Kampung Budaya Jalawastu Ketanggungan Brebes

4

Kampung Budaya Jalawastu (https://brebeskuberhias.blogspot.co.id)

Kampung Budaya Jalawastu merupakan sebuah komunitas adat masyarakat yang berada di antara lereng Gunung Kumbang dan Gunung Sagara, Komunitas ini melestarikan sebuah tradisi Sunda Jawa. Lokasi tepatnya komunitas Jalawastu di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Secara geografis Desa Ciseureuh merupakan desa paling selatan dan salah satu dari 3 desa di kecamatan Ketanggungan yang kebanyakan warganya menggunakan bahasa sunda brebes. Akses untuk menuju Jalawastu masih berupa jalanan batu karena Jalawastu merupakan daerah pegunungan terjal.

Rumah Adat Kampung Budaya Jalawastu (https://brebeskuberhias.blogspot.co.id)

Jumlah rumahnya selalu tetap yaitu 110 rumah dengan jumlah kepala keluarga 128. Selain pantangan bagi penghuninya juga banyak pantangan bagi warga lain yang hendak berkunjung ketempat tersebut. Misalnya, ada tempat yang tidak boleh membawa sesuatu yang terbuat dari kulit (sepatu kulit, dompet kulit, sabuk kulit dan lainnnya).

Kepercayaan

Warga kampung Budaya Jawalastu pun disebut-sebut sebagai suku Baduy-nya Jawa Tengah. Menurut Pemangku adat Kampung Jalawastu, Dastam (54), mengakui ada beberapa persamaan antara Jalawastu dan Baduy. Kesamaan utama menganut kepercayaan atau keyakinan Sunda Wiwitan.

Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur (animisme dan dinamisme) yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda.

Ada juga pihak yang berpendapat bahwa Sunda Wiwitan juga memiliki unsurmonoteisme purba, yaitu di atas para dewata dan hyang dalam panteonnya terdapat dewa tunggal tertinggi maha kuasa yang tak berwujud yang disebut Sang Hyang Kersa yang disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Penganut kepercayaan ini dapat ditemukan di beberapa desa di Provinsi Banten dan Jawa Barat. Seperti di Kanekes, Lebak, Banten; Ciptagelar, Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; Cirebon; Cigugur, Kuningan.

Kehidupan masyarakat

Kehidupan di daerah Jalawastu cukup unik karena menurut penuturan pemangku adat setempat Bapak Dastam, Masyarakat Jalawastu pantang makan nasi beras dan lauk daging atau ikan.

Makanan pokok di tempat ini adalah jagung yang ditumbuk halus sebagai lauk dan lalapan seperti dedaunan, umbi-umbian, terong, pete, sambal dan daun reundeu yang diyakini merupakan daun yang hanya dapat tumbuh di gunung kumbang.

Masyrakat Jalawastu tidak menggunakan piring dan sendok yang terbuat dari bahan kaca, melainkan menggunakan seng atau dedaunan. Rumah di daerah ini pun cukup unik karena tidak menggunakan semen dalam membangunnya melainkan hanya menggunakan kayu dan seng, karena masyarakat pantang untuk menggunakan semen.

Satu hal lagi yang unik dari daerah ini, masyarakat pantang untuk menanam bawang merah dan kedelai serta memelihara kerbau, domba dan angsa, karena menurut pemangku adat setempat apabila ada yang melanggar maka akan mendapatkan sebuah musibah.

Upacara

Upacara ngasa (https://jateng.metrotvnews.com)

Kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan di Jalawastu seperti tradisi upacara Ngasa yang dilakukan setiap satu tahun sekali. Upacara ngasa dilakukan setiap Selasa Kliwon atau Jum’at Kliwon, sedangkan tempatnya di Gedong, yaitu hutan kecil yang lokasinya berada di hulu desa.

Arti dari Ngasa sendiri berarti perwujudan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta alam. Batara memiliki ajudan yang mempunyai nama Burian Panutu, semasa hidupnya tidak pernah makan nasi dan lauk pauk yang bernyawa, hal ini untuk menunjukan kebaktiannya kepada batara, menurut Dastam selaku ketua adat di Jalawastu.

Upacara Ngasa telah dilakukan oleh warga secara turun menurun dari ratusan tahun yang lalu, upacara ini pertama kali diadakan pada masa pemerintahan Bupati Brebes XI Raden Arya Candra Negara.

Upacara adat ini menunjukan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan. Hal ini hampir sama dengan adat yang di pantai yaitu sedekah laut, sedangkan untuk di darat dinamakan sedekah bumi dan untuk di daerah Jalawastu sendiri boleh dikatakan sedekah gunung.

Acara tradisi Ngaguyang Kuwu, di Kampung Adat Jalawastu, Desa Ciseureuh (https://news.metrotvnews.com)

Musim kemarau yang berkepanjangan, membuat masyarakat adat Jalawastu di Desa Ciseureuh, Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah, menggelar tradisi Ngaguyang Kuwu untuk memohon turunnya hujan.

Puncak acara ketika Kuwu (kepala desa) diguyur bersama oleh pemangku adat, Dewan Kokolot dan masyarakat mengguyur bergiliran. Sebagai balasannya, Kuwu mengguyur masyarakat dan sesepuh adat. Pesta siram air pun berlangsung.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Kampung Wayang Manyaran Wonogiri

Thu Oct 5 , 2017
Kampung Wayang (https://yogyakarta.panduanwisata.id) Kampung Wayang terletak di Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, jawa Tengah. Sejarah Wayang Kulit Keberadaan prasasti man-tyasi pada abad 10 Masehi atau zaman Raja Dyah Balitung Kerajaan Mataram Kuno, menunjukkan bahwa masyarakat Jawa sejak berabad-abad telah mencintai kesenian wayang. Kegemaran menonton pertunjukkan wayang itulah yang membuat […]