Jelajahi Hutan Pusuk Lombok, Mengenang Jejak Romusha

 Suasana jalan di antara Hutan Pusuk Lombok Barat

Bagi warga Pulau Lombok, nama Hutan Pusuk sudah tidak asing lagi. Hutan Pusuk merupakan jalan singkat dari ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat, Mataram ke Pamenang, Kabupaten Lombok Utara. Setidaknya bisa mempersingkat waktu 30 menit ketimbang mengikuti jalan memutar ke Senggigi, Kabupaten Lombok Barat yang didominasi pemandangan pantai.

Jalan berkelok-kelok yang membelah punggung perbukitan menjadi ciri khas Jalan Hutan Pusuk. Dalam bahasa Sasak, pusuk berarti  puncak. Jalan memang membelah kerimbunan pepohonan dengan sesekali di kiri kanan jalan, terlihat  monyet bergerombol. Selepas dari Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, jalan mulai menanjak dan tepat di sebelah kanan jalan, jurang dengan dasar sungai kering yang penuh bebatuan. Diperlukan kehati-hatian dalam melintasi jalan itu.

Tepat di puncaknya yang memiliki ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut (Mdpl), pengguna kendaraan bisa bersantai-santai atau beristirahat. Bahkan melihat pemandangan terbuka dengan bukit-bukit di bawahnya menyerupai  amfiteater.

Hutan pusuk sendiri merupakan hutan konservasi, produksi, dan hutan lindung yang termasuk dalam kawasan hutan Rinjani barat, dengan memiliki luas sebesar 43.550,23 hektar serta 162 jenis pohon. Selain primata yang bisa ditemukan sepanjang jalan, ada juga minuman khas berupa tuak manis yang dijajakan dalam botol bekas air mineral.

Hutan Pusuk memiliki ciri khas berupa kehadiran kelompok monyet. Berada di Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, hutan menawarkan kesejukan

Pohon-pohon nan hijau,  banyaknya monyet berkeliaran serta kesejukannya membuat wisatawan banyak singgah di Hutan Pusuk. Menghirup udara segar dan bermain dengan primata tersebut.

Namun siapa sangka jalanan yang dilalui oleh pengguna kendaraan baik roda dua maupun roda empat itu ternyata merupakan hasil karya anak bangsa di masa lalu yang menjadi pekerja paksa (romusha) pada zaman penjajahan Jepang di Pulau Lombok.

Hal ini diungkapkan  Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar. “Dari cerita para orang tua dahulu, Hutan Pusuk itu dibangun oleh para pekerja paksa,” katanya. Memang masuk akal jika penjajah Jepang berupaya membangun ruas jalan di daerah itu untuk memperkuat jalur pertahanannya di Pulau Lombok, karena di masa itu Jepang memang harus menghadapi sejumlah negara yang bergabung dalam pasukan sekutu.

Di Pulau Lombok, juga banyak ditemukan gua-gua dan bunker. Angkatan Laut Jepang mendarat di Pantai Ampenan pada 18 Mei 1942, disusul Angkatan Darat Jepang pada 12 Mei 1942 di Labuan Haji. Datangnya pasukan Jepang menandai berakhirnya penjajahan Belanda yang bercokol di Pulau Lombok sejak 1894 melalui suatu ekspedisi pascapenaklukan Kerajaan Karangasem.

Sumber: tempo

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Libur Akhir Tahun, Menyepi di Gunung Banyak Kota Batu, Jawa Timur

Fri Dec 21 , 2018
Salah satu vila yang bisa disewa wisatawan yang ingin menginap di Gunung Banyak, Kota Batu, Jawa Timur Memilih libur akhir tahun seputar Malang? Jangan lewatkan untuk menjejakkan kaki di Kota Batu. Apalagi bagi yang ingin mendekatkan alam sekaligus mempunyai banyak koleksi foto. Dikenal sebagai kawasan wisata Gunung Banyak di Desa […]