Kain Tenun Bebali Tejakula Buleleng Bali

Kain Bebali sebagai sarana upacara spiritual keagamaan dan kepercayaan bagi masyarakat Bali (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Kain Bebali sebagai salah satu jenis kain tradisional yang dihasilkan oleh masyarakat kawasan Bali utara tampaknya memiliki popularitas yang lebih rendah dibandingkan Kain Endek, Gringsing, dan Songket.Kain Bebali jarang dimanfaatkan oleh masyarakat baik sebagai kain penutup tubuh bagian bawah yang dikenal dengan sebutan kamben, maupun sebagai bahan busana lainnya. Pada dasarnya kain Bebali memiliki kedudukan yang sama dengan kain yang lain untuk dilestarikan dan dikembangkan.Untuk itu diperlukan berbagai upaya untukmengenalkan dan mengembangkan kain Bebalikepada konsumen.

Kain Bebali adalah Kain tenun Bebali yang dibuat untuk keperluan tertentu seperti upacara keagaman dan memiliki motif yang sangat sederhana. Salah satunya adalah kain Bebali yang ada di Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.

Motif

Motif Kain tenun Bebali dikembangkan akan tetapi ciri khas kain ini tetap ditonjolkan pada motif aslinya, yaitu berupa motif garis.

Untuk menciptakan pola atau ragam hias yang menarik, pembuat kain tenun cukup dengan mengatur kedudukan benang pakannya saja pada saat menenun. Khusus untuk kain bebali ragam hias yang biasa ditampilkan setidaknya terdapat lima macam.

Proses Pembuatan

Ditinjau dari proses pembuatannya kain bebali ini pada prinsipnya termasuk dalam jenis kain tenun ikat pakan yang dibuat dengan alat khusus bernama prabot tenun cag-cag. Proses penenunan secara umum terdiri dari lima tahap.

  1. Tahap pertama yaitu ngeliying atau membantangkan benang pada undar hingga benang dapat dibuka, digulung pada ulakan atau peleting.Tahap kedua yaitu ngayi.
  2. Tahap kedua yaitu ngayi.
  3. Tahap berikutnya nyahsah yaitu bahan tenunan yang ada pada panynan dilepaskan dan dibentangkan memanjang.
  4. Proses selanjutnya lipatan benang dimasukkan pada serat dengan mempergunakan alat seperti jarum panjang yang kecil.
  5. Tahap terakhir barulah benang ditenun.

Benang pakan yang sudah selesai diikat, dicalup dan dilepas ikatannya selanjutnya digulung pada palet-palet. Jika sudah benang pakan itu kemudian akan disilangkan dengan benang lungsi yang telah disiapkan, melalui proses penenunan. Sehingga benang lungsi yang dipakai hanya memakai satu jenis warna atau polos.

Untuk menciptakan pola atau ragam hias yang menarik, pembuat kain tenun cukup dengan mengatur kedudukan benang pakannya saja pada saat menenun. Khusus untuk kain bebali ragam hias yang biasa ditampilkan setidaknya terdapat lima macam.

Sumber: fitinline | Pengembangan Motif Kain Tenun Bebali dengan Teknik Colet, Oleh Ni Ketut Widiartini, Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik dan Kejuruan, Universitas Pendidikan Ganesha, 9 Nopember 2014

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Kain Songket Sidemen Karangasem Bali

Sat Apr 10 , 2021
Kain Songket Sidemen Karangasem Bali (https://ksmtour.com) Kain Songket bukan hanya buah ketrampilan turun-temurun bagi masyarakat Bali, juga bentuk identitas dan artefak ritual. Di luar lingkup tradisi masyarakat daerah wisata, kain songket Bali pun tidak sebatas cendera mata atau sekedar oleh-oleh khas Bali semata, tetapi terus berkembang sebagai komoditas ke dunia […]