Kampung Lawas Maspati Bubutan Surabaya Jawa Timur

1

Pintu masuk Kampung Lawas Maspati (https://kabaremansipasi.com)

Kampung Lawas Maspati terletak di Kelurahan Bubutan, Kota Surabaya, Jawa Timur. Kampung Lawas Maspati berada di tengah kota surabaya, 500 meter dari Monumen Tugu Pahlawan, Kampung ini dikelilingi bangunan modern namun budaya, kearifan lokal dan tradisi-tradisi kampung, tetap terjaga. Bangunan-bangunan dan barang-barang peninggalan kerajaan mataram pun masih terawat hingga saat ini. Hal ini tidak lepas dari peran serta warga kampung lawas Maspati yang terdiri dari 350 KSK dan 1350 jiwa.

Belum banyak warga Surabaya yang tahu, bahwa sejarah panjang Surabaya dari zaman Keraton Mataram hingga masa pendudukan Belanda terekam dalam satu kawasan, Kelurahan Bubutan, Kota Surabaya. Kawasan Bubutan menjadi sudut yang membuktikan bahwa Surabaya tertata rapi semenjak dahulu kala. Seperti kata petualang Belanda yang singgah pada awal abad ke-17, Artus Gijsels, yang menyebut Surabaya sebagai “Amsterdam from the East” atau kembaran Kota Amsterdam dari timur.

Kampung Lawas Maspati (https://www.tribunnews.com)

Sejumlah jalan kampung yang membagi kawasan tersebut bak lorong-lorong waktu yang membawa pejalan ke tempo dulu. Mulai dari masa di mana para Patih Kerajaan Mataram dan istal kuda kerajaan berada di kampung lawas Maspati. Hingga seperti yang terasa di teras rumah bekas kediaman Raden Soemomihardjo, tokoh Keraton Surakarta yang dipanggil “ndoro mantri” oleh warga Maspati. Juga di bekas sekolah Ongko Loro atau sekolah desa di masa pendudukan Belanda.

Dari masa perjuangan juga masih ada bangunan bekas pabrik roti milik Haji Iskak yang menjadi dapur umum saat pertempuran bersejarah 10 November 1945. Dengan tegel antik dan detail unik di dalamnya, bangunan tersebut sejak tahun 1958 hingga kini beralih fungsi menjadi Losmen “Asri”. Juga masih banyak bangunan peninggalan kolonial lain dengan langgam arsitektur khas Indis hingga ekletis (campuran).

Kegiatan Warga

Selain melihat bangunan bersejarah, wisatawan dapat melihat kegiatan warga, seperti proses daur ulang sampah dan proses mengolah air limbah.

Wisatawan juga dapat belajar membuat produk unggulan di kampung itu, seperti membuat sirup markisa atau minuman cincau.

Wisata Sejarah

Makam Mbah Buyut Suruh

Kampung lawas maspati Terdapat dua makam suami istri yaitu Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh, mereka adalah kakek dan neneknya Sawungaling (Joko Berek), yang merupakan pahlawan besar di Surabaya.

Pada jaman kerajaan mataram di Surabaya maspati adalah tempat para pemukiman para Tumenggung Keraton, pada saat itu ada kekosongan tumengung di kerajaan mataram pihak keraton mengadakan sayembara untuk mengadakan pemilihan tumenggung saat itulah Sawungaling mendaftarkan diri mencalonkan dan akhirnya sawunggaling terpilih menjadi tumenggung karena kakek dan neneknya Sawungaling, Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh sudah tua maka kakek dan neneknya dibawa ke perumahan Tumenggung di Maspati.

Masa hidupnya Mbah Buyut Suruh dan Raden Karyo Sentono menjadi panutan warga dan mempunyai rasa kepedulian sosial terhadap warga sekitar sehingga oleh warga beliau menjadi tumpuan harapan warga sekitar, setelah wafatnya akhirnya Mbah Buyut Suruh dan Raden Karyo Sentono dan dimakamkan di Maspati. Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh wafat sebelum masa kolonial belanda. Mbah Buyut Suruh dikenal oleh warga hingga sekarang sebagai pelopor yang mendirikan Maspati.

Tweede Inliandsche School  (Sekolah Ongko Loro atau Sekolah Angka Dua)

Tweede Inliandsche School

Merupakan Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar dengan masa pendidikan selama tiga tahun dan tersebar di seluruh pelosok desa, maksud dari pendidikan ini adalah dalam rangka memberantas buta huruf dan mampu berhitung.

Bahasa pengantar adalah bahasa Daerah dengan Guru Tamatan dari HIK. HIK Bahasa Belanda merupakan pelajaran pengetahuan dan bukan sebagai mata pelajaran pokok dan sebagai bahasa pengantar. Namun setelah tamat sekolah ini murid bisa meneruskan pada Scbacel School selama 5 tahun yang nantinya akan sederajat dengan Hollandse Undische School.

Rumah Raden Sumomiharjo

Rumah Raden Sumomiharjo

Raden Sumomiharjo adalah keturunan kraton solo yang dilahirkan di tanah percikan (tanah yang bebas pajak) di karang gebang ponorogo Jawa Timur.

Pada waktu mudanya beliau pernah menjabat sebagai carik di Karang Gebang Ponorogo. Dan di jaman kolonial Belanda Raden Sumomiharjo mencari pekerjaan di kota Surabaya dan di terima di pemerintahan kolonial sebagai mantri kesehatan dan pada jaman tersebut beliau dikenal warga sebagai ndoro mantri nyamuk karena sering membantu masyarakat menyembuhkan penyakit.

Dan sebagai penyuluhan masrakat agar terhindar dari penyakit Kraton solo pada waktu jaman kolonial belanda,memberikan pada keturunan solo tempat di karang gerbang ponorogo jatim tanah tersebut bebas pajak, yang disebut tanah percikan.

Markas Tentara

Bekas Markas Tentara

Rumah ini dibangun pada tahun 1907, dan pernah dijadikan markas tentara.

Informasi lebih lanjut hubungi

Kampung Lawas Maspati
Jl. Semarang, Gang Maspati V, Kelurahan Bubutan, Surabaya
Kontak Person: +62821 3996 9600 (Bp. Sabar Swastono)
Website: http://www.kampunglawas.com atau
http://kampunglawasmaspati.blogspot.co.id

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Wisata Belanja di Tangerang Selatan Banten

Thu May 18 , 2017
Kota Tangerang Selatan, Propinsi Banten merupakan salah satu daerah yang paling berkembang saat ini di daerah selatan Jakarta. Selain merupakan kawasan pemukiman, Tangerang Selatan juga kini menjadi pusat bisnis di kota penyangga Jakarta. Kota Tangerang Selatan merupakan wilayah administratif  Provinsi Banten. Selain menjadi pusat pemukiman dan bisnis, di Tangerang Selatan […]