Kain Tenun Songket Buya Subi Donggala Sulawesi Tengah

Kain Tenun Songket Buya Subi (https://tomatceri.wordpress.com)

Tenun yang berasal dari Donggala ini dikenal sebagai Buya Sabe, kain ini memiliki berbagai macam jenis tenun seperti tenun ikat, baik tenun ikat pakan dan tenun double ikatnya serta tenun songket. Tenun ikatnya dikenal dengan Buya Bomba sedangkan tenun songket dikenal dengan Buya Subi.

Kain tenun songket Buya Subi, dibuat dengan teknik songket atau sungkit dengan ragam hias bunga-bunga. Kain Kombinasi Bomba dan Subi, cara pembuatannya dikerjakan dua kali yaitu dicelup kemudian di sungkit.

Sejarah

Kain Tenun Songket Buya Subi (https://www.dailymotion.com)

Menurut Kartiwa (1983) Buya Sabe dapat pula diartikan sebagai Sarung Donggala. Buya Sabe mulai dikenal dahulu ketika Donggala masih memiliki pelabuhan yang mengakibatkan banyaknya pertukaran informasi yang cepat dan juga kebutuhan benang-benang sutera yang mudah didapatkan ketika Donggala menjadi kota perdagangan. Menurut Abubakar (2013) menjelaskan bahwa pedagang dari Gujarat (India) mengenalkan cara menenun kain sutra yang dikenal sebagai sarung Donggala pada masa pemerintahan raja Banawa I Sabida dengan masa pemerintahan pada 1758 – 1800.

Motif

Kepala kain bermotif belah ketupat dan badan kain bermotif tanaman bunga menjalar. Bermakna keteguhan hati pria dalam melamar wanita dan simbol pemersatu keluarga.

Kain Buya Bomba dan Kain Buya Subi

Ragam Hias

Ragam hias yang terdapat pada kain tradisional buya subi yakni ragam hias dedaunan dalam bentuk abstrak, bunga melati, dan tumpal atau pohon hayat.

Keseimbangan yang terdapat pada buya subi yakni kesamaan antar kekuatan yang saling berhadapan dan menimbulkan adanya kesan seimbang secara visual. Hal ini dapat dilihat kain tradisional diatas, buya subi di penuhi dengan tiga jenis corak serta susunannya terlihat teratur mengarah.

Irama pada buya subi dapat dilihat badan sarung, yang mana irama berpolakan diagonal arah ke kanan. Sedangkan dibagian bawah sarung menggunakan irama horizontal yakni ragam hias tumpal. Maka dalam sehelai kain buya subi memiliki dua irama namun saling melengkapi.

Warna

Warna-warna “berani” dan ngejreng yang dipilih untuk kain tenun Donggala antara lain warna merah menyala, kuning, oranye, atau kombinasi bercorak warna emas. Sementara warna-warna gelap yang dipakai pada kain tenun Donggala seperti biru tua, merah marun, hitam, serta ungu tua.

Penggunaan

Buya subi bagi masyarakat Donggala dikenakan oleh kaum hawa di saat upacara adat perkawinan, khitanan, acara-acara di instansi pemerintahan, pesta resmi lainnya.

Pengrajin

Di Donggala, sentra kerajinannya dapat kita temui di desa Salubomba, Towale, Watusampu, Tosale, Kolakola, Limboro, Kabonga Kecil dan Loli.

Sumber: Jurnal Seni Rupa FBS Unimed, Volume 10 Nomer 01 Desember 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Kain Tenun Sarung Pagatan Tanah Bumbu Kalimantan Selatan

Fri Dec 11 , 2020
Kain tenun sarung pagatan (https://docplayer.info) Kain tenun sarung pagatan menjadi ciri khas masyarakat pagatan khususnya dan kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan pada umumnya. Sarung Tenun Pagatan ini hanya digeluti oleh masyarakat suku bugis pagatan secara turun temurun dengan ciri khas dan motif yang unik karena dibuat dengan cara yang […]