Hari Sumpah Pemuda, Pelajar Belanda Main Angklung di Bekasi

30 pelajar asal Heerbeeck College di Kota Best, Belanda, memainkan alat musik asal Jawa Barat, angklung. Mereka tampil di depan puluhan pelajar dari Sekolah Victory Plus di Perumahan Kemang Pratama, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/10/2014).

Uniknya, mayoritas para pelajar asal negeri kincir angin tersebut baru mengenal instrumen musik dari bambu tersebut. Mereka juga hanya belajar selama tiga hari untuk bisa tampil di acara penutupan masa pertukaran pelajar, yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2014.

Penampilan para pelajar Belanda membawakan lagu ‘Manuk Dadali’ itu, mendapat aplaus dari pelajar Sekolah Victory Plus, serta orang tua asuh mereka selama berada di Indonesia.

“Indonesia negeri yang indah. Saya senang bisa datang kesini, dan belajar alat musik angklung. Saya belajar tiga hari, untuk tampil di acara ini,” kata Jeane (17) pelajar asal Belanda.

Sebelum tampil memainkan angklung dengan dipandu guru mereka melalui partitur musik yang ditulis di papan, para pelajar dari kedua negara juga menyanyikan lagu kebangsaan negaranya masing-masing.

Mereka juga disuguhi penampilan berbagai tarian tradisional asal Indonesia yang dibawakan pelajar Sekolah Victory Plus. Seperti Tari Tor Tor asal Sumatera Utara, Tari Piring asal Sumatera Barat, Tari Kecak asal Bali dan Tari Betawi asal Jakarta.

“Di Indonesia banyak sekali tarian tradisionalnya,” kata Jeane.

Kepala Sekolah Victory Plus, Hendriyadi Yasir menuturkan, pertukaran pelajar asal Belanda ini merupakan program perdana. Kunjungan pelajar asal Belanda selama 10 hari ini, merupakan kunjungan balasan. Pada bulan Maret lalu, 20 pelajar Sekolah Victory Plus berkunjung selama 10 hari ke Belanda.

“Mereka tinggal bersama orang tua asuh dan bersekolah di Heerbeeck College. Begitu juga pelajar Belanda, disini mereka tinggal bersama orang tua asuh dan juga bersekolah di tempat kita,” katanya.

Pelajar asal Belanda juga diajak mengunjungi berbagai lokasi wisata sejarah di Jakarta. Mereka memang ingin mengetahui, bagaimana kehidupan saat Belanda masih menjajah Indonesia.

Kegiatan ini selain untuk memperkenalkan kebudayaan dari masing-masing negara, para pelajar dari kedua negara diajarkan bagaimana beradaptasi dan hidup mandiri.

“Pelajar Belanda juga jadi tahu, bahwa Indonesia tidak semenakutkan yang mereka kira. Indonesia, ternyata cukup aman,” ujarnya.

“Program Belanda ini untuk kelas XI. Kalau untuk kelas VIII, kita sudah mengirimkan 20 murid kita ke Jepang. Tapi, bedanya tidak ada kunjungan balasan dari pelajar Jepang,” katanya.

Joana Manda Irawan (15) siswi kelas X, Sekolah Victory Plus berharap program pertukaran pelajar bisa terus berlanjut.

“Banyak manfaatnya, kita bisa belajar tenggang rasa,” katanya.

Sumber: RRI

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Ekspresi Cantik Pengantin Muslimah

Mon Nov 3 , 2014
Every girl dreams of her wedding dress. Gaun pengantin, bagi seorang perempuan yang akan melangkah ke jenjang pernikahan, mungkin sama pentingnya dengan momen pernikahan itu sendiri. A wedding dress is an obsession, sebuah gaun yang akan dipakainya sekali seumur hidup, the legendary dress. Sebuah gaun pengantin adalah gaun terindah, yang […]