Kain Tenun Songket Melayu Langkat Sumatera Utara (Video)

Kain tenun songket melayu Langkat (https://tanjungpurabangkit.wordpress.com)

Kain tenun songket melayu Langkat menjadi  salah satu peninggalan budaya yang masih terpelihara dan masih dimintai oleh masyarakat. Penggunaan  kain tenun songket Langkat dipakai  diacara kegiatan pernikahan dan acara adat dan budaya masyarakat melayu sumatera timur dan telah sampai ke manca Negara.

Tercatat empat Kesultanan kecil yang berada di pesisir timur Provinsi Sumatera Utara, yaitu Kesultanan Negeri Langkat, Kesultanan Deli, Kesultanan Negeri Serdang dan Kesultanan Asahan (ada juga kesultanan kecil Kualuh dan Leidong).

Songket adalah jenis teknik pembuatan kain tenun dengan cara menambahkan hiasan benang emas atau benang perak pada jalinan benang pakan atau benang lungsi dengan cara menyungkit benang-benang tersebut. Teknik menyungkit benang hias tambahan inilah yang kemudian dikenal dengan nama songket.

Sejarah

Kain tenun songket melayu Langkat (https://tanjungpurabangkit.wordpress.com)

Kesultanan Langkat merupakan monarki yang berusia paling tua di antara monarki-monarki Melayu di Sumatera Timur. Pada tahun 1568, di wilayah yang kini disebut Hamparan Perak, salah seorang petinggi Kerajaan Aru dari Tanah Karo yang bernama Dewa Shahdan berhasil menyelamatkan diri dari serangan Kesultanan Aceh dan mendirikan sebuah kerajaan. Kerajaan inilah yang menjadi cikal-bakal Kesultanan Langkat moderen. Nama Langkat berasal dari nama sebuah pohon yang menyerupai pohon langsat. Tanjung Pura Langkat merupakan pusat Pemerintahan Kesultanan Negeri Langkat hal ini dapat dilihat dengan masih berdirinya Masjid Azizi, dan puing-puing istana. Di era pemerintahan Indonesia kota tanjung pura menjadi salah satu kecamatan yang ada dikabupaten Langkat.

Pada masa kesultanan penggunaan pakaian tradisional Melayu menggunakan kain samping yang berbahan songket untuk pria dan baju berbahan tenunan songket bagi kaum perempuan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibeberapa wilayah kesultanan memiliki pengrajin penghasil tenuan songket. Motif dan corak masingmasing pengrajin songket memiliki pola dan motif yang berbeda antara kesultanan dengan lainnya di sumatera timur. Kain tenun songket melayu Langkat menjadi salah satu peninggalan budaya yang masih terpelihara dan masih dimintai oleh masyarakat.

Motif

Ada 160 motif tenun songket Melayu Langkat, diantaranya Motif  Lancang  Kuning,  Motif  Pulut  Manis,  Motif  Lebah  Begantung Gunung,  Motif  Putri  2  Segirik,  Motif  Bunga  Kol,  Motif  Tampuk  Manggis, Lambang Mahkota Kesultanan Langkat, Lebah Begantung Pesisir, Bunga Sekaki, Itik Berbaris, Melati, Teki-teki, Simbol Kabupaten Langkat, Selada dan lain sebagainya.

Motif Lancang Kuning

Motif Lancang Kuning (https://www.youtube.com)

Motif Lebah Bergantung

Motif Lebah Bergantung (https://www.youtube.com)

Motif Pulut Manis

Motif Pulut Manis (https://www.youtube.com)

Warna

Adapun dalam songket Langkat yang menjadi warna dominan adalah warna merah bersifat agresif. Warna ini diasosiasikan sebagai darah, marah, berani, seks, bahaya, kekuatan, kejantanan, cinta, kebahagiaan.

Warna hijau pada umumnya menandakan sebuah ketenangan, kesegaran, dan melegakan. Selain itu juga dapat melambangkan harapan, syukur, dan kesuburan. Warna hijau melambangkan perenungan, kepercayaan (agama), dan keabadian. Pada mitologi warna hijau dilambangkan dengan datuk-datuk dalam alim ulama sebagai lambang agama Islam.

Warna biru merupakan perspektif, menarik kita pada kesendirian, dingin, membuat kesendirian. Biru melambangkan kesucian, harapan, dan perdamaian. sebagai warna yang mempesona, spiritual, dan kesepian. Dalam kebudayaan Melayu warna biru digunakan untuk para hartawan dan orang besar kerajaan sebagai lambang orang pantas.

Warna kuning adalah kumpulan dua fenomenal penting dalam kehidupan manusia, yaitu kehidupan yang diberikan oleh matahari. Warna kuning mengungkapkan kemuliaan, kemenangan, dan kegembiraan. Warna kuning umumnya dilihat sebagai warna yang mencolok sehingga lebih kuat menunjukkan makna kemuliaan. Warna kuning untuk kebudayaan Melayu digunakan untuk raja-raja, bangsawan, dan keturunannya sebagai lambang kekuasaan.

Warna putih dapat melambangkan suatu kesempurnaan, kejayaan dan kemuliaan abadi. Biasanya warna ini dipertukarkan atau digunakan bersama-sama dengan warna kuning.

Warna hitam dalam kebudaayn Melayu digunakan oleh pemangku dan pemuka adat sebagai lambang “hidup di kandung adat, mati di kandung tanah”. Warna hitam dipakai sebagai warna kebesaran hulubalang atau panglima.

Kurangnya pengetahuan masyarakat Langkat tentang makna warna yang terkandung pada pakaian tradisional songket melayu langkat menjadi salah satu hal yang perlu di perhatikan, karena masih banyak dilihat masyarakat sendiri khususnya daerah langkat masih banyak yang belum mengetahui mengenai makna warna songket melayu langkat, karna masih kurangnya media seperti majalah, buku dan juga internet yang dikatakan masih sedikit yang membahas mengenai makna warna dari songket Melayu Langkat.

Pengrajin

Pengrajin Tenun songket melayu langkat terletak di desa Kubuan, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, pemiliknya Bp. Hasfan Effendi.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Kain Tenun Songket Unggan Sijunjung Sumatera Barat

Thu Dec 10 , 2020
Beragam Kain Songket Unggan Di Nagari Unggan berkembang industri kerajinan songket yang dipelajari dari pengrajin songket pandai sikek dan pengarajin songket singlungkang. Dalam perkembangannya Songket Unggan mampu mengkombinasikan kehalusan Songket Pandai Sikek dengan Songket Silungkang yang dinamis dan terciptalah songket corak unggan. Sejarah Beragam Kain Songket Unggan (https://www.viva.co.id) Songket Unggan […]