah kampung naga itu sendiri. Mereka tidak mengetahui asal usul kampungnya. Masyarakat kampung naga menceritakan bahwa hal ini disebabkan oleh terbakarnya arsip/ sejarah mereka pada saat pembakaran kampung naga oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo.

4b70c-1529015naga-kampung780x390Kampung Naga (https://travel.kompas.com)

Semenjak kedatangan beliu, kepercayaan semua masyarakat dalam menganut agama berubah dari ajaran hindu menjadi pemeluk Islam. Namun walau perubahan pola pikir dan budaya sudah terjadi, tapi masalah adat istiadat, mereka masih memegang teguh ajaran karuhun (leluhur). Karena menurut mereka. dengan memegang teguh ajaran karuhun, berarti menghormati para leluhur yang sudah berjasa.

Apapun yang hendak masyarakat lakukan, sang tetua desa akan memutuskannya berdasarkan adat istiadat dan ajaran agama Islam. Ini dilakukan untuk menghindari pamali yang dapat menimbulkan malapetaka menurut kepercayaan setempat. Tabu, pantangan atau pamali. bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh, khususnya dalam kehidupana sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannnya. Pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah.

e53d6-kn-2Kampung Naga (https://www.disparbud.jabarprov.go.id)

Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus empat persegi panjang dengan model panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah dari bambu atau papan kayu manglid. Rumah harus menghadap ke arah utara atau selatan dengan memanjang ke arah barat-timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok.

73f7a-kn-1Kampung Naga (https://www.disparbud.jabarprov.go.id)

Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, seperti kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah tidak boleh memililki daun pintu di dua arah berlawanan. “Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rezeki masuk ke dalam rumah melalui pintu depan tidak boleh keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang pintu, mereka selalu mengindari daun pintu yang sejajar dan satu garis lurus.

Jumlah bangunan mencapai 113 unit, sebanyak 110 merupakan rumah, namun yang dihuni hanya 108 rumah. Tempat lain nya diantaranya bale pertemuan, lumbung padi, dan mesjid yang letaknya sejajar menghadap ke arah timur-barat. Sedangkan bangunan rumah penduduk berdiri berjajar menghadap utara-selatan.

Aksesbilitas

Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda : sengked) sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga.

Tips Mengunjungi Kampung Naga

  1. Gunakanlah guide lokal orang Kampung Naga kalau anda belum pernah mengunjungi kampung ini, karena ada beberapa lokasi yang dikeramatkan dan tidak boleh difoto. Kalau Anda belum pernah ke sini dan tidak menggunakan guide lokal bisa melanggar larangan kampung ini.
  2. Anda bisa menginap di sini, tetapi tidak bisa mendadak dan harus memberitahu kuncen terlebih dahulu
  3. Buat yang menginap di Kampung Naga jagalah kesopanan, seperti pakaian yang sopan dan jangan melanggar adat istiadat. 4. Di Kampung Naga tidak ada listrik, bawalah powerbank atau batere cadangan. Bisa mengisi baterai tapi di luar pemukiman adat.

Informasi lebih lanjut hubungi

Kampung Naga Tasikmalaya
Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat
Telp: +62 265 330 165 (*)

(*) Disparbud Jabar

Berbagai sumber

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Desa Wisata Agrobahari Imorenggo Kulon Progo Yogyakarta

Tue May 13 , 2014
Desa Wisata Agrobahari Imorenggo berada di Desa Karangsewu, Kecamatan Galur Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Jarak Desa Wisata Agrobahari Imorenggo dari pusat Kota Yogyakarta berjarak 30 Km dan dari pusat kota Kabupaten Kulon Progo (Kota Wates) 10 Km, dengan jalan akses yang cukup bagus. Perjalanan ke Imorenggo dapat ditempuh […]