Ghieng-Ghieng Asee Aceh

sdc14965 Ilustrasi Permainan Ghieng-Ghieng Asee (https://yuzarpurnama.blogspot.co.id)

Asal nama permainan ini informan tidak dapat menjelaskan secara konkrit karena permainan ini memang sudah berkembang sejak lama dan generasi sebelum mereka tak pernah menceritakan tentang asal nama permainan tersebut.

Ghieng-ghieng asee demikian nama permainan ini, merupakan permainan anak-anak yang tidak menggunakan alat-alat musik dan bersifat per seorangan.

Ghieng-ghieng asee berkembang di seluruh Daerah Istimewa Aceh (sekarang, Aceh), walaupun dengan nama yang berbeda, secara jelas akan diuraikan pada bagian lain dalam penulisan ini. Permainan ini dapat digolongkan ke dalam salah satu cabang olah raga.

Sejarah

Dari hasil wawancara, permainan ini sudah lama sekali berkembang di dalam masyarakat.  Sejak kapan permainan ini mulai berkembang dan dari mana asalnya tidak diketahui. Yang jelas permainan ini telah diwariskan dari generasi ke generasi sampai sekarang.

Waktu Pelaksanaan

Permainan ini tidak ditetapkan apakah pagi, tengah hari, atau sore hari dimainkannya. Hal ini ditentukan oleh kapan anak-anak dapat berkumpul. Kadang-kadang juga dimainkan pada waktu bulan terang. Permainan ini tidak juga ditetapkan harus dimainkan pada waktu turun ke sawah atau hanya pada waktu Luang Blang, atau sehabis panen. Jadi, dapat saja dimainkan sepanjang tahun kapan saja dan di mana saja bergantung pada selera pemain itu sendiri. Apabila hari hujan mereka dapat menggunakan kolong Meunasah. Di Daerah Istimewa Aceh, Meunasah tinggi-tinggi seperti rumoh adat (Rumah Adat) Aceh. Meunasah merupakan lembaga pendidikan informal, tempat anak-anak berkumpul untuk mengaji, baik pada siang hari maupun pada malam hari. Bila pengajian selesai bermacam-macam olah raga dapat dimainkan, di antaranya ghieng-ghieng asee.

Pemain

Pendukung permainan ini adalah anak-anak, rata-rata usia sekolah dasar. Sesuai dengan sifat permainan yang lebih menyerupai olah raga dan ketangkasan yang lebih menonjol, maka anak-anak wanita jarang diikutsertakan. Hal ini didukung oleh anggapan masyarakat bahwa anak-anak wanita dianggap kurang sopan bila mereka bergerak dengan leluasa di tempat-tempat terbuka atau di depan umum.

Permainan Ghieng-ghieng asee tidak memerlukan perlengkapan seperti permainan lainnya. Permainan ini dapat terselenggara apabila sudah ada berkumpul empat orang anak. Kurang dari jumlah ini tidak dapat terselenggara. Apabila lebih dari empat orang harus mencapai delapan orang, sehingga terdapat dua kelompok.

Jalan Permainan

Permainan ghieng-ghieng asee seperti telah diuraikan di atas bahwa yang menjadi pemain adalah anak lelaki. Permainan ini tidak dilakukan secara beregu, tetapi per seorangan.

Ketangkasan pribadi sangat ditonjolkan dalam permainan ini. Setelah empat orang anak berkumpul, mereka sudah dapat memulai permainan atau pertandingan. Keempat anak tersebut masingmasing sebelah kakinya dibengkokkan hingga lutut, diselang-seling dengan cara berdiri persegi empat, sehingga antara yang satu dengan lain saling berkait. Ketika keempat kaki berkait, tentunya masing-masing berdiri dengan sebelah kaki, mulailah mereka loncat di tempat.

Pada waktu mereka loncat di tempat, mereka tidak dibenarkan untuk saling berpegangan. Seni dan variasi daripada permainan ini bergantung pada si pelaku itu sendiri, sehingga mereka saling berguguran.

Bila satu orang yang gugur atau jatuh, kaitan kaki mereka terlepas, maka kepada yang jatuh dikenakan hukuman dengan cara menggendong ketiga kawannya. Jarak gendongan bergantung kepada persetujuan mereka sebelum bermain, apakah 5 (lima) meter, lebih, atau kurang. Kadang-kadang dua orang sekaligus yang gugur, maka kedua orang yang gugur tadi menggendong kedua kawannya. Berdasarkan pengalaman yang ada, tidak pernah tiga orang sekaligus jatuh karena dua orang saja jatuh sudah pasti kaki mereka terlepas, sehingga tidak mungkin kedua lainnya jatuh sebab mereka sudah dapat berdiri dengan mantap.

Lamanya permainan tidak dapat ditetapkan dengan pasti, bergantung kepuasan mereka sendiri. Permainan ini tidak bersifat kompetitif, tetapi bersifat rekreatif. Perlu juga disinggung bahwa permainan ini tidak memakai kostum tertentu, artinya pakaian biasa saja atau pakaian sehari-hari, dapat juga dibenarkan apabila tidak memakai baju.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Meu Een Aceue NAD

Fri Sep 16 , 2016
Ilustrasi Kemiri untuk diadu (https://www.youtube.com) Meu Een Aceue, nama suatu permainan yang terdapat di Daerah Istimewa Aceh atau khususnya di Kabupaten Aceh Utara. Meu een Aceue terdiri atas dua per ka taan, yaitu meu een berarti bermain (permainan) dan aceue adalah nama yang diberikan untuk permainan tersebut. Meu een aceue […]