Kain Tenun Cepuk Nusa Penida Klungkung Bali

Kain tenun cepuk motif kurung

Kain tenun cepuk yang berasal dari Desa Tanglad, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Kain tenun cepuk di Nusa Penida memiliki berbagai jenis dengan fungsi dan pemakaian yang berbeda satu sama lainnya. Jenis kain yang sangat umum untuk dilihat dan dijumpai adalah jenis kain tenun cepuk kurung, karena fungsi pemakaiannya dalam keseharian masyarakat di pulau itu.

Sejarah

Kalau dilihat sejarahnya, penggunaan kain tenun cepuk tidaklah sebagai pakaian luar, tetapi dipakai sebagai pakaian selapis sebelum pakaian bagian luar. Namun karena keunikannya, belakangan kain tenun cepuk kurung ini dapat juga diolah menjadi beragam busana luar sehingga penggunaannya tidak sebatas dalam bentuk kain saja.

Kain tenun jenis ini merupakan ciri khas kain tenun daerah Nusa Penida.Tenun yang dikerjakan secara tradisional dengan ATBM (alat tenun bukan mesin) menggunakan bahan alami, belakangan digunakan juga bahan sintesis. Motif-motif kain ini agak khas dan memancarkan kesan magis, berbeda dengan motif tenun dari Bali yang banyak menggunakan stilisasi motif flora dan fauna. Ada beberapa jenis kain tenun cepuk dengan berbagai fungsi dan pemakain.

Macam Kain Cepuk

Berdasarkan desain dan kegunaannya kain tenun cepuk terdiri dari berbagai macam jenis, diantaranya:

1. Cepuk ngawis merupakan kain tenun yang biasa dipakai saat upacara pitra yadnya atau upacara ngaben.
2. Cepuk tangi gede merupakan kain tenun yang dipakai oleh anak tengah yang seluruh kakak dan adiknya meninggal (upacara ngaben).
3. Cepuk liking paku biasa dipakai oleh laki-laki dalam upacara potong gigi.
4. Cepuk kecubung biasa dipakai oleh perempuan dalam upacara potong gigi.
5. Cepuk sudamala merupakan kain cepuk yang dipakai untuk membersihkan diri.
6. Cepuk kurung merupakan kain cepuk yang dapat digunakan dalam hari-hari biasa.

Jauh sebelum digunakan sebagai bahan pakaian luar, pada awalnya keenam jenis kain tenun khas Bali tersebut awalnya digunakan sebagai ‘tapih’ yakni kain yang digunakan sebagai lapisan terdalam sebelum menggunakan pakaian lainnya.

Warna

Warna benang yang digunakan pada kain cepuk ternyata juga mempunyai simbol-simbol warna penjuru mata angin yang diyakini orang Bali lho.

1. Warna kuning di barat melambangkan Dewa Mahadewa. Warna kuning umumnya dibuat dari campuran kunyit, lemon jus, dan daun semangka.
2. Warna merah di selatan melambangkan Dewa Brahma. Warna merah ini diperoleh dengan campuran kulit luar akar (babakan) sunti atau tibah (Morinda citrifolia) dan minyak buah kemiri (Aleurites mollucana).
3. Warna putih di timur melambangkan Dewa Iswara.
4. Warna hitam di utara melambangkan Dewa Wisnu. Warna hitam diperoleh dengan menambahkan indigo (daun taum) pada jelaga minyak kelapa dan palem.
5. Campuran keseluruhan warna tersebut melambangkan Dewa Siwa yang berada di tengah.

Sumber: fitinline | Pengembangan Kain Tenun Cepuk sebagai Pendudkung Daya Tarik Wisata Budaya di Nusa Penida, Oleh Firlie Lanovia Amir, STP Bali Internasional 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Kain Tenun Bebali Tejakula Buleleng Bali

Sat Apr 10 , 2021
Kain Bebali sebagai sarana upacara spiritual keagamaan dan kepercayaan bagi masyarakat Bali (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id) Kain Bebali sebagai salah satu jenis kain tradisional yang dihasilkan oleh masyarakat kawasan Bali utara tampaknya memiliki popularitas yang lebih rendah dibandingkan Kain Endek, Gringsing, dan Songket.Kain Bebali jarang dimanfaatkan oleh masyarakat baik sebagai kain penutup tubuh […]